Akhirnya, setelah dipesan beberapa minggu yang lalu (thanks to several Coiners for their donation), wrist band Coin A Chance! diantarkan! Uuh, masih dalam kardus yang dipaketkan, dalam lindungan plastik-plastik bening, fresh from the oven! 🙂

Paket buat Coin A Chance!

Hore! Wrist band untuk Coin A Chance!

Yaay!

UPDATE—June 17, 2009: Hari ini baru menyadari bahwa film dokumenter mengenai Coin A Chance! produksi Refleksi DAAI TV (berjudul: “Koin-Koin Kesempatan”) sudah diunggah ke Facebook Group Coin A Chance! oleh Mas Ari Trismana. Terima kasih banyak!

Videonya bisa dilihat di Facebook Group Coin A Chance! dengan meng-klik gambar di bawah ini:

Koin-Koin Kesempatan, DAAI TV

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Picture 1Perselingkuhan itu merusak.

Yang dirusak bukan cuma hati yang dikhianati atau hubungan percintaan di antara pihak-pihak yang terlibat secara langsung. Dan sesungguhnya, ini lebih jauh dari sekadar masalah sakit hati.

Perselingkuhan meninggalkan bekas yang lama hilang. Semacam trauma yang menyebalkan dan sebenarnya tak layak ada. Tiba-tiba saja, ada perasaan rendah diri. Perasaan tidak layak untuk dicintai. Ada keraguan dan kehati-hatian yang berlebih agar tidak disakiti lagi. Kecurigaan yang berlebihan ketika seseorang yang mengaku lajang mendadak berbaik hati mengajak keluar untuk sekadar makan malam atau jalan-jalan.

Trust is something you earn.

Kepercayaan tidak tercipta dalam semalam. Dan bukan juga sesuatu yang kekal. Satu kali perselingkuhan bisa membuat kepercayaan terhadap seseorang menjadi sangat rapuh. Dua kali perselingkuhan membuat semuanya runtuh.

Dan jangan salah, permintaan maaf tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah runtuh dalam semalam. Butuh waktu lebih lama untuk merekonstruksi semua; dan tetap saja, tak peduli seberapa kerasnya seseorang mencoba, segalanya tak akan pernah lagi persis sama.

Tak pernah ada manusia yang ingin hidup dengan dibayang-bayangi kenangan buruk. Maka, sebagian dari mereka (yang cukup berani), memutuskan untuk mengambil pelajaran yang dibutuhkan, melangkah pergi, dan meninggalkan sisa-sisa kenangan buruk beserta semua hal yang terhubung dengannya di belakang. Ya, jauuuh di belakang… dan mereka pun menyeberangi jembatan itu tanpa pernah menoleh lagi; kemudian membakar jembatan itu sekalian.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Bebaskan Prita Mulyasari!

Ini akan menjadi postingan yang relatif pendek, karena sudah ada begitu banyak orang yang bicara mengenai kasus tak menyenangkan yang menimpa Prita Mulyasari. Saya sendiri tak mengenal sosok Prita secara pribadi, namun sempat merasa miris (dan marah) mengetahui bahwa perempuan ini harus mendekam di balik jeruji besi hanya karena ia menuliskan komplain atas pelayanan sebuah rumah sakit (RS Omni Internasional) di salah satu milis.

Dari sudut pandang saya sendiri, yang awam masalah hukum, kasus Prita merupakan salah kaprah penginterpretasian yang menyedihkan (dan memalukan) dari salah satu pasal dalam UU ITE; sebagaimana para selebritis dan politisi mulai kecanduan menggunakan pasal ‘pencemaran nama baik’ untuk merespon berbagai macam gesekan yang terjadi di antara mereka.

Awal minggu ini, komunitas online sendiri sudah mulai bereaksi dalam menyuarakan pendapat dan dukungan mereka terhadap Prita, baik melalui blog, Facebook, sampai Twitter.

Namun yang berkecamuk dalam benak saya adalah kenyataan berikut: belakangan ini para kandidat capres-cawapres sibuk menggalang simpati dari komunitas online, bahkan sempat-sempatnya menjadwalkan temu blogger segala. Dimulai dengan JK, lalu Prabowo, dan Boediono–ya, lengkap sudah. Semua kandidat sudah terwakili.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kini salah satu dari mereka akan bereaksi dan angkat suara terhadap kasus Prita?*

Lantas teringatlah oleh saya: malam-malam, di sebuah kafe di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan, salah seorang kandidat capres sempat berujar bahwa ia siap dan terbuka untuk dikritik oleh para blogger melalui media blog.

Seorang Prita mengkritik layanan sebuah rumah sakit, dan kini ia berada di balik jeruji besi.

Ada sesuatu yang sangat tidak benar di sini.

——–

*Prita memang bukan blogger, tetapi dia netters yang terjerat UU ITE. Dan sebagaimana diketahui, netters bisa menjadi sangat solid dalam keadaan seperti ini.

**Jadi teringat kasus yang sempat menimpa Herman Saksono.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Coffee Flavored KissesPagi hari menatah malam tadi dalam imaji yang tereduksi: hujan, 5 pitcher Heineken, lagu-lagu Mariah Carey, asap, kotak-kotak kosong Dunhill dan Marlboro Lights Menthol, antrian panjang di depan toilet yang cuma satu-satunya, pecahan gelas yang berantakan.

[Selamat pagi…]

Aroma yang kukenal baik. Kopi tubruk. Susu cair. Dan kamu.

Do you realize that you have this lovely peppermint smell I’m totally crazy about? So refreshing! What was that? An after-shave cream? A toothpaste?

Kamu menjengukkan kepala dari balik jendela; terang membuat pucuk kepalamu bercahaya, seperti malaikat. Ada mug besar berwarna hijau muda dalam genggamanmu. Kafein bercampur Chambord dan Baileys. Memabukkan hanya karena kamu yang menyajikannya untukku. Tetapi bukankah tiap kehadiranmu itu memang selalu memabukkan?

Kamu tersenyum. Mengapa kamu tersenyum? Did I say that out loud?

[Have your coffee first before it gets cold.]

Semuanya terasa hangat. Matahari. Senyum. Kopi. Pagi. Telapak tangan. Hati. Coffee-flavored kisses. Juga bingkisan kecil di atas meja: an all-access ticket to do whatever I want with you (and your heart). I couldn’t ask for more.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sore ini, bersama seorang kawan, saya iseng-iseng membuka tulisan kawan saya (sutradara Romeo&Juliet itu) yang pernah tersimpan di sini.

Kawan saya sambil lalu membacakan judul-judul artikel yang terpajang di halaman itu, hingga kami berdua tertegun sebentar.

Dan saya berkata,”Kok judul-judul ini seperti petunjuk yang ditujukan untuk hidup saya?”

Judul-judul tersebut adalah:

  • Mencari kebahagiaan
  • Atas nama cinta
  • Menjaga kesenangan
  • Mimpi harus diraih

Apakah ini salah satu momen ‘kebetulan’ yang sebenarnya merupakan tanda-tanda bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang tengah mencoba bercakap dengan saya?

Happy weekends, all! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP