Saya sakit. Sudah begitu bukan sakit biasa pula, tapi lumayan menyedihkan–karena sampai membuat saya harus istirahat di tempat tidur. Dimulai dari hari Rabu malam lalu (6/2) hingga hari Kamis kemarin (14/2).

Dan hari ini, masih dengan syal melilit di leher, seplastik obat-obatan dari dr. Regina, dan suara yang hilang, saya menyempatkan diri masuk kantor. Tak tahan memikirkan pekerjaan dari rumah. Saya dihantui rasa bersalah. Hahaha.

Sebenarnya atasan saya berbaik hati menanyakan apakah saya yakin sudah baik-baik saja, dan mengapa saya tidak pulang saja setengah hari. Tetapi terlanjur, ah. Malas rasanya membayangkan setelah tadi bangun pagi-pagi (dan di luar hujan deras waktu saya bangun, oh, I love it!), jam 12 harus sudah pulang ke Bogor lagi. Rasanya mubazir.

Dan ketika saya pulang dari pertemuan dengan klien sore-sore, saya menemukan beberapa sachet teh peppermint di atas meja saya. Dari atasan saya, dengan catatan kecil berbunyi “Get Well Soon…”

Kenapa ya, begitu saja saya jadi sedih dan merasa terharu. Hahaha.

Kalau diingat-ingat, ini salah satu sakit terparah saya. Yang pertama adalah ketika kena gejala tipus sewaktu kelas 5 SD. Lalu ketika cacar air (sangat menderita) sewaktu kelas 3 SMP.

Setelah itu tak pernah lagi saya sakit parah. Biasanya paling hanya sakit biasa, demam atau pilek atau apalah yang hanya bertahan 2-3 hari. Itupun saya masih bisa beraktivitas seperti biasa; dan mungkin hanya ijin tidak masuk 1 hari.

Jadi sakit selama (tunggu saya hitung dulu) 9 hari kemarin adalah sakit saya yang terparah sejak cacar air itu. Suara saya hilang sejak Rabu malam, dan saya anggap biasa saja karena memang suara saya terkadang hilang jika terlalu capek. Tetapi ternyata berlanjut dengan demam naik-turun dan batuk yang tidak berhenti-berhenti (literally hanya berhenti batuk selama 5 detik, lalu batuk-batuk lagi), sehingga saya sama sekali tidak tidur selama 3-4 hari.

Bagi saya yang sangat suka tidur, keadaan itu bahkan jauh lebih menyiksa lagi. Tenggorokan saya sakit dan perih, perut saya juga kram karena otot-otot menegang setiap kali terbatuk. Menderita sekali. Ingin memejamkan mata dan tidur tapi tidak bisa. Ingin bangun menonton TV atau membaca buku, tetapi pusing.

Ah, untungnya sekarang sudah agak mendingan. Meski masih batuk sesekali tapi sudah jauh berkurang. Dan saya sudah bisa bicara walau suaranya sangat pelan.

Tetapi saya masih bertanya-tanya kenapa saya bisa sakit begitu. Makan teratur (malah bisa dibilang makannya banyak hahaha), vitamin C dan buah-buahan juga terpenuhi, hmm, entahlah. Mungkin saya harus sedikit berhati-hati dengan apa yang saya harapkan. Beberapa waktu lalu saya sempat menulis : Mungkin sudah waktunya untuk menghilang lagi dari peredaran.

Ternyata harapan itu ‘bisa’ menjadi kenyataan. Saya sudah mengetahui hal ini dari beberapa kejadian di masa lalu. Tetapi mungkin saya lupa, sehingga kemarin itu diingatkan kembali.

Iya, hati-hati dengan apa yang kamu harapkan. Karena ketika kamu mendapatkannya, mungkin harapanmu itu mewujud dalam sesuatu yang memang benar-benar kamu inginkan. Lain kali, lebih spesifiklah ketika mengutarakan harapan. Hahaha 🙂

hanny

8 Responses

  1. @pemerhatiku: ah, ndoro tahu aja… hehehe :p

    @iman: terima kasih, mas iman 🙂 aku akan baik-baik saja *dengan suara sengau* hehehe

  2. @jundi: iya, terima kasih! 🙂

    @balibul: loh ke bali kan masih bulan meiii hehehe jadi ikut nggak? kita kumpul blogger di pinggir pantai kuta, nge-blog tentang sunset hihihi

    @kutaraja: wah sudah dua minggu ini saya puasa kopi hiks hiks, kangen minum kopi lagi…

    @slumanslumunslamet: salam kenal juga! 🙂

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO