Jadi, kamu butuh penjelasan mengenai perasaan saya tentang dia?
Well, here it is:
Saya punya sepasang sandal jepit yang sudah tua. Kulitnya sudah ‘keriput’ dan solnya sudah sedemikian tipis, sehingga lumayan berbahaya jika nekat dikenakan untuk berjalan-jalan di luar rumah. Tapi saya suka mengenakan sandal jepit ini karena konturnya luar biasa ‘pas’ di kaki saya. Rasanya nyaman sekali berjalan-jalan dengan sandal jepit ini terpasang di kaki. Seperti melangkah tanpa rahasia, tanpa sisi-sisi tersembunyi.
Ini saya. Seada-adanya.
Di sisi lain, saya punya sepasang sepatu hak tinggi yang saya pakai karena sepatu itu terlihat elegan dan mampu membuat saya terlihat lebih tinggi. Tentu saja, jika dikenakan terlalu lama, kaki saya akan terasa sakit. Tapi kadang-kadang kita harus mentoleransi sedikit rasa sakit untuk merasa ‘lebih baik’.
Saat ini…
Saya masih menunggu seseorang yang dapat menggantikan sandal jepit usang itu. Seseorang yang bisa membuat saya merasa istimewa, hanya dengan menjadi diri saya sendiri, apa adanya.
Sementara dia adalah sepatu hak tinggi yang menawan sekaligus menyakitkan itu. Yang saya pakai hanya untuk membantu membuat saya merasa lebih tinggi, tapi akan cepat-cepat saya lepaskan pada akhir hari dengan perasaan lega yang tak bisa ditahan lagi.
Dan saya akan buru-buru menyelinap ke dalam sandal jepit tua saya itu; dan merasa bahagia seutuhnya, sekali lagi. Kebahagiaan yang akan saya pilih jika kita bicara tentang ‘selamanya’.
Sekarang, kamu mengerti kan, maksud saya?
IMG. http://img.timeinc.net/instyle/images/v2/weddings/091505_shoes_01.jpg





