Beberapa menit yang lalu, saya baru saja usai menyaksikan tayangan The Scholar—kompetisi memperebutkan beasiswa S2 yang dikemas dalam bentuk reality show. Dalam episode yang baru saja saya saksikan, dua tim yakni Black Coffee dan Mars in Venus ditugaskan untuk mengonsep sebuah community newsletter.

Saya tidak tahu persis brief lengkap yang diberikan, entah karena saya memang luput menontonnya (karena sempat ke dapur mengambil sop) atau memang tidak dipaparkan seluruhnya karena keterbatasan waktu.

Meskipun demikian, yang bisa saya tangkap adalah tiap tim diberikan tugas untuk membuat konsep community newsletter dengan target anak-anak usia 10-15 tahun, dengan tujuan meningkatkan gairah mereka terhadap dunia bulu tangkis, sehingga mereka terinspirasi juga untuk menggeluti bidang ini dan memungkinkan terjadinya regenerasi.

(Anyway, mungkin ada baiknya jika brief lengkap yang diberikan pada masing-masing tim ditayangkan di salah satu sisi layar—atau dibuat dalam bentuk teks di bagian bawah, sehingga para penonton bisa ikut mengetahui tugas dan batasan-batasan yang diberikan. Dengan demikian, para penonton juga bisa ikut berpikir dan membuat konsep).

Karena saya tidak tahu batasan atau aturan mainnya secara lengkap, saya pun tidak terlalu mengerti mengapa kedua tim lantas membuat advertorial. Saya pun tak tahu di media mana advertorial tersebut akan dipasang.

Tim pemenang (Black Coffee) mengambil konsep garis waktu di masa lalu, masa kini, dan masa depan—menggambarkan perkembangan dunia bulu tangkis kita dengan copy pahlawan-pahlawan bulu tangkis yang telah mengharumkan nama bangsa. Tim yang kurang beruntung (Mars in Venus) mengambil tema kartun dengan tokoh kok bulu tangkis.

Saya tidak tahu apakah memang dalam brief yang diberikan dikatakan bahwa tim-tim ini harus membuat konsep advertorial. Jika target mereka adalah anak-anak usia 10-15 tahun, apakah mereka akan terinspirasi dengan advertorial tersebut?

Lantas, jika advertorial ini akan dipasang di koran, apakah anak-anak usia 10-15 tahun ini membaca koran tersebut? Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk sekali saja memasang advertorial di koran, apalagi koran nasional?

Juri yang menentukan kemenangan tim yang bertanding dalam episode ini adalah seorang wartawan olah raga senior. Menurut saya, di samping kehadiran beliau, akan lebih menarik dan fair jika The Scholar benar-benar mengundang sekelompok anak usia 10-15 tahun untuk memberikan suara dan ikut menentukan tim yang menjadi pemenang. Bukankah anak-anak ini yang menjadi target “newsletter” tersebut?

Saya jadi ingat, sewaktu saya masih duduk di bangku SD-SMP dulu. Saat itu komik-komik Jepang tentang balet dan balerina merajalela (siapa ingat Mari-Chan?). Saya pun ingat, sejak saat itu banyak sekali teman-teman saya yang tertarik pada dunia balet.

Ternyata balet bukan hanya tarian, tapi di dalamnya ada cinta, masalah keluarga, intrik, persaingan, kecurangan, sekaligus prestasi, kebanggaan, dan kerja keras. Komik-komik ini menurut saya sangat menginspirasi dan menggugah ketertarikan pembacanya akan dunia balet.

Semasa SMA pun, komik sepak bola dari Jepang bertajuk Shoot begitu digemari. Kawan-kawan saya membahas berbagai teknik dan tendangan sepak bola dari komik itu dengan seru. Bagi kawan-kawan perempuan pun dunia sepak bola tiba-tiba menjadi menarik, karena dikemas dalam bentuk komik dengan jalinan cerita yang membuat penasaran.

Kalau dipikir-pikir lagi, apa yang gemar dibaca oleh anak-anak usia 10-15 tahun? Saya kira di antaranya ada komik (manga) dan teenlit. Mengingat ada banyak sekolah manga di luar sana saat ini, mungkin akan menarik jika membuat semacam community newsletter berbentuk manga, bercerita tentang kehidupan remaja-remaja di Pelatnas Bulu tangkis.

Intrik, persaingan, kompetisi, sedikit taburan kisah cinta, pengalaman dalam turnamen di luar negeri… semua diramu bersama teknik permainan bulu tangkis, latihan-latihan, trik-trik para pebulu tangkis kawakan dan keunggulan mereka… ah, begitu banyak yang bisa dieksplorasi.

Untuk melakukan hal ini, kerja sama dengan sekolah-sekolah manga yang ada bisa dijalin. Penerbitan bisa dilakukan secara mandiri, atau dengan dukungan dari PBSI, dan komik-komik ini bisa disalurkan ke berbagai sekolah di berbagai daerah sebagai koleksi perpustakaan.

Baiklah, usai sudah sesi berkhayal saya. Hahaha. Saya juga tidak bisa menggambar manga 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

“Gusti Allah Maha Adil,” demikian yang dikatakan jurnalis musik yang juga senang nge-blog ini ketika kami makan siang beberapa waktu yang lalu.

Kata-katanya terngiang-ngiang di telinga saya malam ini. Akhirnya saya kesal juga pada layanan taksi burung biru itu. Padahal saya termasuk pelanggan setia, dan beberapa pengemudi sudah mengenal saya. Bahkan ada yang sudah 2-3 kali mengantar saya ke Bogor di kala malam sudah merayap mendekati pukul 12.

Malam ini, baru beberapa menit yang lalu, saya menelepon untuk memesan taksi seperti biasa, disertai pesan, “Ini buat ke Bogor, ya, Mbak…” (karena takut ada yang sudah mau masuk pangkalan). Sudah capek, ngantuk… tiba-tiba saja si Mbak Kiki ini bertanya,”Bogornya sudah lewat terminal?”

“Iya. Lewat terminal belok kiri,” jawab saya, tanpa prasangka. (Ya, iyalah. Secara terminal itu kan letaknya persis berseberangan dengan mulut keluar-masuk tol Bogor).

“Oh, kalau sudah lewat terminal nggak bisa, Mbak. Itu di luar batas operasi kami.”

Aneh, sungguh aneh. Saya sempat speechless selama beberapa saat. Maksudnya? Saya sudah entah berapa puluh kali pulang ke Bogor dengan taksi burung biru selama beberapa tahun terakhir. Ini tidak masuk akal.

“Kok gitu? Biasanya saya pulang bisa-bisa saja.”

“Harusnya nggak bisa, Mbak.”

“Ya sudah, terserah. Turunkan saja saya di terminal,” saya menggerutu. “Aneh!”

Huh. Saya masih kesal. Tapi… taksinya sudah datang. Kita lihat saja update besok pagi, saya diturunkan di mana. Di terminal, atau di depan rumah.

UPDATE:
Ternyata Pak Pengemudi tidak menurunkan saya di terminal. Saya sempat bertanya, “Kok operatornya bilang batas operasi Blue Bird hanya sampai terminal, sih, Pak? Ini pertama kalinya, lho, saya menelepon dan diberi tahu kebijakan demikian…”

Pak Pengemudi tertawa, “Wah, aneh memang, Mbak itu operatornya. Kita kan daerah operasinya Jabodetabek. Ngantar ke Bandung saja bisa, kok. Maklum, Mbak, operatornya kan beda-beda, mungkin nggak ngerti dia.”

Karena malam itu jalanan lancar, saya sampai dalam waktu kurang dari 45 menit, Pak Pengemudi-nya juga menyetir mobil dengan sigap dan melayani dengan sopan, akhirnya saya pun menutup hari dengan nyaman.

PS: Mbak Kiki, coba dicek lagi kebijakan yang benar dari burung biru. Jangan sampai mengusir pelanggan yang ingin diantar ke Sukabumi atau Bandung karena diminta turun sampai terminal 🙂 Oh, ya, maaf karena sebelum menutup telepon saya keceplosan mengatakan Mbak Kiki aneh. Saya sedang capek dan ngantuk, lalu dibuat terkejut. Jadi harap maklum 😉

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya tidak akan membahas secara mendalam mengenai Pemilu di negara tetangga, Malaysia. Tetapi satu adegan kontras yang saya lihat di salah satu stasiun televisi minggu lalu, berkisah tentang kampanye menjelang Pemilu Malaysia, cukup meninggalkan kesan.

Di satu adegan, saya melihat kampanye yang mengingatkan saya dengan kampanye kebanyakan partai di Indonesia (tanpa bermaksud menggeneralisasi): duduk-duduk di bawah tenda sambil menyaksikan penampilan Siti Nurhaliza menyanyi di atas panggung, juga entah siapa membawakan lagu “Pilihlah Aku”-nya KD. Ternyata ini adalah kampanye ala Barisan Nasional…

Di adegan berikutnya, pada sebuah jalan yang diguyur hujan, ratusan massa berkumpul. Ada yang rela hujan-hujanan, memakai jas hujan sekadarnya, atau berlindung di bawah naungan payung. Di bawah hujan deras itu, seorang Anwar Ibrahim berorasi. Tanpa payung. Tanpa tenda. Kemudian pemimpin oposisi itu berkata (sambil mengusap rambutnya yang basah): “Ya, Anda basah, saya pun basah…”

Kontras di antara kedua adegan itu tetap tinggal. Saya bukan pengamat politik, juga tak terlalu tertarik mengamati peta perpolitikan negeri sendiri (apalagi negeri tetangga). Saya juga tak tahu apa saja yang selama ini sudah dilakukan Barisan Nasional dan partai oposisi. Saya hanya menonton tayangan pendek yang berlangsung tak lebih dari 30 detik itu.

Lama setelah semua orang lupa akan pesan-pesan, ketika euphoria berlalu dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, ternyata yang mampu untuk tetap tinggal hanyalah kesan…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ketika berkunjung ke blog Mas Iman sore ini, saya menemukan posting-an berjudul Bahasa yang Tersirat. Di sini, Mas Iman mencoba ‘menerjemahkan’ bahasa iklan dari perang tarif para operator selular (kebetulan yang disinggung di sini adalah XL).

Ketika membaca postingan ini, saya otomatis teringat sebuah tulisan yang cantik di blog Precious Moments, perihal percakapan seorang anak laki-laki dengan ibunya. Begini bunyinya:

You: I wish you were mbak…
Me: What…??? Why…?
You: No, no…, I wish there were two of you, one is you as yourself and the other is you as mbak.
Me: Why?
You: Well, as mom, you can go to the office every day, and as mbak, you can pick me up from school every day
Me: Honey, you know that by going to work, I make money, and I can buy you toys.
You: What about other moms? They don’t go to work. Bude Vinny doesn’t go to work.
Me: Yes honey, but we are building our new house now, and it needs a lot of money,,,,
You
: Well, bude Vinny is not working, but they have a house anyway…, so I don’t understand

Lalu, apa hubungannya?

Jawab: skala prioritas.

Dalam hidup, kita memiliki skala prioritas yang berbeda. Sesuatu kita anggap sangat penting, mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain, begitupun sebaliknya. Termasuk masalah tarif telepon selular.

Saya termasuk orang yang tak pernah peduli dengan perang tarif itu. Kenapa?

Pertama, saya sudah memakai nomor yang sama sejak pertama kali memiliki ponsel. Jadi nomor yang saya pakai sekarang adalah nomor yang sama dengan nomor yang saya pakai sewaktu masih di bangku SMU. Untuk saya, berganti nomor itu merepotkan. Saya harus mengabarkan pergantian nomor pada kawan-kawan, belum lagi jika ada kawan lama yang hendak menghubungi saya, ia harus mencari-cari nomor baru saya dan bertanya pada kawan-kawan saya yang lain. Untuk saya, nomor lama ini, yang sudah diketahui kawan-kawan, kerabat, dan kenalan, jauh lebih penting daripada tarif kartu GSM yang saya gunakan. Padahal ada teman saya yang berganti nomor hampir tiap 3 bulan sekali, sengaja memanfaatkan perang tarif para operator ponsel untuk mencari tarif termurah.

Kedua, saya bukan orang yang senang mengobrol di ponsel. Bagi saya, ponsel digunakan jika memang ada perlunya. Jika ingin mengobrol berlama-lama, marilah bertemu, makan siang, minum kopi, atau bahkan ber-YM ria. Tetapi tidak di ponsel. Saya tidak suka telinga saya panas jika mendengarkan orang berbicara di telepon (bahkan telepon rumah) untuk waktu yang terlalu lama. Menelepon untuk saya cukup 5-10 menit, dan tidak lebih, hanya untuk urusan yang penting-penting saja. Jadi tarif telepon juga tidak pernah terlalu menjadi masalah untuk saya.

Ketiga, saya rasa saya baru menjadi pelit ketika berurusan dengan membeli buku. Pelit di sini berarti saya tidak akan membeli komik (karena tipis dan cepat habis dibaca, harganya tidak sebanding). Saya akan membeli novel yang tebal atau buku impor yang sedang banting harga, karena untuk saya, uang yang dikeluarkan sebanding dengan kenikmatannya. Contoh lain, saya tidak pernah mau membeli Harry Potter edisi Bahasa Inggris karena harganya lebih mahal dari edisi Indonesia–sedangkan Harry Potter adalah jenis buku yang hanya akan saya baca sekali lalu teronggok di lemari.

Jadi saya rasa, skala prioritas setiap orang memang berbeda. Yang paling jelas adalah perbedaan mengenai apa yang dianggap penting oleh seorang anak kecil dan apa yang dianggap penting oleh orang dewasa. Persis seperti dialog cantik di posting Your Wish, My Wish dalam blog Precious Moments di atas.

Saya?

Oh, saya terkadang lembur, tertimbun segudang pekerjaan dan dokumen yang harus diselesaikan, bicara sendiri ketika stres dan merengut ketika rencana tak berjalan mulus. Saya juga masih suka makan es serut dengan sirup, hujan-hujanan, memainkan games ‘bodoh’ macam Lilo&Stitch dan Monsters.Inc di Playstation, keluar rumah bertelanjang kaki lalu menengadah memandangi bintang, atau bengong di jok belakang mobil, mengamati lalu-lintas sambil memikirkan sebuah cerita.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada beberapa hal baru yang saya gemari belakangan ini.

Yang pertama, blog baru di dagdigdug. Isinya desain-desain lucu, aneh, unik, nyeleneh, atau sekadar iseng pun boleh. Saya suka memposting di sana karena upload-nya cepat sekali, bahkan untuk gambar-gambar yang cukup besar sekalipun. Seru. Dan tiba-tiba Facebook saya jadi menganggur…

Yang kedua, minuman baru yang akhir-akhir ini menemani (variasi lain selain kopi dan air putih): Coca-Cola Zero. Kata ibu saya sodanya lebih “jreng” dibandingkan Coca-Cola yang biasa, enak diminum kalau sedang masuk angin, katanya. Kalau menurut saya rasanya sama saja dengan yang biasa, tapi karena tak ada kalorinya, secara psikologis saya jadi lebih suka yang ini hahaha 😀

Yang ketiga, saya sedang jatuh cinta pada body mist Beauty Rush-nya Victoria’s Secret yang Appletini–oleh-oleh dari teman saya. Wanginya itu, lho. Menyegarkan sekali. Kalau habis rasaya saya harus titip dia lagi, mungkin beli sekali dua. Saya tidak tahu di sini sudah ada yang menjual atau belum. Kalau tahu tempat yang menjual si Appletini ini kasih tahu, ya…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Beberapa minggu yang lalu saya sempat ‘ngampung’ bersama beberapa kawan lama. Pergi ke perkebunan teh dan nyeker menyusuri jalan-jalan kampung sambil menjinjing sandal jepit di bawah guyuran hujan. Nongkrong di warung kecil sambil ngopi dan makan gorengan murah ketika kaki mulai kram karena kedinginan (bandel sih, memilih nyeker). Kemudian merendam kaki di pinggir sungai kecil dan ngobrol-ngobrol seraya duduk-duduk di atas rerumputan basah. Beberapa orang merokok, beberapa lagi mengunyah keripik pedas yang sudah agak melempem.

Tapi tak mengapa. Kami bahagia.

Kemudian menjelang makan siang, kami turun ke sebuah warung Padang. Menyantap masakan pedas dan minum teh tawar hangat memang paling cocok di kala hujan. Saat itulah kebahagiaan saya sedikit meredup ketika salah seorang teman tiba-tiba saja menyinggung beberapa kawan yang hari itu absen dari reuni kecil-kecilan kami.

“Bukannya mereka memang nggak akan mau diajak jalan-jalan begini? Mereka kan nongkrongnya di mall. Di kafe. Biasa, kelompok elitis. Nggak mau bergaul sama masyarakat kelas bawah. Hedonis. Ignoran. Males juga gue kalo mereka gabung…”

Walau ucapan itu bukan ditujukan terhadap saya, tetapi sebagai orang yang juga suka nongkrong-nongkrong di kedai kopi di mall, saya merasa kesal juga mendengar kesengitan dan keangkuhan yang tersirat dalam kalimat itu.

Saya menikmati menghabiskan waktu nyeker di bawah guyuran hujan atau memilih sepatu di mall, sebagaimana saya juga tidak pernah berkeberatan makan di restoran Jepang, atau menyantap mie ayam di Melawai yang letaknya di dekat bak sampah (jorok memang, tapi enak, kok. beneran. hehehe).

Saya jadi kesal karena elitisme dibawa-bawa di sini.

Sejak kapan tempat tongkrongan seseorang menjadi barometer penilaian akan kepedulian mereka terhadap sesama? Saya tahu kok dulu teman-teman saya yang gemar clubbing juga sering duduk-duduk di lapangan parkir dan merokok bareng satpam dan tukang parkir di sana, mengobrol ngalor-ngidul sambil menunggu subuh…

Yang demikian itu apa juga bisa disebut elitis? Ignoran?

Entahlah. Rasanya terlalu dini untuk mencap seseorang demikian.

Yang jelas, buat saya, kalau mereka yang mengaku ‘peduli-dengan-masyarakat- kelas-bawah’ juga enggan bergaul dengan mereka yang suka nongkrong di mall–dan tak suka ketika mereka yang gemar wara-wiri dari kafe ke kafe ikut nongkrong bersama di warung kopi, tanpa disadari mereka juga sudah menjadi kelompok yang ‘elitis’–sebagaimana mereka istilahkan (atau tuduhkan).

Lagipula, bukankah kita tak ingin dikotakkan dalam kelas-kelas?

Kenapa kita tidak menerima semua orang dengan tangan terbuka, dan tidak buru-buru menghakimi? Bukankah kepedulian seseorang terhadap sesuatu tidak dapat dinilai berdasarkan apa yang nampak dari luar? Bukankah ketika tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu-menahu?

Dan benar, bahwa kita terkadang tak boleh masuk ke klub dengan mengenakan sandal jepit. Tapi rasanya tak pantas juga jika kita hendak jalan-jalan di gunung tetapi mengenakan sepatu stiletto dengan hak 7 senti.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ketika mereka berdiri di depan kamera itu, bertiga, mungkin mereka tidak pernah tahu tali tak kelihatan macam apa yang mempertautkan nasib mereka bertiga. Mereka tidak pernah tahu bahwa, satu jepretan itu akan selalu ada, mengingatkan mereka akan sakit hati dan menggoreskan luka yang tidak terobati.

Saya masih tak habis pikir hingga kini. Tiga wajah yang tak pernah tahu bahwa hubungan mereka sebagai teman dekat dan sahabat, suatu waktu di masa depan, akan berakhir dengan begitu menyedihkan. Diwarnai pengkhianatan, pertengkaran, perselingkuhan… dan semua hal yang membuat ketiganya menangis dan tertawa–tetapi tidak pernah mereka menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.

Ini mengerikan.


Tiba-tiba saja saya menyadari betapa tipisnya batas antara lawan dan kawan. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menusuk kita dari belakang dan membuat dunia kita berantakan. Yang paling menyedihkan adalah: justru kita akan paling merasa tersakiti ketika dilukai oleh orang yang paling dicintai.

Saya tidak kuasa untuk tidak menatap tiga wajah itu sekali lagi. Bertanya-tanya apakah yang akan mereka lakukan jika mereka bertemu lagi kini. Apakah mereka akan saling menyapa dan merangkul kembali, melupakan masa lalu? Ataukah mereka akan saling diam dan membenci satu sama lain hanya karena luka itu terlalu dalam digoreskan?

Seperti ‘pink ribbon scars that never forget’ dalam lirik Today-nya Smashing Pumpkins. Ada yang mengatakan bahwa kala itu Billy Corgan sedang bercerita tentang sayatan-sayatan merah muda percobaan bunuh diri yang terekam selamanya di sekitar nadi. Sedalam itukah luka yang ditautkan di antara ketiganya sehingga selamanya akan meninggalkan bekas?

Tiga wajah itu menerpa dari masa lalu. Ketika segalanya masih terasa begitu sederhana. Mereka tidak tahu bahwa di masa depan, yang satu akan melukai yang lain; dan mereka akan saling melukai satu sama lain. Pertalian yang aneh, sekaligus menakutkan. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah satu wajah itu, satu wajah orang luar yang tidak kelihatan, yang membungkus ketiganya dalam gelap yang sama pekatnya.

Satu orang di antara mereka baik-baik saja, saya tahu itu. Satu lagi sudah melanjutkan hidup, sempat terantuk, namun saya harap dia baik-baik saja. Yang terakhir… yang membuat saya khawatir. Saya tidak pernah mendengar apa-apa darinya. Terakhir kali saya bertemu dengannya, dia yang paling terluka dari ketiga wajah itu. Dan saya tahu perjalanannya tak pernah mudah sejak saat itu.

Di sini, saya masih berdoa, semoga dia baik-baik saja. Dan saya harap, suatu hari nanti ketiga wajah itu dapat berada dalam satu frame yang sama, sekali lagi. Dan kali ini, ketiganya tersenyum, meski tahu satu wajah itu mengamati dari kejauhan.

Karena tidak ada yang membedakan kemarin dari sedetik yang lalu, seminggu yang lalu, atau sebulan yang lalu. Kemarin adalah kemarin–dan kemarin hanyalah sebentuk masa lalu yang lain.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya sakit. Sudah begitu bukan sakit biasa pula, tapi lumayan menyedihkan–karena sampai membuat saya harus istirahat di tempat tidur. Dimulai dari hari Rabu malam lalu (6/2) hingga hari Kamis kemarin (14/2).

Dan hari ini, masih dengan syal melilit di leher, seplastik obat-obatan dari dr. Regina, dan suara yang hilang, saya menyempatkan diri masuk kantor. Tak tahan memikirkan pekerjaan dari rumah. Saya dihantui rasa bersalah. Hahaha.

Sebenarnya atasan saya berbaik hati menanyakan apakah saya yakin sudah baik-baik saja, dan mengapa saya tidak pulang saja setengah hari. Tetapi terlanjur, ah. Malas rasanya membayangkan setelah tadi bangun pagi-pagi (dan di luar hujan deras waktu saya bangun, oh, I love it!), jam 12 harus sudah pulang ke Bogor lagi. Rasanya mubazir.

Dan ketika saya pulang dari pertemuan dengan klien sore-sore, saya menemukan beberapa sachet teh peppermint di atas meja saya. Dari atasan saya, dengan catatan kecil berbunyi “Get Well Soon…”

Kenapa ya, begitu saja saya jadi sedih dan merasa terharu. Hahaha.

Kalau diingat-ingat, ini salah satu sakit terparah saya. Yang pertama adalah ketika kena gejala tipus sewaktu kelas 5 SD. Lalu ketika cacar air (sangat menderita) sewaktu kelas 3 SMP.

Setelah itu tak pernah lagi saya sakit parah. Biasanya paling hanya sakit biasa, demam atau pilek atau apalah yang hanya bertahan 2-3 hari. Itupun saya masih bisa beraktivitas seperti biasa; dan mungkin hanya ijin tidak masuk 1 hari.

Jadi sakit selama (tunggu saya hitung dulu) 9 hari kemarin adalah sakit saya yang terparah sejak cacar air itu. Suara saya hilang sejak Rabu malam, dan saya anggap biasa saja karena memang suara saya terkadang hilang jika terlalu capek. Tetapi ternyata berlanjut dengan demam naik-turun dan batuk yang tidak berhenti-berhenti (literally hanya berhenti batuk selama 5 detik, lalu batuk-batuk lagi), sehingga saya sama sekali tidak tidur selama 3-4 hari.

Bagi saya yang sangat suka tidur, keadaan itu bahkan jauh lebih menyiksa lagi. Tenggorokan saya sakit dan perih, perut saya juga kram karena otot-otot menegang setiap kali terbatuk. Menderita sekali. Ingin memejamkan mata dan tidur tapi tidak bisa. Ingin bangun menonton TV atau membaca buku, tetapi pusing.

Ah, untungnya sekarang sudah agak mendingan. Meski masih batuk sesekali tapi sudah jauh berkurang. Dan saya sudah bisa bicara walau suaranya sangat pelan.

Tetapi saya masih bertanya-tanya kenapa saya bisa sakit begitu. Makan teratur (malah bisa dibilang makannya banyak hahaha), vitamin C dan buah-buahan juga terpenuhi, hmm, entahlah. Mungkin saya harus sedikit berhati-hati dengan apa yang saya harapkan. Beberapa waktu lalu saya sempat menulis : Mungkin sudah waktunya untuk menghilang lagi dari peredaran.

Ternyata harapan itu ‘bisa’ menjadi kenyataan. Saya sudah mengetahui hal ini dari beberapa kejadian di masa lalu. Tetapi mungkin saya lupa, sehingga kemarin itu diingatkan kembali.

Iya, hati-hati dengan apa yang kamu harapkan. Karena ketika kamu mendapatkannya, mungkin harapanmu itu mewujud dalam sesuatu yang memang benar-benar kamu inginkan. Lain kali, lebih spesifiklah ketika mengutarakan harapan. Hahaha 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Iya, gara-gara menghabiskan suatu malam menyantap kepiting saos padang bersama 4 orang teman, kami secara tidak sengaja membaca apa yang tersembunyi di balik cara kami menyantap kepiting. Benarkah karakter seseorang bisa terbaca dari cara mereka menyantap kepiting? Tidak tahu juga. Tetapi boleh-boleh saja, kan, jika kita coba menyelami 4 macam karakter dari para penyantap kepiting berikut ini:

………………………………………………..

Tipe A.

Karakteristik:
Mengaku suka kepiting tetapi enggan mengutak-atik hidangan dengan alasan sedang enggan. Ketika teman sebelahnya menyodorkan daging kepiting ‘siap lahap’ ke piringnya, ia berkata,”Wah, udah, gak usah. Ngerepotin…” tetapi ia santap juga daging kepiting itu. Dan ketika ada yang menyodorkan daging kepiting ‘siap lahap’ untuk yang kedua dan ketiga kalinya, ia tetap menyantapnya tanpa berkeberatan.

Arti: Hmm, menurut saya tipe orang seperti ini, jelas, adalah orang yang tidak mau repot (hehehe). Ketika menginginkan sesuatu, ia cenderung menunggu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya. Biasanya, orang seperti ini sedikit manja, dan senang mendapatkan perhatian ekstra. Orang tipe ini juga biasanya sulit mengambil inisiatif atau membuat pilihan, dan cenderung menyerahkan keputusan pada orang-orang di sekelilingnya. Kebaikannya adalah, orang seperti ini jarang protes dan cenderung menerima saja situasi apapun yang ada di hadapannya.

Tipe B.

Karakteristik: Menunggu beberapa waktu terlebih dahulu ketika teman-temannya mulai menyantap kepiting. Ketika tertinggal bagian-bagian yang sulit dicuil dagingnya di atas piring (seperti capit), ia akan mengambilnya dan mengorek-ngoreknya dengan tusuk gigi atau mencoba menyeruputnya keras-keras–demi mendapatkan secuil daging yang ada di dalamnya.

Arti: Haha. Tipe orang yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi! Orang seperti ini bisa diandalkan setiap saat, dan tidak mudah menyerah. Ia akan mencoba segala cara untuk mendapatkan keinginannya, walaupun ia harus menempuh jalan yang sulit. Kemauannya yang keras dan jiwa kebersamaannya yang besar juga akan tercermin dalam pekerjaannya, maupun hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Tipe C.

Karakteristik: Menggunakan alat pemecah cangkang; kemudian mengambil daging kepiting, tetapi jari-jari tangannya tetap saja kotor berlumuran saos padang, bagian-bagian cangkang berserakan di atas piring. Yang jelas, orang ini terlihat repot sekali menyantap si kepiting saos padang itu.

Arti: Kalau menurut saya, orang seperti ini termasuk pekerja ‘keras’. Hardworker, istilahnya. Dedikasinya terhadap pekerjaan sangat tinggi, tetapi ia seringkali mengorbankan dirinya sendiri dan ‘dimanfaatkan’ oleh orang lain. Ia cenderung ‘terpaksa’ melakukan segala sesuatunya sendiri (bahkan melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya). Dengan demikian kita bisa melihat bahwa ia kurang tegas dalam memberikan batasan yang diperlukan.

Tipe D.

Karakteristik: Menggunakan sendok dan garpu untuk menyantap kepiting, dan kepiting berhasil disantap dengan rapi seakan-akan orang ini sedang menyantap kepiting cangkang lunak.

Arti: Orang seperti ini pandai memanfaatkan kesempatan atau orang-orang di sekelilingnya untuk melakukan apa yang ia inginkan. Bisa dikatakan ia terkadang agak manipulatif, dan sedikit egois. Tetapi ia sekaligus adalah orang yang efektif dalam mencapai tujuannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencapai sesuatu, tanpa perlu terlalu berusaha keras setengah mati. Ia bisa membuat orang-orang di sekitarnya membantunya meraih tujuannya.

………………………………………………..

Ah, sudahlah, saya hanya berpura-pura sok tahu dalam membaca karakter di sini. Ada yang mau menerjemahkan karakteristik tipe A-D sesuai dengan ‘terawang batin’ masing-masing? 🙂

IMG. http://www.turtlebaycondos.com/Activities/Beach/crab2_72small.gif

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP