Dengan cara saya sendiri, saya berduka untuk Palestina.
Pemandangan mengerikan yang saya saksikan di televisi, foto-foto yang terpampang di koran-koran nasional… semua itu membuat saya berpikir betapa manusia bisa menjadi makhluk yang sangat egois, yang berperasaan dan berpikiran sempit.
Karena bukankah kita semua, sesungguhnya merasakan duka dan kehilangan yang sama?
Tetapi, di sisi lain, kita pula yang memutuskan untuk menorehkan duka pada mereka yang berada berseberangan dengan kita. Padahal, meskipun mungkin sebagian dari kita berduka sendiri-sendiri, duka yang dirasakan oleh mereka yang kehilangan sosok yang dicintai adalah sama.
Kesedihan, baik yang histeris maupun yang eksesif, sesungguhnya meninggalkan luka yang sama dalamnya—yang sampai kapan pun, bekasnya akan selalu ada.
***
Pada September 2006 lalu, saya beruntung karena sempat mendengarkan kisah perjalanan Mbak Rien Kuntari, seorang wartawati perang yang biasa ditugaskan di daerah konflik.
Mbak Rien yang bertandang ke kantor saya waktu itu sempat berkisah mengenai pengalamannya meliput perang dan konflik di negara-negara Afrika, termasuk saat terjadinya pembantaian Rwanda (yang diangkat ke layar lebar dengan judul Hotel Rwanda) akibat perang saudara antara suku Tutsi dan Hutu, juga saat pecah Perang Teluk di Timur Tengah.
Tetapi satu hal yang paling saya ingat dari kisah Mbak Rien adalah perkataannya yang berikut ini:
”Anda tahu, di tempat yang paling sadis, di balik orang-orang yang paling keji, di sanalah saya juga menemukan sisi manusiawi dalam diri mereka.
Seorang Saddam Hussein, adalah tokoh pahlawan bagi rakyat yang setia padanya, dan ia adalah pribadi yang sangat hangat dan bersahabat. Tetapi, ia memang sangat kejam terhadap lawan-lawan politiknya.
Di sisi lain, selama saya meliput di Rwanda, ada lima orang tentara Rwanda yang mendampingi saya. Mereka tidak memperbolehkan siapa pun untuk menyakiti atau bahkan menyentuh kulit saya. Mereka juga sangat mendukung ketika saya katakan bahwa saya harus mewawancarai pihak yang berseberangan dengan mereka agar mendapatkan reportase yang berimbang. Mereka bahkan mengantar saya ke sebuah desa di mana saya bisa pergi ke sisi perbatasan lain. Setelah wawancara itu selesai, saya kembali ke desa tersebut, dan para tentara Rwanda sudah menjemput saya di sana.”
Dalam novel The Zahir, Paulo Coelho menulis mengenai kekasih tokoh utama (Esther) yang hendak menjadi seorang koresponden perang. Ketika sang tokoh utama mempertanyakan alasannya, Esther menjelaskan bahwa di medan perang, seseorang bisa lebih menghargai kehidupan.
Main character: “So why do you want to go and cover this war?”
Esther: “Because I think in time of war, men live life at the limit; after all, they could die the next day. Anyone living like that must act differently.”
***
Kemarin malam, langit berantakan oleh bintang. Terang. Saya menengadah ke langit dari balik jendela mobil yang tengah melaju di jalan bebas hambatan. Dan detik itu pula, saya menyadari bahwa di bawah naungan langit yang sama, seseorang–seperti saya, tengah menengadah pada langit yang terang oleh roket yang menyala dan berpotensi menghancurkan.
Langit yang sama menurunkan keindahan di satu belahan dunia, dan jerit mencekam di belahan dunia lainnya.
Jadi, malam itu, dan malam ini, juga malam-malam berikutnya, saya sempatkan diri untuk berdoa bagi Palestina. Bagi mereka yang berduka.
Tetapi terutama, saya berdoa untuk para jurnalis di daerah konflik dan para koresponden perang di luar sana, di mana pun mereka berada, terutama mereka yang saat ini tengah bertugas di Palestina.
Semoga mereka semua diberikan keselamatan selama menjalankan tugasnya, karena berkat merekalah kita semua mengetahui tragedi mengerikan macam apa yang terjadi di belahan lain dunia. Yang mengingatkan kita untuk mensyukuri hidup yang kita punya, dan memanfaatkannya sebaik-baiknya.
