… a piece I wrote on early August (but haven’t got a chance to post it since then) …

Murky Saturday afternoon — 3:00 p.m. @ de-koffie pot

There were three of us. Saya, Jonte, dan Ifel–duduk mengelilingi sebuah meja dengan segelas kopi dingin pilihan masing-masing. We were at de-koffie pot. A cozy coffee-shop in town yang dulunya bernama The Colonial.

Saya nggak tau persis kapan dan kenapa cofee-shop itu berganti nama. Apakah karena nama The Colonial terasa kurang cocok dengan semangat nasionalisme menjelang perayaan 17 Agustus-an? Nggak ngerti, deh. Dan saya juga nggak tertarik untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai hal itu. Yang jelas, nggak ada yang berubah dari one of my favorite place itu. Interior design-nya nggak berubah, suasananya nggak berubah. Rasa kopinya juga nggak berubah, begitu pula ukuran strawberry smoothies-nya. Mudah-mudahan rasa cheesecake-nya juga nggak berubah–coz I just love their strawberry cheesecakes!

Saya, Jonte dan Ifel juga nggak berubah–walaupun nama kita masing-masing sempat beberapa kali berubah.

Dulu, saya adalah Hanny. Kemudian dipanggil “Bhene” ketika bergabung dengan kelompok teman yang berbeda semasa SMP. Sekarang, saya juga punya nama lain: Litik. Nama “Litik” diberikan oleh salah seorang teman dekat saya di kampus, singkatan dari liliput leutik. Belakangan, saya adalah “Nie”.

Dulu, Jonte adalah Jonathan. Di SMP, dia adalah “Jonte”. Di SMA, dia dipanggil “Sinsin”. Kemudian nama “Cinta” melekat padanya sewaktu dia tengah pacaran dengan salah satu cewek paling cantik di sekolah. Di Dedham, dia adalah “Jon” (katanya orang-orang Amerika itu susah menangkap aksennya ketika dia memperkenalkan diri sebagai Jonathan. Jadi dia lebih suka introducing himself as “Jon”). Saya sendiri belakangan memanggil dia “Maru”–for some stupid reasons. :p

Ifel sendiri pernah jadi “Felicia”, “Fei”, dan “Feli”.

So what’s the point of all these?
Well, saya pikir … nama-nama panggilan itu mungkin menggambarkan fase-fase tertentu dalam kehidupan kita. Memberikan petunjuk mengenai dengan siapa kita bergaul pada saat itu. Mungkin nama-nama itu mewakili semua orang dan semua hal yang kita suka atau kita benci pada satu kurun waktu tertentu. Tapi yang jelas, nama-nama panggilan itu nggak pernah mengubah who we really are inside.

Kalau dipikir-pikir, saya, Jonte, dan Ifel have been bestfriends since our last year in elementary school. Mungkin udah 10 tahun lebih kita saling kenal. Uniknya, selama 10 tahun ini kita nggak selalu sama-sama seiring sejalan. Ada saat-saat tertentu ketika kita jauh; apakah itu karena kita tengah sibuk sendiri dengan kelompok-kelompok teman yang berbeda, terpisahkan oleh benua yang berbeda, or simply because kita tengah khilaf dan memilih untuk tenggelam dalam ruang cinta bersama kekasih (ruang yang terlalu sempit jika harus disesaki teman-teman).

Kami bertiga sempat terpisahkan selama 4 tahun–dan cuma berhubungan lewat e-mail atau sms (yang lumayan jarang). Tapi no matter what, kami selalu kembali lagi. Bertiga. Nggak peduli siapa lagi sibuk sama siapa, siapa lagi pacaran sama siapa, atau siapa lagi marahan sama siapa, in the end, there will always be the three of us …

Sekalinya kami bertemu lagi, even setelah terpisahkan selama 4 tahun, kami bisa menjadi orang-orang gila yang sama lagi. Menertawakan lelucon-lelucon yang cuma kita sendirilah yang tahu di mana letak kelucuannya. Membangkitkan kenangan lama.Merencanakan masa depan. Melakukan hal-hal yang sama yang selalu kami lakukan ketika tengah kumpul bareng bertahun-tahun yang lalu. Making fun of ourselves. Making fun of others. Merasa nyaman. Merasa dekat. It’s just feels right when we’re together.

Saya bersyukur banget karena saya sudah mengenal begitu banyak orang dalam hidup saya. Memiliki begitu banyak teman. But in terms of years and years of friendship, saya akan selalu bicara mengenai kami bertiga. Persahabatan bukan berarti harus bersama-sama setiap waktu. Bukan berarti harus saling telepon setiap hari atau nggak boleh punya teman-teman lain. Bukan berarti harus kumpul bareng seminggu atau sebulan sekali.

Persahabatan adalah ujian. Ketika terpisahkan sekian lama dan masih saling merindukan. Ketika bertemu dengan teman-teman baru dan masih tidak saling melupakan. Ketika pertengkaran membuat kita merasa sedih, bukannya marah. Ketika perselisihan membuat kita merasa takut kehilangan. Ketika kata-kata menyakitkan yang terlontar menjadi lem yang semakin erat merekatkan. Ketika kebahagiaan membuat kita menangis terharu, bukan cuma tertawa.

Persahabatan adalah tiket pulang ke rumah yang berlaku seumur hidup. Sosok yang kita tuju ketika kita mulai lelah. Sosok yang menenangkan ketika kita gundah. Seseorang yang membuat kita merasa utuh. Seseorang yang membiarkan kita merasa hebat–just for being ourselves …

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

It’s hard to forgive others; but it’s even harder to forgive yourself …

Saya nggak tau apakah pernyataan di atas berlaku untuk semua orang atau nggak; yang jelas, kalimat itu berlaku buat saya. Emh, sebenernya not really juga, sih. It’s not that hard for me to forgive others. ;p

Saya termasuk orang yang pemaaf (beneran, lho) … hahaha … ! Jadi kalo hari ini lagi benci dan sebel banget sama seseorang, besok juga udah langsung lupa lagi. Padahal pas lagi sebel-sebelnya udah kebayang tuh, hal-hal jelek seperti:

“Awas ya, lain kali kalo dia nelepon lagi nggak bakal saya angkat!”
atau
“Liat aja, lain kali saya nggak akan bantuin dia lagi!”

Eh, tapi besok atau lusa, perasaan itu udah langsung berkurang sampai 90%. Dan akhirnya terlupakan begitu saja seiring berjalannya waktu ;p Yang menjadi masalah buat saya justru sebaliknya.

It’s so damn hard for me to forgive myself.

I’ve done lots of mistakes in my life, some are huge mistakes that took place somewhere in my past and hurted those I loved … and I think I haven’t managed to forgive myself for those mistakes. Until now.

Am I too hard on myself? Or probably … I have waaayyyy too much “angelic” side inside of me? Hahaha … nope, just kiddin’!!! ;p

But, to be serious, Saya merasa bahwa somehow it’s unforgiveable when I hurt other’s feelings. Seperti cerita klasik tentang anak kecil itu, lho. Kata bokapnya, setiap kali anak itu merasa marah atau berbuat jahat sama orang lain, dia harus menancapkan sebuah paku di pagar untuk mengendalikan amarahnya. Dan akhirnya, ketika pagar rumah mereka sudah penuh dengan paku, dan si anak kecil ini sedikit demi sedikit sudah mulai bisa mengendalikan amarahnya, bokapnya nyuruh anak tadi mencabut kembali semua paku itu… sampai yang tertinggal hanyalah pagar rumah mereka yang berlubang-lubang.

The moral of the story is … (hehehe) setiap kali kita menyakiti orang lain, kita seperti menancapkan paku ke hati mereka (*jleb!* ;p) dan ketika kita minta maaf, paku itu kita cabut lagi. But it’s not over. Karena hati mereka tetap berlubang. Seperti pagar itu. Sekalinya kita menyakiti orang, nggak peduli berapa kali kita mau minta maaf, kita tetep meninggalkan bekas di hati mereka. Bekas yang nggak akan pernah hilang …

Another analogy? Seperti kita melemparkan batu ke dalam danau yang tenang. Waktu kita lemparin batunya, air di danau itu jadi beriak-riak. Tetapi nggak lama kemudian airnya jadi tenang lagi. Nobody knows that once, we had thrown a stone into the pond. Sepertinya nggak ada yang berubah. Tapi kita tahu, bahwa dasar danau itu sudah berubah. Batu yang kita lempar ada di dasar danau sana. And in one and other way, we’ve changed the pond, and the pond will never be the same again …

Just like the song TOXIC by Robbie Williams: “stick and stones may break my bones, but words can burn a happy homes, it’s true … ”

Probably the thing I’ve said … hurts people. Make them cry. And make them feel sorry for themselves. Word is cruel. It’s mean. That’s the reason why, whenever I get mad, I tend to lock myself in my bedroom, stay away of people (especially people that I love) and try to keep my mouth shut–as a preventive attempt. I don’t wanna say some words I’m going to regret later on.

So, please bear in mind … that if I’m mad at you and I’m trying to avoid you (instead of blurting out cruel words at you);that’s because I love you!!! If I don’t want to see you; don’t want to meet you; don’t want to talk to you; or don’t want to receive a phone call from you… that’s because I want to prevent myself from saying evil things about you …!!!

Cause I love you so much, so much that I don’t want to hurt you—and I won’t let others to hurt you, either!

This is my way of loving.

Please do understand …

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ok, this might sounds ridiculous in some way … but I’m not ashamed to say that I’m still waiting for my first kiss.

So out-of-date, ya? Hahaha …

Kalau ada di antara kalian yang bertanya-tanya “kenapa” atau “how come”; mungkin saya cuma bisa bilang: “My heart hasn’t let me”. Klise? Could be. But that’s just how I feel inside. Now some of you might say: “Oh, it’s just a kiss, for God’s sake! It’s not like you’re having sex with someone!”

Mmh, yeah. It’s just a kiss. But it’s MY kiss, kan? Hehehe … ;p Honestly, I’m not waiting for a perfect guy (cause who am I, anyway, looking for a perfect guy? I am far from perfect myself!), a perfect setting, or a perfect moment, cause I know for waiting to do it perfect, it never gets done … Saya cuma menunggu sampai my heart tells me that this is the guy … and I could let him kiss me without a doubt in my heart about whether I want to do it or not, whether I’m ready or not, whether he deserves it or not, whether it’s going to feel good or not…

Karena kalau masih ada sedikiiiit aja rasa ragu dalam hati kita, it means our mind still takes control. It means we’re still thinking. Padahal … a kiss should come from the heart.

And heart doesn’t think …

I want my first kiss to come from my deepest heart. I want it to happen naturally, spontaneously. I want it to happen when I’m so in love with someone, so deep in love with someone… sehingga saya nggak akan sempat berpikir, meragu, atau mempertanyakan segala sesuatu…

And then I’ll let him kiss me just because everything FEELS right! ^_^

So, what about your first kiss? ;p

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

After an IM session with Chris yesterday, saya jadi ngerasa lebih lega. Walaupun dalam session itu sebenernya Chris yang lebih banyak curhat hehehe (kepancing khan sama Hanny?!!) ;p … tapi at least karena percakapan kemarin saya jadi ngerasa nggak sendirian. Ternyata I’m not a “freak” (seperti kata Sami hehehe). Ternyata memang ada orang yang bisa ngertiin perasaan saya dan even mengalami hal yang sama seperti yang saya alami…

To have a crush on someone is one thing.
To fall in love with someone is another thing.

Dan saya sadar benar akan hal itu. Makanya kalau ada yang tanya kenapa saya memutuskan to stay single for almost 5 years now, saya akan bilang: karena saya ingin menunggu sampai saya bener-bener fall in love with a guy. Saya nggak mau jadian dengan seorang cowok kalau saya memang baru naksir-naksir aja. It’s fun to have a boyfriend, I admit it. Tapi … menurut saya, nggak adil buat cowok itu kalau saya bilang “I do” tapi dalam hati saya masih bertanya-tanya whether I’m definitely in love with him or not.

Dan saya tau, dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan kebanyakan temen-temen saya. Menurut mereka masa PDKT saya yang berkisar antara 6 bulan sampai 1 tahun itu terlalu lama… dan most of the times, cowok jadi kehilangan kesabaran karena merasa nggak dapet kepastian.

Uhm, mungkin juga. Mungkin karena kebiasaan. Dari dulu saya selalu jadian sama orang-orang yang udah cukup lama kenal sama saya. Yang udah jadi temen-temen saya. Probably that’s why I’m feeling more comfortable dengan masa PDKT yang cukup lama. Sehingga saya punya cukup waktu untuk mengenal my future boyfriend.

Tapi kalau cowok-cowok itu memang nggak sabar nungguin saya, well, saya nggak pernah menghalangi mereka untuk pergi. Itu hak mereka, kok. Dan saya juga nggak merasa “terintimidasi” kalau akhirnya mereka mengurungkan niatnya. Hehehe. ;p Soalnya … kalau cowok itu nggak sabar menunggu, mungkin dia nggak bener-bener sayang sama saya.

When a man really loved a woman, he would wait.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

What are your regrets?

Saya sempat berpikir bahwa semua orang pasti punya penyesalan masing-masing; dan menyesalinya dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ada orang-orang yang dengan cepat bangkit dari penyesalan mereka dan memaafkan diri sendiri (walaupun tidak mungkin melupakan), namun ada juga orang-orang yang terpuruk dalam penyesalan mereka dan belum mampu meninggalkan penyesalan itu di belakang ketika mereka melangkah ke depan.

So, what are your regrets?

Untuk saya sendiri, ada banyak hal yang saya sesalkan dalam kehidupan saya. Contohnya, kenapa saya nggak pernah punya keberanian untuk mengatakan I LOVE YOU sama seseorang beberapa tahun yang lalu. Mungkin kalau saya mengatakan itu segalanya akan berubah. If I try … if only I could turn back time, but I guess I’ll never knew (seperti dalam lagu WHAT IF-nya Kate Winslett).

Penyesalan lainnya adalah, kenapa saya nggak menghabiskan waktu lebih lama untuk benar-benar mengenal dan memperhatikan seseorang… sehingga ketika dia pergi, saya benar-benar merasa kehilangan dia. Dan menyadari bahwa saya nggak punya jejak-jejak kenangan apapun tentang dia. Menyesali kenapa saya nggak pernah menyimpan surat-surat yang dia kirimkan, kartu-kartu ulangtahun darinya, atau bahkan kertas tagihan sewaku kita makan siang sama-sama … Dulu saya merasa bahwa saya nggak perlu mencetak foto-foto kita berdua. Karena saya pikir dia nggak akan pergi kemana-mana. Tapi sekarang, away from him, saya mengerti betapa pentingnya hal-hal kecil itu untuk membantu saya mengingat. Mengingat dia seperti dia yang dulu.

Another shot of regret: kenapa saya most of the times terlalu baik sama orang? Terlalu percaya sama orang, berpikir bahwa semua orang itu pada dasarnya baik. Dan ended up being stabbed by the person I’ve helped. Kenapa saya nggak bisa rada “tegaan” sedikit, say “no” to people. Kenapa mau aja sih, dimanfaatin sama orang?!! Sampai bela-belain ngelakuin segala sesuatu buat orang itu, dan pada akhirnya saya tau bahwa dia cuma manfaatin saya. Yang lebih gilanya lagi, meskipun saya udah tau orang itu cuma manfaatin saya, saya masih nggak berkeberatan. Cause I care about him. Naif–atau bodoh?

Do you have some regrets?

Memang nggak akan ada habisnya kalau kita terus merunut hal-hal apa saja yang pernah kita sesali dalam hidup ini. The list will be endless. Karena saya bisa aja menyebutkan penyesalan kecil yang banyak terjadi; seperti penyesalan saya karena beli kasetnya Five For Fighting instead of Anggun, karena nggak beli semua novel Jostein Gaarder pas saya punya uang (karena sekarang agak susah lagi nyari the remaining of his novels …)

Ada orang yang bilang penyesalan itu nggak ada gunanya.

Saya pikir, pendapat itu salah. Penyesalan jelas ada gunanya. As a reminder. Sesuatu yang lebih terkesan seperti punishment. Kalau kita udah tau sakitnya “menyesal”–ya, jangan sampai terjadi lagi. Jangan diulangi lagi. Dan jangan menyesal yang berkepanjangan… jangan hidup di masa lalu … lupakan dan lanjutkan hidup dengan senyuman!!!

Klise. Hehehe.

Easy to talk, ya! Kalau dipikir-pikir… sementara sebagian besar aspek kehidupanku berjalan maju, sekeping hati saya masih tertinggal di masa lalu, terkubur di bawah penyesalan-penyesalan saya tentang cinta. Past love. Dan kalau ada satuuuuuu aja hal yang paling saya sesali SAAT INI, itu adalah ketidakmampuan saya untuk melepaskan diri dari penyesalan-penyesalan saya tentang cinta. Dari bayang-bayang di masa lalu.

From all the tears of sadness and betrayals…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Part 1. Farewell …

Pas mau berangkat dari rumah jam 6:30 pagi gitu, saya baru sempet ngeliat handphone lagi (setelah semalem saya charge di deket TV). Ternyata ada SMS dari Jonte: “Litik daku pamit dl ya. Tekker ya… Keep in touch ya. Sukses ya”. Ha? Dan saya pun me-reply message itu, nanya dia naik flight yang jam berapa. Teryata yang bales SMS itu malah his lil’ sister, Thya.

Dia bilang Jonte udah berangkat naik flight yang jam 6 pagi. HAH? Trus saya liat lagi SMS dari Jonte dan ternyata SMS itu dikirim jam 00:34. Walahhh… maaf, bro! Saya udah tidur banget kali jam segitu ya, sampe nggak denger SMS.

Menyebalkan, ih! Orang pamit kok tengah malem! Kenapa nggak kemarin sore, gitu? Gak bilang-bilang lagi mau naik penerbangan yang sepagi itu!

Aduh, tapi jadi merasa bersalah juga nih, belum sempet saying goodbye! Tapi nggak usah, lah. Tahun depan balik lagi aja ke sini yaaa… hehehe, atau saya yang nyusul ke sana? (Bener ya, janjinya akomodasi plus makan gratis… si Chris harus ikutan nyumbang buat biaya hidupku sebulan di sana!).

Trus hari ini juga, Mas Deddy cabut dari kantor. Meninggalkan suvenir berupa post-it warna-warni. Dan kemarin saya masih sempet “mencuri” buku dia (NAKED MARKETING) yang saya kebut habis kemarin malam sebelum tidur, dan di dalam bis dari Bogor ke UKI pagi-pagi.

Yah, later on next week it’ll gonna be my turn to say “goodbye”. Eh, jangan ah, I’ll just say “CU later!”—karena saya memang pengen ketemu lagi sama semuanya, and I’ll manage to skip some times so I could hang around with “GATESTERS” (komunitas GATES … hehehe ^_^).

Part 2. The Love Story Continues …

Kemarin sempet dengerin lagunya Usher yang “Separated” 4-5 kali. Dan jadi mellow gitu, deh. Hehehe. Dasarrr kerjaannya mellow terus neh belakangan ini. Di rumah juga dengerin Did You Ever Loved Somebody (Jessica Simpson) dari OST.nya Dawson’s Creek berkali-kali. Liriknya itu, lho!

Did you ever love somebody so much that the earth moved?
Did you ever love somebody even though it hurts to?
Did you ever love somebody nothing else your heart could do?
Did you ever love somebody who never knew?

Did you ever lay your head down on the shoulder of a good friend
And then had to look away somehow, had to hide the way you felt for them
Have you ever prayed the day would come
You’d hear them say they feel it too
Did you ever love someone who never knew?

I do.

And if you did, well, you know I’d understand
I could, I would, more than anybody can … Did you ever love somebody like I love you…?

(Huaaaa … kisah nyataaaaaaa ;p hehehehe. “Kena” banget tuh lagunya!)

Kemarin itu saya sempet bilang that I want to be able to fall in love again. And you know, what? I think I AM falling in love!!! ^_^ No, probably, it’s just a lil’ crush, but however, it’s nice (after such long time) to have those lil’ butterflies flying in my stomach once again everytime I stand next to him, everytime I see his silhouette from a distance, take a glimpse of him passing by… his voice, his smile, his gestures… everything about him makes my day a lil’ bit brighter by the minute!

This is what I like the most from falling in love. I blush, I smile, I laugh, I sing, I whistle. Even in my lowest, the images of him could make me soar. ^_^

Probably that’s the greatest thing of falling in love. It’s not about whether you’re gonna get that guy or not. It’s not about whether you’re going to smile or cry in the end.

It’s all about how love could make you become such a better person.

A person with hope and dreams.
A person who believes in miracles…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Minggu-minggu terakhir ini saya jadi punya ritual tersendiri begitu sampai di rumah at about 9 p.m.: berlama-lama mandi air hangat–berdiri yang lamaaa di bawah kucuran shower sambil nyobain berbagai aroma sabun yang tersedia. Minum secangkir susu cokelat, terus ngintip isi kulkas (nyari bangkuang) dan lemari makan (nyari tahu). Ngeluarin handphone dari tas dan mengaktifkan alarm. Ngambil bolpen dan diary saya … and start to write about every little thing I’ve done sambil tengkurap di atas tempat tidur sampai ngantuk. Dan kalau udah mulai nguap-nguap gitu, I’ll turn off the light. Trus pasang my moshimaro bed-side lamp yang cahayanya oranye temaram, sambil dengerin CD-nya Yiruma di DVD player dengan volume sayup-sayup. Loncat lagi ke tempat tidur, menendang-nendang bantal sapi dan boneka Teddy Bear saya ke karpet (biar legaaa), terus langsung menarik selimut dan meringkuk diam-diam dalam gelap until I fell asleep.

Justru pas lagi meringkuk diam-diam seperti itulah biasanya pikiran saya ngelantur kemana-mana. Dibilang ngelamun enggak, ngehayal juga nggak, tapi… apa ya, nggak tau deh. Pokoknya tiba-tiba jadi banyak pikiran yang masuk aja ke kepala saya, past memories, wajah orang-orang yang saya kenal … semuanya, numpuk-numpuk jadi satu. Gak jelas. Mungkin itu yang disebut twilight zone … keadaan antara terjaga dan terlelap. Keadaan persis beberapa detik sebelum kita jatuh tertidur. Such an interesting state of mind ya pada saat itu? Karena gak ada orang yang bisa inget kan kapan persisnya dia beralih dari “awake” ke “asleep”. It all happens automatically.

Nah, kemarin itu, sebelum tidur, tiba-tiba pikiran yang terlintas di benak saya adalah: I want to be able to fall in love again! Hahaha, so pathetic! ;p Tahun-tahun terakhir ini saya jadi agak-agak cynical about love. Bukan dalam arti I don’t believe in love any longer, tapiii … probably I’m (still) afraid of falling in love. Beberapa tahun yang lalu, Ifel sempet bilang,”mungkin lo agak trauma gitu. Atau masih penasaran karena being dumped for no reason at all”. Hmm, mungkin juga. It’s not fair aja. I juz wanna know the reason why. Bodo amat apakah mungkin dia selingkuh with somebody else, atau mungkin dia udah bosen ama saya… juz let me know the exact reason why! No fights, no quarrels, nothing … dan di tengah keadaan yang serba adem ayem itu tiba-tiba aja he said “It’s over”. Oh, alright.

It’s not that I’m still in love with him. Nggak, sih. Saya udah bener-bener nggak ada feeling apa-apa lagi sama dia. Cuma to start a new relationship lagi… jadi nggak PD aja, mungkin ya? Merasa bahwa I’m not good enough. That I don’t deserve it. Berpikir bahwa those guys are not serious. They’re not loyal. They’ll cheat. Mungkin mereka cuma pengen mempermainkan saya aja. Jadi punya pikiran jelek-jelek kayak gitu, sih. Efek yang sangat merugikan … ;p hehehe.

🙁

Waktu di nikahannya Ditik hari Minggu kemarin, ketika banyak cowok lucu dan cewek lucu berseliweran dari segala penjuru, saya dan Pupz sama-sama berpandangan dan bilang “Come on, udah hampir 5 tahun, gitu lhooo!”, dan kita ketawa bareng (ketawa getir) Hehehe. Ditik udah married. Amonz udah jadian. Mumz udah mau married ;p sementara saya sama Pupz kok masih in the middle of nowhere. (Kamu jadian duluan, gih, Pupz… mungkin abis itu my luck will come ;p)

Mungkin nggak sih, kita sama-sama trauma, Pupz? Bukan “trauma” yang gimana banget, sih. Cuma mungkin kita sama-sama takut mulai lagi. Takut jatuh cinta yang “dalem” lagi sama seseorang dan dikecewakan setelah itu. Takut kalau-kalau kita bakal menghabiskan beberapa bulan (bahkan tahun) mourning… crying… feeling desperate. Walaupun memang saya sama kamu beda kasus, sih, Pupz. I’m glad you’ve been trying to get over your past by chasing “her”. Itu sih yang penting. Nggak jadi soal dapet atau nggak, yang penting usaha, ya. Daripada saya? Yang masih statis gini. Hahaha.

Kayaknya saya butuh seseorang yang bisa menunjukkan sama saya bahwa there’s such thing as a loyal, sincere, and honest guy. Bahwa there’s such thing as love.

I wanna be able to fall in love again.

To trust in love again.

Teach me how…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

(8 days left…)

The other day, I wrote “18 days left”.

Well, I was wrong. I’ll be leaving sooner … !!! All these things have made me feel a bit sentimental in some way, but come on, nothing’s gonna change. It’s only a matter of a different “status” (that I’m no longer an employee of the company)–but I could come and visit everyone anytime. We’re only 15 minutes apart (by taxi). And I could just “pop-up” at UHAMKA when everyone’s having lunch. ^_^ I’ll be missing all of you!!!

Anyway, I wrote this blog in English for Chris’ sake. ;p I came to the office early this morning and found a message from him on my FS inbox. I felt guilty knowing that he had tried to read my blog but he couldn’t understand it, simply because it is written in Indonesian. Sorry, Chris … never thought that a crazy American like you would want to visit my blog. Hahaha.

When Jonte told me that he was going to come home, I thought Chris would go along with him. But then Jonte showed up all by himself. And when I asked him,”Where’s Chris?”. Jonte said that Chris didn’t come along because he was afraid to be kidnapped by some terrorists or militants. Oh, Chris … come on. It is more likely that you’ll be kidnapped by some agressive Indonesian girls who are hysterically attracted to American guys!;p

It’s amazing how you come to love this city when you’ve spent years in it. When you’ve become a part of it.

A friend of mine who loves to speed told me that he was so bored driving in Melbourne because he couldn’t “pursue his maximum potential”. ^_^ You don’t deal with crazy ojeks or bajajs or the orange devil (metro mini) in Melbourne. Driving in Melbourne is less-challenging, so he said.

Someone should invented a playstation game called Jakarta Crazy Streets. Probably it could be imported to European or American countries, mainly to help everyone who will have to stay in Jakarta–for business or personal reasons. A Jakarta-based driver knows exactly how to drive his car in Melbourne, or Dedham. But a Melbourne or Dedham-based driver lost their skills when they hit Jakarta’s traffic for the 1st time. Hopefully, the game could help them… a little.

About 2 months ago, there were Daniel, a Deutsche guy who served as an apprentice in our company. Before he left us, he said we should add some contents in our “city-guide” machines. About lost and found. About what should you do if you lost your wallet. Or your laptop. Or your mobile phone.

Everyone at the meeting room laughed. Cause there is an unwritten rules stated: If you lost something in Jakarta, the only thing you can do is pray. If you don’t believe in God–an atheists or sumthin’, then … well, there’s nothing left for you to do. You can always punch the wall in anger, but there’s no point in doing such a stupid thing.

But still, I love this city. The adrenaline-rush when you have to jump off from the bus (because it doesn’t really stop to let people get in and off. It just move slower). The traffic-jam that allows you to view some more details on those billboards with interesting themes.

The food stall with its cheap & delicious foods served from grossy “kitchen-like” area (just make sure you don’t look at how the plates and spoons are washed, and I promise you, the taste will be delicious).

I love the short story collection titled THE EXPAT by Kirk Coningham, which captured Jakarta and its maddening characteristic precisely. These are stories of the city from a viewpoint of an expat… probably I should send one copy of it to Chris.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Hari ini Pupz sidang! Good luck ya, Pupz! Maaf juga tadi nelepon kok saya malah curhat dan mengeluarkan unek-unek ;p tapi seneng kan, bisa menghilangkan ketegangan menjelang sidang?!! ^_^ Abisnya saya mau telepon Mumz kok nggak bisa nyambung, ya? Nggak ada nada apa-apa gitu… apa dia belum bangun tidur, ya? Kapan ngumpul lagi, ya? Kita udah lama banget ga buka forum bareng ampe jam 3 pagi yaaa, kayak waktu di Puncak. Kangen deh. I miss u all!!!

Makin terasa deh kangennya karena saya lagi sedihhh. Duh, saya lagi capek banget, nih. Emotionally exhausted. Dan udah mulai nggak enak badan. Tau, nih, mungkin bio-rythym saya lagi berada dalam fase terendah, ya? Bener-bener butuh refreshing.

Probably hari Jumat-Sabtu saya spending times with Jonte, karena bentar lagi dia mau cabut (what about a surprise farewell party?). Terus hari Minggu ke nikahannya Ditik. Sounds great, sih. Saya bisa ketawa puas sampe sakit perut kalo ngumpul sama orang-orang itu (walaupun cuma main ular tangga di Jawara Cafe sambil minum ice lemon tea).

But to be honest, hal yang paling ingin saya lakukan saat ini adalah to cuddle in my bed, hug my lil’ teddy bear, turn on my moshimaro bed-side lamp, and listen to some melancholic song on my DVD player (preferably Josh Groban, Yiruma, or Reamonn). Nah, itu BARU namanya refreshing!!!

Atau lari sekenceng-kencengnya at the botanical garden pagi-pagi buta. Terus cooling down dengan jalan ke rumah anggrek, smell the fragrance of the orchids dan duduk di depan air terjun buatan—membiarkan wajah saya basah kena percikan air dan ngerasain basahnya kabut buatan yang jatuh ke atas kulit saya. How fresh!

Udah lama nggak pergi ke gunung, nih. Kangen sama alam bebas. Pengen cabut lagi ke perkebunan teh dan berdiri di puncak bukit yang deket sungai kecil, merendam kaki di air yang jernih dan dingin itu, terus memandang seluruh kota yang terhampar di bawahnya samar-samar (karena tertutup kabut tebal), lalu teriak sekeras-kerasnya sampai suara serak.

Jadi inget, dulu-dulu waktu masih pulang-pergi berlima sama Pupz, Mumz, Amon dan Cathy, setiap kali ada yang lagi BT berat, kita bakalan buka kaca di jalan tol ketika mobil lagi ngebut-ngebutnya dan teriak keras-keras, “SHITTTTTTT!!!”.

Rasanya ada beban yang sedikit berkurang setelah teriak gitu. Nggak jelas kenapa. Meluapkan emosi, kali, ya? Mungkin itu juga sebabnya ada orang yang suka nonjok tembok waktu lagi BT.

But I hate punching the walls.
It hurts my arms.

Sedihhhhhhhhhh. Hari yang berattt. I just wanna go home and lay my head upon my pillow, spending the whole night crying until finally I fell asleep…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP