Ternyata blog telah menjadi ranah yang semakin patut diperhitungkan, karena bahkan para penipu telah berupaya menjadikan blogger sebagai target operasi mereka. Jika Anda menerima SMS dan diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening di bawah ini, jangan tertipu. Baca informasi yang benar mengenai Pesta Bloggger di blog resminya.

Gambar layar berisi SMS penipuan di bawah ini berhasil ditangkap oleh Siwi.


hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ketika hujan malam-malam, memang paling enak menyantap semangkok bubur ayam di bawah tenda di pinggiran Simpang Tiga yang temaram. Sudah keduluan, ternyata, oleh mereka-mereka yang perutnya keroncongan, hendak berteduh dari hujan, atau sekedar pacaran.

Bubur putih yang panas, mengepul, lengkap dengan suwiran ayam goreng, kerupuk, dan juga sate usus..

Sayang, hanya tinggal dua mangkok lagi. Tak ada sisa untuk orang ketiga yang melongok sedih ke dasar panci. Kosong, tentunya.

Mmm, terhidang di meja. Harum. Hangat. Dicicip sedikit. Mmh. Hangat ke hati ๐Ÿ™‚ Pas asinnya. Pas gurihnya. Tak perlu menambah bumbu lagi. Begini sudah sempurna.

Sebenarnya, jika masih ada bubur tersisa, saya akan memesan semangkok bubur lagi untuk dibungkus. Iya, semangkok lagi. Oh, bukan. Bukan untuk oleh-oleh; tetapi untuk dimakan sendiri sehabis mandi. Hihihi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Percakapan manis dengan seorang sahabat lama:

H (saya): Hmm, statusnya… hehehe. Lagi senang kenapa? ๐Ÿ™‚
S (sahabat): Ada, deh…
H: Idih. *pletaakkk* >:p
S: Hehehe, lagi mau deketin cewek, nih, Han… ๐Ÿ™‚
H: Ooo, pantesss :)) Dan siapakah perempuan yang beruntung itu?
S: Beruntung? Gua yang beruntung ๐Ÿ™‚

Ouch. So sweet. Dari sekian banyak teman lelaki yang mengisahkan kehidupan cinta dan lika-liku pengejaran mereka, baru dia satu-satunya lelaki yang menjawab pertanyaan standar saya itu dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang beruntung.

Semoga berhasil, Bang! ๐Ÿ™‚

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

When I find out who I am
I’m gonna know just what to do
When I pull myself together again
I’m gonna give myself to you

“Maybe I was too young back then. I didn’t (want to) know that love works in so many different ways. That love isn’t a pack of instant noodles, but more of a fine-dining experience: wonderful, but can be very complicated at times. Plus, I hadn’t had a lesson that there was no such thing as a ‘happy ending’. Because an ending is merely a beginning of something else. Something so distant, so unpredictable…”

Is this forever
This feeling I’ve got
Not enough and too much
So free and so caught up
In something and nothing
Both at the same time
I’m either out of my head
Or I’m out of my mind

Dulu, ia pikir, perasaannya padamu akan bertahan selamanya. Ia belum tahu bahwa segala hal berubah; dan bahwa masa depan itu jamak, bukan tunggal. Ia tak pernah membayangkan bahwa masa depan itu bercabang. Ia pikir masa depan hanya satu. Masa depan yang ia tahu. Denganmu.

Tetapi ternyata, masa depan itu menghamparkan berbagai pilihan–dan ia kini kewalahan. Ternyata ada begitu banyak jalan dan kemungkinan…

When I find out who I am
I’m gonna know just what to do
When I pull myself together again
I’m gonna give myself to you

Dulu, ia hanya belum siap. Merasa nyaman dengan ketidaktahuan. Hidup hanya dengan harapan. Tetapi yang begitu itu bukanlah hidup yang sebenar-benarnya; dan meski berharap itu perlu, bertindak itu mutlak.

Is this forever
This feeling that I’m not movin’ at all and I just can’t stop it
It’s like I’m dreaming
And I’m wide awake too
Will you remember me
Cause I won’t forget you

Tentu, dulu ia belum tahu itu. Bahwa melupakan itu sama sekali tidak penting. Pemborosan energi yang tidak perlu. Mengapa harus melupakan jika hidup menghadiahi kita kenangan? Satu-satunya hadiah dari kehidupan yang cenderung abadi (yang ternyata masih juga bisa direnggutkan oleh alzheimer). Alangkah bahagianya hidup dengan ingatan dan tetap merasa baik-baik saja. Bukankah itu kebahagiaan yang sebenar-benarnya?

Tetapi tak mengapa, karena dulu ia tak tahu.

When I find out who I am
I’m gonna know just what to do
When I pull myself together again
I’m gonna give myself to you

Tapi setidaknya, kini ia belajar. Ia berproses. Ia mengerti juga akhirnya, meski membutuhkan waktu lama. Tak mengapa, karena ia menikmati setiap langkahnya, orang-orang yang ditemuinya, tawa dan air mata yang dengan sabar menuntunnya. Ia tak bisa mengeluh. Hidup ternyata sudah terlalu baik padanya.

“Saya saja yang terkadang tidak tahu diri,” katanya sambil tertawa.

I guess I was saving my life for later
Or maybe I should have been giving myself to you
Now I will but I got to find out who I am before I do
Before I do

Ia ingin belajar mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu. Ada banyak sisi gelap dan terang dalam dirinya yang belum ia jelajahi satu-satu. Dulu ia terlalu sering memikirkanmu; mencoba mengenali dirimu; mengerti pikiran-pikiran dan perasaanmu. Ia lupa bahwa ia tidak akan pernah bisa mengerti dirimu sebelum ia mengenali dirinya sendiri. Dan kamu, kamu sama sekali tidak membantu.

Hahaha, saya bercanda ๐Ÿ™‚ Mungkin dulu kamu juga tak tahu bahwa kamu mengada hanya untuk membantunya belajar. Dan kini, sepertinya ia sudah mengerti. Jika pelajaran itu usai nanti, akankah kamu merindukannya?

When I find out who I am
I’m gonna know just what to do
When I pull myself together again
I’m gonna give myself to you

Karena, setelah ia mengenali dirinya, mungkin ia tak lagi menginginkanmu. Yah, mungkin ia masih menganggapmu menyenangkan untuk diingat sesekali. Tetapi ia pikir, ada atau tak ada kamu, hidup terus berjalan, dan kebahagiaan lain masih menunggunya di depan. Ia juga sudah belajar bahwa kebahagiaan itu jamak, bukan tunggal. Ah, waktu. Semakin sempit, bukan?

When I find out who I am
I’m gonna know just what to do
When I pull myself together again
I know, I’m gonna give myself to you
I’m gonna give myself to you
I’m gonna give myself to you

“I hope, one day, we’ll meet again,” katanya sambil mematikan lampu. “And I hope, by then, I’ve found out who I am; and he has found out who he is. And when that day comes, I will have no expectation whatsoever. I’ll be glad to see him, of course, but that’s it–because from this day on, I’ll gulp down whatever life has to offer me…”

………………………………….

*) Ditemani lagu TRAIN, “Give Myself to You” (Album: For Me, It’s You, 2006), dan halaman buku harian bertanggal 9 Juli 2001, ditulis pada suatu Senin malam. Berisi penyangkalan.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dua orang itu bertemu di Bundaran HI.

Lelaki asing itu tersesat; sementara perempuan yang sudah mulai berumur itu memang selalu ada di sana. Apalagi, ini Jumat malam. Biasanya, banyak orang-orang yang nongkrong di tempat itu, ngobrol-ngobrol hingga larut malam menjelang dini hari, tertawa-tawa sambil memesan kopi. Perempuan itu tak tahu persis siapa sebenarnya orang-orang ini, dari mana mereka datang, atau mengapa mereka ada di sana. Tetapi ia senang-senang saja. Langit malam cukup luas untuk dinikmati sama-sama, dan trotoar di depan Plaza Indonesia itu juga cukup lapang untuk menampung siapa saja yang ingin datang.

Tetapi Jumat malam itu, tak ada lagi yang datang. Hanya ada lelaki asing itu; yang entah mengapa bisa terdampar di sebelah perempuan itu. Mereka saling mengamati. Yang satu nampak asing di mata yang lain. Tetapi langit yang terhampar di atas kepala mereka mengingatkan keduanya bahwa mereka ternyata tak jauh berbeda.

Si lelaki menatap si perempuan. Si perempuan balas menatapnya.

Si lelaki bertanya-tanya, apa yang dilakukan perempuan itu di sini, mendekati tengah malam, sendirian. Ia sudah cukup berumur, pakaiannya sudah lusuh, mengapa ia masih berada di luar, membiarkan diri terkena angin malam? Sungguh kasihan.

Si perempuan bertanya-tanya, apa yang dilakukan lelaki itu di sini, mendekati tengah malam, sendirian. Lelaki itu nampak asing di kota yang bisa sangat tidak ramah ini, mengapa ia masih berada di luar, membiarkan diri rentan terhadap ancaman yang mengintai? Pastilah ia tak bisa membela diri atau berlari cepat dalam pakaian yang lumayan rapi seperti yang dikenakannya sekarang ini. Sungguh kasihan.

I don’t know where I am,” kata lelaki itu, akhirnya. Lebih berupa pernyataan dibandingkan pertanyaan. Ia merasa harus mengisi kekosongan karena mulai merasa tak sopan. Meskipun ia punya perasaan bahwa perempuan itu tak mengerti apa yang ia utarakan.

Perempuan itu mengangguk, tapi tak bicara. Wajahnya tetap ‘lempeng’ seperti apa adanya. Kemudian perempuan itu tersenyum, seperti teringat sesuatu, lalu menghilang sebentar dan kembali lagi dengan segelas kopi tubruk yang disajikan dalam plastik air minum kemasan. Panas. Harum. Asap mengepul-ngepul. Diulurkannya kopi itu kepada si lelaki.

Ada hangat yang tercipta ketika lelaki itu menerima segelas kopi yang disajikan kepadanya; entah dari mana datangnya, seperti sulap saja. Ia pandangi perempuan itu, takjub karena keramahannya, memberikan segelas kopi panas pada lelaki asing yang tak dikenal.

Perempuan itu memandangi lelaki itu, tersenyum. Takjub karena lelaki asing itu sudi menerima segelas kopi yang disajikannya.

Thank you,” ujar lelaki itu sambil menyesap kopi panasnya pelan-pelan.

Perempuan itu tiba-tiba saja merasa bahwa lelaki itu pastilah mengucapkan terima kasih.

Kemudian mereka berjongkok di trotoar yang lapang. Lelaki itu, dan perempuan itu. Duduk saja, tidak bicara, karena kata-kata dan bahasa tak bisa menjembatani apa yang mereka maknai. Keduanya nyaman diam-diam menghabiskan larut malam memandangi langit, lampu kota, dan mobil-mobil lalu-lalang.

Lelaki itu menyesap kopinya, merasa betapa anehnya semua ini. Orang-orang sibuk menyambut kedatangannya dengan gegap-gempita; sementara di sudut kota yang sudah mulai tua ini, ada seorang perempuan berumur berdiri sendirian menentang angin malam.

Orang-orang yang kebetulan melintas malam itu memandang heran ke arah dua sosok yang nampak ganjil di mata mereka.

“Saya rasa saya kenal lelaki itu,” ujar seorang perempuan pada kekasihnya ketika mobil mereka melintas di sana. “Bukankah itu orang paling kaya di dunia?”

Lelaki itu mengernyitkan keningnya, berusaha melihat lebih jelas. “Masa? Nggak mungkin, dong orang paling kaya di dunia nongkrong di trotoar sini, berjongkok di sana dengan perempuan itu?”

Perempuan itu tertegun, lalu mengangguk. “Iya, benar juga.”

Dan berlalulah mereka.

Menjelang subuh, lelaki itu meregangkan tubuhnya. Ia selalu bisa menelepon, tentu saja. Bahkan sejak ia tersesat tadi malam. Akan ada yang menjemputnya dan mengurusnya dengan baik; memberinya pelayanan bintang lima yang mendekati sempurna.

Jadi, ia mengangguk pada perempuan yang berjongkok di sebelahnya itu, tersenyum. “Time to go,” katanya.

Perempuan itu ikut tersenyum.

Too bad I don’t bring any cash,” gumam lelaki itu penuh sesal. Akhirnya hanya ia tepuk bahu perempuan itu dua kali, kemudian beranjak pergi, sambil berharap agar perempuan itu baik-baik saja. Mungkin sebelum kembali ke negaranya, ia akan meminta asistennya kembali ke sini. Mungkin ia bisa membantu perempuan itu lebih banyak lagi. Kasihan.

Perempuan itu melambaikan tangannya. Mengantar kepergian lelaki itu dengan prihatin. Rasa bangga menyelinap di hatinya, karena ia telah menemani lelaki itu sepanjang malam dan memberinya kopi panas cuma-cuma. Tanpanya lelaki itu pasti kehausan. Mungkin ia juga harus menyediakan roti, siapa tahu lain kali ada lelaki asing yang tersesat lagi. Kasihan.

Matahari beranjak tinggi. Perempuan itu kembali ke rumah petak sempit yang berdampingan dengan para pemadat dan penyimeng. Lelaki itu menelepon asistennya, dijemput dengan limosin, dan diantar untuk berfoto dengan para petinggi negeri ini.

***

Di tempat lain yang tidak kelihatan, di suatu sudut pikiran, seseorang berharap malam itu benar-benar ada. Ketika dua dunia itu bisa bertemu, lelaki dan perempuan itu, dan keduanya baik-baik saja. Yang satu merasa baik-baik saja dalam kelebihannya, yang satu merasa baik-baik saja dalam kekurangannya. Yang satu merasa nyaman berada bersama yang lain. Ketika sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.

Tetapi tentu saja, semua itu hanya berada dalam imajinasinya saja. Tak apalah, pikirnya. Imagination leads to creation

Lalu ia menutup laptop-nya dan tersenyum.

*) terinspirasi dari sebuah posting yang sangat menyentuh–sebuah posting yang begitu kaya dalam kesederhanaannya dan sangat berharga untuk dibaca selengkapnya di sini; dan sebuah event besar yang banyak dibicarakan orang minggu ini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Mungkin ia terlalu sering begadang atau nge-blog hingga pagi. Lalu terkena angin malam di kota yang tak juga beranjak sepi. Atau memang sudah terlalu banyak puntung rokok yang menyesaki asbak penapasannya hingga tak muat lagi. Entahlah. Yang jelas, kabarnya sang kawan itu sedang sakit.

Semoga tidak serius, karena ia masih menyempatkan diri untuk online sesekali, meski tak seceria dan secerewet biasanya–bukankah memang memandangi layar komputer berlama-lama di kala sakit malah akan membuat kepala bertambah pusing?

Jadi apa yang harus dilakukan ketika sakit?

Seorang sahabat pernah berkata kepada saya bahwa sakit adalah pengingat. Karena sakit merenggutkan kita dari hal-hal yang kita cintai.

Benar juga, ketika saya sempat jatuh sakit beberapa waktu lalu, semua yang biasa saya nikmati ternyata tidak nikmat lagi. Membaca buku, pusing. Membaca blog, pusing. Menulis blog juga pusing. Bahkan makanan favorit saya terbengkalai begitu saja. Melamun pun segera berujung pada depresi.

Sakit menyadarkan kita akan seberapa kuat–sekaligus seberapa rapuhnya kita. Agar kita beristirahat ketika perlu. Bahwa meski hati dan pikiran menginginkan kita untuk terjaga 24 jam, tubuh kita meredup pelan-pelan.

Lambat-laun, sakit juga mengajarkan kita untuk menjadi lebih sabar, dan dengan lapang dada menerima segala sesuatu apa adanya. Pasrah. Sehingga kita mulai mencari hal-hal lain yang tak terlalu menjadi pilihan untuk dinikmati pada hari-hari biasa, namun ternyata mendatangkan kebahagiaan tersendiri ketika kita sedang sakit.

Memejamkan mata. Tidur. Wangi minyak kayu putih atau balsem Vicks Vaporub. Selimut yang menghangatkan. Lampu kamar yang dimatikan. Mandi air hangat dan taburan bedak bayi untuk menyegarkan suasana yang kebetulan muram. Menyimak infotainment dari ruang tengah samar-samar. Mendengarkan gemericik air di kolam ikan kala tak bisa lelap malam-malam.

Karena bukankah ketika sakit terlalu lelah rasanya untuk tetap marah pada dunia?

Jadi, saya ucapkan semoga lekas sembuh pada kawan yang tengah sakit itu. Semoga ia masih bisa menikmati banyak hal di kala sakit, dan lebih banyak hal lagi di kala sehat.

Amin.

IMG. Gambar diambil dari sini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Akhirnya perempuan itu menyukai pagi juga. Cerah di atas pucuk kepalanya dan hangat yang membelai kulitnya.

Hujan akan selalu menghadirkan melankoli dan romantisme dari balik jendela; baik dalam secangkir kopi maupun segelas teh hangat yang dituang dari dalam poci.

Tetapi belakangan ini, sinar matahari yang tidak terlalu terik juga mulai menemaninya menyesap sebotol jus jeruk pelan-pelan. Ya, pelan-pelan. Karena ia nikmati saja semuanya hingga pagi untuk hari itu habis tak bersisa.

Strawberry smoothies mulai menggantikan hot caramel machiato sesekali; cukup untuk memberi warna, namun tak terlalu kerap untuk bisa mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih berbunga-bunga. Ia pikir bunga-bunga itu juga tak terlalu esensial, dekorasi itu perlu namun tak usah berlebihan. Minimalis masih tetap menjadi pilihan dan ia masih merasa nyaman dalam ruangan yang agak lapang. Ia pikir ia cenderung klaustrofobik, tapi tak mengapa.

Bukankah kita semua membutuhkan jarak?

Malam itu ia tengadahkan kepala dari boncengan ojek, memandangi bintang-bintang. Hanya ada satu hal yang terlintas dalam pikirannya: indah. Itu saja, tak ada saya-kangen-kamu atau kamu-sedang-apa atau apakah-kamu-sedang-memikirkan-saya. Sudah lama pikirannya tidak pernah diam. Ternyata hanya indah itu lebih dari cukup.

Ketika langit berubah warna dan pagi menerangi jalan yang sedikit basah setelah diguyur hujan, ternyata ia masih bahagia. Ia hampir lupa kapan terakhir kali bertegur sapa dengan pagi. Jadi, pukul enam lebih dua puluh menit, ia hirup dalam-dalam semesta kecilnya itu; merengkuh semua rindu: pagi, dan malam, dan segala yang berada di antaranya.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Gara-gara perjalanan ke Bandung bersama Sahabat Museum akhir minggu lalu, saya jadi menyadari betapa saya begitu suka menjadikan jendela sebagai objek jepretan kamera saya. Ternyata, tanpa disadari, sebelumnya saya pun telah banyak memotret jendela. Entah mengapa.

Ketika saya katakan kecenderungan ini pada seorang kawan, ia berbaik hati memberikan “arti jendela” jika dilihat dalam sebuah mimpi dari sini. Kira-kira begini bunyinya:

Window
To see windows in your dream, signifies bright hopes, vast possibilities and insight.

To dream that you are looking out the window, signifies your outlook on life, your consciousness, point of view, awareness, and intuition. You may be reflecting on a decision and seeking guidance. Or you need to go out into the larger world and experience life.

If you are looking in the window, then it indicates that you are doing some soul searching and looking within yourself.

To see shut windows in your dream, signifies desertion and abandonment.

Broken Windows
To see shattered and broken windows, denotes misery and disloyalty.

Window Washer
To see a window washer in your dream, represents your ability to clarify a situation and shed some perspective on an issue.

Tinted Window
To see a tinted window in your dream, represents you need for privacy and your ways of getting it. You are keeping aspects of yourself hidden or that you want to remain ambiguous.

Kemudian, keesokan harinya, kawan saya itu kembali membahas mengenai jendela, begini katanya:

Tadi sepupuku yang sarjana psikologi waktu aku singgung tentang jendelamu mengatakan sambil lalu: “berarti seorang penggoda, tapi sulit membuka diri”. Hwa ha ha ha ha. Terasa gak Han? :p

Dia kemudian menjelaskan bahwa orang berada di dalam jendela, melihat ke luar, seolah-olah memanggil-manggil ke yang ada di luar itu, tetapi tetap berada di dalam ruangan. Tetap aman karena ada jendela yang membatasi antara mereka berdua. Walau dia ngomong sambil agak bercanda, penjelasan ini tetap menarik.

Ya, untuk saya juga menarik. Karena saya mengenali pola-pola itu. It sounds familiar ๐Ÿ™‚ Lalu, ketika saya sudah mengenali pola-pola itu, bagaimana saya harus melangkah selanjutnya?

Saya masih mencari tahu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Menemukan catatan ini di sebuah komputer interaktif di Museum KAA (Konferensi Asia-Afrika). Tentang apartheid. Dan entah mengapa, menurut saya catatan ini menyentuh, nyaris mengingatkan saya pada puisi-puisi Terry McDonagh jadi saya menyalinnya:

No winters
No hurricanes
No tornados
No blizzards
No earthquakes

– No winter?

Well, hardly. Most of the inhabitants have never seen snow.

– No earthquakes?

Well, maybe every several hundred years.

– What is this, a desert?

No, one of the most fertile countries on earth. Intensively cultivated, it could feed the whole whole world.

– It must be heavily populated, then.

No, it is under populated. More than twice the size of Britain with barely half of its population.

– There must be drawbacks. It is ugly?

On the contrary, it is one of the most beautiful countries in the world with mountains, valleys, plains, and great surf beaches.

– So itโ€™s got everything?

Almost, including most of the worldโ€™s gold, not to mention:
Diamond
Platinum
Uranium
Vanadium
Magnesium
Chromium

– It sounds like paradise

It wasโ€”before the fall

– You mean thereโ€™s a snag?

Er, yes, a big one. This paradise is the most hated country in the world.

– The most hated country?

Well, not the country. Itโ€™s government. Itโ€™s political system. The system of apartheid.

(Source: Woods, Donald. A Graphic Guide to Apartheid)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeโ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP