skate my heart awaySekotak ingatanku tentangmu adalah serupa film-film sedih. Sesak akan beberapa episode perpisahan yang selalu dilalui seorang diri (lucu, karena bukankah sebuah perpisahan biasanya melibatkan dua orang—ia yang tinggal dan ia yang pergi?).

Selalu ada kota-kota asing dengan pemandangan yang tak kukenali. Rewind episode-episode sebelumnya sembilan kali. Ada hujan yang turun terlalu dini (dan sejak saat itu tidak pernah lagi berhenti, sehingga setiap kali perpisahan itu terjadi, kelopak langit selalu meneteskan gerimis).

Repetisi hi-and-goodbye ini seperti iklan wafer cokelat yang diulang-ulang—bukan cuma tiga, tetapi dua puluh kali, hingga perjumpaan dan perpisahan ini mulai terasa sebagai satu siklus yang nyaris menjemukan sekaligus mengerikan.

Hai.

Sejak lama, genangan hujan telah menjelma danau yang beku lapisan atasnya. Di sanalah, setiap kali kau kembali, kita bersua. Angin dingin menerpa wajahmu yang merona selagi kau berseluncur riang di atas danau beku itu; menyerpih-nyerpih permukaan es-nya dengan gesekan pisau tajam di bawah sepatumu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

LightYou don’t run with the crowd, you go on your own way, you don’t play after dark, you light up my day. Got your own kind of style that sets you apart. Baby, that’s why you captured my heart.

I know sometimes you feel like you don’t fit in. And this world doesn’t know what you have within. When I look at you I see something rare: a rose that can grow anywhere, and there’s no one I know that can compare.

What makes you different makes you beautiful. What’s there inside you shines through me. In your eyes I see all the love I’ll ever need. What makes you different makes you beautiful to me.

You’ve got something so real, you touched me so deep. The material things don’t matter to me. So come as you are, you’ve got nothing to prove. You won me with all that you do, and I wanna take this chance to say to you:

“You don’t know how you’ve touched my life. Oh, there are so many ways, I just can’t describe. You taught me what love is supposed to be. It’s all the little things that made you beautiful to me.”

Everything in you is beautiful, love you give shines right through me. Everything in you is beautiful to me…

———

*) I know, I know, it’s a lyric from a Backstreet Boys song, and–guess what, I have never even heard the song! But it pretty much sums up everything, so there you go, sunshine!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

The most comfortable feeling in the world is when I’m squeezing marshmallow, or sitting lazily at Coffee Bean: slurping Sunrise and enjoying the yellowish view of Chicago Cheese Cake,

Chicago Cheese Cake Coffee Bean & Tea Leaf

or gazing admirably at a talented friend, who was drawing Coin A Chance! mascot on her Wacom,

Picture 30

or, as my bestfriend put it, the most comfortable feeling in the world also involve having too much coffee plus staring blankly at the sky for far too long. Or even performing this stupid Chicken Dance and singing meow-meow cat song…

or having an unbelievable 12-hour shopping trip in Bandung with some hip girls

Bandung Trip

The moral of this unessential posting is: “Life is indeed beautiful!” 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Hari Rabu adalah hari kesayangan saya. Tidak tahu persis mengapa atau bermula bagaimana. Seperti juga angka sembilan. Yang biasanya saya tunjuk ketika diberi pilihan. Mungkin karena ini juga nomor kesayangan pesepak bola Italia, Vincenzo Montella (love you!).

L'aeroplaninoDulu, di depan layar televisi, saya biasa mencari kaus bernomor punggung sembilan. Nomor sembilan biasanya merentangkan kedua tangan lebar-lebar sambil berlari untuk merayakan gawang lawan yang jebol. Seperti pesawat terbang.

Sewaktu Batistuta datang ke AS Roma dan meminta nomor punggung 9, Montella menolaknya mentah-mentah. Batistuta harus puas dengan nomor punggung 18. Sayangnya, ketika Montella kembali ke AS Roma setelah dipinjamkan ke Sampdoria, nomor 9-nya sudah keburu disandang Vučinić. Jadi Montella pun mengambil nomor punggung Vučinić: 23.

Terlepas dari itu semua, hari ini adalah hari Rabu tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun dua ribu sembilan. Sejak bangun tidur tadi pagi, saya sudah tahu bahwa hari ini akan istimewa. Tidak perlu ‘sempurna’, tetapi pasti akan ‘istimewa’. Rasanya seperti firasat.

ADotPKebetulan, beberapa hari lalu, saya dikontak Lisa Siregar, seorang jurnalis dari Jakarta Globe. Kami berjumpa di Twitter karena sama-sama punya ketertarikan terhadap proyek ‘A Day on the Planet‘: merekam momen pribadi orang-orang di seluruh dunia pada tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun dua ribu sembilan, dalam satu halaman A4, untuk kemudian dibukukan.

Salah satu pertanyaan Lisa kepada saya adalah: “Are you planning to do something special on September 9?”

Saya katakan kepada Lisa, bahwa saya belum punya rencana apa-apa. Saya juga masih belum tahu apakah saya perlu melakukan sesuatu yang ‘spesial’ or to just let the moment flows naturally.

Ternyata saya memilih yang belakangan.

The Greatest Thing Since Sliced BreadSaya tahu bahwa hari ini akan menjadi istimewa ketika saya menemukan sebuah novel di Amazon. Judulnya The Greatest Thing After Sliced Bread. Penulisnya Dan Robertson.

Pada salah satu halamannya, Morris Bird III yang berusia sembilan tahun bercakap-cakap dengan anak perempuan yang ditaksirnya, Suzanne Wysocki.

“I don’t think much about dying.”

— “You should,” said Suzanne.

“Why?”

— “Because it’s going to happen to you.”

Kalimat ini mengendap di benak saya hingga siang tadi. Saya dan kawan saya baru saja pulang dari sebuah rapat. Begitu mobil kami melewati apotik Senopati, kawan saya memekik dan berkata,”Aduh, gue nggak tega lihat orang tua itu. He looks exactly like my father when he’s dying…”

Saya yang duduk menghadap kawan saya dan membelakangi jendela, tidak sempat melihat dengan jelas. Rupanya ada seorang kakek yang terduduk di pinggiran trotoar. Dan kawan saya menggambarkannya seekstrim itu. He looks exactly like my father when he’s dying.

Mengingat salah seorang rekan kami di kantor bertempat tinggal tak jauh dari apotik Senopati, kawan saya itu pun berniat ‘menitipkan’ sesuatu untuk si kakek. Apa saja. “Seharusnya orang setua itu ada yang ngurusin,” ujar kawan saya, sedih bercampur geram.

Dying. Sudah dua kali hari ini.

WishSaya ingat, beberapa waktu lalu, saya dan seorang sahabat lama berbincang mengenai sepuluh hal yang ingin kami lakukan sebelum kami meninggal dunia. Kami sama-sama berhenti di nomor lima.

Tepatnya, saya sempat berhenti di nomor lima, kemudian memaksakan diri menulis sesuatu di urutan 6.

Saya tidak yakin saya sungguh-sungguh menginginkannya. Saya tuliskan sebaris kalimat hanya untuk mengisi titik-titiknya.

Hari ini, saya memandangi daftar permohonan itu kembali. Memandangi urutan 1 sampai 5. Urutan nomor 6 yang ‘terpaksa’. Dan urutan 7 sampai 10 yang tidak terisi. Saya tak bisa ungkapkan di sini apa saja permohonan saya, tetapi secara acak melibatkan kata-kata berikut: aurora, kafe di negeri yang jauh, sebuah novel, pesawat tempur, musim gugur, dan sebuah perjalanan.

Lalu saya melihat daftar permohonan sahabat saya di atasnya. Dengan nomor 6 sampai 10 yang masih berupa titik-titik. Dan saya melihatnya. Saya mengerti.

Ini seperti sebuah aha-moment, atau apalah namanya. Ternyata 10 permohonan memang terlalu banyak jika hanya ditujukan untuk diri sendiri.

Mungkin sebenarnya saya cukup meminta dua atau tiga untuk saya pribadi, lalu mengalokasikan yang empat sampai sepuluh untuk orang lain. (Tak lupa menyisakan satu dari tujuh untuk binatang-binatang. Dan satu dari enam untuk tumbuh-tumbuhan.)

Dan jika titik-titiknya tetap tidak terisi juga, biarkan saja.  Sometimes, we don’t really need to fill in the dots. Mungkin memang belum waktunya. Sebagaimana cinta yang belum saatnya: terkadang hanya bisa mengisi sela-sela jari, dan bukan sela-sela hati.

Dan memang tidak ada hari yang lebih istimewa dari hari-hari ketika kita bisa mempelajari sesuatu yang baru, tentang diri sendiri.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pedicure“Semua orang nggak setuju waktu gue mau menikah sama orang Indonesia. Mereka bilang laki-laki Indonesia jahat-jahat,” kata Noor.

Saat itu ia tengah menyikat tumit kanan seorang perempuan Indonesia keras-keras. Terdengar bunyi kecipak pelan ketika Noor meletakkan tumit yang sudah halus tadi ke dalam bak cuci. Ia kemudian membasuhnya dengan air hangat yang telah dicampur garam dan lemon.

Baru sebulan Noor bekerja di Lush Nails. Tempat itu merupakan salon kuku yang terletak di lantai dua pusat perbelanjaan Holland Village, Singapura. Noor bertugas mempercantik kuku-kuku tangan dan kaki para pelanggan. Sebelum resmi dipekerjakan di salon ini, Noor harus melewati pelatihan selama 6 bulan.

“Ini pertama kalinya ada orang Indonesia ke sini,” kata Noor sambil tersenyum. “Kebanyakan yang ke sini orang Cina.”

Dari sekitar 15 orang manikuris, Noor satu-satunya yang berwajah Melayu. Ia juga satu-satunya yang bisa berbahasa Indonesia. Manikuris lainnya di salon kuku ini hanya bicara dalam Singlish atau Mandarin. Satu-dua orang lainnya bisa bercakap dalam Melayu, namun hanya dengan kosa kata yang terbatas.

Foot brush“Suami gue orang Indonesia, jadi gue bisa banget bahasa Indonesia. Gue juga sering diajak ke Jakarta, rumah mertua gue di Jakarta Barat situ. Kalau lagi di Jakarta gue suka ke mall, ke Plaza Senayan, ke Taman Anggrek, atau ke Roxy, liat-liat handphone,” Noor bercerita, sebelum pamit sebentar ke belakang untuk mengambil peralatan manikurnya.

“It’s amazing, she speaks so much like Indonesian. Even the intonation is just right,” kata seorang perempuan Indonesia berambut keriting kepada manikuris yang sedang membersihkan kukunya. Ia takjub karena Noor begitu fasih berbicara dalam bahasa Indonesia.

She is Indonesian,” kata manikuris itu dari balik masker kuningnya.

No, it’s her husband who’s Indonesian,” perempuan Indonesia yang tumitnya tadi dibasuh Noor menyela.

No, no, she is Indonesian. She’s like that. Never want to say that she’s Indonesian,” manikuris itu menggeleng kuat-kuat, menekankan bahwa Noor sebenarnya orang Indonesia, tetapi tak pernah mau mengakuinya.

Tiba-tiba saja Noor kembali dengan kotak berisi peralatan manikurnya. Rupanya ia sempat mendengar sebagian percakapan yang terjadi, karena ia langsung menatap kawan sesama manikurisnya. “I’m not Indonesian,” kata Noor. “My husband is Indonesian.”

No, you are Indonesian, lor,” manikuris itu bersikukuh, menunjuk Noor dengan sikat kaki yang tengah dipegangnya.

No, I’m not!” Noor menukas. Matanya menatap kedua perempuan Indonesia tadi bergantian.Manicure

Indonesian!” manikuris tadi menyahut lagi. Ia memunggungi Noor sambil meneruskan pekerjaannya, membersihkan kutikula pada kuku-kuku kaki perempuan Indonesia yang berambut keriting.

Noor mengangkat bahu, seakan menyerah. “Banyak yang bilang tampang gue mirip orang Indonesia. Memang iya, ya? Orang nggak percaya, sih kalau gue bilang gue bukan orang Indonesia. Padahal yang orang Indonesia itu suami gue…”

Dikisahkan Noor, pertemuan pertama dengan lelaki yang kemudian menjadi suaminya itu terjadi pada suatu pagi, di depan sebuah money changer. Waktu itu, ketika Noor sedang melintas, seorang lelaki berseru kepadanya, “Mbak, mbak, dompetnya jatuh!”

Sibok, kau!” semprot Noor ketus sambil mendelik ke arah lelaki Indonesia itu. Ia kemudian melengos pergi. Pikirnya, lelaki ini hanya hendak berbuat iseng padanya.

“Si Mbak ini kok malah marah, dibilangin dompetnya jatuh. Itu, lihat…” lelaki tadi menunjuk ke dekat kaki Noor.

Masih merengut, Noor menunduk. Ia terkejut. Benar. Ternyata dompetnya memang terjatuh. Ia pungut dompetnya itu lekas-lekas.

Lelaki tadi memperhatikannya sambil tersenyum. “Sekarang boleh minta nomor teleponnya kan, Mbak?”

Kali ini, bukannya kesal, Noor malah tersipu. Kalau bukan karena lelaki tadi, ia pasti sudah kehilangan dompetnya. Maka Noor pun memberikan nomor teleponnya. Demikianlah awalnya, sebelum mereka kerap pergi berkencan. Enam bulan kemudian, keduanya sepakat untuk menikah.

Rencana pernikahannya sempat ditentang keluarga dan kawan-kawannya. Mereka beranggapan bahwa lelaki Indonesia jahat. “Suka main perempuan,” kata Noor. “Tapi gue bilang sama mereka, semua orang itu ada yang baik, ada yang jahat. Orang Indonesia juga pasti ada yang baik. Buktinya suami gue baik, kok. Dia sayang sama anak-anak, nafkahin mereka, nggak jahat dia. Eh, ngomong-ngomong, soal Manohara disiksa suaminya itu bener, nggak, ya? Kayaknya bohong itu, gue rasa ibunya aja yang gila harta,” ujar Noor sambil menunjukkan sampel warna-warna cat kuku.

Manicure setDari pernikahannya, Noor dikaruniai dua anak. Masing-masing berusia 6 dan 9 tahun. Setiap minggu, biasanya Noor mengajak anak-anaknya mengunjungi sang ayah, yang bertugas di Pelabuhan Pangkalpinang. “Dia jarang ke sini, jadi seringnya gue sama anak-anak yang nyusul dia, terus kita jalan-jalan bareng di Batam.”

Meski menurutnya ia sudah tinggal di Singapura sejak kecil, Noor mengaku lebih menikmati kehidupan di Indonesia. Ia juga lebih menyukai makanan Indonesia, terutama ketoprak. Sebenarnya di Singapura ada penjual ketoprak, namun menurut Noor rasanya tak seenak ketoprak di Indonesia.

Noor juga penggemar jamu, terutama beras kencur. “Kalau di sini kan mana ada mbak-mbak jamu!” katanya sambil tertawa.

Bukan hanya itu, Noor juga menggandrungi band-band Indonesia seperti ST12 dan Wali. Saat ini, lagu Cari Jodoh-nya Wali sedang menjadi favoritnya. Noor pun tak pernah absen menonton sinetron Terlanjur Cinta di SCTV.

“Gue pingin pindah ke Indonesia,” kata Noor sambil mengeluarkan sebotol pemulas kuku. “Di Singapura semuanya mahal. Makan aja mahal. Mana bisa gue punya mobil, apalagi rumah. Di Jakarta sih enak. Apa-apa murah. Orang bisa punya rumah dua-tiga, bisa punya mobil banyak.”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

An artwork of Yoshitomo Nara, my favorite artist.Kebodohan saya yang pertama adalah menunggu terlalu lama. Bayangkan apa jadinya jika saya lebih mula mengutarakan segalanya. Mungkin saya bisa meraih kesempatan itu selagi bisa, ketimbang melewatkannya begitu saja. Menunda waktu adalah suatu pemborosan yang sia-sia. Padahal hidup saya bisa berakhir kapan saja. Bayangkan, setipis apa garis yang memisahkan saya dari usia. Bagaimana jika saya tak pernah mendapatkan kesempatan kedua?

Kebodohan saya yang kedua adalah terlalu cepat mengira bahwa saya bisa melupakannya. Bahwa hanya karena ia tak kasat mata dan berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, maka hati saya bisa berpaling kepada yang lainnya. Bahwa ia bisa digantikan oleh siapa saja. Bahwa ia tak terlalu penting buat saya. Bahwa saya masih bisa jatuh cinta bukan dengan dia.

Kebodohan saya yang ketiga adalah mempercayai mereka yang mengatakan bahwa saya harus melupakannya. Bahwa saya harus melanjutkan hidup dengan kembali bercinta. Bahwa saya harus memberikan kesempatan bagi yang lain, selain dia. Bahwa saya, setidaknya, harus mencoba jatuh cinta. Realistis dengan pilihan yang ada, yang mungkin jauh lebih baik daripada dirinya; dan bukannya tetap setia pada cinta pertama.

Kebodohan saya yang keempat adalah memutuskan untuk jatuh cinta. Karena mereka bilang, saya harus mencoba. Karena mereka bilang, dia tak pernah ada di sisi saya. Bahwa mungkin dia tak akan pernah bisa membalas perasaan yang saya miliki terhadapnya. Bahwa ia tak sebesar itu mencintai saya. Tak mungkin saya bahagia jika tetap menunggunya. Maka, mengapa tak menjawab ‘ya’ pada sosok yang sudah pasti akan memberikan saya cinta? Maka saya pun teryakinkan bahwAnother beautiful piece from Yoshitomo Naraa memang ini waktunya. Bahwa saya memang sudah mencintai orang lain selain dia.

Kebodohan saya yang kelima adalah tertipu mentah-mentah oleh semua. Bahwa ternyata cinta yang mereka janjikan itu tak ada. Bahwa semua berlangsung cuma sekejap saja, sebelum saya sadar bahwa cinta yang dijanjikan itu mendua. Bahwa saya hanya dijadikan orang ketiga dan pelengkap penderita. Mungkin ini pelajaran buat saya karena memutuskan untuk mendengarkan suara-suara di luar diri saya; sementara hati saya tak pernah berhenti berdegup akan dirinya. Tiba-tiba saja saya merasa tidak setia, meski saya dan dia tak pernah punya ikatan apa-apa.

Kebodohan saya yang keenam adalah kembali sendiri, dan memilih untuk tidak bersama siapa-siapa. Kesendirian terasa lebih sakral buat saya, karena saya jujur terhadap apa yang saya rasa. Tak memaksa untuk mencari yang lain selain dirinya. Tak bertekad untuk melupakan atau mencari pengganti dirinya. Kenyataannya, saya cukup bahagia dengan kenangan-kenangan tentang dia; atau kesempatan-kesempatan yang akan datang untuk menghabiskan hari-hari bersamanya.

Kebodohan saya yang ketujuh adalah tak peduli sekiranya cinta ini hanya searah dan bukannya dua. Buat saya, lebih baik jujur mencinta daripada berpura-pura. Jika rasa dengan yang lain belum sekuat rasa pada dirinya, lebih baik tak usah saja. Semua orang berpikir akan lebih baik punya seseorang di sisi daripada sendiri terlalu lama. Tetapi saya pikir, lebih baik berbahagia sendiri daripada tersiksa berdua-dua. Lagipula, setelah kebodohan kelima, saya sudah tak terlalu percaya lagi orang-orang berkata apa.

Kebodohan saya yang kedelapan adalah keinginan untuk hanya berada di sisinya dan melihatnya bahagia. Berbelanja, makan nasi goreng di warung tenda, atau minum kopi sambil bertukar cerita.

The way I picture myself as one of Yoshitomo Nara's artworksDan kebodohan saya yang terakhir adalah kenyataan bahwa saya tak pernah menyesali kebodohan-kebodohan saya. Bahwa saya tetap mencintainya, meski dengan kesadaran penuh bahwa kami mungkin tak akan pernah bisa bersama. Ternyata sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mencintainya seperti apa adanya.

Cara ini mungkin memang tak biasa.
Tetapi tak mengapa.

Saya akan tetap menunggu hingga rasa yang ada tergantikan dengan sendirinya. Dan jika rasa itu tetap ada pun tak mengapa. Setidaknya saya sudah mencintainya seperti seharusnya. Sebagai satu-satunya. Sejak selalu dan… mungkin untuk selamanya.

The way we think may be completely different, but you and I are an ancient, archetypal couple, the original man and woman. We are the model of Adam and Eve. For all couples in love, there comes a moment when a man gazes at a woman with the very same kind of realization. It is an infinite helix, the dance of two souls resonating, like the twist of DNA, like the vast universe.
– Helix, Banana Yoshimoto –

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP