Kamu masih saja menemani cangkir-cangkir kopiku yang kesekian.

Aku selalu bilang bahwa kafein adalah stimulan yang terlalu melankolis. Apalagi ketika diiringi Owl City yang mengalun samar-samar di kejauhan; juga gerimis malam-malam. Rintiknya turun satu-satu seperti air mata. Kadang sulit buatku membedakannya. Sampai kemudian dia turun semakin deras. Dan yang ada bukan lagi hembusan dingin, tapi panas yang membakar. Di mata, pipi, hati… lalu aku akan beringsut turun dari tempat tidur, menyeret langkah ke dapur, dan menyeduh secangkir kopi lagi.

Ada saat-saat di mana kita tidak ingin tertidur. Terkadang ketika kita sedang teramat bahagia. Atau ketika kita sedang teramat sedih. Dan pada saat-saat seperti itu, mengapa selalu saja kamu? Selalu saja kamu yang masih menemaniku pada cangkir-cangkir kopi yang kesekian. Mungkin memang hanya kamu yang mengerti. Mungkin karena kita sudah sejak dulu terjaga bersama setiap akhir pekan. Mungkin karena aku percaya: bahwa walaupun kamu selalu lebih banyak diam, kamu selalu mendengarkan.

Terkadang kamu menemaniku dengan suara jangkrik dari kebun. Atau ributnya kucing-kucing yang sedang kawin. Terkadang cuma ada detik jam. Atau tiang listrik yang dipukul tiga kali. Terkadang kamu usil; mengirimiku tokek yang bersuara dari langit-langit di suatu tempat. Lalu aku akan mulai menghitung. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ya, sudah. Masih banyak masalah yang lebih penting di dunia ini ketimbang masalah cinta-cintaan. Masih ada impian, masih ada jalan-jalan, masih ada kelaparan, masih ada peperangan, masih ada hewan, masih ada hutan yang kebakaran. Masih banyak yang bisa kita pikirkan selain asmara yang berantakan.

Lagipula, selain menjadi pacar, selingkuhan, istri, suami, atau simpanan, kita toh masih punya peran-peran lain di kehidupan yang lain: anak, orang tua, majikan pudel, tukang koran, penjaga toilet, drama queen, aktivis, private banker, penyiar radio, pemimpin partai politik, anak sekolahan, penyapu jalan…

Jadi, kenapa mesti resah? Ya, sudah. Terima saja kenyataan bahwa hidup akan tetap berjalan—tak peduli apakah kita sedang jatuh cinta atau patah hati. Meski selingkuhan sedang baku-hantam dengan mantan; atau hati kita yang sudah rompal lantas disiram ibu-ibu dan hanyut ke selokan, toh pabrik-pabrik masih akan terus berproduksi. Jakarta masih akan terendam setiap kali hujan. Dan televisi masih akan memutar sinetron picis, acara hipnotis dan gosip artis.

Ya, sudah. Sekarang tinggal pilih: mau hidup dalam ilusi tapi bahagia; atau hidup dalam kenyataan tapi menderita?

—————————

*) tulisan menjelang #UWRF 2011

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

No wonder Einstein was so curious about time. Time, indeed, is a curious matter. The way it flexes still perplex me. Unstoppable, it marks you with invisible scars and unseen beauty. It’s like an old record store where your whole life’s on display. Browsing through the shelves, you pick the one with the prettiest sleeve on summer; the gloomiest during winter. Sometimes I wonder, whether lovers are made for a lifetime or (only) for a lovetime. And memories, are those actually traces of our long-gone past, or silent prayers for the wishful future?

*)written over Owl City’s Hello Seattle. and if you love the illustration I’m using here, please visit Alicia’s blog: http://depapelesytelasi.blogspot.com/ for more beautiful illustrations to provoke your imagination 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sinar matahari dan selimut yang ditarik-tarik. Salak anjing. Lompatan-lompatan kecil. Kibasan ekor. Cepat. Begitu bersemangat melihat saya akhirnya membuka mata. Pagi hari. Rambut yang awut-awutan. Saya bahkan belum mandi. Atau sikat gigi. Tapi dia sudah cukup senang. Menandak-nandak bersemangat. Kemudian melesat mengambil boneka beruangnya. Ditaruh di atas kaki saya. Lalu ia menandak-nandak lagi. Mengantisipasi saat ketika saya memutuskan meraih bonekanya itu. Melemparkannya jauh-jauh. Dan ia akan berlari sekencang-kencangnya, kuku-kukunya membuat suara ketak-ketik di atas lantai. Lalu ia datang lagi. Boneka beruang di mulut kecilnya. Diletakkan di dekat kaki saya. Lompatan-lompatan kecil dan salak itu lagi…

Seandainya manusia bisa sejujur itu ketika hatinya bilang: “I need you. I want you. Keep me company.”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya lupa tepatnya, mungkin tahun 2003 atau 2004. Itu pertama kalinya saya mengenal sosok Glenn Marsalim. Saya masih kuliah. Di kampus ada semacam Ad Festival. Saya hadir, walau saya dari jurusan marketing communications. Waktu itu saya selalu merasa salah jurusan. Awalnya saya memang ingin masuk jurusan advertising, tapi entah mengapa lalu dibujuk dan diyakinkan oleh salah satu Dean di kampus untuk masuk marketing communications saja. Datang ke Ad Festival macam ini jadi salah satu cara saya untuk mengobati penyesalan saya karena kadung ‘salah jurusan’.

Dalam acara ini, Glenn jadi salah satu pembicara. Ia Creative Director dari salah satu biro iklan ternama yang sedang naik daun saat itu. Di antara sekian banyak orang iklan yang bicara siang itu, Glenn satu-satunya yang menarik perhatian saya. Saya ingat sosoknya yang rame, santai, bicaranya mengalir cepat seperti orang sedang meluncur di atas skateboard.

Ada sedikit ‘kesongongan’ juga; yang membuat pribadinya jadi menarik-menarik nyeremin. Dia sempat bilang, iklan-iklan karya mahasiswa yang dipamerkan semuanya ‘biasa banget, nggak ada yang spesial.’ Waktu itu Glenn juga memutar banyak iklan keren dari luar negeri. Terus setelah selesai diputar, ada anak-anak yang kasak-kusuk. Apa sih maksudnya iklan yang tadi itu? Terus Glenn menyambar,”Kalo lo nggak ngerti, berarti lo emang bukan target audience-nya.” Dan dia pun lanjut ngomong lagi dengan cueknya.

Siang itu, Glenn cuma bicara nggak lebih dari setengah jam. Jujur aja, saya sendiri lupa apa yang waktu itu dibicarakan sama Glenn. Saya cuma ingat, sejak siang itu, sejak dengerin Glenn ngomong, saya jadi punya cita-cita pingin jadi orang kreatif. Lalu nanti jadi Creative Director di biro iklan terkenal. Pingin banget bisa bikin copy yang keren dan memproduksi iklan yang bikin saya merinding nontonnya: sama seperti iklan-iklan luar negeri yang ditunjukkan Glenn ke saya hari itu. Sejak siang itu, saya punya idola baru selain Eminem. Namanya Glenn Marsalim.

Gara-gara dia, saya jadi rajin browsing tentang advertising dan iklan, ide-ide kreatif, juga baca buku-buku soal iklan dan desain. ‘Numpang baca’, tepatnya. Biasanya di salah satu sudut QB Books Jalan Sunda yang sekarang sudah tutup. Kocek saya kurang tebal untuk bisa membeli buku-buku iklan dan desain itu walaupun kepingin.

Di akhir-akhir semester, saya pun menulis surat lamaran magang ke biro-biro iklan terkenal. Isi surat sengaja dibuat sekreatif mungkin. Pakai quote dari Disney juga kalo nggak salah. Pokoknya ada sesuatu tentang keinginan mencipta atau semacamnya. Total ada sekitar 10 biro iklan yang saya kirimi surat permohonan magang, alamatnya semua saya dapat dari salah satu buku direktori iklan punya dosen saya; yang saya fotokopi daftar kontaknya. Dari sepuluh-sepuluhnya, nggak ada satu pun yang dibalas.

Saya sakit hati.

Saya jadi ingin membuktikan diri, bahwa kreativitas itu bukan cuma ada di dunia iklan. Kreatif bisa di mana aja. Ide bukan cuma punya orang iklan. Dengan modal sakit hati inilah saya kemudian menekuni kuliah marketing communications saya dan mencurahkan kreativitas saya dalam setiap tugas yang diberikan. Saya meriset, browsing Internet, gigit-gigit pensil, nyari ide, dan memberikan 110%, lebih dari apa yang diminta. Lalu senang sekali baca buku The Fall of Advertising and The Rise of PR berulang-ulang, tertawa ‘ha-ha-ha’ lalu bilang tuh, kan, iklan sudah mati! Iklan sudah mati! (untuk menghibur diri).

Tapi nggak bisa dipungkiri, walau sempat sakit hati karena tak ada biro iklan yang mau menerima saya untuk magang, saya terlanjur jatuh cinta pada iklan. Saya cinta desain. Saya suka mengulik kalimat untuk bikin copy yang bagus. Saya suka semangat orang iklan ketika lagi cari ide. Tapi ternyata untuk melakukan semua itu, saya memang tak perlu masuk biro iklan. Pekerjaan saya yang sekarang menuntut saya melakukan semua itu. Saya masih sering browsing iklan luar negeri untuk nyari inspirasi; terutama kalau lagi perlu ide buat bikin campaign. Saya juga masih suka ngintip buku-buku desain: packaging, logo, kartu nama, cover buku, web

And I’m happy! This is the thing I’ve always wanted to do, and here I am, doing all those stuff!

Lantas, percaya atau tidak, di suatu waktu, sekitar tahun 2005-2006, akhirnya saya sempat kerja dengan Glenn Marsalim untuk suatu proyek. Saat itu Glenn lebih banyak melakukan supervisi saja untuk tim iklan yang sedang bekerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Kita nggak pernah ketemu untuk meeting. Glenn lebih banyak kasih masukan ke timnya via email, di mana saya ter-cc di dalamnya. Terharu rasanya melihat nama saya ada di satu email yang sama dengan Glenn dan bagaimana saya bisa mengoreksi copy iklan via email bersama Glenn Marsalim!

Suatu hari, kantor saya via @kapkap, mengundang—siapa lagi kalau bukan—Glenn Marsalim datang ke kantor untuk sharing session kami di hari Jumat. Itu pertama kalinya saya ketemu Glenn lagi (in person) sejak jaman kuliah. Pada rentang waktu sebelum itu, selain kerja bareng via email kita yang singkat, saya masih suka melihat Glenn melintas di beberapa acara iklan (tapi malu menyapa). Saya cuma rajin ngikutin tulisan-tulisan di blognya dan belakangan mengikuti kicaunya di Twitter.

Jumat pagi itu, waktu ketemu Glenn lagi dan dengerin dia ngomong, saya sadar that he had turned into a different person. Mungkin semua orang berubah. Dari saat ketika saya denger Glenn bicara di kampus, sekarang Glenn sudah berubah jadi orang yang lebih soft, lebih membumi, lebih apa adanya… atau mungkin pasnya: he’s becoming more of himself. Dia adalah Glenn yang tanpa embel-embel. Dia bukan lagi Creative Director dari biro iklan anu, atau copywriter iklan anu… tapi dia adalah Glenn. Yang suka desain, yang suka iklan, yang suka film, yang suka jajanan pinggir jalan…

Hari itu juga, Glenn berkisah tentang hidupnya, tentang keputusannya jadi freelancer. Dan di situ, saya tau bahwa Glenn memang sudah berubah. Dia Glenn yang sama, tapi sekaligus juga Glenn yang berbeda. Satu hal yang saya ingat, Glenn bilang gini:

“Ketika lo balik ke rumah, lo liat piala-piala yang pernah lo menangin, terus lo tanya sama diri lo sendiri: berapa orang yang lo bentak, yang lo sakitin… sampai akhirnya lo bisa menangin piala-piala itu? Sebanding nggak sih? Dapetin piala tapi dalam perjalanan lo, lo udah nyakitin berapa banyak orang? Udah ngomong jahat sama berapa orang? Sampai sekarang, walau gue udah berubah, orang masih sering bilang ‘Glenn… Glenn yang galak itu ya?’. Segitu susahnya ngilangin image itu…”

Glenn ngingetin saya lagi, bahwa sukses itu bukan soal apa yang udah kita capai. Tapi tentang bagaimana kita mencapainya. Sampai sekarang, saya selalu inget kata-kata Glenn ini. Mudah-mudahan saya nggak pernah lupa. Kalau dulu sosok Glenn mengingatkan saya pada kreativitas, iklan, dan desain, sekarang sosoknya mengingatkan saya pada perjalanan menjadi manusia. Pada cinta. Pada kesederhanaan. Pada semangat melakukan sesuatu karena suka, bukan karena dibayar berapa.

Dan saya jadi menulis posting ini karena tadi malam di-group hugs Glenn via Twitter 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pagi-pagi, begitu sampai di kantor, saya mendapati sepiring cupcakes di meja tengah. Ternyata cupcake ini buatan Lucas, anak kawan saya, Felicia Nugroho.

Lucas membuat cupcake ini (dari pisang; dan menggantikan rasa manis gula dengan saus apel) untuk dijual, dan yang mengejutkan saya, ternyata separuh dari keuntungannya akan dia sumbangkan untuk Coin a Chance!. Satu buah cupcake dijual seharga 5ribu rupiah.

Is this a school project?” tanya saya pada Lucas, takjub.

Dia bilang, “No, it’s holiday,” sambil tersenyum malu-malu.

Have you got your customers’ feedback?” tanya Felicia.

What’s that?” Lucas bertanya balik.

“You ask those who have bought your cupcakes, whether they like it or not, whether they want something else…” Felicia menjelaskan. “You need to explain to them as well about your product, for instance, how you change sugar with apple sauce…

Setelah bertanya-tanya pada ‘para pembeli’, besok Lucas akan membuat cupcakes lagi (cokelat, berdasarkan permintaan pembeli), tapi kali ini ia akan menjualnya ‘sepaket’ dengan segelas kopi. Jadi 10ribu untuk satu cupcake dan satu gelas kopi. “We can bring our coffee machine,” katanya semangat.

Saat ini, ke-18 cupcakes yang dijual Lucas sudah ludes. Satu cupcake terakhir yang diperebutkan Jonathan dan Dody akhirnya dilelang, dan berhasil terjual kepada Jonathan seharga 30ribu rupiah. Sekarang Lucas sedang membagi separuh penghasilan yang didapatkannya untuk disumbangkan ke Coin a Chance! 🙂

Thanks, Lucas! For doing ‘social business’ on your holiday and helping us send more kids back to school at the same time! :*

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP