Sudah bulan Februari.

Mengapa waktu rasanya berlalu cepat sekali? Saya bahkan tidak bisa mengingat kemana hilangnya Januari. Bulan yang menurut saya lebih romantis dibandingkan November atau bahkan Februari.

Teman-teman saya menculik saya hampir tiap malam, menggulung saya dalam tawa dan kenangan-kenangan aneh selama berjam-jam. Pekerjaan yang bergulir satu demi satu membuat saya terpancang di belakang meja; hanya sesekali berharap hujan datang sehingga saya bisa mencuri pandang melalui pintu kaca ke taman kecil di belakang.

Memandangi.

Ah. Mungkin sudah waktunya untuk menghilang lagi dari peredaran.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Seandainya saya ada di sana.

Tetapi sudahlah. Saya rasa keberadaan saya di sana pun tidak akan membuatmu baik-baik saja. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membuat keadaan berubah dari parah menjadi biasa-biasa saja, terlebih lagi dari biasa-biasa saja menjadi istimewa. Saya rasa, seperti biasa, saya hanya akan diam dan mendengarkanmu bicara (saya selalu suka mendengarkanmu bicara, oh tepatnya saya selalu suka memandangi kamu–tak peduli kamu sedang apa).

Terkadang saya mencoba mengerti apa yang berkecamuk dalam benakmu, dalam pikiranmu, dalam hatimu. Tetapi semakin keras saya mencoba, semakin saya kehilangan arah. Ada terlalu banyak kenangan dan perasaan yang tertinggal di sana, sehingga saya tidak bisa menjadi sekadar orang luar. Tiba-tiba saja semua yang terjadi dalam hidupmu mempengaruhi kehidupan saya.

Ah. Saya tidak menyangka bahwa selama ini kamu selalu terluka.

Saya rasa saya sudah mengetahuinya sejak dulu, hanya saja saya tidak pernah punya keberanian untuk memintamu membagi sedikit beban itu. Saya merasa tidak berdaya. Ketidakberdayaan itu menyakitkan, karenanya saya memilih percaya bahwa kamu tak apa-apa. Perempuan-perempuan dalam hidupmu itu akan menjagamu dan memastikan bahwa kamu takkan terluka.

[Tapi ternyata mereka melukaimu juga]

Mungkin saya terlambat. Atau kamu yang tidak hadir tepat waktu. Sudahlah. Saya rasa semua itu sudah tidak penting untuk dibahas saat ini. Terlalu basi untuk didiskusikan kembali.

Meskipun demikian, seandainya saya ada di sana, pagi ini saya akan membuatkan semangkuk bubur ayam dan segelas teh manis untuk menu sarapanmu. Bukan kopi. Terlalu pahit untuk hidupmu, dan kafein adalah stimulan yang terlalu melankolis menurutku. Jadi itu saja, bubur ayam dan teh manis.

Catatan kecil di dalam buku notesmu seperti dulu. CD kesukaanmu yang dikirimkan ke kantor pada jam makan siang, ditempeli plester bertuliskan to-heal-your-wounds. Saya akan menunggumu di ujung jalan. Ketika kamu keluar dari pintu depan hendak pulang, saya akan menghampirimu, setengah berlari. Kamu akan terkejut, lalu tertawa, dan bertanya,”Mau ke mana kita?”

Dan saya akan menggandeng tanganmu, ikut tertawa dan berkata, “Entahlah.” Lalu kita melangkahkan kaki, menjauh dari situ dan berjalan saja selama beberapa waktu, bertukar cerita, menertawakan hal-hal yang kelucuannya hanya bisa dimengerti oleh kita berdua.

Tiba-tiba saja langkah kita terhenti di sebuah toko kue. Ada kue-kue mangkok lucu terpajang di balik pendingin kaca. Kita memilih yang cokelat itu, dengan gula-gula berbentuk hati berwarna merah jambu di atasnya. Berbagi sepotong kue itu berdua, karena saya tidak terlalu suka rasa manis.

Lalu kita duduk-duduk di taman kota sampai malam; di negeri yang masih asing bagi saya, dan masih asing bagimu meskipun kamu sudah berada di sini selama beberapa waktu. Kita akan bicara lagi sampai mengantuk dan lelah dan bosan dan merasa ringan.

Ah, sudah tengah malam. Waktunya untuk pulang. Kita berdiri, berjalan menuju tempat kita bertemu tadi, lalu saling berpandangan. Saya sodorkan bungkusan kecil yang saya sembunyikan di dalam tote bag saya sedari tadi. Kue mangkok kuning dengan hiasan gula-gula membentuk kalimat I-Love-You.

“Untuk dia,” saya tersenyum.

“Oh, wow. Thanks…” kamu mengedipkan sebelah mata. “Oh, wait… ini untuk dia. Dia pernah bilang bahwa dia sudah lama cari-cari record ini…”

Saya menerima LP record Nina Simone itu, terkejut. Lalu tersenyum.

Dan kita melambaikan tangan. Saya pulang kepada lelaki saya dengan LP record di tangan, dan kamu pulang pada perempuanmu, dengan kue mangkok bertuliskan I-Love-You.

Ah, tak peduli di mana saya berada, tidak di sini, tidak di sana, tidak peduli apakah saya di sini dan kamu di sana, atau kita di sini atau di sana bersama-sama, tidak akan ada yang berubah.

Semua selalu berakhir serupa.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Lelaki itu tidak baik-baik saja.

Ia bisa melihatnya dari sisa-sisa caramel machiato yang mengambang di dasar gelas; es batu yang melumer dan menjadikan segalanya tawar; segumpal tisu di atas asbak; dan sepuluh batang rokok yang sudah menjadi puntung hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Semuanya membentuk semacam pertanda yang akan memberikan petunjuk jika saja kita mengetahui bagaimana cara membacanya.

“Bukankah hidup ini penuh dengan pertanda?”
[I refuse to notice those signs…]
“Kenapa?”
[Karena semua pertanda itu menunjukkan bahwa ia tidak lagi mencintai saya.]

Ada asap yang melayang-layang rendah di sekitar mereka. Berat. Terlalu putih untuk sesuatu yang seharusnya berwarna kelabu sedih. Tetapi mungkin mereka sudah lama tahu bahwa cinta tak pernah berwarna putih atau merah jambu. Cinta itu abu-abu, blackcurrant, atau setidaknya marun.

Ia pun tahu bahwa lelaki yang tengah merokok di hadapannya itu tengah patah hati. Lagi. Tetapi sayatannya lebih dalam kali ini. Karena lelaki sahabatnya itu telah menggantungkan kebahagiaannya pada perempuan yang dicintainya.

Ah, ia meringis sendiri. Menggantungkan kebahagiaan pada orang lain adalah perangkap yang berbahaya. Sesuatu yang ia sendiri pernah jatuh ke dalamnya suatu waktu dulu—dan masih berusaha memanjat naik hingga kini. Dan lelaki itu pun cemas karena merasa mulai menikmati rasa sakit yang mendera setiap kali memikirkan perempuan yang meninggalkannya dalam ketidakpastian.

Ia memandangi lelaki itu; mencoba membuatnya tertawa, mengenang masa-masa bahagia ketika mereka masih sama-sama berpikir bahwa dunia ada dalam genggaman mereka. Ya, mereka tertawa—tapi tidak lama, karena mereka sama-sama menyadari tak ada gunanya hidup di masa lalu.

Pukul sepuluh. Depressing evening. Dan keduanya mengangguk setuju.

[Do you want another cup of coffee?]

Ia menggeleng. “Kamu mau?”

Lelaki itu menggeleng.

Dan mereka pun diam. Memandangi sesuatu yang tidak kelihatan. Bahagia untuk sesaat. Tiba-tiba mereka jatuh cinta pada diam. Dan ia melihat dirinya sendiri dalam diri lelaki itu.

Ternyata kita semua diliputi rasa sakit yang sama.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ia memutuskan untuk tidak mengawali 2008 dengan lara—tidak juga dengan pesta. Pada tengah malam hari itu, ia justru membereskan lemari bukunya yang sudah terlalu sesak—beberapa novel kesayangannya justru berada di dalam laci meja rias; sejangkauan tangan dari tempat tidurnya. Karena ia suka membaca sambil berbaring, tak lupa menutupi kaki dengan selimut hingga sebatas lutut (kakinya selalu terasa lebih cepat ‘dingin’ dibanding anggota tubuhnya yang lain).

Akhirnya, ia memasang sebuah rak buku kecil di dinding sebelah tempat tidurnya, dan meletakkan sederetan novel Banana Yoshimoto-nya di sana (ia sudah berhasil mendapatkan semuanya, kecuali Lizard). Ada juga Orang-Orang Bloomington-nya Budi Darma dan Interpreter of Maladies-nya Jhumpa Lahiri, serta Apples-nya Richard Milward. Laci meja riasnya kini sudah dikosongkan dari novel-novel itu, dan digunakan untuk keperluan yang semestinya.

Tidak ada lara bukan berarti tak ada hujan, senja, dan secangkir kopi.

Ia suka hujan yang turun menyambutnya ketika ia pulang dan terus turun menemaninya berdiam di rumah, tidak berhenti dari pagi hingga pagi lagi. Hujan selalu membuat suasana hatinya menjadi lebih baik; meskipun ia merasa sedikit bersalah telah jatuh cinta pada hujan di saat banyak rumah dan kehidupan terendam banjir di akhir bulan. Memandangi hujan sambil melamun dan menikmati secangkir kopi hangat merupakan laku yang tak tergantikan.

Jadi, ia mengawali tahun 2008 dengan senyuman. Tidak ada air mata. Sahabat-sahabatnya pulang. Mereka bersenang-senang. Tiba-tiba semangatnya untuk bekerja timbul lagi. Ia kangen kesibukan itu.

Entah apakah ia terlalu berdedikasi ataukah hanya berusaha melarikan diri. Tapi yang jelas, kala tahun berganti, tak ada lagi ujung sarung bantal dan punggung tangan yang basah karena digunakan untuk menghancurkan tetes-tetes yang panas menyengat di sudut mata.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika ia masih merasa bahwa kebahagiaannya bergantung pada orang lain, dan bukan pada dirinya sendiri.

Jadi, pagi pertama di tahun 2008 itu, ditemani hujan, ia pun membasuh dirinya dan berdoa.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Akhirnya, ia kembali ke sini. Dengan autistic mode, on. Melarikan diri dari keramaian, mengasingkan diri dari kerumunan, menikmati kesepian. Bermain-main dengan kesendirian.

Dan segala sesuatunya seperti berkolaborasi untuk memberikan satu sudut tenang baginya; hanya untuk duduk dan bekerja dalam diam. Terkadang ditemani satu sesi ceria MIKA atau denting piano Yiruma. Memasang earphone. Memagari diri dari dunia. Dengan sengaja menghindari pertemuan-pertemuan yang tidak terlalu penting.

Sudah lama ia tidak mengasingkan diri…

Hujan di luar. Gerimis masih terdengar menetes satu-satu di atas kolam. Semangkok sekoteng dengan potongan dadu roti tawar. Air jahe yang menghangatkan telapak kaki yang dingin dan sedikit kesemutan.

Rambut yang masih awut-awutan setelah keramas dan wangi lotion strawberry (tinggal sedikit, ia belum sempat membeli sebotol lagi), komunitas lama yang ia kunjungi setelah beberapa bulan tak pernah singgah dan meninggalkan jejak di sana, beberapa potong kue kering oatmeal dan kismis… bantal, guling, dan selimut tebal yang menyangga kaki tinggi-tinggi.

Empuk.

Ah. Tinggal satu hari lagi sebelum hibernasi.

Besok pagi seharusnya dimulai dengan semangkok bubur ayam kampung dan secangkir kopi; instan pun tak apa-apa. Atau jika suasana hatinya sedang baik, ia akan rela lari sebentar ke BEJ dan melewati gerbang-gerbang aneh dengan kartu visitor-nya; yang membuatnya merasa seakan berada di Fort Knox. Tak apa, demi sekarton hot caramel machiato yang di-upsize ke ukuran grande.

Lalu ia akan kembali ke meja kerjanya. Memasang earphone (rasanya ia kangen Kravitz) dan membisukan telepon genggamnya. Duduk bersila dan mengetik manual yang harus diserahkannya sore nanti.

Setiap kali bosan, atau merasa pegal-pegal; setiap kali matanya terasa perih dan lehernya terasa kaku, ia akan berdiri dan berjalan-jalan ke dapur. Ke teras. Ke toilet. Meregangkan tubuhnya. Menguap. Berjinjit. Kemudian kembali lagi ke mejanya di sudut itu.

Dan matanya akan jatuh pada kalender kecil yang bertengger di atas meja. Kemudian ia akan tersenyum dan melanjutkan mengerjakan manual-nya.

Satu hari lagi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Secangkir kopi, lagi. Cangkir ketiga untuk hari ini. Mungkin ia hanya ingin terjun bebas untuk tenggelam dalam kenangan-kenangan itu lagi. Karena rasa pahit yang menemaninya selama tahun-tahun belakangan ini telah terasa begitu dekat; seperti seorang sahabat. Atau mungkin ia hanya ingin membuktikan pada lelaki itu bahwa kafein tak lagi bisa membuatnya terjaga.

[I miss us…]

Ia tidak menyahut. Pikirannya berkelana pada suatu masa, entah kapan tepatnya ia lupa, ketika mereka duduk berdua di dalam mobil yang berpendingin udara; berputar-putar tanpa tujuan seperti biasa. Merasa tersesat dalam sebuah labirin yang tak pernah ia tahu akan berakhir di mana.

Lelaki itu menggerak-gerakkan kakinya di bawah meja; mulai gelisah kini.

[What’s wrong?]

Tetapi ia masih diam saja. Menyesap kopinya sedikit demi sedikit dan tidak merasakan apa-apa selain rasa pahit. Ia heran karena ia bisa duduk di sana dengan kaus belel Soundrenaline yang kebesaran dua nomor; dan merasa baik-baik saja.

Mereka pun sama-sama terdiam, menyesap kopi masing-masing tanpa suara. Yang satu berusaha menebak apa yang tengah berkecamuk dalam benak yang lainnya. Tetapi tak ada yang bertanya. Tak ada yang berkata-kata. Karena mereka berada dalam dua dunia yang berbeda, di mana kata-kata tak akan pernah mampu untuk menjelaskan semua.

Jadi, ia menangis. Dan lelaki itu pun mengerti.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Malam itu, seorang sahabatnya pulang.

Ia masih terdampar di kantornya saat itu, menjelang pukul sepuluh; menunggui percakapan yang berlangsung sejak senja dan semakin ramai tatkala diperciki sebotol wine yang tiba-tiba muncul dari bawah laci meja.

Suara itu menyapanya dari sebuah kedai kecil di kota sebelah, 60 kilometer jauhnya: “Saya pulang. Bisa ketemuan, nggak?”

Ia urung bertemu sahabatnya malam itu, meskipun tetap undur diri sebelum percakapan tadi rampung. Matanya perih, dan masih ada hari esok yang menunggunya. Jadi ia memejamkan mata dan membiarkan James Blunt memenuhi kepalanya dengan cerita-cerita dari All The Lost Souls.

Ya, ia merasa tersesat. Seperti berada di tahun yang bukan miliknya. Mungkin seharusnya ia berada di tahun 1973…

Senja itu, seorang sahabatnya pergi.

Kepergian dengan pemberitahuan yang begitu tiba-tiba, yang tidak pernah ia duga. Sesuatu yang membuatnya kesal sekaligus kecewa karena tidak sempat menyiapkan bingkisan atau kejutan kecil untuk sahabatnya. Semuanya seperti adegan yang dipercepat tanpa pernah ia tahu asal muasalnya.

Tetapi ia ucapkan juga selamat jalan hari itu; teriring pesan agar sahabatnya menjaga diri baik-baik.

Malam itu pun ia habiskan di Avenue bersama para pecinta Scribo Ergo Sum hingga pukul sembilan; kemudian bergabung dengan kawan-kawannya semasa SMA, mendengarkan entah siapa membawakan lagu-lagu Goo Goo Dolls di depan rinai-rinai air sambil tertawa-tawa menahan kantuk; sejam sebelum tengah malam.

Kemudian ia menjenguk lelaki itu lewat sebuah jendela yang terbuka diam-diam. Ternyata dia masih ada di sana. Seseorang yang tidak pernah pulang; dan tidak pernah pergi. Seseorang yang selalu tinggal–entah sampai kapan. Sampai ia bosan, mungkin.

Tetapi ia tidak menyapanya.

Ia menguap beberapa kali dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Water of March-nya Basia mengambang dalam gelap; yang kesebelas kalinya hari itu. Percakapan itu mengabut di pelupuk matanya sebelum ia terlelap.

“I wish I can go home…”
“Why can’t you?”
“Because home is where the heart is, right?”
“So?”
“I no longer have one. A heart, I mean…”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ah. Terdengar samar-samar suara burung-burung di hutan. Pelan. Sedikit nyaring. Nyaring. Berisik. Ia meraih dengan tangan kirinya; berharap menyentuh ranting atau daun-daun yang meneteskan embun. Ternyata alarm telepon genggamnya yang berbunyi.

Ia menguap. Mematikan alarm. Memandangi langit-langit dan lampu berbentuk bola-bola kecil berwarna-warni di sudut sana yang dibawakan seorang kawan dari Thailand. Ia menguap lagi, dan satu demi satu gelembung itu beterbangan dalam benaknya yang tersaput kabut.

Hari Selasa. Oh, bukan. Rabu. Pegal. Lapar. Mie goreng. Mmm. Dingin. Ngantuk. Kayaknya hari ini harus bawa sesuatu ke kantor. Duh, perih di punggung tangan. Lho, luka. Paper-cut akibat kemarin. Ngantuk

Kemudian ia meregangkan tubuhnya, beringsut-ingsut menuju kamar mandi, dan menenggak segelas susu hangat yang tergeletak di atas meja dalam perjalanan menuju ke sana. Memikirkan lelaki itu. Kangen. Kapan terakhir kali kita bicara?

Menggosok gigi. Berlama-lama. Sikat gigi baru. Lembut. Ada sikat-sikat halus merah jambu di atas sikat putihnya. Dan pasta gigi ini berwarna merah jambu, putih, dan biru. Lucu. Mengingatkannya pada gula-gula kapas. Gosok ke atas. Bawah. Kiri. Kanan. Depan. Belakang. Masing-masing 20 kali. Berjongkok. Memandangi saluran air. Memikirkan lelaki itu. Apakah kamu masih tidur?

Menyalakan air hangat. Didinginkan sedikit. Terlalu dingin. Dipanaskan sedikit. Pas. Mandi. Menciumi sabun strawberry beberapa kali. Mencuci muka dua kali dan menggosok kulit-kulit mati dengan scrub mangga yang agak lembek karena sempat kemasukan air. Berdiri di bawah kucuran shower. Memikirkan lelaki itu dan sarapan yang akan ia buatkan untuknya (secangkir kopi dan setangkup roti panggang dengan madu dan irisan stroberi), jika saja lelaki itu ada di ruangan sebelah.

Ia benci ketika harus mematikan keran dan melangkah keluar pada udara dingin.

Tetapi pagi yang baru dimulai lagi, hari ini–dengan atau tanpa lelaki itu. Ia pun berlari-lari kecil menuju kamarnya dan tak lupa menghabiskan seteguk sisa susu di dasar gelas. Ternyata masih hangat.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu: Lo lagi slow abis ya?
Saya: Apanya? Kerjaan?
Kamu: No. I mean life…
Saya: (terkejut) Hehehe, gitu deh. Kemarin-kemarin banyak kerjaan soalnya.
Kamu: You like it?
Saya: Hmm, karena belum ada kehidupan lain jadinya suka-suka aja.
Kamu: Are you happy?

Saya terdiam mendadak; kesepuluh jari membeku di atas keyboard. Sekian detik berlalu sebelum akhirnya saya menjawab.

Saya: Kebahagiaan itu bentuknya macem-macem, but yes, I can say that I’m quite happy 🙂 Gue suka bingung, deh, kalau ditanya “are you happy” gitu.
Kamu: Gue nggak pernah ditanya, dong… coz people don’t care. LOL.

(… ouch …)

Saya: Are you? Happy? 🙂
Kamu: Thanks for asking 🙂 I am 🙂

Hei, tahukah kamu, seandainya kamu ada di sini, saya ingin mengajakmu nonton JiFFest sambil menikmati sekotak berondong jagung berlapis mentega ukuran besar. Lalu kita bisa ngopi-ngopi dan bertukar cerita selama berjam-jam di sebuah kedai kecil di bilangan Kemang sambil mendengarkan musik jazz. Kemudian ketika kamu bertanya pada saya: “Are you happy?”–saya bahkan tak perlu berpikir sepersekian detik pun untuk tersenyum lebar dan mengangguk.

I am. Are you?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP