Ketika mereka berdiri di depan kamera itu, bertiga, mungkin mereka tidak pernah tahu tali tak kelihatan macam apa yang mempertautkan nasib mereka bertiga. Mereka tidak pernah tahu bahwa, satu jepretan itu akan selalu ada, mengingatkan mereka akan sakit hati dan menggoreskan luka yang tidak terobati.

Saya masih tak habis pikir hingga kini. Tiga wajah yang tak pernah tahu bahwa hubungan mereka sebagai teman dekat dan sahabat, suatu waktu di masa depan, akan berakhir dengan begitu menyedihkan. Diwarnai pengkhianatan, pertengkaran, perselingkuhan… dan semua hal yang membuat ketiganya menangis dan tertawa–tetapi tidak pernah mereka menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.

Ini mengerikan.


Tiba-tiba saja saya menyadari betapa tipisnya batas antara lawan dan kawan. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menusuk kita dari belakang dan membuat dunia kita berantakan. Yang paling menyedihkan adalah: justru kita akan paling merasa tersakiti ketika dilukai oleh orang yang paling dicintai.

Saya tidak kuasa untuk tidak menatap tiga wajah itu sekali lagi. Bertanya-tanya apakah yang akan mereka lakukan jika mereka bertemu lagi kini. Apakah mereka akan saling menyapa dan merangkul kembali, melupakan masa lalu? Ataukah mereka akan saling diam dan membenci satu sama lain hanya karena luka itu terlalu dalam digoreskan?

Seperti ‘pink ribbon scars that never forget’ dalam lirik Today-nya Smashing Pumpkins. Ada yang mengatakan bahwa kala itu Billy Corgan sedang bercerita tentang sayatan-sayatan merah muda percobaan bunuh diri yang terekam selamanya di sekitar nadi. Sedalam itukah luka yang ditautkan di antara ketiganya sehingga selamanya akan meninggalkan bekas?

Tiga wajah itu menerpa dari masa lalu. Ketika segalanya masih terasa begitu sederhana. Mereka tidak tahu bahwa di masa depan, yang satu akan melukai yang lain; dan mereka akan saling melukai satu sama lain. Pertalian yang aneh, sekaligus menakutkan. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah satu wajah itu, satu wajah orang luar yang tidak kelihatan, yang membungkus ketiganya dalam gelap yang sama pekatnya.

Satu orang di antara mereka baik-baik saja, saya tahu itu. Satu lagi sudah melanjutkan hidup, sempat terantuk, namun saya harap dia baik-baik saja. Yang terakhir… yang membuat saya khawatir. Saya tidak pernah mendengar apa-apa darinya. Terakhir kali saya bertemu dengannya, dia yang paling terluka dari ketiga wajah itu. Dan saya tahu perjalanannya tak pernah mudah sejak saat itu.

Di sini, saya masih berdoa, semoga dia baik-baik saja. Dan saya harap, suatu hari nanti ketiga wajah itu dapat berada dalam satu frame yang sama, sekali lagi. Dan kali ini, ketiganya tersenyum, meski tahu satu wajah itu mengamati dari kejauhan.

Karena tidak ada yang membedakan kemarin dari sedetik yang lalu, seminggu yang lalu, atau sebulan yang lalu. Kemarin adalah kemarin–dan kemarin hanyalah sebentuk masa lalu yang lain.

hanny

7 Responses

  1. wuih..menyedihkan !
    trus..ketiga orang itu gimana sekarang? dah gak pernah kontak2an lagi?

    prihatin u yang mengkhianati
    support u yg dikhianati

    perselingkuhan??
    gak pernah ngerasain sebelumnya, jadi belum ada komen.

  2. iya pengkhianatan itu emang painful abis,,eniwei saya baru pertama kemari liat profil mbak ternyata demen eminem juga yah? kereeen

  3. Dalam keadaan seperti ini, saya suka bertanya pada diri: kenapa saya diperlihatkan kejadian seperti ini? Pembelajaran seperti apa yang harus saya dapatkan?

    Seraya bersyukur saya diperkenankan untuk sekedar menyaksikan dan bukan mengalami.

  4. Hai aku berkunjung 🙂
    Entah kenapa, membaca postingan2mu membuatku jadi sedih.
    Kok bisa ya? Entahlah….
    Aku jadi merasa sakit karena cinta ihik…ihik…atau emang aku sudah sakit? 😛

  5. hmm.. pada dasarnya saya juga pendendam akut, namun juga berusaha bisa memaafkan.

    oh ya terimakasih ya coca colanya malam itu

  6. @jundi: hmm nggak tau, orang yang ketiga itu menghilang. masih mencoba untuk mencarinya dan memastikan dia baik-baik saja.

    @ika: hehehe, iya, saya suka eminem ;p

    @eva: bijak sekali hehehe, saya pikir, saya tahu mengapa saya diperlihatkan adegan itu. agar saya tidak berbuat bodoh dengan menjadi korban keempat 🙂

    @melody: hai, sekali-sekali sedih tak ada salahnya. sedih mengingatkan kita akan bahagia, bukan? 🙂

    @kw: hehehe sama-sama. rasanya kurang afdol nongkrongnya. lain kali saya gabung sampai pagi, deh hehehe 🙂

  7. misteri bgt siy ceritanya
    ak jd melamun, mengarang2 kisah apa yang ada dibalik ketiga wajah itu. Dan satu wajah lg yang mengamati dari kejauhan

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO