As a college student and as an adult, I started losing bookmarks.

I have lots of cute bookmarks, and there were times when I realized that some of my bookmarks have been missing; and only two were left. I bought more bookmarks and in a year, I realized that I have lost three. Probably it was lying around helplessly in some of my drawers, or in my huge bookshelf—got hidden under some books, still buried between the pages of a certain novel I haven’t finished, or slipped under my bed sheet—since I love reading in bed.

Not so long ago, my boyfriend got me this beautiful bookmark.

It looked a lot like stained-glass you spotted at those colorful church windows; the colorful pieces make up the shape of a peacock. Since then, I have had three episodes of panic attack when I couldn’t find that peacock bookmark; while my other bookmarks are lying around peacefully on top of my bedside table.

It was like those moments when you thought you’ve lost your mobile phone. In desperate anticipation, you emptied your bag, preparing yourself for the worse, then with a thud your mobile phone hit the floor; along with mints and an almost empty tissue pack and keys and name cards and your purse, and you realized that you didn’t lose it, and it was there all the time.

At the time I couldn’t find that peacock bookmark, I would feel the chill down my spine, and my mind was racing: what was the last book I read, did I bring that book to the office, in which bag I carried that book, did I left it here, did I left it there?

I would emptied every drawer, every bag, every book lying on the top pile of my bedside table desperately, flipping every page frantically, my heart pounding. I felt feverish. Annoyed. Mad. I would go crazy and started swearing silently. And then when I was close to giving up; madness turned into sadness. The realization that I have really lost it crept in.

And then, suddenly, I would find the peacock bookmark somewhere 😀 Inside my laptop bag. Hidden under my pillow. Buried inside my make-up case (how?). But then the feeling of relief showered me like summer rain in wintertime.

When I’m about to travel, I’ll be looking at the book I’m about to read on the plane; and I’ll ask myself whether I want to bring the peacock bookmark along with me. I’ll ask myself again and again: what if I lost that bookmark in a faraway island, a foreign country? I won’t be able to retrace it, won’t be able to get it back.

It’ll be safer to just use the peacock bookmark when I’m reading at home. I might misplace it, lost it for an hour (or a day), but I can just search my house or my bedroom, knowing that though I haven’t found it, the bookmark must be there, hidden peacefully, somewhere.

However, I can’t resist the urge to take the bookmark with me when I’m traveling: to have it between the pages of my book when I switch on my reading light, to trace the texture with my fingers as I gaze out from the cabin’s window, to be reminded of my boyfriend whenever I take a glimpse on it.

I know that no matter how careful I am, still, I might lose that peacock bookmark. Probably it’ll slip from the pages of my book and fall to the ground when I’m about to hop into a tram. Or leave it under a pillow at a hotel room somewhere. Or drop it on the floor when I’m about to board the plane.

But it’s worth the risk; and the panic attack.

A lot like love, don’t you think? You know that one day it will crush you and break your heart in a thousand different ways, but no matter what, you keep seizing the chance anyway, for all it’s worth 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Coba perhatikan penjelasan Kominfo perihal ribut-ribut penayangan film bertema ‘queer’ (Q! Film Festival) di Goethe Institute ini; di sela-sela pemberitaan mengenai FPI yang akan menyerang gedung kebudayaan Jerman tersebut:

Kalau ada kegiatan seni dan kebudayaan dengan tema reinkarnasi? Natal? Dewi Kwan Im? Dewa-dewi Hindu? Permainan bambu gila di Maluku? Film hantu feat. pocong dan suster ngesot dan sundel bolong dan kuntilanak juga mengapa masih bebas saja tayang di mana-mana? Sejak kapan Kementerian Kominfo dijalankan dengan kaidah Islam? Sejak kapan Indonesia berubah menjadi negara Islam? Dan mengapa kita membiarkan orang-orang semacam ini berada di Kementerian?

Update (6.38 pm):

Hey, lihat! Di halaman Kominfo, butir yang sudah di-screen grab di atas itu kini dihilangkan dan menjadi seperti ini:

Sayangnya, di Internet, sudah banyak orang yang melihat butir semula, di mana ada pernyataan mengenai ‘kaidah Islam’. Screen shot siaran pers sebelum diedit juga sempat ditangkap di sini, silakan di-zoom untuk membaca 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Waktu beresin lemari buku di akhir minggu, pandangan saya tertumbuk pada sebuah novel lama di rak tengah. Keluaran tahun 1986, terbitan Gramedia. Judulnya “Namaku Bayu” karya Teguh S. Hartono. Bayu, 13 tahun, terpaksa putus sekolah karena alasan klasik: nggak ada biaya. Emaknya hanya penjual lotek, dan bapaknya sakit. Konsentrasi Bayu adalah mencari uang untuk menghidupi dirinya, juga keluarganya.

Maka bersama anak-anak sebayanya yang sama-sama kurang beruntung, Bayu pun bekerja sebagai buruh di pabrik obat. Pekerja anak-anak di pabrik ini ada yang harus melakukan pekerjaan berat dan berisiko tinggi dari pagi hingga sore hari, padahal mereka dibayar harian dengan upah sangat rendah. Melihat kondisi ini, ditambah tekanan dari beberapa ‘preman’ pekerja dewasa di pabrik, Bayu pun memimpin kawan-kawannya untuk mengajukan tuntutan kepada bos pabrik. Mereka meminta jaminan kesehatan, upah yang layak, juga jemputan, karena anak-anak ini banyak yang harus berjalan kaki 15 kilometer menuju pabrik. Pasalnya, kalau naik angkutan umum, upah mereka bisa langsung habis. Sebegitu kecilnya memang upah yang mereka terima.

Dibantu seorang wartawan, perjuangan Bayu dan kawan-kawannya ini pun berhasil menjadi tajuk utama di koran dan membuat bos pabrik geram. Bayu dan kawan-kawan pun dipecat. Sisanya? Mungkin lebih baik baca sendiri novelnya supaya nggak spoiler 😀 (walaupun saya sempat cari di Google, tapi kok seakan-akan novel ini tidak pernah ada).

Terus kenapa tiba-tiba saya jadi ngomongin novel lama ini? Nggak apa-apa, sih. Kebetulan waktu lagi beresin buku di lemari itu saya juga nemu beberapa tumpuk buku yang dikirimkan untuk saya. Salah satunya sebuah novel remaja, kisah mengenai sekelompok anak SMU di mana karakter cowoknya membawa BMW Z4 Coupe ke sekolah dan karakter ceweknya punya rumah bagus dengan kolam renang besar.

Mungkin hidup memang sudah njomplang adanya, bahkan di dalam novel-novel remaja. Sementara dari tahun 1986 sampai sekarang, anak-anak seperti Bayu masih saja berjuang sekadar untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi. Apalagi untuk sekolah. Apa kabar dana BOS ketika siswa masih harus mengeluarkan uang bangunan, uang les, sumbangan sukarela wajib (suka rela kok wajib?), uang buku, uang piknik, uang perjalanan studi dan lain-lainnya yang akan berdampak kepada nilai tugas ketika tidak dibayar?

—————————————————————————–

– Jakarta, sore hari yang dingin. Laporan ILO menyatakan masih ada 1,7 juta pekerja anak di Indonesia.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Jika demikian, biarkanlah. Hati yang sudah pecah pun bisa dikumpulkan kepingannya. Lalu kepingan-kepingan berwarna-warni itu bisa ditempelkan pada sebuah stoples kue yang tutupnya sudah hilang, kemudian dijadikan vas bunga—untuk meletakkan seikat bunga matahari. Bunga-bunga itu akan nampak lucu, membuat ruangan yang paling suram sekalipun akan terlihat sedikit unyu.

Maka, jika kita adalah kata-kata, jadikanlah kita segala yang menghadirkan hangat. Seperti semangkuk ketupat dan opor ayam di atas meja.

– hari ini, tepat seminggu setelah Idul Fitri –

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Roopa Farooki, 2009 | 352 halaman

My name is Yasmin Murphy, and I don’t remember very much about the morning that my mum died, which is odd, as normally I remember everything. (The Way Things Look to Me)

Saya sudah membaca beberapa novel mengenai autisme, termasuk The Curious Incidents of The Dog in The Night Time dan The Boy Who Ate Stars. Tetapi The Way Things Look to Me-nya Roopa Farooki adalah novel yang paling menyentuh untuk saya.

The Way Things Look to Me berkisah mengenai dunia dari sudut pandang gadis berusia 19 tahun bernama Yasmin. Autisme (dalam hal ini Asperger’s Syndrome) membuat hidup yang mestinya sederhana menjadi rumit untuk seorang Yasmin. Benaknya yang sibuk menyerap informasi seperti spons menyerap air. Ia berkutat mengenai mana informasi yang penting untuknya dan mana informasi yang penting bagi ‘orang kebanyakan’. Ia ingin dipeluk dan merasa hangat, tetapi pelukan malah membuatnya panik.

Yang paling menarik dari The Way Things Look to Me adalah kenyataan bahwa dunia bukan hanya dikisahkan dari sudut pandang Yasmin saja. Tetapi juga dari Asif–kakak lelaki Yasmin yang ‘terlalu baik-baik’ dan Lila, kakak perempuan Yasmin yang sinis memandang kehidupan. Hidup bersama seorang adik yang autis ternyata punya dampak luar biasa terhadap perkembangan jiwa Asif dan Lila. Hingga dewasa, keduanya masih saja berkutat dengan rasa cinta dan benci terhadap Yasmin, yang sudah mengakar sejak mereka masih sangat kecil. Belum lagi, Asif dan Lila masih harus berbagi tanggungan: akan hidup mereka sendiri (yang bermasalah) dan kehidupan Yasmin.

Mengikuti perjalanan ketiga jiwa yang tersesat ini mencari kebahagiaan mereka masing-masing adalah perjalanan yang penuh dengan emosi. Bukan jenis emosi yang meledak-ledak, tapi emosi yang menyelinap diam-diam, sehingga saya bahkan tak sadar kapan tepatnya saya mulai menangis.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sebelum bertemu kamu, aku bahkan tak tahu bahwa aku punya sayap.

Something opens our wings
Something makes boredom and hurt disappear
Someone fills the cup in front of us
We taste only sacredness

– taken from Rumi’s Something Opens Our Wings, A Year of Rumi –

Kamu tidak mengajariku bagaimana caranya terbang. Kamu hanya mengajariku untuk percaya. Dan sisanya adalah masa lalu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP