Ketika berkunjung ke blog Mas Iman sore ini, saya menemukan posting-an berjudul Bahasa yang Tersirat. Di sini, Mas Iman mencoba ‘menerjemahkan’ bahasa iklan dari perang tarif para operator selular (kebetulan yang disinggung di sini adalah XL).

Ketika membaca postingan ini, saya otomatis teringat sebuah tulisan yang cantik di blog Precious Moments, perihal percakapan seorang anak laki-laki dengan ibunya. Begini bunyinya:

You: I wish you were mbak…
Me: What…??? Why…?
You: No, no…, I wish there were two of you, one is you as yourself and the other is you as mbak.
Me: Why?
You: Well, as mom, you can go to the office every day, and as mbak, you can pick me up from school every day
Me: Honey, you know that by going to work, I make money, and I can buy you toys.
You: What about other moms? They don’t go to work. Bude Vinny doesn’t go to work.
Me: Yes honey, but we are building our new house now, and it needs a lot of money,,,,
You
: Well, bude Vinny is not working, but they have a house anyway…, so I don’t understand

Lalu, apa hubungannya?

Jawab: skala prioritas.

Dalam hidup, kita memiliki skala prioritas yang berbeda. Sesuatu kita anggap sangat penting, mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain, begitupun sebaliknya. Termasuk masalah tarif telepon selular.

Saya termasuk orang yang tak pernah peduli dengan perang tarif itu. Kenapa?

Pertama, saya sudah memakai nomor yang sama sejak pertama kali memiliki ponsel. Jadi nomor yang saya pakai sekarang adalah nomor yang sama dengan nomor yang saya pakai sewaktu masih di bangku SMU. Untuk saya, berganti nomor itu merepotkan. Saya harus mengabarkan pergantian nomor pada kawan-kawan, belum lagi jika ada kawan lama yang hendak menghubungi saya, ia harus mencari-cari nomor baru saya dan bertanya pada kawan-kawan saya yang lain. Untuk saya, nomor lama ini, yang sudah diketahui kawan-kawan, kerabat, dan kenalan, jauh lebih penting daripada tarif kartu GSM yang saya gunakan. Padahal ada teman saya yang berganti nomor hampir tiap 3 bulan sekali, sengaja memanfaatkan perang tarif para operator ponsel untuk mencari tarif termurah.

Kedua, saya bukan orang yang senang mengobrol di ponsel. Bagi saya, ponsel digunakan jika memang ada perlunya. Jika ingin mengobrol berlama-lama, marilah bertemu, makan siang, minum kopi, atau bahkan ber-YM ria. Tetapi tidak di ponsel. Saya tidak suka telinga saya panas jika mendengarkan orang berbicara di telepon (bahkan telepon rumah) untuk waktu yang terlalu lama. Menelepon untuk saya cukup 5-10 menit, dan tidak lebih, hanya untuk urusan yang penting-penting saja. Jadi tarif telepon juga tidak pernah terlalu menjadi masalah untuk saya.

Ketiga, saya rasa saya baru menjadi pelit ketika berurusan dengan membeli buku. Pelit di sini berarti saya tidak akan membeli komik (karena tipis dan cepat habis dibaca, harganya tidak sebanding). Saya akan membeli novel yang tebal atau buku impor yang sedang banting harga, karena untuk saya, uang yang dikeluarkan sebanding dengan kenikmatannya. Contoh lain, saya tidak pernah mau membeli Harry Potter edisi Bahasa Inggris karena harganya lebih mahal dari edisi Indonesia–sedangkan Harry Potter adalah jenis buku yang hanya akan saya baca sekali lalu teronggok di lemari.

Jadi saya rasa, skala prioritas setiap orang memang berbeda. Yang paling jelas adalah perbedaan mengenai apa yang dianggap penting oleh seorang anak kecil dan apa yang dianggap penting oleh orang dewasa. Persis seperti dialog cantik di posting Your Wish, My Wish dalam blog Precious Moments di atas.

Saya?

Oh, saya terkadang lembur, tertimbun segudang pekerjaan dan dokumen yang harus diselesaikan, bicara sendiri ketika stres dan merengut ketika rencana tak berjalan mulus. Saya juga masih suka makan es serut dengan sirup, hujan-hujanan, memainkan games ‘bodoh’ macam Lilo&Stitch dan Monsters.Inc di Playstation, keluar rumah bertelanjang kaki lalu menengadah memandangi bintang, atau bengong di jok belakang mobil, mengamati lalu-lintas sambil memikirkan sebuah cerita.

hanny

8 Responses

  1. Life’s all choices,and choices is all priorities,and priorities come from God -mengutip dari catatan seorang teman-

  2. Siapa kita hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kita di masa lampau. Nipis, fantastic writings! (went through some of them). Rangkaian kata-kata yang menggoda mata dan membangkitkan rasa penasaran serta imajinasi pembaca. Menanti membaca novel-mu ya.

  3. prioritas ya? hmmmm… yg pasti sih there will never be Harry Potter in my book shelf… *cough*
    ….

    ..
    apalagi Ayat-Ayat Cinta….. *ouch*

  4. @hawe: “Ha!” tapi mengakui kan, kalau masih mending HarPot dibandingkan AAC? Hehehehe :p *ouch juga*

  5. kalo boleh kasih pendapat han, menurut gue, hal-hal yang penting sebenarnya terdiri dari hal-hal yang nggak penting. setiap hal bisa punya banyak peluang. it’s like word. satu kata bisa punya beberapa arti. manusia pun juga begitu. satu orang bisa kasih manfaat banyak. itulah hebatnya alam ini. begitu juga dengan opportunities. produsen hanya mencari kesempatan yang ada. tujuannya untuk bertahan. untuk orang banyak yang digaji. untuk kelangsungan pembangunan masyarakat. again, ini menurut pendapat gue lho. ok… sukses buatmu han. dari orang yang sama yang memberi tahu info toko toto di tebet barat dan yang selalu sms nanyain kapan bukumu selesai. 🙂

  6. waaaah, pantes waktu gue mo minta nomor hape lo, lo gak kasih T_T

    tenang aja, han, gue juga bukan termasuk orang yang suka menelpon–tapi ditelpon. hahaha :)) gue termasuk kategori penyayang pulsa ^___^
    dan, gue paling sebel sama perang tarif tuh. idihhhhh, apa-apaan sih. kalo diitung-itung tetep aja mahal-mahal juga. (iyalah, emang pulsa punya nenek moyang lo!!!!)
    hahaha

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB