“Gusti Allah Maha Adil,” demikian yang dikatakan jurnalis musik yang juga senang nge-blog ini ketika kami makan siang beberapa waktu yang lalu.

Kata-katanya terngiang-ngiang di telinga saya malam ini. Akhirnya saya kesal juga pada layanan taksi burung biru itu. Padahal saya termasuk pelanggan setia, dan beberapa pengemudi sudah mengenal saya. Bahkan ada yang sudah 2-3 kali mengantar saya ke Bogor di kala malam sudah merayap mendekati pukul 12.

Malam ini, baru beberapa menit yang lalu, saya menelepon untuk memesan taksi seperti biasa, disertai pesan, “Ini buat ke Bogor, ya, Mbak…” (karena takut ada yang sudah mau masuk pangkalan). Sudah capek, ngantuk… tiba-tiba saja si Mbak Kiki ini bertanya,”Bogornya sudah lewat terminal?”

“Iya. Lewat terminal belok kiri,” jawab saya, tanpa prasangka. (Ya, iyalah. Secara terminal itu kan letaknya persis berseberangan dengan mulut keluar-masuk tol Bogor).

“Oh, kalau sudah lewat terminal nggak bisa, Mbak. Itu di luar batas operasi kami.”

Aneh, sungguh aneh. Saya sempat speechless selama beberapa saat. Maksudnya? Saya sudah entah berapa puluh kali pulang ke Bogor dengan taksi burung biru selama beberapa tahun terakhir. Ini tidak masuk akal.

“Kok gitu? Biasanya saya pulang bisa-bisa saja.”

“Harusnya nggak bisa, Mbak.”

“Ya sudah, terserah. Turunkan saja saya di terminal,” saya menggerutu. “Aneh!”

Huh. Saya masih kesal. Tapi… taksinya sudah datang. Kita lihat saja update besok pagi, saya diturunkan di mana. Di terminal, atau di depan rumah.

UPDATE:
Ternyata Pak Pengemudi tidak menurunkan saya di terminal. Saya sempat bertanya, “Kok operatornya bilang batas operasi Blue Bird hanya sampai terminal, sih, Pak? Ini pertama kalinya, lho, saya menelepon dan diberi tahu kebijakan demikian…”

Pak Pengemudi tertawa, “Wah, aneh memang, Mbak itu operatornya. Kita kan daerah operasinya Jabodetabek. Ngantar ke Bandung saja bisa, kok. Maklum, Mbak, operatornya kan beda-beda, mungkin nggak ngerti dia.”

Karena malam itu jalanan lancar, saya sampai dalam waktu kurang dari 45 menit, Pak Pengemudi-nya juga menyetir mobil dengan sigap dan melayani dengan sopan, akhirnya saya pun menutup hari dengan nyaman.

PS: Mbak Kiki, coba dicek lagi kebijakan yang benar dari burung biru. Jangan sampai mengusir pelanggan yang ingin diantar ke Sukabumi atau Bandung karena diminta turun sampai terminal 🙂 Oh, ya, maaf karena sebelum menutup telepon saya keceplosan mengatakan Mbak Kiki aneh. Saya sedang capek dan ngantuk, lalu dibuat terkejut. Jadi harap maklum 😉

hanny

12 Responses

  1. kalau kongkalikong dengan supirnya bisa nggak ? tambahin uang rokok berapa ribu biasanya efektif

  2. mbak kikinya lagi ngambek tuh. kan udah malam, lapar, mau pulang tak di jemput pacar, terus mungkin satu teman kerjanya gak masuk dan kemarin dapat telepon dari kampung mmm…..

    *jumat ini ada farewel parti di bhi, pak presiden pindah ke riau

  3. @iman: hehehe ternyata nggak diturunin di terminal, kok, Mas 😀

    @kw: mana ujan, becek, ga ada ojek hahaha. *wah, seru sekaliii, saya sudah berniat mau mampir ke sana jumat ini… moga-moga kita bertemu di sana untuk menyaksikan serah terima jabatan 🙂

  4. @balibul: huuu, tatonya kan gambar doraemon 🙁

    @wazeen: hehehe kalau begitu lain kali jangan percaya kalau disuruh turun di terminal ;p

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO