Tau macaroon, nggak? Ini sebenarnya mirip-mirip merengue yang terbuat dari putih telur yang dikocok sampai kaku. Biasanya dicampur gula, biar manis, terus dipanggang. Karena terbuat dari putih telur aja, dan nggak pakai tepung, adonannya ringan, dan begitu ditaruh di atas lidah… langsung meleleh, deh! Biasanya merengue nggak ada filling/isinya, jadi katakanlah macaroon itu semacam merengue yang pakai macam-macam filling 😀

Karena di Le Codefin, Kemang, ada yang jualan macaroon, saya dan Nena nggak tahan untuk nggak beli. Lihat saja, bentuk dan warnanya imut-imut begitu!

Ini macaroon yang brand-nya Maca Express; harganya 10ribu sekeping. Cih. Lumayan mahal, mengingat betapa kecil ukurannya, dan betapa cepat dia akan meleleh di dalam mulut. Tapi, sudahlah, akhirnya kami tergoda membeli 5 keping: rasa green tea, peach, strawberry, blueberry, dan passion fruit.

Buat yang masih penasaran soal macaroon, penjelasan panjang tentang macaroon bisa dibaca di artikel Wikipedia ini:

The word macaroon is applied to a variety of light, baked confections, described as either small cakes or meringue-like cookies depending on their consistency. The original macaroon was a “small sweet cake consisting largely of ground almonds”[1] similar to Italian amaretti. Today, other common varieties include the coconut macaroon and the French macaroon or macaron, which can have various flavourings and is typically cream-filled.

The English word macaroon and French macaron come from the Italian maccarone or maccherone. This word is itself derived from ammaccare, meaning crush or beat,[2] used here in reference to the almond paste which is the principal ingredient.

Most recipes call for egg whites (usually whipped to stiff peaks), with ground or powdered nuts, generally almond or coconut. Almost all call for sugar. Macaroons are commonly baked on edible rice paper placed on a baking tray.

———-

*)images courtesy of Unspun

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Untuk merayakan hari Jumat, seisi divisi (The Diplomat, James Bond dan The Berserk) ditraktir Bos Besar makan iga panggang di Tekko, Le Codefin, Kemang! Hooraaah! Seperti biasa, dimulailah seri foto-foto kuliner dengan kamera si Bos yang kelihatan oldies, RICOH GRD II warna hitam; dan inilah hasilnya! (tarik-tarik lengan baju Bos Besar, “aku mau kamera itu, mau, mau, mau…!”)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ini adalah salah satu postingan nggak penting. Tapi, siapa bilang postingan di blog harus penting? Jadi begini, saya punya avatar Twitter baru 😀

Tentu saja ini salah satu masterpiece dari the talented Ms. Kapkap. Avatar seri ini adalah avatar kami dan hewan-hewan tempat curhat dan menumpahkan stress (comfort-pet series).

Hewan saya adalah ayam.

Mengapa ayam? Lucu aja, waktu ditanya hewan yang saya inginkan, saya langsung menjawab anak ayam 😀

Seri berikutnya adalah milik Kapkap dengan kucingnya yang suka mellow:

Dan Nena yang suka melompat-lompat seperti kelincinya:

Dan hari ini ketiga avatar comfort-pet mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ibu Guru yang keren, gaul, muda, dan cantik: Mbak Lita Mariana 🙂 Selamat ulang tahun, ya, Bu Guru! 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Melanjutkan postingan kembar siam saya, Nena, mengenai stress, berikut adalah stress dan pengaruhnya di balik layar tempat kami bekerja:

1. Lemah otak ketika ditanya pertanyaan sederhana oleh bos, dan bos membalas dengan memberikan ‘thinking cap’ untuk membantu proses berpikir (tidak efektif). Korban: saya.

2. Tidak sempat menata rambut di rumah, sehingga harus menggulung rambut pagi-pagi buta di kantor sebelum orang-orang berdatangan (ternyata bos sudah datang). Korban: Nena.

3. Mau bersin saja susah. Korban: Nena.

4. Gampang ketiduran. Korban: Kapkap, feat. James Norris.

*) semua kartun di atas adalah hasil karya the famous Ms. Kapkap; dan merepresentasikan kejadian yang sungguh-sungguh terjadi (sumpah, deh!)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu membuatku gugup waktu itu.

Kita bertemu untuk yang pertama kali di tengah keramaian. Orang-orang di sekitar kita berteriak, tersenyum, tertawa, menyapa, menjepretkan kamera, berjabat tangan dan melambai sekaligus. Tergesa dan terburu menuju entah. Koridor itu terasa sempit dan penuh-sesak, tetapi keberadaan kamu di sana melampaui semua hingar-bingar itu.

Mungkin kamu tidak tahu bahwa aku sudah mengagumi kamu sejak dulu. Lama sebelum kamu menyadari bahwa aku ada.

Keesokan harinya kita bertemu lagi untuk menikmati sushi dan kopi hingga senja hari. Dan setelah ratusan hari, aku masih ingat dengan jelas di mana kamu duduk (kita duduk bersebelahan dengan kamu di sisi kiri), baju apa yang kamu kenakan, makanan penutup apa yang kamu pesan… dan betapa aku sudah merasa nyaman berada di dekatmu sejak saat itu.

Dan waktu mungkin memang selalu mencandai kita sedemikian lucu. Atau mungkin ia hanya ingin kita menunggu dan menjadi yakin pada apa yang kita rasa. Mungkin juga ia sengaja membuat kita berjalan pelan-pelan, sehingga di masa depan kita akan punya cukup banyak kenangan untuk disimpan dan kisah-kisah untuk diceritakan. Atau bisa jadi ia hanya ingin menguji seberapa lama sekeping perasaan akan bertahan setelah jarak memisahkan.

Tetapi ternyata, perasaan itu bertahan.

Ketika kita bertemu kembali di kotamu setelah ratusan hari berlalu, malam itu kamu menemukan aku. Dan sejak saat itu aku tidak ingin hilang lagi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Update: versi PDF 28HARI bisa diunduh di sini.

___

Pada tanggal 1 Februari 2010, seorang perempuan menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai lelakinya. Di hari yang sama, seorang lelaki menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai perempuannya. Catatan-catatan mereka meninggalkan jejak yang acak; tetapi nampak saling berhubungan. Tetapi siapa mereka? Apa hubungan di antara keduanya? Dan apa yang terjadi ketika catatan-catatan mereka berakhir tepat pada tanggal 14 Februari?

Jawabannya adalah 28 HARI; yang terdiri dari 14 hari dalam kehidupan seorang perempuan dan 14 hari dalam kehidupan seorang lelaki.

28 HARI berawal dari percakapan di senja hari antara saya dan @ndorokakung; yang kemudian melahirkan ide untuk berduet menulis semacam prosa. Ya, 28 HARI memang bukan jenis cerita pendek, bukan juga cerita bersambung. Saya sendiri lebih suka menyebutnya prosa saja.

Meski ini bukan yang pertama kali, namun 28 HARI bisa jadi merupakan duet saya yang pertama dengan NdoroKakung. Saya sejak lama mengagumi prosa-prosa NdoroKakung; dan menghargai ketaatannya terhadap kaidah bahasa. Ia juga punya asupan kata-kata indah yang sudah jarang digunakan lagi sejak era Balai Pustaka; dan kami sepertinya bisa saling mengerti sisi melankolis sekaligus romantis dalam prosa masing-masing. Sebelum ini, kami memang sudah kerap berbalas prosa melalui blog masing-masing, namun semuanya biasanya terjadi secara spontan, tanpa direncanakan.

Proyek 28 HARI yang kami kerjakan ini pun menghirup kebebasan yang sama. Kami hanya mengambil sudut perempuan dan sudut lelaki, kemudian bebas menuliskan apa saja. Tak ada diskusi mengenai alur yang harus diikuti atau pakem yang harus diseragamkan. Kami hanya mengikuti hati, imajinasi, dan jemari–untuk kemudian masing-masing menyulamkan 14 hari pada catatan-catatan ini.

Kutipan-kutipan dari proyek 28 HARI inilah yang sejak bulan lalu kerap kami ‘bocorkan’ melalui Twitter, dengan hashtag #28hari.

Buat saya 28 HARI bukan saja sebuah proyek ‘imajiner’. Dalam proses penulisan 28 HARI, ternyata saya juga menuliskan kisah cinta saya sendiri di dunia nyata. Itulah sebabnya saya sempat menelantarkan proyek ini selama beberapa waktu; sebelum kemudian merampungkannya dengan perasaan hati yang tengah berbunga-bunga.

Mengutip kata-kata NdoroKakung, “Kami telah selesai. Giliran sampean, membaca, menikmati, dan memberi komentar. Kami akan mendengarkannya dengan hati terbuka. Seperti musim semi yang bercahaya…”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP