Terbangun menjelang pukul setengah enam pagi, kita beranjak ke beranda untuk memandangi kabut dan perbukitan di sekitar Cat Ba Town.

Suara sayup-sayup lagu kebangsaan Vietnam dari pengeras suara; suhu udara yang berkisar antara 17-18 derajat Celcius; langit yang ungu-kelabu; angin lembap dan rinai gerimis yang menyapu wajah kita… semuanya berbaur dengan kehangatan secangkir kopi dan teh yang dinikmati berdua saja.

Setelah menikmati sarapan ala Western di hotel, kita keluar terbungkus pakaian hangat dan scarf; berjalan kaki beberapa langkah menuju kantor penyedia tur kecil di dekat situ. Sebuah bis sudah menanti; yang akan membawa kita ke pelabuhan untuk menelusuri keindahan Lan Ha Bay di pagi hari — yang ditetapkan sebagai World Heritage-nya UNESCO di tahun 1994.

Perahu Cina yang kita sewa telah menunggu di sana. Melewati pasir yang basah dan menghiraukan rinai gerimis, kita naik ke atas kapal. Awak kapal kemudian menaikkan matras ke dek atas yang terbuka, sehingga kita bisa duduk-duduk di sana memandangi keindahan gugusan batuan kapur di sekeliling kita. Hanya ada suara pagi: sepi, kapal motor di kejauhan, riak air, dan kita.

Pemandangan batu-batu kapur, kabut yang dingin,  pantai tersembunyi di antara dua batu kapur yang tinggi, langit yang tidak berbatas, gerimis yang datang dan pergi sesuka hati, keberadaan kamu dan lagu-lagu di dalam iPod yang kita kumpulkan selama beberapa hari sebelumnya; jauh sebelum ini…

semuanya menandai perjalanan yang hening dan mengagumkan.

Menjelang pukul sepuluh, kita mendarat di Monkey Island — yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Cat Ba.

Pasir putih dan air yang tenang serta bening; koral-koral yang indah, dan monyet-monyet jinak yang duduk-duduk di atas pasir membuat kita betah diam saja di sana dan memandangi.

Menjelang pukul sebelas siang, kita melambai pada kapal sewaan kita yang tertambat tak jauh dari situ, memberi isyarat bahwa sudah saatnya kita kembali ke Cat Ba Town.

Duoy–dan mobil sewaan kita sudah menunggu. Perjalanan selama sekitar 5 jam menuju Hanoi akan ditempuh dengan ransum berupa kacang wasabi, keripik ubi, dan aneka cemilan, serta minuman ringan macam WinterMelon. Penyeberangan kita dengan feri terasa lebih menyenangkan, karena di siang hari kita menaiki feri besar dengan dek bertingkat.

Kita tak lagi perlu bersesakan dengan sepeda-sepeda motor, dan dapat naik ke dek teratas yang lapang, menikmati panasnya matahari dan angin dingin yang masih bertiup dari Cat Ba Town.

Sambil menunggu feri berikutnya di Hai Phong, kita duduk-duduk di tepi pelabuhan, memandangi perempuan-perempuan Vietnam mencari kerang-kerangan di lumpur,

seraya memandangi perahu-perahu dan menyodorkan Lonely Planet kita pada Duoy — yang dengan senang hati memberitahukan kita cara pengucapan kata-kata tertentu dalam bahasa Vietnam.

Dari pelabuhan, perjalanan menuju Hanoi yang panjang dimulai. Teriknya matahari membuat kita tertidur di jok belakang; namun kita tak melewatkan senja di Hanoi sore itu. Melewati lalu-lintas yang padat, jembatan-jembatan, serta billboard yang berpendar dalam cahaya matahari.

Sebentar lagi perjalanan ini usai. Tetapi kita masih memiliki sebuah malam dan sebuah pagi di Hanoi. Jadi, mari kita simpan sebanyaknya kenangan di kota yang dikenal romantis ini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pagi itu, kita meninggalkan Hồ Chí Minh City dan bergegas menuju pelabuhan udara.

Tujuan kita berikutnya: Cat Ba Island di Utara Vietnam. Pulau kecil inilah salah satu akses menuju gugusan batuan kapur yang mengagumkan di Ha Long Bay; dan dapat ditempuh lewat ibukota Vietnam, Hanoi.

Berjejal dalam penerbangan domestik JetStar bersama para penduduk lokal dan delapan anak balita yang menangis dan menjerit-jerit selama satu jam, saya merasa baik-baik saja. Karena kamu ada. Suara-suara dunia seperti teredam ketika kita tertawa.

Sudah hampir tengah hari ketika kita mendarat di Noi Bai International Airport, di Soc Son Distric. Pengemudi mobil sewaan kita, Duoy, sudah siap menanti di pintu keluar. Perjalanan ini akan menjadi sangat panjang dan agak tergesa, sehingga kita bahkan tidak dapat berhenti untuk makan siang.

Dari pelabuhan udara, kita masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam menuju pelabuhan — kemudian mengejar feri menuju Hai Phong (yang kabarnya hanya beroperasi hingga pukul 5 sore). Dari sana kita akan menempuh perjalanan darat lagi sekitar 1 jam sebelum menyeberang dengan feri menuju Cat Ba Island, diteruskan dengan sekitar 1 jam perjalanan lagi menuju Cat Ba Town.

Selama 6-8 jam ke depan, kita akan terkurung berdua di jok belakang mobil sewaan ini. Jika kita bisa melewati perjalanan ini tanpa saling membunuh, segalanya akan baik-baik saja, bukan begitu? 😀

Perjalanan dari Hanoi menuju pelabuhan memakan waktu lama dan tergolong tidak nyaman (tetapi baik-baik saja ketika dilalui bersamamu, dan mobil sewaan kita begitu menyenangkan). Pemandangan di kiri-kanan kita hanyalah pabrik-pabrik dan hotel-hotel kumuh; serta warung-warung kecil. Sementara jalanan yang kita lalui berlubang dan berdebu.

Sekitar setengah jam terakhir menuju pelabuhan, menjelang pukul lima sore, barulah kiri-kanan kita ditingkahi hijau persawahan dan rawa-rawa.

Di pelabuhan, menjelang senja, kita naik ke atas feri bersama orang-orang Vietnam yang juga hendak menyeberang dengan motor-motor mereka. Berdiri bersesakan di sana; kita memandangi cakrawala di kejauhan dan pasangan-pasangan yang saling berpelukan dalam balutan jaket-jaket mereka.

Kita memang tidak menyiapkan diri untuk udara dingin dan angin laut seperti ini. Lupakan jaket, sweater, atau scarf. Tetapi bersama kamu, saya merasa hangat selama sekitar 45 menit ke depan. Dan kita berdiri di sana, bersisian, memandangi senja serta terbenamnya matahari di atas lautan. Saya tidak bisa meminta lebih.

Langit sudah gelap ketika feri kita merapat di Hai Phong. Terperangkap lagi di jok belakang mobil, kita menggunakan waktu yang sebentar itu untuk menghangatkan diri; sebelum kembali turun mencium asinnya lautan di pelabuhan berikut, yang akan membawa kita ke Cat Ba Island.

Malam itu, secara ajaib, angkasa menuangkan kelip bintang-bintangnya di permukaan laut. Saya melompat kegirangan dan menarik-narik lengan bajumu, “Lihat!” — seraya menunjuk ke permukaan laut yang berpendar dengan kelap-kelip menakjubkan.

Kamu bertanya apa itu.

Bioluminescence.

Bioluminescence or water shining flashes of light, which is a chemical form of light and glowing, is caused in a daily occurrence by the group dinoflagellates. After using up carbon dioxide from the atmosphere in their bodily processes the spent algal residue falls to the ocean bottom in the form of carbon. In the process as carbon fixing organisms they turn water and carbon dioxide (a greenhouse gas) into sugar using sunlight and also produce chemicals that affect the formation of clouds.

Untuk pertama kalinya, malam itu, kamu menyaksikan fenomena alam yang selalu nampak indah bagi saya itu. Bahwa kita berbagi bintang di atas permukaan laut, pada malam itu, juga akan selalu terasa indah buat saya, bahkan lama setelah perjalanan itu berlalu dan tersimpan dalam kotak kenangan saya.

Sekali lagi, malam yang dingin dan berangin itu kita habiskan dengan berjejal bersama sepeda-sepeda motor dan penduduk lokal menuju Cat Ba Island. Langit malam ditingkahi bintang-bintang yang muncul dan berkelip sesekali, serta lampu-lampu kapal dan rumah apung di kejauhan.

Hampir pukul setengah delapan malam ketika kita melewati daerah gelap menuju Cat Ba Town. Dari balik jendela mobil, kita bisa melihat batu-batu kapur yang tinggi menjulang dari gugusan Lan Ha Bay–terusan dari Ha Long Bay di sekitar Cat Ba Island; yang relatif lebih terisolasi dari aktivitas pariwisata dibandingkan Ha Long Bay (di dekat Ha Long City).

Setelah meletakkan koper-koper dan menyegarkan diri di Holiday View Hotel, kita berjalan kaki melawan udara dingin (dengan jaket dan scarf) menyusuri Cat Ba Town yang mungil. Pemandangan di sekitar kita–lautan dan angin dingin; jalanan yang lengang, lampu-lampu jalan yang seadanya, deretan penginapan kecil, toko suvenir, restoran, dan penyewaan kapal, anjing-anjing yang berkeliaran… semuanya membuat saya merasa tengah terdampar dalam novel Goodbye, Tsugumi-nya Banana Yoshimoto.

Setelah menyewa sebuah kapal Cina untuk mengarungi Lan Ha Bay keesokan paginya, malam itu kita memutuskan untuk menikmati makanan hangat di dua restoran yang direkomendasikan Lonely Planet: Bamboo Cafe (fried spring rolls dan seafood pho);

dan Huong Y (tumis bayam yang lezat dan buah-buahan dengan yogurt), yang terletak bersebelahan.

Berjalan pelan-pelan menentang angin dingin dengan perut penuh dan hangat; kita memandang gugusan batu kapur di atas lautan–tempat kita akan menghabiskan esok pagi dengan cerita yang lain.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

Lagu Way Back into Love-nya Hugh Grant & Haley Bennett bermain-main dalam benak saya ketika kita kembali menyusuri gang sempit menuju jalan besar di Phạm Ngũ Lão; melompat ke dalam taksi, dan menelusuri Hồ Chí Minh City di waktu malam. Dari balik jendela, kota berpendar dalam titik-titik cahaya yang hangat dan menyenangkan (ataukah itu karena kamu?).

Taksi yang kita tumpangi berhenti di Từ Trong; di depan sebuah restoran kecil dengan nuansa kecokelatan.
Hương Lại.

Restoran ini berada di loteng sebuah rumah-toko tua di masa pendudukan Perancis; dan para pelayan yang bekerja di sini berasal dari keluarga kurang mampu atau anak-anak jalanan yang kemudian menerima pelatihan, pendidikan, sekaligus tempat tinggal. Setelah bekerja di sini selama beberapa waktu, biasanya para pelayan dan staff yang sudah lebih dewasa akan mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan di restoran atau hotel yang lebih besar. Tidak mengherankan memang, karena mereka memiliki kualitas pelayanan yang sangat baik, sopan, tanggap, dan bahasa Inggris mereka juga sangat lancar.

Makan malam ini menyenangkan. Kita duduk di sudut, dekat jendela, memandangi jalanan yang mulai berkelip di bawah, dikelilingi nuansa rumah lama yang meneduhkan; seraya menikmati chicken dan beef lemongrass, fresh spring roll, mulberry juice, dan es krim longan buatan sendiri. Di bawah lampu yang temaram dan sedikit jingga, kamu seperti bersinar. Ketika kamu tertawa, loteng ini berpendar lebih terang.

Dan kita banyak tertawa malam itu; untuk alasan yang tidak bisa saya mengerti. Mungkin ini sebuah pertanda; yang membawa kita berlalu dengan rasa lemongrass di lidah menuju trotoar. Orang-orang sedang memasang lampu-lampu berkelap-kelip di sepanjang jalan besar dengan menggunakan tangga-tangga tinggi. Semua tentang malam itu berkelip dan bercahaya, apakah kamu juga memperhatikannya?

Menjelang pukul 11 malam, Opera House cantik yang sempat kita kunjungi pada siang hari nampak jauh lebih mengagumkan.

Udara yang menyegarkan; jalanan yang mulai lengang, pemandangan Hotel Continental dan Sheraton Saigon, serta butik Louis Vuitton yang masih buka dan memancarkan cahaya kuning terang; membuat kita memutuskan untuk duduk-duduk di anak tangganya yang luas sebentar.

Hanya memandangi dan menikmati malam sambil tertawa-tawa (and enjoying each others’ company?). Dan malam itu; kamu menjelma menjadi jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan saya (apakah bagimu juga demikian?).

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end

Ada sesuatu yang menari-nari dalam hati saya ketika kita melangkah ringan menuju lantai 23 Sheraton Saigon untuk menikmati kota selepas tengah malam, berkedip bersama lampu-lampu kota; lalu lebur dalam keriaan para ekspat yang kemudian mengabadikan kita dari balik lensa kamera…

dan saya tersenyum pada bayangan wajah saya di matamu.

—————–

Hương Lại, 38 D Ly Từ Trong | Ph. 3822 6814

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Do wishes really come true?

Pagi hari di Hồ Chí Minh City diawali dengan sarapan pagi berupa baguette dan kopi Vietnam di atas atap Ngoc Minh Guest House; dan semangkuk phở untuk berdua di Pho Quynh. Dan perjalanan kita pun resmi dimulai. Menempuh jarak 5 kilometer dengan berjalan kaki, dan akan menghabiskan waktu selama 6 jam.

Dari Phạm Ngũ Lão kita menyeberangi jalan yang padat dengan sepeda motor menuju pasar Bến Thành yang baru menggeliat.

Kita memutuskan untuk kembali lagi ke sini belakangan, kemudian menyeberangi bundaran menuju Selatan, dan mendamparkan diri di Fine Arts Museum di Phó Đức Chính yang penuh dengan labirin-labirin.

Seperti mencoba menebak isi hatimu, saya mengintip ke dalam lorong-lorong kecil museum yang membawa kita ke lorong lain, dan ceruk-ceruk tersembunyi yang menyimpan lukisan-lukisan serta keramik.

Dari sana kita menyusuri jalan-jalan yang ramai dan bermandi cahaya matahari, melewati pasar pinggir jalan yang padat dengan aneka makanan, kemudian beristirahat untuk menyantap es krim di X Cafe yang cantik, berlindung dari sengatan matahari di sofa-sofa empuk dan mengobrol tentang entah apa.

Setelah menyegarkan diri, kita kembali turun ke jalan menuju Lê Lợi, pusat komersial di Saigon, dan mengagumi deretan butik-butik desainer ternama dunia yang berjajar, dengan bendera-bendera palu arit tepat di seberangnya.

Kamu berkata, “Tidak terasa sosialisme di Saigon saat ini”–selagi saya mengagumi trotoar-trotoar yang luas, terawat, bersih, dan nyaman di sepanjang jalan.

Di hadapan kita berdiri Opera House yang megah,

Rex Hotel dan Hotel de Ville di sekitaran Nguyễn Huệ. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu siang. Kita mempercepat langkah menuju Museum of Hồ Chí Minh City yang cantik–di mana tengah berlangsung pemotretan pre-wedding di anak tangganya.

Dari sana kita berjalan menuju Quan An Ngon di Pasteur Street untuk makan siang di lantai atas, menyantap phở, cumi bakar, dan es kelapa muda di bawah naungan payung putih cantik; sementara langit mulai digayuti mendung (sepanjang perjalanan setelah itu, saya masih mengkhawatirkan bau cumi bakar yang lekat di rambut dan baju).

Beberapa saat  kemudian, kita telah menelusuri Reunification Palace yang luas dan lapang,

serta War Remnants Museum di dekat Kỳ Khởi Nghĩa dan Vo Van Tan. Waktu itu mendung, hujan nyaris rintik, dan kita baru saja bergidik melihat kengerian Agent Orange dan tiger cages.

Perjalanan berlanjut di sore hari yang menyenangkan, dengan angin bertiup lembut: Notre Dame Cathedral–yang cantik, dengan patung Bunda Maria yang berpendar dalam gelap,

serta kantor pos besar di Lê Duẩn.

Dari sana perjalanan terjauh kita sore itu dimulai, menuju Jade Emperor Pagoda di Nguyễn Bỉnh Khiêm–daerah yang ramai dan padat; seperti daerah Kota di saat-saat termacetnya.

Kita berjalan tanpa henti selama kurang lebih 40 menit, dan kamu terus bertanya apakah saya lelah. Saya katakan, tidak (karena kamu ada di sisi saya). Keramaian di sore hari bertambah dengan keluarnya motor-motor yang tumpah-ruah ke jalan-jalan (dan kamu merengkuh bahu saya ketika kita mencoba menembus kekacauan itu).

Senja itu kita habiskan di Jade Emperor Pagoda yang berpendar merah dan ditingkahi asap dari hio yang dibakar, di bawah rerimbunan pohon, seraya mengamati kelucuan anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar dan merencanakan ke mana lagi kita akan pergi setelah ini.

Ketika kaki-kaki kita sudah tak terlalu lelah dan gelap mulai turun, kita memutuskan untuk kembali ke jalan besar dan menumpang Vina Taksi kembali ke Phạm Ngũ Lão. Dari atas atap di Ngoc Minh, kita memandangi langit kota yang berbintang sambil menikmati sebungkus puding tofu di ayunan.

Akhirnya kita berbagi langit ini berdua. Berbagi bintang. Di atas sebuah ayunan besi untuk berdua, di atas atap.

Wishes do come true.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya cemas.

Hampir pukul sembilan malam; dan pemandangan kota Saigon sudah mulai terlihat dari ketinggian; menyerupai jalinan jaring laba-laba dengan titik-titik cahaya yang terjalin rapi. Pesawat yang kita tumpangi hampir mendarat di bandara internasional Tân Sơn Nhất di kota Saigon / Sài Gòn (SGN); atau yang kini lebih dikenal dengan Hồ Chí Minh City (HCMC).

Tetapi, bagaimana jika perjalanan ini tidak sesuai dengan yang kamu inginkan?

Saya masih memendam cemas ketika kita berada di atas mobil menuju Ngoc Minh Guest House di Phạm Ngũ Lão.

Dari balik jendela, terhampar pemandangan jalan raya kota Saigon yang lengang. Sesekali ditingkahi pendar cahaya lampu dari sepeda-sepeda motor yang kebetulan melintas; serta jajaran gedung-gedung tua yang mengingatkan kita pada Jakarta-Kota di tahun delapanpuluhan. Bayangan kita, duduk bersisian, terpantul di sana; seperti adegan pembuka dalam sebuah film tua yang belum lagi bisa ditebak jalan ceritanya.

Tetapi Phạm Ngũ Lão di Distrik 1 yang bermandi sinar lampu membuat saya merasa sedikit lebih tenang.

Hotel-hotel yang ramai dengan papan lampu yang menyala, turis-turis asing yang berjalan-jalan di sepanjang trotoar, bar-bar, restoran, kafe, dan toko-toko suvenir yang masih buka dan memperdengarkan aneka jenis musik hingga lewat tengah malam, orang-orang yang bercakap dan tertawa, bel sepeda… semuanya membuat saya teringat pada Khao San Road (ถนนข้าวสาร) di Bangkok.

Kita menghabiskan malam itu dengan menyusuri jalan-jalan yang sama sekali asing (kamu tidak pernah membiarkan saya tertinggal di belakang dan selalu memastikan bahwa saya berada di sisimu), dan menghangatkan diri dengan semangkuk Phở dan kopi Vietnam di Pho Quynh; restoran kecil berwarna kuning terang tepat di persimpangan antara Phạm Ngũ Lão dan Cong Quynh.

Phở terlezat di dunia, demikian kemudian kita menyebutnya.

Sesungguhnya, sejak saat itu, saya tahu bahwa saya akan selalu teringat padamu ketika tengah menyantap semangkuk phở. Dan perasaan itu menyenangkan.

Kamu tahu, kan?

Perasaan hangat yang menyelinap ketika kamu melihat sesuatu yang sangat sehari-hari; sesuatu yang mengingatkanmu pada seseorang, dan begitu kamu melihatnya; rasa yang persis sama akan menyapumu kembali dan membungkusmu dalam sejenis bahagia yang sederhana. It’s called lovely memories.

—–
Ngoc Minh Guest House
283/11 Pham Ngu Lao, District 1
Saigon, Vietnam.
Site: http://ngocminh-hotel.com/

Pho Quynh
323 Pham Ngu Lao, District 1
Saigon, Vietnam.
T: (08) 836 8515

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Tak ada garis, tak ada batas. Semua terhampar seperti masa depan.

Penerbangan kita ditunda selama 1 jam. Sore itu, pukul 4.35, kita masih duduk-duduk di ruang tunggu dengan Lonely Planet terbuka di pangkuan.

Seharusnya saat ini kita sudah berada di dalam pesawat menuju 1.880 kilometer jauhnya.

Vietnam, menurut legenda, bermula ketika Raja Lac Long Quan (Raja Naga Lautan) menikahi Putri Au Co (putri Cina yang turun dari Pegunungan Tinggi). Putri Au Co kemudian melahirkan 100 anak laki-laki. Bersama-sama, mereka pun mendirikan sebuah bangsa besar yang terentang dari bagian selatan Cina hingga utara Indonesia.

Meskipun demikian, Raja Long Quan dan Putri Au Co yakin bahwa perbedaan tempat asal mereka akan membuat keduanya tidak bahagia. Maka, mereka berpisah. (Tidakkah kamu berpikir bahwa ini adalah alasan yang masih saja digunakan banyak pasangan saat ini ketika mereka memutuskan untuk berpisah?)

Putri Au Co kemudian membawa 50 anak lelaki mereka kembali ke pegunungan, sementara Raja Long Quan membawa 50 orang anak lelaki mereka untuk menguasai daratan rendah.

Setelah Raja Long Quan meninggal dunia pada tahun 2879 SM, anak tertuanya, Hung Vuong, melahirkan dinasti Hung. Ia kemudian dikenal sebagai pendiri dinasti Vietnam yang pertama.

Legenda ini sesungguhnya menyimbolkan pentingnya penyatuan dua area geografis dan kultural di Vietnam–pegunungan (di Utara) dan dataran rendah (di Selatan) untuk kemudian membentuk sebuah negeri yang bersatu. Inilah sebabnya mengapa dalam sejarah Vietnam, Vietnam dieja Viet Nam–dua kata, bukannya satu. Viet Nam baru disatukan menjadi Vietnam ketika berada di bawah kolonisasi Perancis.

Apakah ini hanya sebuah kebetulan, bahwa sejarah menarik kita kembali dari masa kini? Perjalanan ini, apakah juga akan menyatukan saya dan kamu–dua kata ini, menjadi kita? Menjadi satu?

Waktu itu, saya masih berpikir bahwa segalanya adalah sebuah entah. Tetapi ketika kita menghabiskan waktu selama tiga jam di dalam pesawat, duduk bersisian, saya pikir semua ini akan menjanjikan sebuah kemungkinan yang menyenangkan. Teman atau kekasih, dua-duanya akan menjadi akhir yang membahagiakan.

Dan seharusnya saya tahu bahwa perjalanan ini akan menyenangkan (dan mengesankan) ketika kita terpapar pada senja yang tidak biasa. Senja di ketinggian. Dari jendela kecil itu, kita berbagi terbenamnya matahari; ketika langit berpendar dalam cahaya berona hangat, dan hanya keindahan itu yang kita tatap; sejauh mata memandang. Tak ada garis, tak ada batas. Semua terhampar seperti sejuta kemungkinan. Seperti masa depan.

Dan perasaan itu menenangkan.

Seperti berada di sisimu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP