Ketika saya memandangi bintang-bintang malam ini … saya melihat saya dan kamu di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu.

Sepertinya … suatu saat dulu, kehidupan kita pernah bertemu tanpa sengaja di suatu sudut. Kemudian kita memutuskan untuk menjadikan sudut itu tempat ternyaman kita berdua, di mana kita bisa saling berbagi, tertawa, dan menangis bersama.

(Tepat pada saat ini saya teringat pada sebuah pepatah lama yang mengatakan: “Suatu saat nanti, kamu akan melupakan mereka yang pernah tertawa bersamamu, tetapi kamu tidak akan pernah bisa melupakan mereka yang pernah menangis bersamamu”).

Sampai tiba saatnya ketika semua berubah.

Dan kita memutuskan untuk menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Sendiri-sendiri. Meninggalkan sudut itu tanpa pernah memutuskan apakah kita akan kembali, atau bertemu lagi di sana suatu saat nanti.

Sekarang, kita seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Hanya dua sosok yang tengah menapaki jalan masing-masing dengan pandangan lurus ke depan. Memaksa diri untuk tidak menoleh ke belakang. Selalu tahu bahwa sudut itu akan tetap berada di sana–di suatu waktu di masa lalu, tanpa pernah tahu apakah suatu saat dulu, ketika kiita masih sering duduk-duduk di sudut itu, pernah ada cinta yang hadir dan tak terucapkan hingga kini …

Ketika saya memandangi bintang-bintang malam ini, saya melihat saya dan kamu di masa lalu. Kita adalah kelap-kelip itu.

Katakan pada saya, apa yang kamu lihat ketika kamu memandangi bintang-bintang?
Apakah kamu melihat saya dan kamu di masa lalu?

Ataukah … kamu hanya melihat bintang-bintang?

~ still starring at those beautiful stars ~

IMG. http://www.lip.pt/~catarina/starry-night.jpg

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Do you think fiction are suffering from unexplainable coincidences? Do you think movies are full of exaggerated romanticism? Well, let me tell you something. Sometimes, real life is crazier than fiction!!! Take into account these experiences of my own:

1. My first year in highschool, and I had a crush on this guy. A senior. But he already had a girfriend back then, and I could only admire him from far away. We have never talked to each other. A few years later, I was in my last year in highschool. I myself had become a senior. And then I bumped into these guy’s friends in a mall. At that time they were already in college. I was with my friend, and my friend knew his friends. I got introduced to his friends, then we had a chat through MIRC, and in the chatting room, I met this guy I had a crush on! It turned out that he had broken up with his girl. And two months after that, he asked me to become his girlfriend …

2. I was a huge fan of this well-known drummer during highschool. I wish one day I could get a bit closer to him. Years passed by, and just a few days ago, I bumped into my lecturer’s husband in Yahoo! Messenger. He was a manager in my old office (another form of coincidence). At first, he asked my opinion to edit a certain passage in English. I was curious about this passage–trying to find the meaning behind those sentences. And then suddenly he said,”Would you like to know who wrote that passage?”. I said,”Sure. Hit me.”. And he mentioned the name of that well-known drummer! It turned out that he was in charge for the launching of this drummer’s new album!!!

3. Sounds ironic that a PR person admire an advertising guy. Well, I admire creative people, and this advertising guy was a creative director for one of the biggest advertising agency in town. One day, I worked with a small agency for a specific purpose. After two or three meetings, I found out that this advertising guy I admired is actually the Creative Director in this new small agency! To add up the weirdness: my colleagues in the office had a crush on a girl, and he heard a gossip that this girl is dating this Creative Director!!!

Recent one:
4. I was in QB, walking through the shelves … went through each book: the title, the author, the synopsis … and flipped through the pages of some books I found interesting. And then I noticed the presence of a cute guy. I overheard his conversation with the shopkeeper, he was looking for an advertising book of some sort. He was standing nearby, reading some advertising books. And I thought it would be perfect if we could get to know each other and went downstairs to have some coffee. Hehehe. It didn’t happen. We were queuing next to each other at the cashier, but he left the shop before me. I went downstairs to have a cup of coffee on my own, and then I went straight to the lobby. A friend of mine would pick me up at the lobby. He was just hanging around with his friends at the same shopping mall. As I hopped in to the backseat of my friends’ car, I was shocked to find that guy, sitting right there with QB plastic bags, smiling!!! My friend’s friend who sat in the front turned back at me and said: “Han, let me introduce you to my brother …” — *What?!!!*

Have you ever experienced a moment which is more peculiar than fiction?!!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu datang di saat saya sedang teramat sendirian.

Kalau kamu pernah merasa kesepian ketika sedang berada di tengah keramaian, mungkin kamu tahu apa yang saya maksudkan. Ketika wajah-wajah mereka yang kamu kenal menjadi sedemikian kabur, dan kamu seperti tidak menemukan dirimu di antara mereka yang sedang tertawa bersamamu.Kamu adalah satu wajah asing yang hadir pada satu momen genting di mana semua terkesan seragam dan familiar. Dan kehadiran kamu membuat kesepian itu menjadi kehilangan arti. Karena sepercik warna di tengah nuansa hitam, putih, dan abu-abu cukup intens memberikan makna. Dan cukup kuat memukau indera.

Kamu datang di saat saya sedang teramat sendirian.

Dan kamu membuat saya mengerti bahwa kesendirian tidak selalu berbanding lurus dengan kesepian. Karena dalam kesendirian, kamu ada dalam setiap tetes hujan yang saya pandangi dari balik layar komputer saya di sore hari. Kamu yang sekali-sekali datang membuat saya tidak pernah kehilangan harapan. Dan kamu yang sekali-sekali menghilang menjadikanmu sosok yang selalu dirindukan.

Ada kalanya saya merasa bahwa kamu hadir untuk membuat saya percaya lagi pada satu hal itu, yang dalam beberapa tahun terakhir ini telah saya anggap sebagai “mitos”. Satu hal yang dipuja sedemikian banyak orang dan belakangan saya terjemahkan dengan kata “old crap”.

Kamu mengada sebagai serpih-serpih rasa pada setiap harinya. Dan jika saya cukup tabah memunguti serpih-serpih itu satu demi satu, saya akan mendapatkan satu hal itu dari dirimu. Utuh.

Ada saat-saat di mana kamu menyerpih sedemikian rupa, memenuhi jejak hidup saya, tetapi saya terlalu malas untuk memungutinya. Berpikir bahwa masih ada hari-hari ke depan, dan saya masih punya banyak kesempatan. Terkadang saya menyesal, mengapa saya tidak lebih rajin mengumpulkan serpih-serpih itu, sehingga saya dan kamu bisa lebih cepat menyatu.

Tetapi … kamu sudah datang di saat saya sedang teramat sendirian. Dan kenyataan itu sudah cukup membantu saya melewati hari-hari yang “hectic” dengan senyuman.

Untuk sementara, perburuan mengumpulkan serpih-serpih itu tak lagi penting buat saya. Ada memori sebesar 1 GB tentang kamu yang siap diakses kapan saja. Saat ini saya sudah cukup puas memandangi potongan-potongan gambar tentang kamu. Kamu yang sedang tersenyum lebar, mengerutkan kening, atau diserang panik. Ada suara-suara kamu. Kamu yang sedang tertawa terbahak-bahak, berbicara dengan nada serius, atau bergumam sendirian di tengah gejolak pemikiranmu.

Saya sudah mendedikasikan satu folder khusus berisi kamu dalam benak saya, lengkap dengan back-up nya.

Jangan takut jika suatu hari, ketika sedang sendiri, tiba-tiba kamu mendengar suara-suara aneh yang tidak kamu kenali. Kemungkinan besar, itu cuma saya. Yang sedang mendoakan kebahagiaan kamu dan orang-orang yang kamu sayangi.

Terima kasih karena sudah datang di saat saya sedang teramat sendirian.

IMG. http://www.redrabbitriversmith.com/art/Sad%20Fairy.jpg

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya sering melihatnya duduk di pinggir lapangan basket pada pukul 6.15 pagi. Dengan jaket kelasnya yang berwarna biru tua, yang menegaskan bahwa dia adalah senior dan saya adalah junior. Saya biasa menatapi punggungnya sambil menunggu kawan-kawan sekelas datang. Dia tidak pernah menoleh ke belakang, seakan tidak menyadari bahwa saya ada di sana, memandangi dia.

Kadang-kadang dia duduk di sana sambil membaca-baca buku pelajaran, hingga bel berbunyi atau hingga kawan-kawannya datang menghampiri dan mengajaknya pergi. Kemudian dia akan berdiri, membetulkan kacamatanya, dan beranjak pergi. Sementara saya tidak pernah berani menatap matanya.

Suatu siang, di selasar, kami mengadakan sebuah pertunjukan. Dan dia berada di sana ketika saya menyanyi. Let It Be Me, I Want to Break Free, dan Leaving on A Jet Plane. Untuk sesaat, saya pikir alangkah serunya jika saya mempersembahkan sebuah lagu untuk dia. Saya sudah tahu siapa namanya, dan sedikit tergelitik untuk berkata “I want to dedicate this next song for … ”

Itu cuma angan-angan. Saya belum segila itu.

Meskipun tidak melihat langsung ke arahnya, saya tahu dia mendengarkan saya. Karena dari sudut mata, saya tahu bahwa dia duduk di barisan terdepan, dan ikut memberikan tepuk tangan. Tetapi saya ragu apakah pandangan kami juga pernah bertemu saat itu.

I didn’t think I was in love with him.

Dia cuma seorang senior yang biasa saya pandangi pada pagi hari, sembari menunggu bel masuk berbunyi. Hari ini tiba-tiba saya memikirkan dia dan bertanya-tanya apa kabarnya saat ini. Dan berpikir mengapa pada pagi hari yang sepi itu, ketika kami hanya berdua, ketika ia duduk di sisi lapangan sebelah sana dan saya di sebelah sini, saya tidak menghampiri dia dan berkata, “Hai.”

Apa susahnya?

Mengapa kita seringkali takut melakukan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu ditakutkan? Merisaukan hal-hal yang tidak perlu dirisaukan? Mengapa kita selalu berpikir bahwa sesuatu bisa ditunda sampai nanti, atau dibiarkan berlalu karena masih ada lain kali?

Saya masih mencoba untuk tidak menjadi satu di antara orang-orang bodoh itu. Jadi jika suatu kali saya yang tak dikenal ini menghampiri kamu dan berkata “Hai!”, tolong jawab dengan senyuman. Jangan matikan semangat saya. Karena saya sedang berusaha untuk hidup sehidup-hidupnya. Dan belajar untuk berani menyapa orang-orang yang terlihat mengagumkan di mata saya.

Karena hidup cuma satu kali. Dan saya tidak mau menyesali momen yang tidak bisa terganti. Karena ada keajaiban tersembunyi dalam setiap hal yang saya lewati. Dan mungkin … keajaiban itu saya temukan pada dirimu.

… I need a cup of coffee …

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Buat saya mengerti bukan dengan kata-kata.

Tetapi genggam tangan saya dan utarakan semuanya dengan perantaraan jari-jari yang bertaut. Dan saya bisa merasakan semuanya tertumpah di sana. Ketika telapak tangan saya terasa dingin dan kamu bisa menghangatkannya, dan jari-jari kita bertemu dengan sempurna di setiap sudutnya.

Genggaman itu erat tetapi tidak menyakitkan. Satu detik ketika saya berada dalam genggamanmu dan saya merasa aman. Genggaman itu lembut, tetapi menguatkan. Satu detik ketika saya berada dalam genggamanmu dan saya merasa bahwa kamu dapat membantu saya melewati segala rintangan di dunia.

Saya bisa merasakan semuanya dari genggaman tangan kamu, semuanya cukup tertumpah dan terpusat pada satu genggaman tangan yang berlangsung tak lebih lama dari beberapa menit. Dan ketika suatu hari nanti genggaman itu memudar, saya pun tahu bahwa sesuatu telah hilang. Bahwa sesuatu itu tak ada lagi di sana.

Tetapi sementara ini, genggam tangan saya dengan hati-hati, seolah-olah ada cinta yang rapuh melayang di antara kedua telapak tangan kita yang saling berdekatan. Dan genggaman tangan kita menaunginya cukup rapat sehingga ia tidak dapat meluncur pergi, dan cukup renggang sehingga kita tidak membuat sayapnya hancur berantakan.

Genggam tangan saya, dan buat saya mengerti bukan dengan kata-kata. Ketika cinta yang berada dalam genggaman kita telah memiliki satu jiwa, bukannya dua. Dan kita tahu, dalam satu genggaman itu, bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

“Litik pa kabar? Gi ngapain? How’s life? Udah took break lom?”

SMS itu saya terima pada hari Minggu, pada jam 16:10. Dan saya baru sadar bahwa di tempat asalnya, SMS itu dikirimkan pada pukul 3 atau 4 dini hari.
(Whazzup, bro? Lagi nggak bisa tidur ya? Hehehe …)

Tapi itulah satu momen lagi yang membuat saya percaya akan telepati. Bukan telepati untuk mengirimkan pesan terperinci atau petunjuk adanya suatu lokasi tersembunyi. Tetapi lebih seperti … sebuah koneksi … a mysterious connection between bestfriends.

Ketika Jonte mengirimkan pesan itu, persis pada hari itulah saya merasa bahwa saya memang sedang “take a break”. Bukan cuma dari pekerjaan saya, tetapi juga dari pikiran-pikiran dan perasaan saya yang belakangan ini penuh dengan huru-hara.

Saya dan Jonte bukan sepasang sahabat yang bertukar cerita setiap hari. Mengirim SMS beberapa hari sekali. Atau menelepon pada waktu-waktu yang telah terjadwal rapi. Tetapi pada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan, kami meletakkan pesan singkat di testimonial Friendster masing-masing. Memberikan sepatah semangat, melempar kalimat-kalimat konyol, atau sekadar iseng-iseng “mampir”.
Bagaimanapun, kami sudah bersahabat selama hampir 11 tahun lamanya. Dan selalu tahu bahwa salah satu di antara kami akan selalu ada, kapanpun sebelah pihak ingin berbagi rasa. Mengenai kisah cinta yang tidak ada habis-habisnya; atau menerawang masa depan yang masih berupa cita-cita tanpa rupa.

Ada masanya ketika persahabatan bukan lagi mengenai kekhawatiran sehubungan dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk seorang teman. Tetapi kekhawatiran akan berapa banyaknya waktu yang tersisa sehingga kita masih tetap dapat bertukar cerita.

11 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah seseorang, tetapi mudah-mudahan persahabatan kita bisa bertahan, mengiringi kita yang seakan tidak pernah beranjak dewasa. Selalu ada satu sudut … di mana kita bisa menjadi diri kita lagi di masa lalu dan menertawakan hal-hal yang oleh orang lain dianggap tidak lucu.

Karena ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah berbagi hati.

“Miss u and Bang Jo, bro!!! Kapan kita bisa kumpul-kumpul lagi???”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada nggak yang sempat melongokkan kepala keluar jendela kemarin malam, dan menengadah memandangi langit yang temaram hitam keabu-abuan? Kalau ada, mungkin tadi malam mata kita tertuju pada satu keindahan yang sama.

Kemarin malam, ada lingkaran halo di sekeliling bulan. Bayangkan membuat gambar lingkaran dengan sebuah jangka. Titik jarumnya adalah bulan yang bersinar pucat dan lingkaran pensilnya adalah cahaya halo yang berpendar. Apakah mata kita tertuju pada keajaiban yang sama tadi malam?

Langit malam selalu membuat saya merasakan romantisme dan melankoli yang tidak bisa dijelaskan. Saya betah berdiri di luar dan menengadahkan kepala memandangi bidang hitam yang begitu ekspresif dan tak berbatas. Dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan, serta sandal kamar sapi berwarna putih hitam, saya bisa menghabiskan waktu semalaman sambil menggeletar kedinginan.

Cuma memandangi.

Dan saya ingat suatu waktu ketika kami terperangkap di lantai ke-20 sekian sebuah gedung bertingkat. Ketika club sudah semakin pekak dan penuh dengan asap, kumpulan kecil kami menyelinap keluar menuju atap. Meninggalkan hingar-bingar musik trance yang menghentak, dan berdiri di bawah keleluasaan. Memandangi bintang-bintang yang bersinar terang. I got high just by starring at the night sky 🙂

Sebagai anggota “clean clubbers society” (if any), who doesn’t drink, doesn’t smoke, doesn’t do drugs and doesn’t believe in free-sex, memandangi langit malam adalah satu hal yang bisa membuat saya kecanduan. Dan saya bisa dibiarkan larut dalam “musik trance” saya sendiri tanpa terusik. Mata yang biasa terpejam karena kantuk yang bersifat biologis dikalahkan oleh kenikmatan yang berbasis psikologis. Ini adalah setitik eskapisme mungil dalam dunia saya yang terlalu kecil. Satu hal sederhana yang masih bisa tertangkap mata tanpa perlu keluar biaya.

Dan kemarin malam, terlintas dalam benak saya: Langit ini terlalu luas untuk dipandangi sendirian …

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

It wasn’t an excuse. Really.

Rasanya susah sekali untuk saya menemukan waktu luang buat diri saya sendiri. Mungkin saya tidak melakukan apa-apa secara fisik, tetapi pikiran saya terus berputar. Mata saya terpejam, tetapi percaya deh, saya tidak tidur nyenyak.

Saya menikmati sebuah hari Minggu beberapa waktu berselang, dalam sebuah safari menyusuri sungai dari hulu ke hilir. Begitu menyenangkan kembali berada di bawah guyuran hujan, terpeleset-peleset di tanah basah, dan mencoba menghindari geliat cacing-cacing pada tiap pijakan. Menyeberangi sungai. Akhirnya, saya berhasil juga melarikan diri dari hingar bingar Jakarta.

Ironisnya, it was a part of my job! Bukan saya yang mengatur segalanya. Bukan saya yang menjadwalkan diri untuk sebuah liburan. It was just a beautiful coincidence.

It wasn’t an excuse. Really.

Benar, saya mengambil day-off in lieu pada hari Kamis dan Jumat. Tetapi itu karena saya tahu, saya nyaris ambruk. Kalau bisa tentu saya akan paksakan diri untuk masuk, karena pekerjaan masih menumpuk. Tetapi saya tahu batas kemampuan saya. Setelah berminggu-minggu nyaris absen dari yang namanya libur, tenggorokan saya mulai meradang. It was simply something I should do, supaya penyakit saya tidak bertambah parah.

Dan saya tidak bohong, jika saya bilang hari Sabtu saya diisi dengan serangkaian kegiatan. Satu konsekuensi karena saya ingin menjadi media trainer, maka Sabtu pagi saya harus mengikuti training for trainers di kantor. Menertawakan diri sendiri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan berkomunikasi. Kemudian saya tidak bohong, jika mengatakan bahwa setelah itu saya harus pergi ke kampus. Saya kasihan pada Ms. Giselle yang sudah menelepon saya beberapa kali, dan saya sudah mengatakan “Ya. Saya akan datang.”

Jadi saya datang untuk melakukan debate simulation.

Gimana caranya supaya kamu percaya, bahwa semua ini bukan cuma alasan yang saya buat untuk menghindar? Bahwa saya memang belum punya waktu untuk kamu? Dan bahwa saya belum siap berbagi … bahwa saya masih mencari lebih banyak waktu untuk diri saya sendiri …

Ini bukan karena siapa kamu. Atau apa salah kamu. Ini karena saya masih sangat egois, dan masih menginginkan seluruh waktu luang yang saya punya, hanya untuk diri saya sendiri.

Please trust me. It wasn’t an excuse. Ini yang sebenarnya.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya adalah satu dari segelintir orang yang masih bisa “hidup” tanpa telepon genggam.
Ada saat-saat tertentu di akhir minggu ketika saya memilih untuk mematikan telepon genggam, dan mengecewakan orang-orang yang kebetulan memilih hari sial itu untuk menelepon saya. Antusiasme mereka terpaksa anjlok ketika mendengar suara manis sang operator “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif …”

Saya juga bukan orang yang menganggap handphone sebagai benda keramat yang sangat penting. Ketinggalan handphone bukan masalah besar untuk saya secara pribadi. Karena saya termasuk orang yang masih rajin menyalin setiap nomor telepon ke dalam halaman-halaman sebuah buku harian.

Entah sudah berapa banyak “pihak” yang mengeluhkan betapa sulitnya saya dilacak pada akhir minggu. Saya cenderung membiarkan telepon genggam tergeletak di dalam tas; dan baru mengeluarkannya pada hari Minggu malam, ketika indikator baterai-nya tinggal segaris.
Buat saya akhir minggu adalah kesempatan menyepi yang langka. Di mana saya bisa berdiam di kamar sepanjang hari, berkutat dengan kertas dan pensil, menulis, menyeduh kopi, menulis, mendengarkan musik, menulis, membaca, menulis, berpikir, menulis … sampai akhirnya saya jatuh tertidur. Pada akhirnya cuma ada saya, gesekan pensil di atas kertas yang terdengar begitu merdu dan familiar. Atau ketak-ketik keyboard yang bukan main cepatnya–nyaris tanpa henti.

Waktu-waktu seperti ini adalah satu kesempatan langka yang kenikmatannya cuma bisa dimengerti oleh saya sendiri. Menghabiskan waktu sebulan tanpa telepon genggam, televisi, dan radio, di tengah pegunungan atau di pinggir pantai, sama sekali bukan masalah buat saya. Sediakan saja komputer (tanpa fasilitas internet) di mana saya bisa mengetik seharian, kertas, pensil, dan beberapa buah buku yang bisa saya baca-baca sebelum tidur. Itulah yang bisa saya sebut sebagai “the real vacation”.

Ketika seorang teman menelepon dan bertanya,”Emangnya … elo nggak kesepian, ya?”

Saya ingin menjawab “tidak”, tetapi saya tahu ada serangkaian penjelasan panjang yang harus saya berikan padanya. Sementara saya tahu dia tidak akan mengerti. Saya tidak bisa menjawab “ya”, karena saya tidak merasa kesepian. Ini cuma masalah pilihan. Untuk mengasingkan diri dari hingar-bingar dunia yang 24 jam sehari.

Dan saya jadi teringat sebuah dialog mengesankan dalam buku cerita THE LITTLE PRINCE-nya Antoine de Saint-Exupery, antara si Pangeran Kecil dan seekor Ular yang dijumpainya di tengah gurun yang sepi:

“Where are the men?” the little prince at last took up the conversation again. “It is a little lonely in the desert … ”
“It is also lonely among men,” the snake said.

Saya ingin berteriak: “Exactly!”

Hidup saya terasa indah ketika kawan-kawan berada di sekitar. Clubbing bisa terasa menyenangkan; meskipun betis terasa kencang. Makan roti bakar di pinggir jalan bisa berlanjut menjadi rangkaian sesi curahan hati. Begitu pula petualangan shopping di Bali yang dilakukan di bawah guyuran hujan.

I love my friends. And I adore the friendship.

Tetapi ada saat-saat di mana saya cuma ingin dibiarkan sendiri dengan pemikiran-pemikiran dan perasaan saya. Saya harap kawan-kawan saya mengerti jika kadang-kadang saya menghilang dan tak bisa dihubungi 🙂

Oh ya, satu hal lagi: kita tidak akan pernah merasa terlalu kesepian jika kita masih memiliki diri kita sendiri.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP