Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan senja.
Bukan karena ia bosan memandangi gurat-gurat jingga keemasan dan langit yang nampak lucu dalam semburat ungu dan merah jambu; tetapi karena ada malam yang akan segera menggulung senja dalam hitam—dan perempuan itu tak ingin terjebak dalam kegelapan untuk yang kedua kali, sendirian.
Maka ketika jingga mulai tercabik di cakrawala dan lampu merkuri mulai menyala, perempuan itu berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan senja. Berlindung dari malam yang bisa menusuknya pelan-pelan dan menjatuhkannya ke dalam lubang hitam.
Kepergian perempuan itu meninggalkan senja bukanlah sesuatu yang ia putuskan secara tiba-tiba. Selama ribuan hari yang dipenuhi malam, perempuan itu selalu berharap menunggui senja tiba. Dan ketika senja akhirnya datang menyapa, perempuan itu pun tersenyum bahagia.
Ia pikir, senja kali ini akan bertahan selamanya.
Tetapi langit senja yang dipandanginya ini bukanlah langit yang setia dan menghadirkan warna jingga, ungu, dan merah jambu selamanya. Ternyata langit senja juga menurunkan malam. Menurunkan hitam. Menurunkan kelam.
Maka perempuan itu memutuskan untuk melangkah meninggalkan senja; dan berlindung dari hitam yang mencekam. Hitam yang selama ribuan hari pernah menyelimutinya dalam pedih yang berkepanjangan. Perempuan itu enggan terperangkap malam-malam untuk yang kedua kali, karena ia tahu, sekalinya ia jatuh, sulit baginya untuk memanjat keluar lagi.
Bagaimanapun, perempuan itu tak pernah menyesal karena telah keluar menyapa senja. Ia pernah menyaksikan jingga, ungu, dan merah jambu menebar di angkasa, memantul dalam bingkai wajahnya ketika ia memandangi semuanya dari atas dermaga.
Tetapi ternyata, langit senja di atas kepalanya semakin menggelap, dan mata perempuan itu mulai berkabut ketika mengetahui bahwa ternyata senja yang tengah dipandanginya ini akan berubah menjadi malam dalam hitungan waktu yang tak terlalu.
Jadi perempuan itu berlari pergi meninggalkan senja, bersama hujan yang merintik meluruhkan asa dari kedua bola matanya.
Mungkin memang tak ada senja yang bertahan selamanya. Mungkin semua senja—seberapapun cantiknya, selalu menyembunyikan tikaman malam.
Tentu, perempuan itu masih ingin percaya bahwa ada senja yang mampu bertahan selamanya; tanpa perlu menghunjam perempuan itu diam-diam dengan malam yang menekan. Jika bukan dalam kenyataan, dan pengharapan perempuan itu terlalu berlebihan, cukuplah hanya dalam kenangan.*
Tetapi rasanya, untuk sementara waktu, perempuan itu tak lagi ingin memandangi senja. Terlalu menyakitkan baginya.
Jadi, perempuan itu mengumpulkan semua remah senja yang ada dan menenggelamkannya ke dasar lautan. Biarlah menjadi santapan ikan, atau menguap bersama air laut dan turun kembali bersama hujan.
Suatu hari nanti, mungkin perempuan itu akan keluar lagi menyapa senja. Namun pastinya, senja yang ia sapa tak lagi berwarna jingga, ungu, atau merah jambu.
Karena perempuan itu pun tahu, sejak saat ini, langit senja tak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.
—-
*) ketika engkau tengah menikmati senja, waktu seakan berhenti. dan senja menjelma selamanya.
Disclaimer: Ini bukan untuk siapa-siapa. Usah kau resah dan gundah 😉
Bukannya tanpa alasan jika saya memilih lili putih atau Lilium candidum L. (dari famili Liliaceae) sebagai bunga kesayangan saya.
Pertama, lili putih, yang tumbuh di sepanjang Mediterania dan bagian Barat Asia ini mulai bermekaran pada bulan Mei–yang kebetulan merupakan bulan kelahiran saya.
Kedua, lili putih mengandung warna-warna kesukaan saya: putih (pada kelopaknya), kuning cerah (di bagian putiknya), dan hijau muda terang (pada batangnya).
Ketiga, lili putih kelihatan sederhana, minimalis, tetapi anggun. Ia tak mewah berduri seperti mawar (yang durinya bisa melukaimu tanpa sengaja), dan tak sewangi si mungil melati. Lili putih tidak berteriak dengan duri, tidak juga dengan wangi. Ia hening.
Memang sedikit aneh, tetapi hanya selang beberapa hari setelah saya mengunggah tulisan ini (mengenai sahabat saya yang berkesempatan untuk nongkrong bareng Kaka dan Bimbim Slank di Columbus, Ohio), saya mendapatkan undangan untuk menonton private concert-nya Slank di rumah Dubes Amerika Serikat, Cameron R. Hume. Kabarnya, konser kecil ini dibuat dalam rangka menyambut kembalinya Slank setelah tur mereka di Amerika sana.
Maka, rombongan kecil para blogger yang terdiri dari saya, Dimas, Chika, Dilla, Adit, Iqbal, Goenrock, Ronggur, Ridu, dan Bena pun bertemu di rumah sang Dubes di Taman Suropati—untuk menikmati Slank membawakan beberapa lagu lawas mereka—dalam Bahasa Inggris. Agak aneh juga mendengar mereka menyanyikan lagu “terlalu manis, untuk dilupakan…” yang diterjemahkan mentah-mentah menjadi “too sweet to forget…” 😀
***
:: SEMINYAK
Dua hari setelahnya, pada pukul setengah tiga siang di hari Kamis yang panas membakar, saya tertidur pulas di dalam mobil menuju bandara Soekarno-Hatta.
Penerbangan menuju Denpasar pada pukul lima sore akan membawa saya ke Hotel Santika—tempat di mana saya dan rombongan menginap—untuk memberikan pelatihan komunikasi bagi salah satu organisasi nirlaba di sana pada hari Jumat, di hotel yang sama.
Setelah selesai memberikan pelatihan pada pukul lima sore, saya dan kawan saya bertolak menuju Hotel Mutiara Bali di Seminyak untuk memperpanjang jam ‘kerja’ kami di Bali menjadi hari-hari liburan. Sepanjang perjalanan, saya pun ber-SMS ria dengan Pak Dhe Mbilung, mengatur janji untuk makan malam romantis bersama 😀
mutiara bali, hotel kecil yang menyenangkan, terletak di belakang jajaran restoran sepanjang seminyak trattoria-mykonos-ultimo, letaknya di jalan kecil di belakang ultimo, tersembunyi dari keramaian. tempat yang cocok untuk mengasingkan diri 🙂
Pak Dhe Mbilung menjemput kami di hotel pada pukul setengah delapan malam, bersama—Dewi! Iya, Dewi, yang dulu punya blog di secret-silence.blogspot.com, yang sudah saya anggap teman sejiwa di blog seperti Atta, yang saya sukai gaya menulisnya, yang saya kunjungi blog-nya secara berkala, hingga akhirnya Dewi menutup blog-nya 🙁
Akhirnya, di lobby hotel, saya bertemu Dewi juga—yang cantik sekali (!), seperti gadis Bali yang ada di foto-foto National Geographic—walaupun Dewi bukanlah orang Bali 😀
Pak Dhe Mbilung curi-curi pandang pada Dewi yang secantik bunga mawar di atas meja 😀
Bersama Pak Dhe Mbilung dan Dewi, kami mendamparkan diri di MYKONOS, sebuah restoran Yunani tak jauh dari hotel—menyantap roti pita dan shoarma udang, kemudian membiarkan Pak Dhe Mbilung menikmati 2 gelas lemon tea, 3 scoops es krim dan secangkir kopi, serta mempersilakan beliau menghabiskan dessert yang dipesan kawan saya 😀
Dari MYKONOS, Pak Dhe Mbilung dan Dewi menurukan saya di Hu’u Bar untuk nongkrong-nongkrong sebentar bersama kawan saya sebelum kembali lagi ke hotel. Ah, Hu’u Bar—yang di bagian belakangnya terdapat meja-meja dan bantal-bantal besar di atas rumput, di bawah langit terbuka, diterangi lampu-lampu kecil yang bersinar seperti kunang-kunang. Banyak sekali rombongan keluarga yang hadir malam itu; juga pasangan yang menikmati makanan ditemani sebotol wine. Ah, Hu’u merupakan tempat yang menyenangkan untuk melangsungkan pesta pernikahan kecil-kecilan 😉 *ah, dasar perempuan-perempuan*.
Hari Sabtu siang, saya dan kawan saya yang melewatkan sarapan pagi di hotel, bergegas menuju CAFE BALI untuk makan siang lebih awal. CAFE BALI ini juga masih terletak sejajar dengan MYKONOS, dan bisa dicapai dengan berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap. Nasi dan sate ayam serta sate sapi menjadi pilihan, karena perut kami rasanya belum ‘nendang‘ jika belum terisi nasi 😀
restoran yang menyenangkan dan enak untuk nongkrong berlama-lama, menyesal tak bawa laptop, karena ternyata di sini semua orang sibuk berwi-fi 😀
Di restoran inilah kami menemukan buku berjudul My Life in Bali, yang keren sekali, karena mengupas berbagai pertanyaan mengenai Bali. Misalnya mengenai lambang swastika yang bisa ditemukan di mana-mana, kebiasaan mandi bersama di sungai alias communal bathing, penyembuh spiritual atau balian, juga mengenai persembahan/sesajen yang biasa diletakkan di depan rumah… semua ini dijelaskan dengan bahasa anak-anak yang sangat lugas, jujur, dan… membuat orang-orang asing bisa mengetahui berbagai hal mengenai Bali dan kebiasaan-kebiasaan di Pulau Dewata itu; yang mungkin dirasa agak kurang sopan jika ditanyakan langsung secara terus-terang kepada penduduk setempat.
buku ini bagus sekali, dan sebenarnya saya ingin membelinya, tetapi harganya mahal, 350ribu rupiah. harga yang pantas sebenarnya, karena bukunya tebal dan lukisannya bagus. selain dalam bahasa inggris, buku ini juga tersedia dalam bahasa perancis.
Buku indah ini ditulis oleh Sandrine Soimoud, seorang asing yang menetap di Bali. Saya sempat mempertanyakan mengapa harus orang asing yang menulis buku bagus semacam ini 🙂 tetapi kemudian teringat oleh saya, terkadang hal-hal paling sederhana mengenai kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari yang patut dipertanyakan, memang akan lebih jelas terlihat oleh orang asing. Kita yang berada di tengah lingkaran kebiasaan itu sudah terlalu terlibat menjadi bagian di dalamnya, sehingga merasa tak perlu lagi mempertanyakan apa-apa.
Begitukah? 🙂
Selepas makan siang, sekitar pukul setengah satu, saya dan kawan saya pun berjalan kaki menyusuri Seminyak—melihat-lihat etalase toko yang berjajar rapi sepanjang jalan, dan sesekali berhenti di tempat-tempat yang kami anggap menarik dan menjanjikan, terutama di tempat-tempat bertuliskan SALE 50% 😀
hitakara, toko yang menjual aneka perhiasan lucu hasil karya desainer bali, dan harganya sangat ramah di kantung. di sebelah kanan adalah jacques ruc, yang dipenuhi tas-tas rotan berwarna-warni dan memiliki display serta sofa yang menyenangkan 🙂
Tak terasa, ternyata sudah pukul empat sore. Kami sudah berjalan kaki selama sekitar 3.5 jam—dan mulai dehidrasi 😀 Kembali menuju arah hotel tempat kami menginap, kami pun bersantai sejenak di THE JUNCTION, sebuah kafe kecil tak jauh dari Seminyak Square, memesan lime juice dan pancake pisang cokelat yang ternyata porsinya sangat besar… sebelum kembali ke hotel untuk menyegarkan diri dan tidur-tiduran sebentar.
tempat yang ramah, terang, dan berangin, cocok untuk mengistirahatkan kaki sambil membaca-baca majalah. tirai putih bergantungan di the junction akan diganti menjadi tirai merah begitu pukul setengah enam sore untuk memberikan ambience ruangan yang berbeda.
Malam harinya, kami berjalan kaki dari hotel menuju ULTIMO, sebuah restoran Italia—masih di jajaran yang sama dengan MYKONOS dan CAFE BALI. Di sinilah saya merasakan fetucinni terlezat di dunia 😀 Jika Anda berada di Seminyak, saya sarankan mampir ke ULTIMO! Selain suasananya sangat romantis (kenapa kami berada di tempat-tempat romantis terus, ya?), harga makanannya juga bisa dibilang tak terlalu mahal, apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta.
wajah senang karena perut kenyang, di bawah penerangan lampu remang-remang dan lilin yang benderang...
Dengan 85ribu rupiah saja, Anda sudah bisa mendapatkan full set menu, yang terdiri dari salad, fetucinni tuna, sirloin steak (Australian) dengan mashed potato, serta fruit bowl dengan sorbet. Dan makanannya memang luar biasa enak… pantas saja restoran ini selalu nampak full dari luar, dan Anda harus sabar menunggu selama beberapa menit untuk mendapatkan tempat duduk.
Pukul setengah sepuluh, kami menuju kawasan pantai Double Six tak jauh dari sana untuk menonton DJ Kyau dan Albert dari Jerman yang akan bermain di Magnifisound di DOUBLE SIX CLUB. Tetapi pukul sepuluh malam ternyata masih terbilang ‘pagi’. Double Six Club masih sepi tak berpenghuni. Maka, kami pun mendamparkan diri di BACIO—sebuah klub kecil tak jauh dari situ, dan satu-satunya klub yang sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan 😀
Kami pun duduk di bar, karena meja-meja lain sudah ditempeli tulisan ‘reserved‘—mengobrol sambil nge-plurk dan meng-update status Facebook 😀 Pemandangan yang aneh, mungkin. Dua orang perempuan sibuk mengutak-atik telepon genggam di bar—dan lebih aneh lagi karena saya memesan secangkir kopi! 🙂
Di BACIO inilah, kami melihat DJ Ai—yang rupanya memang akan dijadwalkan main di sana. Saya kemudian berpikir, betapa banyaknya DJ-DJ yang terlihat keren ketika berada di tengah kegelapan klub, dengan lampu-lampu yang terang-redup-terang-redup, di belakang kotak kaca yang memagarinya dari pengunjung di lantai dansa—tetapi ketika pagi datang, masihkah mereka nampak sekeren tadi malam? Entahlah 😀 *tetapi saya setuju bahwa DJ Ai nampak sangat keren malam itu* 😉
Mendekati tengah malam, barulah kami beranjak menuju Double Six Club yang sudah mulai dipenuhi pengunjung. Tetapi kerumunan baru mulai ramai menjelang pukul tiga pagi. Saya dan kawan saya yang awalnya merangsek ke tengah kerumunan untuk bisa lebih dekat melihat Kyau dan Albert, akhirnya menyerah dan menyingkir ke pojok meja bar yang dekat dengan mesin pendingin, karena tak tahan dengan pengapnya asap rokok 😀
Oh ya, sebuah catatan spesial dari Seminyak: saya menemukan sebuah toko furniture dan sebuah spa bernama DI SINI. Ah, apakah ini semacam pertanda? Ataukah semesta hanya ingin bermain-main dengan saya? 😉
Di Sini ada di Bali! 🙂
***
:: LAPTOP HP MUNGIL ITU
Di tengah-tengah perjalanan di Seminyak inilah keinginan saya untuk membeli laptop mungil muncul lagi. Senangnya bisa bepergian membawa-bawa laptop untuk dipakai menulis dan mengetik cerita, tanpa harus terbebani dengan berat dan besarnya laptop yang hendak dibawa.
Beberapa waktu lalu, saya sempat jatuh hati pada ASUS EEE PC yang kecil mungil dan berwarna putih itu, tetapi kawan saya kemudian datang ke kantor membawa HP 2133 Mini Note mungilnya, yang kelihatannya lebih “tidak rapuh” dibandingkan ASUS EEE PC itu. Dan lagi, kemudian saya berpikir, adalah HP yang mensponsori hadiah untuk doorprizePesta Blogger di saat-saat terakhir. Lantas, apakah ini berarti akan lebih baik kalau saya membeli HP? 😉
uh, dengan dolar yang naik-turun, rasanya harus menunda dulu membeli si mungil ini...
Ada yang berkenan memberikan saran? ASUS EEE PC atau HP 2133 Mini Note? 😀
***
:: BLOGGERSHIP
Kemarin, ketika saya kembali ke kantor setelah liburan singkat di Bali itu, saya menemukan sudah ada puluhan aplikasi dari para blogger untuk mengikuti BLOGGERSHIP—scholarship untuk blogger yang diselenggarakan Microsoft.
Untuk informasi saja, aplikasi akan ditutup tanggal 15 Desember 2008. Jadi untuk yang belum mengirimkan aplikasinya, ayo kirim segera, dan baca keterangan lengkapnya di sini.
Uh, sayang sekali saya tidak boleh ikut mengirimkan aplikasi— padahal terbuka kesempatan untuk jalan-jalan lagi jika bisa menang Bloggership 🙁
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, akhirnya Pesta Blogger 2008 terlaksana juga! Semua lelah dan penat—akibat hanya tidur selama 2 jam pada malam sebelum acara digelar—rasanya langsung berganti dengan semangat ketika bersinggungan dengan senyum, gelak tawa, sapa, jepretan kamera, peluk erat, jabat tangan, lambaian, serta tepukan di bahu dari kawan-kawan blogger ketika saya tengah berjalan hilir mudik kesana kemari pada hari Sabtu (22/11) kemarin.
Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih banyak, atas dukungan, masukan, dan semangat yang diberikan oleh kawan-kawan blogger—baik yang dapat maupun yang belum dapat menghadiri acara Pesta Blogger 2008; karena di tengah tekanan yang semakin memuncak mendekati pelaksanaan Pesta Blogger, suntikan semangat dari kawan-kawan blogger-lah yang membuat saya (dan Dimas) bisa tetap waras di tengah persiapan acara yang menggila 😀
Malam sebelum Pesta Blogger 2008, sebenarnya saya ingin datang ke Muktamar Blogger di BHI, tetapi apa daya. Saya, Dimas, dan Indri masih harus melantai di kantor, melayani telepon-telepon sehubungan dengan perijinan loading para sponsor, mempersiapkan dan memperbanyak dokumen-dokumen, mengurus pengiriman barang-barang dan mendatanya satu per satu, berkoordinasi tanpa henti dengan EO untuk perubahan-perubahan mendadak sehubungan dengan acara esok hari yang berada di luar kuasa kami…
Dan dari meja saya yang berantakan dan dipenuhi tumpukan kertas, saya melihat mata Dimas sudah merah karena tak henti-henti menatap layar komputer dan program Excell, mendata dan mengecek ulang nama-nama para peserta (baik yang sudah dan belum konfirmasi), serta melayani puluhan email berisi pertanyaan seputar registrasi Pesta Blogger 2008.
Waktu itu pukul setengah dua pagi.
Energi dan konsentrasi sudah menurun drastis. Kantuk mulai menyerang dan punggung juga terasa pegal. Mata mulai lelah dan semakin memerah. Saat itulah, Dimas memutuskan beristirahat sebentar dan membuka Plurk. Tiba-tiba Dimas berkata, “Han, ini Momon nulis di Plurk, mari kita mendoakan dimasnovriandi dan hanny supaya budi baik mereka bagi PestaBlogger diterima oleh yang di atas sana…”
Oh.
Tak terasa, mata saya berkaca-kaca. Saya terharu. Sungguhan. Rasanya ingin menangis.
Pada pukul setengah tiga pagi, giliran Wazeen yang menyapa saya melalui jendela pesan instan: “Bu, tidur dulu, nggak usah dipikirin…” Ketika tahu bahwa saya masih berada di kantor, Wazeen pun mengucapkan ‘good-luck’ diiringi tanda titik dua dan kurung tutup 🙂
Baru pukul setengah 4 pagi saya dan Dimas beranjak tidur. Rasanya mata belum sempat terpejam, tiba-tiba saja pukul setengah 6 pagi ditandai dengan alarm telepon genggam yang berbunyi. Kami pun beringsut bangun, mandi, dan berangkat menuju kantor untuk melakukan pengecekan dan persiapan terakhir.
Menjelang pukul 7, tiba-tiba jendela pesan instan terbuka. Ternyata Pak Dhe Mbilung, yang berkata, “Saya suka phrase ‘like a mosquito in a nudist colony‘. Dan itu pas buatmu sama dimas hari ini kayaknya. Sibuk mestinya. Dan thanks sebelumnya sudah susah-payah mengumpulkan kami semua…”
Dan mata saya pun langsung berkaca-kaca lagi. Duuuh.
Untuk Momon, Wazeen, dan Pak Dhe Mbilung, terima kasih banyak! Kalian tidak tahu betapa berartinya semua itu untuk kami 🙂
***
Sepanjang acara Pesta Blogger, saya pun tak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan kawan-kawan blogger; karena sibuk mengatur jalannya acara. Sempat merasa kepingin juga melihat teman-teman duduk-duduk lesehan dan mengobrol santai sambil berfoto ria 🙂
Untungnya, ketika tengah berjalan-jalan kesana kemari saya sempat bertukar sapa dan bertukar peluk dengan kawan-kawan blogger… (Mbok Venus, halo halo! 😀 hehehe), dan sempat juga nebeng berfoto sebentar (bersama Nyonya-nya Tuan) sebelum kemudian lagi-lagi ngacir pergi.
Kalau Gita ingin bertemu dan berfoto bersama Raditya Dika pada Pesta Blogger 2008 kemarin (dan misinya ini berhasil) :D—saya juga akhirnya berhasil bertemu dengan Herman Saksono alias Momon!
foto diambil diam-diam, tanpa sepengetahuan objek penderita di J-Co PIM 2 kemarin sore. di luar hujan. dapat kabar bahwa yudhis (tukang kopi) ketinggalan pesawat...
Setelah sekian lama, akhirnya bisa ketemu Momon in person. Seru sekaligus terharu 🙂
Juga seru, karena akhirnya saya bertemu dengan sosok lelaki di balik blog Nguping Jakarta, yang (ternyata oh ternyata) adalah seseorang yang selama ini saya kenal! 😀
Meskipun pada hari Sabtu itu saya tak bisa nongkrong lama-lama dengan Momon dan teman-teman Cah Andong lainnya, akhirnya pada hari Minggu kami mendamparkan diri untuk perhelatan Pesta Blogger 2008 lanjutan di PIM 2 😀 — tepatnya menggelar pesta foto dessert di Sushi Tei.
berpose di depan sushi tei setelah mengantri lama karena masuk waiting list... foto dipinjam dari hasil jepretan momon 😀
Ah, dan akhirnya saya bertemu juga dengan Antobilang yang kemarin-kemarin hanya sempat email-email-an terkait Photo Contest Pesta Blogger, Iphan yang lucu dan menggemaskan (Iphaaann!!! Main, yuuuk!), Nico (makasih yaaa atas traktiran capucinno-nya), dan Gun(awan Rudy) dengan tasnya yang naudzubillah besarnya itu.
PS: Pagi ini, begitu sampai di kantor, saya melihat notifikasi di Facebook mengenai foto-foto dari acara Sabtu-Minggu kemarin yang baru diunggah, dan melihat itu semua membuat saya jadi kangen kalian lagi! 🙂 Dan selamat untuk Cah Andong yang berhasil menyabet Blogging for Society Award Pesta Blogger 2008 dan juga teman-teman di Bali Blogger Community sebagai The Most Promising Blogger Community in 2008!
Pagi tadi, saya menerima kiriman SMS dari seorang kawan saya, seorang blogger juga, yang bekerja di salah satu organisasi internasional yang berkantor di Bursa Efek Indonesia situ.
Isinya?
Han, ada Enda Nasution, lho di Apa Kabar Indonesia TVOne *mantabh* berhadapan dengan polisi & akademisi Unpad…
Saya tahu, wawancara di TVOne pagi itu masih mengangkat tema yang terkait dengan posting NdoroKakung ini.
Saya tak hendak berkomentar banyak, dan mungkin tulisan saya berikutnya tidak terlalu berhubungan dengan isu yang banyak membuat gerah di ranah blog beberapa hari ini. Saya hanya ‘terbangunkan’ oleh isu tersebut, dan menulis postingan ini–yang jika ditanya apa kaitannya dengan isu di atas, saya pun tak bisa menjawab dengan pasti.
Saya hanya berpikir, bahwa perbedaan itu memang akan selalu ada. Dan yang berbeda itu memang tak perlu disamakan, hanya perlu dimengerti.
Jikalau ada seseorang yang membenci kita, dan melakukan hal-hal yang melukai hati kita, sesungguhnya kita punya dua pilihan:
1. merutuki orang yang membenci dan melukai kita, lalu balik mengecam atau membalasnya,
atau
2. mencoba bertanya kepada diri sendiri, mengapa orang tersebut sampai bisa sedemikian bencinya kepada kita, sehingga tega untuk hati melukai kita
Mungkin ia membenci karena ia tak mengerti. Salah paham. Karena ia melihat hal-hal yang membuatnya mengambil kesimpulan yang keliru. Mungkin ia membenci karena pengalaman pahit di masa lalu–pengalaman yang membuatnya trauma sehingga ia mulai menggeneralisasi. Mungkin ia membenci karena belum mengenal baik sesuatu. Karena mengenal orang-orang yang salah. Karena dididik untuk membenci sesuatu…
Saya kerap bertanya-tanya, mengapa banyak orang memilih untuk berkonsentrasi pada banyaknya perbedaan yang kita punya, dan bukan pada betapa banyaknya persamaan yang kita miliki.
Dan saya teringat sebuah kalimat dalam kartu pos yang dikirimkan ke PostSecret–salah satu blog favorit saya, yang dipenuhi pindaian kartu-kartu pos bertuliskan rahasia orang-orang. Kalau tidak salah, saya menemukan kartu pos yang mengesankan itu sekitar awal tahun 2000.
Saya tak ingat dan tak mencatat tautan pastinya, sehingga tak bisa menampilkan kartu pos aslinya di sini. Tetapi demikian terkesannya saya dengan kalimat di atas kartu pos itu, sehingga saya cetak di atas karton–yang kemudian saya masukkan ke dalam wadah paperclip di atas meja belajar saya.
Bunyinya?
“I never knew that people are so identical. They just pretend they are not.”
Akhirnya saya mengerti. Pertalian dalam barisan-barisan aksara perempuan itu bukanlah kopi, bukan pula hujan, bukan jingga, dan bukan pula senja. Tetapi jendela.
Saya pernah bertanya kepada perempuan itu, “Mengapa harus di balik jendela?”
“Mungkin, karena di balik jendela, kita terlindung. Ada sesuatu yang membatasi kita dari dunia luar…” jawab perempuan itu.
“Takutkah kau pada dunia di luar jendela itu?”
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, seperti biasa. Tak membiarkan saya mengerti apa yang tengah berkecamuk dalam benaknya, apalagi mengetahui apa yang tengah bergejolak dalam hatinya.
Saya jadi teringat pada film-film Wong Kar-Wai. Sama seperti perempuan itu, Wong Kar-Wai gemar melakukan pengambilan gambar dari balik jendela atau bermain-main dengan pantulan cahaya yang ditimbulkannya. Setidaknya hal ini jelas kentara dalam film My Blueberry Nights. Dan selalu ada sebuah adegan di mana sang tokoh utama dan kawannya berbincang selagi makan.
Tetapi ketika perempuan di balik jendela itu menjadi tokoh utamanya, biasanya saya menemaninya dengan secangkir kopi. Atau teh poci. Perbincangan tentang cinta dan patah hati selalu berhasil menghilangkan nafsu makan.
Ah, perempuan itu. Yang selalu memandangi hujan dari balik jendela. Jendela sebuah kedai kopi. Jendela kamar. Jendela mobil. Mobil itu mungkin memindahkan si perempuan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, tetapi perempuan itu sebenarnya tak pernah beranjak ke mana-mana. Ia akan tetap di sana, seperti relatif diam, memandangi hujan dari balik jendela. Satu-satunya jalan keluarnya. Objek psikologi yang rumit. Tetapi saya, saya tidak pernah mencoba untuk mengerti dia.
Dan perempuan itu selalu memilih untuk duduk di sudut yang sama, di balik jendela. Karena hujan selalu nampak lebih syahdu dari situ.
Tetapi bukankah jendela adalah kaca–dua arah? Mungkinkah perempuan itu bukan hanya ingin memandangi hujan, tetapi diam-diam berharap bahwa hujan akan balik memandangnya dari luar sana? Jangan-jangan, selama ini perempuan itu berharap suatu hari hujan akan menyadari keberadaan perempuan itu di balik jendela, kemudian balik memandangnya. Mereka bertatapan, bertukar senyum, dan hujan melempar sapa bersama hembusan angin yang menyelinap dari celah-celah yang terbuka.
“Hai,” hujan menyapa, terkejut melihat perempuan itu tengah memandanginya. “Aku tak tahu bahwa ada kau di sini.”
Perempuan itu tersipu. “Aku sudah selalu berada di sini sejak dulu…
“Ah, andai saja aku tahu lebih awal…” hujan menatap malu-malu dari balik rinainya.
“Tak mengapa, penantian ini sepadan,” perempuan itu tersenyum.
a sculpture by Dolorosa Sinaga, Galeri Nasional, 2008
Di bulan November ini, saya melihat perempuan itu lagi, di balik jendelanya. Sudah beberapa waktu lamanya dia menghilang, tetapi hari ini ia datang lagi. Memandangi hujan. Ada sesuatu yang telah berubah dari dirinya, meski saya tak tahu persis apa.
“Apa yang kau takutkan di luar sana?” saya bertanya.
“Aku takut jika lagi-lagi terluka,” ia menjawab.
Ah, perempuan itu. Yang masih ingin percaya bahwa cinta sungguh-sungguh ada. Yang masih saja tersenyum, meskipun hatinya menangis.
Ketika saya berbalik pergi meninggalkan perempuan itu dengan kopi, hujan, dan jendelanya, dari kejauhan masih terdengar samar-samar lagu lawas dari 2 Unlimited:
If I make a promise, I’ll never let you down
Love will always break your heart, so they say
But we can turn that round.
There’s nothing like the rain, falling down again
To come and wash away the pain
There’s nothing like the rain, nothing like the rain
To clear the air so we see again…
————–
*)romantisasi percakapan dengan seorang kawan pada suatu senja yang berhujan
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.
We use cookies to ensure that we give you the best experience on our website. If you continue to use this site we will assume that you are happy with it.