Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.

Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu?

Bukan cinta. Atau kecupan lewat kala senja. Tapi waktu.

Semakin singkat. Ingatan fotografis semakin tak bisa diandalkan ketika jejak-jejak mulai berkarat. Dan kamu tahu karat itu hama seperti binatang pengerat. Saya tidak lagi ingin kamu dalam satu kerat. Tidak cukup kuat. Imajimu tidak bisa menjelma nyata hanya dalam nyala lampu 25 watt. Dan waktu tersaruk-saruk di belakang kita dengan langkah-langkah berat.

Hanya waktu. Apakah aku meminta terlalu banyak?

[Tidak, kamu meminta terlalu sedikit. Kecanduan akan waktu ini seperti penyakit, sementara rentang hidup semakin sempit.]

Bisakah kita melahap bintang-bintang dengan mata saja? Pada sebuah ketika di mana akhirnya langit kita berbagi warna serupa. Ketika jendela tak perlu menjelma perantara untuk mengantarkan bingkisan kata-kata. Kedipan bulu mata adalah nyata. Setiap geraknya. Setiap helainya. Tanpa sela. Tanpa cela.

Sempurna.

Ini tak akan bertahan selamanya.

Aku tahu.

Cuma sementara.

Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?

Karena aku tidak meminta selalu.

Aku cuma minta secukupnya waktu.

Hanya waktu.

Untuk mencintaimu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Akhirnya, setelah dipesan beberapa minggu yang lalu (thanks to several Coiners for their donation), wrist band Coin A Chance! diantarkan! Uuh, masih dalam kardus yang dipaketkan, dalam lindungan plastik-plastik bening, fresh from the oven! 🙂

Paket buat Coin A Chance!

Hore! Wrist band untuk Coin A Chance!

Yaay!

UPDATE—June 17, 2009: Hari ini baru menyadari bahwa film dokumenter mengenai Coin A Chance! produksi Refleksi DAAI TV (berjudul: “Koin-Koin Kesempatan”) sudah diunggah ke Facebook Group Coin A Chance! oleh Mas Ari Trismana. Terima kasih banyak!

Videonya bisa dilihat di Facebook Group Coin A Chance! dengan meng-klik gambar di bawah ini:

Koin-Koin Kesempatan, DAAI TV

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Picture 1Perselingkuhan itu merusak.

Yang dirusak bukan cuma hati yang dikhianati atau hubungan percintaan di antara pihak-pihak yang terlibat secara langsung. Dan sesungguhnya, ini lebih jauh dari sekadar masalah sakit hati.

Perselingkuhan meninggalkan bekas yang lama hilang. Semacam trauma yang menyebalkan dan sebenarnya tak layak ada. Tiba-tiba saja, ada perasaan rendah diri. Perasaan tidak layak untuk dicintai. Ada keraguan dan kehati-hatian yang berlebih agar tidak disakiti lagi. Kecurigaan yang berlebihan ketika seseorang yang mengaku lajang mendadak berbaik hati mengajak keluar untuk sekadar makan malam atau jalan-jalan.

Trust is something you earn.

Kepercayaan tidak tercipta dalam semalam. Dan bukan juga sesuatu yang kekal. Satu kali perselingkuhan bisa membuat kepercayaan terhadap seseorang menjadi sangat rapuh. Dua kali perselingkuhan membuat semuanya runtuh.

Dan jangan salah, permintaan maaf tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah runtuh dalam semalam. Butuh waktu lebih lama untuk merekonstruksi semua; dan tetap saja, tak peduli seberapa kerasnya seseorang mencoba, segalanya tak akan pernah lagi persis sama.

Tak pernah ada manusia yang ingin hidup dengan dibayang-bayangi kenangan buruk. Maka, sebagian dari mereka (yang cukup berani), memutuskan untuk mengambil pelajaran yang dibutuhkan, melangkah pergi, dan meninggalkan sisa-sisa kenangan buruk beserta semua hal yang terhubung dengannya di belakang. Ya, jauuuh di belakang… dan mereka pun menyeberangi jembatan itu tanpa pernah menoleh lagi; kemudian membakar jembatan itu sekalian.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Bebaskan Prita Mulyasari!

Ini akan menjadi postingan yang relatif pendek, karena sudah ada begitu banyak orang yang bicara mengenai kasus tak menyenangkan yang menimpa Prita Mulyasari. Saya sendiri tak mengenal sosok Prita secara pribadi, namun sempat merasa miris (dan marah) mengetahui bahwa perempuan ini harus mendekam di balik jeruji besi hanya karena ia menuliskan komplain atas pelayanan sebuah rumah sakit (RS Omni Internasional) di salah satu milis.

Dari sudut pandang saya sendiri, yang awam masalah hukum, kasus Prita merupakan salah kaprah penginterpretasian yang menyedihkan (dan memalukan) dari salah satu pasal dalam UU ITE; sebagaimana para selebritis dan politisi mulai kecanduan menggunakan pasal ‘pencemaran nama baik’ untuk merespon berbagai macam gesekan yang terjadi di antara mereka.

Awal minggu ini, komunitas online sendiri sudah mulai bereaksi dalam menyuarakan pendapat dan dukungan mereka terhadap Prita, baik melalui blog, Facebook, sampai Twitter.

Namun yang berkecamuk dalam benak saya adalah kenyataan berikut: belakangan ini para kandidat capres-cawapres sibuk menggalang simpati dari komunitas online, bahkan sempat-sempatnya menjadwalkan temu blogger segala. Dimulai dengan JK, lalu Prabowo, dan Boediono–ya, lengkap sudah. Semua kandidat sudah terwakili.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kini salah satu dari mereka akan bereaksi dan angkat suara terhadap kasus Prita?*

Lantas teringatlah oleh saya: malam-malam, di sebuah kafe di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan, salah seorang kandidat capres sempat berujar bahwa ia siap dan terbuka untuk dikritik oleh para blogger melalui media blog.

Seorang Prita mengkritik layanan sebuah rumah sakit, dan kini ia berada di balik jeruji besi.

Ada sesuatu yang sangat tidak benar di sini.

——–

*Prita memang bukan blogger, tetapi dia netters yang terjerat UU ITE. Dan sebagaimana diketahui, netters bisa menjadi sangat solid dalam keadaan seperti ini.

**Jadi teringat kasus yang sempat menimpa Herman Saksono.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Coffee Flavored KissesPagi hari menatah malam tadi dalam imaji yang tereduksi: hujan, 5 pitcher Heineken, lagu-lagu Mariah Carey, asap, kotak-kotak kosong Dunhill dan Marlboro Lights Menthol, antrian panjang di depan toilet yang cuma satu-satunya, pecahan gelas yang berantakan.

[Selamat pagi…]

Aroma yang kukenal baik. Kopi tubruk. Susu cair. Dan kamu.

Do you realize that you have this lovely peppermint smell I’m totally crazy about? So refreshing! What was that? An after-shave cream? A toothpaste?

Kamu menjengukkan kepala dari balik jendela; terang membuat pucuk kepalamu bercahaya, seperti malaikat. Ada mug besar berwarna hijau muda dalam genggamanmu. Kafein bercampur Chambord dan Baileys. Memabukkan hanya karena kamu yang menyajikannya untukku. Tetapi bukankah tiap kehadiranmu itu memang selalu memabukkan?

Kamu tersenyum. Mengapa kamu tersenyum? Did I say that out loud?

[Have your coffee first before it gets cold.]

Semuanya terasa hangat. Matahari. Senyum. Kopi. Pagi. Telapak tangan. Hati. Coffee-flavored kisses. Juga bingkisan kecil di atas meja: an all-access ticket to do whatever I want with you (and your heart). I couldn’t ask for more.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sore ini, bersama seorang kawan, saya iseng-iseng membuka tulisan kawan saya (sutradara Romeo&Juliet itu) yang pernah tersimpan di sini.

Kawan saya sambil lalu membacakan judul-judul artikel yang terpajang di halaman itu, hingga kami berdua tertegun sebentar.

Dan saya berkata,”Kok judul-judul ini seperti petunjuk yang ditujukan untuk hidup saya?”

Judul-judul tersebut adalah:

  • Mencari kebahagiaan
  • Atas nama cinta
  • Menjaga kesenangan
  • Mimpi harus diraih

Apakah ini salah satu momen ‘kebetulan’ yang sebenarnya merupakan tanda-tanda bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang tengah mencoba bercakap dengan saya?

Happy weekends, all! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

The Day Sky, Hafiz (The Subject Tonight is Love)

Let us be like
Two falling stars in the day sky.

Let no one know of our sublime beauty
As we hold hands with God
And burn

Into a sacred existence that defies—
That surpasses

Every description of ecstasy
And love.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

“Kamu seperti hidup di dalam kaleng sarden.”

Saya terbahak. Ini terasa seperti deja vu. Pengulangan dari episode yang pernah diputar beberapa bulan lalu. Saya sendiri sudah nyaris lupa. Hingga ia mengingatkan saya lagi hari ini.

Kamu nggak kreatif. Itu kan yang pernah saya katakan padamu dulu!

Dia ikut tertawa. “Tapi kaleng sarden yang ini beda!”

Apa bedanya?

Waktu itu hari Sabtu, sore hari, menjelang pukul lima. Lalu-lintas jauh lebih sepi dari biasanya. Kami berjalan kaki di bawah langit yang sedikit mendung. Udara lembap. Saya berusaha mengimbangi langkah kakinya yang panjang-panjang itu dengan bergerak lebih cekatan. Melompati batu-batu di trotoar dan menghindari celah-celah yang bisa membuat kaki patah—atau setidaknya terkilir, jika kurang hati-hati. Sebenarnya, saya bisa saja memintanya untuk berjalan lebih perlahan; tetapi entah mengapa, saya tidak kepingin. Mengikuti langkahnya membuat saya merasa seperti Dian Sastro yang tengah mengikuti langkah-langkah Ariel dalam video klip Menghapus Jejakmu-nya Peterpan. Tentu saja, saya tak pernah mengatakan hal ini kepadanya. Terlalu memalukan rasanya.

Picture 2

“Pernah dengar Survival Kit in A Sardine Can?”

Saya menggeleng. Apa itu?

“Aku lihat di ThinkGeek. Sesuai namanya, ini semacam geek tools berupa alat-alat bertahan hidup yang kemasannya berbentuk kaleng sarden. Di dalamnya ada obat penahan sakit, perban, alkohol, korek api, kompas, silet, peluit, instruksi pertolongan pertama pada kecelakaan, dan masih banyak lagi.”

Lalu hubungannya denganku?

“Yah… kamu adalah kaleng sarden semacam itu. You are my survival kit.”

Saya nyaris tertawa, meskipun masih sempat menahannya agar tidak terbahak, dan menyamarkannya menjadi batuk-batuk yang terdengar sangat artifisial. Saya takut menyinggung perasaannya jika saya kelepasan tertawa. Tetapi ini memang lucu! Dari semua lelaki yang pernah dekat dengan saya, ia adalah lelaki yang paling platonis. Seharusnya, dia tidak romantis. Mendengarnya berkata demikian membuat saya merona. Merona karena menahan tawa. Tetapi saya tidak kuat menahan tawa lebih lama lagi. Apalagi saat itu kandung kemih saya sedikit penuh. Jadi, saya lepaskan otot-otot di sekitar pipi untuk tertawa. Sampai keluar air mata.

Norak, ah!

Untungnya, dia ikut tertawa bersama saya. “Sial, aku harus lebih banyak latihan. Jadi yang tadi itu nggak berhasil, ya?”

Tapi bagus, sih, saya masih terkikik. Dan terima kasih, karena sudah berpikir demikian tentang saya.

“You deserve it.”

Kami terdiam. Ada jeda yang terlalu lama. Selama beberapa detik tatapan kami bertemu, sebelum akhirnya sama-sama mengalihkan wajah ke tempat lain. Tiba-tiba saja tembok-tembok di sekitar distrik bisnis SCBD itu menjadi sangat menarik, sehingga kami seakan tak bisa melepaskan pandangan dari sana. Selama beberapa waktu, kami berjalan bersisian dalam diam. Ia tetap santai, sementara saya masih melompat-lompat untuk mengimbangi langkahnya.

“Sekali-kali aku ingin ketemu kamu lagi…” katanya, sambil menengadah ke langit, memandangi awan yang tadinya kelabu dan kini sudah semakin menghitam. “Aku ingin bilang…”

Tiba-tiba secercah kilat menyambar dari langit. Sedikit gerimis menitik pelan-pelan.

Ayo, lari! Sebentar lagi hujan besar! Saya menarik lengannya, mengajaknya berlari menuju salah satu mall yang sudah berjarak tak jauh lagi dari situ. Butir-butir hujan berjatuhan semakin besar, semakin banyak, semakin kerap. Petir menyambar beberapa kali. Seperti lampu yang terkena arus pendek.

Kami tertawa di bawah hujan, berlari tanpa memedulikan keadaan sekitar; dan masih tertawa-tawa dengan napas terengah ketika menerobos masuk melewati meja pemeriksaan sekuriti di pintu depan mall, untuk disambut tiupan pendingin udara yang membuat kami menggigil kedinginan, juga wangi roti-roti manis yang baru keluar dari panggangan–membuat kami tiba-tiba saja merasa lapar.

Kami berdiri sejenak di depan toko roti dengan dapur transparan itu. Ia menepuk-nepuk ranselnya yang basah dengan tangan kanan, sementara saya sibuk mengusir titik-titik air dari rambut saya dengan tangan kiri.

Oh ya, jadi, kamu mau bilang apa tadi? Sebelum turun hujan?

Ia cuma tersenyum.

“Hmm, sepertinya nggak penting lagi. Semuanya sudah jelas kok, it’s in the air… right here,” katanya sambil mengangkat tangan kirinya ke udara. Bersamaan dengan itu, tangan kanan saya terangkat juga secara otomatis. Ya, di udara, tangan kanan saya dan tangan kirinya masih saling menggenggam.

Genggaman yang tidak kami lepaskan lagi sejak sore itu hingga hari usai.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP