He called me up on February 9th, while I was in the middle of an important press conference.

I said “Hang on, may I call you back some other times? I’m so damn busy at the moment. I’ll call you later on, OK?”
Today is March 10th, and I haven’t called him back. I have turned into a person I use to hate. An ignorant one. After almost a month of sleepless nights, my insanity started to suffer from what I called “the guilty-feeling effect”.

It’s just that … at the moment … I’m not in the mood of making friends with anyone. I smile because I have to, not because I want to. I talk to people with enthusiasm because I’m conditioned in a situation where I have to do such stuff. I have no other choice but pretending to be the girl who loves everyone, the girl who doesn’t mind to do anything … I’m in a masquerade.

My head is too heavy. I haven’t been able to rest my mind since … I don’t know … 2 months ago? I need to have some time with myself, just doing nothing. I haven’t got a chance to walk in the Botanical Garden and think. I haven’t feed my soul with the tranquility inside the Orchid House. I haven’t got enough time listening to Yiruma and writing my diary.

I’m running out of time–I can’t even enjoy my lovely sip of hot chocolate or tea before I went to sleep. I want to slow things down. I want to realize the fact that I’m still breathing. I want to be with my friends again–dreaming about a life we’re about to begin …

I’m getting sick of what I become. I’ll be gone for a while. I just need to find myself again.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Tentang An Unsent Letter …

Dia bilang saya terlalu puitis–menuliskan kata-kata itu untuk seseorang yang sama sekali jauh dari kesan romantis. Seseorang yang lain mengira bahwa saya masih menyimpan perasaan yang sama. Kemudian saya yakinkan dan tegaskan pada mereka: Itu masa lalu.

Dulu saya pikir suatu hari saya akan memiliki keberanian untuk mengirimkan surat itu pada seseorang yang tak pernah minggat dari benak saya barang sedetik pun (walaupun benak saya tengah dipenuhi huruf dan angka-angka).

Kini ketika saya sudah memiliki cukup keberanian untuk mengirimkan surat itu, saya tak lagi menyimpan perasaan yang sama untuknya. Tiba-tiba saja isi surat itu menjadi tidak relevan dipandang dari sudut manapun. Dan ide mengenai saya yang pernah mencintai dia di masa lalu menjadi menggelikan.

Mungkin ini adalah kisah cinta yang terlambat atau bahkan terlalu cepat datang. Momennya tidak pernah pas. Tak ada yang berpihak pada saya dan dia. Segala situasi dan kondisi secara konsisten memisahkan kami dan tidak membiarkan kami bersatu. Tetapi saya masih ngotot dengan segala analisis dan pembenaran yang tidak perlu.

Seisi dunia telah memberikan tanda-tanda bahwa kisah cinta ini tidak akan berakhir bahagia. Dan meneriakkannya keras-keras. Tapi saya menutup telinga; dan berpikir bahwa ini semua adalah konspirasi dari mereka yang tak sudi kami saling jatuh cinta.

Jawabannya ada di depan mata saya; tetapi saya menolak menerimanya dan mengubah pertanyaannya. Berharap jika saya terus mengubah pertanyaannya, saya akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Jawaban yang saya inginkan.

Never. The answer remains the same.

Sekarang saya melihat dunia sebagai buku besar yang penuh dengan jawaban atas semua pertanyaan saya. Tapi saat ini, saya tidak perlu jawaban-jawaban itu.

Karena saya tidak punya pertanyaan apa-apa.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Di sini, aku menunggumu.

Masih menunggumu seperti yang aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tidak berkata-kata, tidak melambaikan tangan, atau berusaha menarik perhatianmu dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tengah menunggumu. Aku menunggumu dalam keheningan. Keheningan yang begitu hening sehingga kau bisa mendengar keheningan itu berbisik kepadamu jika saja kau lebih sabar mendengarkan.

Aku tidak mencoba untuk memanjat jendelamu, tidak mencoba untuk berlari menyongsongmu, atau berusaha menolehkan wajahmu ke arahku dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tetap menunggumu. Aku menunggumu dalam ketenangan. Ketenangan yang begitu tenang sehingga kau bisa merasakan ketenangan itu memelukmu jika kau mulai kehilangan kesabaran.

Aku tidak meneriakkan perasaanku dari depan halaman rumahmu, tidak mendesakmu, atau berusaha membuatmu merasa bersalah karena telah membiarkan aku menunggu dengan melakukan hal-hal yang membuatmu sadar bahwa aku terus menunggumu. Aku menunggumu dalam keyakinan. Keyakinan yang begitu yakin sehingga kau bisa membiarkan keyakinan itu menangkapmu jika kau mulai jatuh.

Di sini, aku menunggumu.
Mungkin aku akan pergi sebentar, atau menghilang, tetapi aku masih menunggumu walaupun aku sedang tidak berada di depan pintu rumahmu. Diamlah di tempatmu, dan suatu hari nanti, jika aku sudah siap, aku akan mengetuk pintu. Kau tak perlu berlari terburu-buru untuk membukakan pintu. Ini kan cuma aku 🙂

Tetapi sebelum saat itu tiba, aku akan tetap di sini. Menunggumu. Seperti yang sudah aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu … dan menyadari bahwa aku mencintaimu.

~ nie ~

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

A friend is someone who stays beside you when you’re pursuing your dreams. A bestfriend is someone who stays beside you when you’re walking through reality.

Kadang-kadang sesuatu bisa begitu sedih … sehingga kita tidak lagi bisa menangis. And we’re laughing instead. Menertawakan diri sendiri. Dan itu bagus. Ketika kita bisa menertawakan diri sendiri, berarti kita telah menjadi orang yang lebih kuat. Ketika air mata tidak lagi membuat kita lemah, tetapi menjadi reminder agar kita tidak lengah.

Kita memang bisa menjadi sangat bodoh. Itu sebabnya kita membutuhkan teman–yang bisa menjadi cerminan diri sendiri. Beberapa waktu lalu saya sibuk memberikan nasihat kesana kemari. Menjadi love advisor semua orang, sementara kehidupan cinta saya sendiri berantakan.

But that’s OK.

That’s why we need someobody else. Karena kita tidak bisa menasihati diri sendiri. Kita butuh orang lain yang melihat segala sesuatunya secara lebih objektif dan mengatakan pada kita bahwa there’s something totally wrong with us.
Kemarin saya mendapatkan pesan darinya, setelah jejaknya menghilang dalam 2-3 bulan terakhir. Perasaan lama menggulung saya dalam utopia yang sama, tetapi reaksi saya sudah jauh berbeda. Daripada menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal-hal yang akan semakin mendekatkan saya dengan dia, saya menghapus pesannya seketika. Dan tidak ada sesal di sana.

Sekarang, melihat kembali tumpukan buku harian di sudut kamar saya, foto-foto itu, halaman-halaman itu, kata-kata cinta itu, keputusasaan itu … saya merasa sangat bodoh. Karena saya telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk mengejar sesuatu yang bahkan tidak bisa saya pegang bayangannya.

Ironisnya, saat ini saya merasa bahwa sesuatu itu bahkan tidak pantas untuk saya kejar. Now I do believe that love is blind.

Tetapi bahkan kebutaan bisa meraba. Dan “melihat” ternyata tidak harus dengan mata. Dalam satu bulan seluruh dunia saya seperti berubah. Dulu saya berusaha menahan satu hal sekian lama–enggan untuk melepaskan.

Beberapa waktu lalu saya melepaskan satu hal itu. Dan tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa kini saya mendapatkan segalanya 🙂

*dedicated to M.E. – you make me see things clearly! I owe you one, my friend, definitely!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya melepaskannya.

Saya menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayangannya melekat di kaca jendela yang tengah saya pandangi. Melesak ke dalam benak saya dan membuat huru-hara di sana; tetapi hati saya tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika ia menampakkan wujudnya dalam setiap benda-benda transparan yang saya lewati, saya akan menghabiskan sisa hari dengan melamunkan dia dan mengasihani diri sendiri, seperti yang selalu terjadi selama 3.285 hari belakangan ini.

Dengan gundah, saya pun mulai membongkar kembali kesembilan buku harian saya dan kembali ke masa lalu. Tidak ada rasa dingin itu, yang menjalari jari-jemari saya setiap kali saya menelusuri namanya di atas halaman-halaman itu. Saya seperti mati rasa, dan yang terlintas dalam pikiran saya hanyalah betapa buku-buku harian saya selalu terlalu cepat habis karena saya terlalu banyak menulis tentang dia.

Foto-fotonya terselip dalam setumpuk kenangan lama yang saya abadikan dalam sebuah kotak kayu berwarna coklat–bersama sosok-sosok lain yang pernah singgah dan tersingkir seiring berlalunya waktu. Teronggok di samping buku-buku harian saya, kotak itu membukakan pintu bagi saya untuk melihat dia lagi–dia ketika dulu, yang pernah membuat saya merasa begitu istimewa. Tetapi hari itu, pandangan saya pada siluetnya tidak meledakkan utopia tentang saya dan dia di masa depan.

Ini ganjil. Karena biasanya semua ritual menyedihkan itu akan membuat hati saya berantakan dan ribut sendiri.

Tapi kali ini saya melewatinya seperti rasa cukup yang menerpa ketika saya mulai terlalu banyak mengkonsumsi sate ayam. Makanan yang benar-benar saya sukai, namun ketika frekuensi santapan itu telah mengintens menjadi sekali seminggu, tiba-tiba saja kenikmatannya menjadi tidak terasa lagi.

Meraih telepon genggam yang berkedip-kedip, saya sadari bahwa sebaris peringatan telah lama berpendar di sana. Inbox saya sudah terlalu penuh. Tanpa rasa sayang dan pikir panjang, tiba-tiba saja saya sudah menghapus semua sms-nya yang selama nyaris setahun belakangan ini sengaja saya simpan, untuk diintip kembali tiap kali saya merasa bosan.

Kali ini tidak ada sesal. Sudah terlalu banyak sampah yang berlama-lama saya tumpuk dalam Nokia 6020 saya. Membuang sampah-sampah itu seperti memberi kebebasan bagi si telepon genggam untuk bernapas lega. Ia menjadi sehat dan hidup kembali, sehingga mampu mengantarkan pesan-pesan baru dengan kecepatan yang luar biasa.

Tengok ponsel saya sekarang. Dan namanya tak ada lagi di urutan paling depan maupun paling belakang. Kehadirannya tak akan terlacak dalam jajaran inbox, outbox, maupun saved text message. Nama-nama lain bermunculan di sana. Sedikit demi sedikit, nomor-nomor baru memenuhi inbox saya–dan saya bersyukur karena saya punya lebih banyak ruang untuk menyimpan pesan-pesan baru itu; pesan-pesan baru yang enggan untuk saya hapus …

Dalam satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, saya berdiri di depan setumpuk kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap jatuh lagi. Saya memandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali. Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri.

Kemudian saya berbalik pergi. Meninggalkannya. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya secangkir kopi, sepotong bakpao ayam, serta buku oranye Seth Godin, Unleashing The Ideavirus. Saya pun terjaga sampai pukul 4 dini hari. Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.

Saya jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang langit-langit kamar dan mematikan alarm ponsel yang baru satu menit lagi akan berbunyi. Hujan masih belum berhenti.

Dan saya masih memutuskan untuk tidak kembali.

Karena penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milik saya. Saya melepaskannya. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang saya rasakan bukan lagi tentang dia.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Tidak lama setelah saya mem-publish blog berjudul The Prom, The Racoon Girl, and A Strawberry Splash, sebuah pesan bernada menggoda masuk ke dalam inbox saya. Dari teman saya semasa SMU yang mengawali pesannya dengan basa-basi serupa ‘apa kabar, udah lama nggak kelihatan main-main di d****o’, kemudian berlanjut ke pokok permasalahan: “Cie, cie, siapa sihhh cowok yang di blog itu … hehehehe”.

Pada jam makan siang, tepat setelah beef teriyaki saya disajikan, handphone saya berdering. Nomor yang tidak saya kenal berkedip-kedip di layar. Saya mengangkatnya dengan sedikit segan. Dan suara yang tidak saya kenal itu membuat saya semakin penasaran. Apalagi setelah dia mengatakan namanya Randy Simatupang. What the heck?!! Kemudian dia tertawa dan bilang, “Han, ini gue lagi.”

Dan saya pun sempat terbengong sejenak, sebelum kemudian mengeluarkan teriakan “Sialaaaann” panjang. Ternyata dia. Teman semasa SMU yang mengirimkan pesan ke inbox FS saya. Saya sudah cukup lama tidak ngobrol dengan cowok gila ini. Beberapa kali kita berpapasan di tempat bilyar. Atau mengirimkan sms hari raya atau tahun baru. Jadi banyak cerita yang terlontar siang itu. Termasuk niatnya mengejar seorang cewek–dan keinginannya supaya saya membantu memuluskan jalannya.

Anyway,
Percakapan itu pun berlanjut ke arena YM alias Yahoo Messenger. Dan kami pun mengobrol panjang mengenai kisah-kisah masa lalu. Apalagi kalau bukan tentang masalah satu itu. Yang masih saja berupa rumus yang terlalu sukar untuk dimengerti: cinta.

Dan saya pun sempat terkejut ketika bercakap-cakap dengan dia. Dulu, dia benar-benar tipe cowok hura-hura yang hanya memikirkan mengenai cewek cantik dan bersenang-senang. Tetapi sekarang, jalan pikirannya sudah jauh berbeda. Jauuuh sekali. Dan saya pun sedih. Kenapa dia bisa bertambah dewasa sedangkan cowok-cowok yang saya harapkan bertambah dewasa sepertinya semakin childish, ya? Hehehehe.

Di sore hari yang mendung dan berhujan itu, akhirnya dia mengungkapkan adanya beberapa pelajaran yang bisa dia ambil dari hubungan-hubungannya yang terdahulu. Dan apa yang dia ungkapkan sore itu … anehnya, merupakan hal-hal yang sepertinya ditujukan untuk saya. Untuk catatan, cowok ini adalah cowok yang saya pikir akan selamanya menjadi player (hehehehe), seseorang yang hidup buat hari ini saja dan tidak memikirkan masa depan. Seseorang yang mengencani cewek-cewek cantik sebatas untuk bersenang-senang (oh, sorry, bro … hehehe).

1. Jangan liat cewek/cowok dari fisik aja. Itu bisa menipu. Lebih liat personality aja (Oh, saya tahu sekali tentang yang satu ini!!! Pengalaman pahit. Seumur hidup, saya nggak pernah melihat cowok dari fisiknya. Tetapi sekitar tahun 2000, saya tertarik dengan seorang cowok kece, dan beberapa bulan kemudian saya baru tahu bahwa ternyata cowok itu brengsek!)

2. Kalo emang udah nggak cocok dari awal, misalnya agama, sifat dasar, pergaulan … jangan dipaksain. Jangan sampai nyesel nantinya. (Hmm, jujur, buat saya agama nggak menjadi masalah. Tetapi sifat dasar dan pergaulan … hmm, saya sempat memaksakan hal ini. I fall in love with a guy who believes in free sex. I don’t. Hmm, bayangkan seperti apa serunya pertentangan batin yang terjadi. Hehehehe)

3. Kalo loe sampe jadian sama orang yang loe impi-impikan selama ini, jangan pernah kasih hati loe sepenuhnya sama dia. Karena ntar loe nggak punya hati lagi. Dan loe bakal ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak pengen dan nggak bakal loe lakuin. Tapi akhirnya akan loe lakuin. Bisa fatal. Pasangan loe bakal meminta apaaa aja yang dia inginkan. Di saat loe udah nggak mampu memenuhi, akibatnya bisa fatal. (Aduh, saya pernah melakukan apa saja ya untuk dia? Berbohong buat dia. Begadang semalaman untuk mengerjakan tugas sekolah dia. Menutupi semua jejak perselingkuhannya. Saya menjadi orang yang sama sekali tidak saya sukai ketika saya sedang bersamanya. Saya bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani saya. Dan yang paling parah: saya tetap mencintainya!!!)

4. Jadilah diri sendiri. Jangan memaksakan diri untuk jadi orang lain hanya untuk membuat orang itu suka sama loe. (Kalau saya menjadi diri sendiri, dia nggak akan jatuh cinta sama saya. The saddest thing is: ketika saya sudah berubah menjadi orang lain pun, dia tidak jatuh cinta pada saya. Hehehe. Menyedihkan. Pelajaran pahit)

5. Pas PDKT, jangan ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak perlu dan nggak berhak loe lakuin, karena itu bisa bikin pasangan loe besar kepala atau ilfeel sekaligus. (Saya rasa, cowok itu sedang besar kepala saat ini, karena merasa bahwa akhir-akhir ini saya begitu intens membahas dia. Saya melakukan ini karena saya ingin melupakannya. Dengan setiap kata yang saya tulis, saya ingin menyingkirkan semua kenangan tentang dia. Saya rasa … cara ini tidak berhasil :p)

6. Kalo emang loe akhirnya jadian sama orang yang bener-bener loe suka, jangan pernah ngekang dia. Karena dikekang tuh nggak enak. Pacar tuh bukan suami/istri. Kalo loe yakin sama dia, kenapa mesti takut? (Saya rasa saya bukan tipe cewek pengekang atau pencemburu. Yang menjadi masalah, saya rasa ada cowok-cowok yang ingin dikekang dan dicemburui. Dan ketika saya memberikan kepercayaan penuh padanya, dia justru merasa saya tidak sungguh-sungguh menyayanginya. Hiks)

Saya menghela napas dalam-dalam. Bisakah kita sungguh-sungguh belajar dari pengalaman pahit tentang cinta dan tidak mengulanginya lagi di masa depan? Karena saya sepertinya terjatuh kembali; berulang kali, ke lubang yang sama. Mencintai seseorang yang menurut logika tidak (atau kurang) patut untuk dicintai.
But that’s the greatest thing about loving someone. Kadang-kadang kamu hanya mencintainya saja. Tanpa perlu sederet penjelasan dan jawaban atas serangkaian pertanyaan “Kenapa”.

Orang-orang yang jatuh cinta adalah orang-orang bodoh, that’s what they say. Well, kalau memang demikian … what the heck, saya rela menjadi orang bodoh!!! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Cokelat itu berbentuk bola; dengan diameter sekitar 5 sentimeter. Terbungkus dalam selembar kertas kaca berwarna merah muda. Di atas kertas pembungkusnya, tulisan STRAWBERRY SPLASH tercetak halus dengan tinta putih keperakan. Saya membuka pembungkusnya dan melemparkan bola cokelat itu ke dalam mulut. Membiarkan lapisan cokelatnya meleleh di atas lidah.

Rasa cokelatnya tidak terlalu pekat. Dan tidak terlalu manis. Ketika saya menggigitnya, bola cokelat itu pecah seketika. Menyemburkan cairan strawberry kental yang langsung memenuhi rongga mulut dengan kejutan rasa asam menyegarkan.

June 1, 2001

Tepat pukul tujuh malam nanti, saya akan pergi ke Prom Nite!
Tetapi hujan lebat terus turun sejak pukul 6 sore. Menambah kegugupan saya yang tengah bersusah payah menyapukan make-up sambil mencontoh dandanan seorang model dalam halaman kecantikan sebuah majalah remaja; dan menyemprotkan sebanyak mungkin hairspray untuk membuat rambut saya tidak kelihatan terlalu menyedihkan. Actually, a stylist had put some make-ups on me, but somehow, it just … didn’t … fit. So, I was trying to “fix” it—hell, I didn’t know what I was doing!

Sebenarnya, apa sih yang begitu exciting dari Prom Nite? (Did Dawson’s Creek contribute this whole Prom-Nite-excitement?)

Hmm, excitement pertama: mungkin karena pada acara itu semua cewek (dan cowok) akan berdandan habis-habisan—dengan gaun malam dan setelan jas, hairspray dan gel, sepatu hak tinggi dan pantofel; sampai-sampai ketika kita berpapasan dengan teman sekelas kita di lobby, kita akan mengerutkan kening sambil bertanya-tanya,”Itu siapa, ya? Rasanya gue kenal, deh …” (kalimat hiperbolis).

Excitement kedua: karena … pada acara Prom Nite ini kita bisa berdansa dengan cowok-cowok. Dan bukan cuma jingkrak-jingkrak sampai rambut kita awut-awutan atau mandi keringat hingga make-up kita luntur. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah: kita akan ber-slow dance dengan cowok-cowok! Question: Apa yang BISA terjadi di tengah slow dance? Dua tubuh yang berdekatan, lagu yang melankolis, kegelapan yang romantis? Hey … don’t (I mean, let’s) imagine something nasty! Hehehehe … :p

Excitement ketiga: karena pada saat inilah untuk terakhir kalinya (another hyperbolic sentence) kita bisa berkumpul dengan teman-teman semasa SMU sebelum terpencar-pencar di berbagai perguruan tinggi yang berbeda. Saat untuk saling memaafkan dan mengakui perasaan-perasaan yang terpendam selama 3 tahun belakangan. Saat untuk berpelukan dan menangis, hingga maskara dan eye liner kita meluntur membentuk kontur mengerikan dari bawah mata hingga ke dagu (another Dawson’s Creek impact).

Kisah tentang Prom Nite saya?

That night, I saw a guy I had a crush on since junior high, tengah berpelukan di lantai dansa dengan salah satu mantan ceweknya. Ber-slow dance. Berciuman. Entah cuma butterfly kiss atau malah french kiss, saya tidak terlalu (ingin) memperhatikan. It didn’t really matter, anyway. Soalnya sampai detik ini pun bibir saya belum merasakan keduanya :p

Rasanya … menyedihkan.

Cowok itu akan melanjutkan kuliah di luar negeri selepas SMA. Dan malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir saya melihat dia, berbicara dengan dia. Saya ingin menjadikan malam ini malam yang patut dikenang. Tetapi apa yang bisa saya kenang? Keintiman dia dengan mantan ceweknya? (catatan: dia berintim-intim dengan mantan ceweknya karena cewek resminya tengah berintim-intim dengan cowok lain. Pertarungan ego. Mereka main “panas-panasan”. Saling memanasi. Apa cinta perlu dipanasi? Memangnya sayur?)

Malam itu berakhir dengan saya mendekatinya pada akhir acara, ketika semua orang tengah menangis dalam duka perpisahan teriring lagu Graduation-nya Vitamin C. Ketika rambut saya sudah kembali mengempis (I won’t trust that “long-lasting” claim written over a hairspray bottle) dan maskara saya sudah meluntur demikian hebatnya; membuat saya kelihatan seperti seekor rakun dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

Ketika kami berdiri berhadap-hadapan, saya hanya berujar kaku dan melemparkan senyum yang sedikit dipaksakan: “Sukses, ya”. Dan menjabat tangannya erat. Shit. Saya ingin bicara lebih banyak; saya ingin berbuat lebih banyak. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Mantan ceweknya menjulang anggun di sampingnya, bergayut manja di lengan kirinya—cantik berkilauan bagaikan seorang supermodel. Sementara saya hanyalah seorang gadis bermata rakun dengan rambut yang tidak mengembang.

Tetapi … seperti semburan strawberry cair yang menyegarkan di tengah rasa cokelat yang membosankan, ada hal-hal di luar dugaan yang bisa terjadi. Miracle does happen. I believe in that now. Karena tiba-tiba saja, tak sampai sedetik setelah saya berpaling meninggalkan cowok itu, dia menarik pergelangan tangan saya, dan dalam sepersekian detik saja, the last thing I knew, dia sudah mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi saya.

Ia mendekatkan wajahnya (begitu dekat hingga saya bisa merasakan hembusan nafasnya), dan berbisik … “Thanks for the friendship … all these years,” katanya seraya menatap mata saya dalam-dalam, seakan-akan dia bisa melihat ke dalam jiwa saya (the third hyperbolic sentence).

Shit, that was freakin’ cool!

Saat itu, di kepala saya meledak sejuta kembang api, lagu-lagu romantis, bunyi mercon. Di dalam sini, saya adalah seorang gadis yang tengah melonjak-lonjak kegirangan. Over-excited. Dalam kenyataan, I have to stay cool. Tersenyum seolah kecupan itu tidak berarti banyak buat saya, dan hanya mematung menatap punggungnya ketika ia beranjak pergi beberapa detik kemudian. Meninggalkan saya, si pecundang ini, dengan perasaan-perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Perasaan berbunga-bunga. Seperti cinta pertama …

Di sinilah saya sekarang … hampir 4 tahun kemudian, masih mengingat detail-detail manis itu sejelas kejadian yang baru kemarin lewat. Sementara untuk cowok itu, nama saya pun mungkin sudah mulai terlupakan dari ingatannya. Bagi seorang cowok yang sudah berulang kali mengeksplorasi bagian-bagian tubuh mantan ceweknya yang cantik jelita, sebuah kecupan sekilas di pipi seorang gadis rakun tentu bukanlah hal yang istimewa.

Tetapi untuk saya, kecupan itu menjadi salah satu momen paling magis dalam masa SMU saya yang sudah lama berlalu. Though I have managed to overcome my feelings for this guy, kecupan itu tetap menandakan satu momen yang mengubah kehidupan saya selamanya. Sesuatu yang mendorong saya untuk menjadi saya yang sekarang ini. Sesuatu yang membuat saya memandang cinta dengan persepsi lain; yang sering dianggap terlalu bodoh, utopis, dan naif oleh orang lain. Mungkin saya memang terlalu norak. Terlalu romantis. Terlalu picisan. Atau terlalu menyedihkan.

I don’t give a damn. Really.

Saya yakin, kalian semua pernah mengubah kehidupan seseorang, tanpa kalian sadari. That’s just the most beautiful thing, ever! Ketika kalian melakukan satu kebaikan untuk orang lain, tanpa menyadari bahwa apa yang kalian lakukan adalah sebuah kebaikan.

Karena sekarang saya tahu, apa-apa yang tidak terlalu berarti bagi seseorang, kadang-kadang bisa sangat berarti bagi orang lain.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

*dedicated to Ji Eun and the Kim’s family

I met Ji Eun for the first time when I was still a 4th-semester university student. On a sunny Tuesday afternoon, I went to Ascott Apartment to meet my new “student”.

It all started a few months ago, when I was hired to teach Indonesian language for Mr. C.K. Seol, a new Korean manager in Samsung Corporation. The job finally led me to meet Mr. Seol’s superior in the corporation, Mr. Kim Bae Jung. Mr. Kim told me that in a few days, his family would flee from Bundang, Korea to Jakarta.

There would be 3 members of his family to arrive: his wife, his son, and his daughter. His son was currently a university student in the USA, so he would just spend a few days in Indonesia before flying back there. However, at that moment, Mr. Kim was worrying about his daughter. He wanted his 15 y.o. daughter to be accepted as a student in Jakarta International School, but the girl’s English was far from perfect. He had heard the fact that to be accepted in JIS, one should pass a series of examinations, including the famous TOEFL test.

At last, Mr. Kim asked me to give his daughter a private English lesson for a week; four hours a day. I was like … WHAT?!! I had suggested Mr. Kim to contact EF or other well-known English institutions to seek for a professional help. But I had no idea why he persisted to appoint me as his daughter’s mentor.

Let’s put it this way: His daughter could barely speak English. I can’t speak Korean (my vocabulary was limited to “annyong haseyo”, “cha”, and “kamsa hamnida” only). What could I possibly do to help this girl? I’ve told him the fact that I wasn’t the right person for this matter, and I didn’t think I have the capability to guide his daughter through the TOEFL test, either. He didn’t want to listen. It was finalised somehow, though I was still trying to protest …

It still came to my surprise up to this day. The next thing I knew, the next day I was standing in front of the Kim’s apartment with my friends, Victor and Mia (whom I asked to accompany me for the first meeting!). A boy around my age opened the door. Behind him was a woman (Mrs. Kim, I guessed). The boy is Ji Eun’s brother. He speaks English fluently, and he was the one who explained to me about the whole situation, introduced me to the whole family (Mrs. Kim speaks very little English, but she smiles a lot), and got me hooked up with his sister.

Ji Eun is a very shy kind of girl. She spoke in a very low voice, almost like whispering, and she only muttered one or two words in English during our first lesson … Oh, what a challenge! The next day, she was a little bit relaxed, and we got through the lessons … The funny thing was she always bring an English-Korean electronic translator with her, to help us communicate better. So everytime I said something she didn’t understand, she would asked me to type the word in her translator, and then she would take a look at the translation … then smiled and nodded. Then she would type what she’d like to say in Korean, and handed in the translator to me.

It was really funny, and quite sad, actually. Because I do want to know her better, but our conversation couldn’t get any further. A week had passed, and Ji Eun had gone through her JIS test. She was nervous about the result, I could tell it from her face. So did I. I felt responsible in some way. However, awaiting for the result, her father still wanted me to teach her English every Saturday for 4 hours ( because I told Mr. Kim I won’t be able to teach her on workdays — I have a class to attend!).

One gloomy Saturday morning, when we’re in the middle of our lesson, Ji Eun received a phone call from his father, and the next thing I knew, she was laughing and yelled,”I pass the test! I pass the test!”. I laughed and we were jumping up and down in her bedroom, excited. Ji Eun ran to the living room to tell her mom the good news.

The news had a big impact. It changed everything. Ji Eun became more and more confident, and so we’re getting closer by the day. She started to look like a little sister to me. We had a long chat during lunchtime and it turned out that she had so much thing to tell, despite her silence-mode last week. She told me how she missed Bundang and her friends in Korea, the sweet-potato pizza in Korean Pizza Hut, the fact that she loves to draw, read novels (Harry Potter and DaVinci Code are her favorite), watching horror movies, and working on mathematics equation (wow, she’s brilliant in maths!). She told me about a cute guy in JIS, her class-mate, her life in Korea, the fact that she felt lonely in Jakarta … the stories came from her mouth as if she had been struggling to resist the urge to tell it in ages.

Most of the times, I felt sorry for her. Her parents was quite tough on her, while she was a very sensitive little girl. Sometimes, when I felt lazy and she did too, we spent the whole afternoon listening to Yiruma’s CD or simply conversing with each other. Telling stories. Two months had passed. Her English had gotten much better, though the translator still helped us a lot…

Ji Eun had moved to Singapore due to his father’s job, and when I passed some Korean restaurants or watched Korean movies … she crossed my mind. It was an interesting experience. A unique relationship. The way we chat with each other by using our hand-gestures, drawing pictures … try to understand what the other side was meant to say.

The fact that a smile carries a thousand of messages, crossing all boundaries. Crossing cultures. The truth that different language is actually not a barrier to start a friendship. All you need to make friends is just an open heart … and probably, an electronic translator!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya sedang bosan sekali nih. Kerjaan lagi nggak seru. Nulis juga lagi buntu lagi. Sampai suatu ketika, saat saya sedang mengemudi sendirian di tol Cipularang tiba-tiba, lagi-lagi, saya berpikir tentang arti kehidupan.
Sebetulnya untuk apa kita hidup? (see: ari’s blog)

Hmm, sekitar tahun 2004, saya pernah menulis: “Hidup adalah meraba-raba dalam kegelapan, mencoba mencari jalan keluar. Kemungkinan besar, kita nggak akan pernah tau apa-apa saja yang sudah kita lewati dalam kegelapan itu, tapi yang penting adalah: kita sudah keluar. Dan kembali berada di tempat terang. Itulah hidup. Kadang-kadang kita nggak perlu mengerti semuanya. Kita hanya perlu berjalan melewatinya.”

Sekarang, selagi saya membaca kembali posting “Meaning of Life” di blog teman sekantor saya (yang kebetulan juga seorang dosen HI, konsultan PR, dan lajang Cosmo 2005 … ! hihihihi), pikiran saya melayang-layang mempertanyakan hal yang sama, yang sudah sering saya lontarkan di kala sedang merasa sangat sendirian. “What is the meaning of life?”

Kalau sudah begini saya jadi iri pada Dante, a Belgian friend of mine.
Dia benar-benar menikmati hidupnya. Melakukan apa yang dia mau. Backpacking keliling Eropa dan Asia. Keluar dari bangku kuliah (walaupun sebenarnya dia bisa kuliah gratis di Brussels) dan memilih untuk belajar sendiri di perpustakaan universitas. Tenggelam dalam topik-topik yang menarik minatnya: ecotourism, world economy, social and community development, education, philosophy, cultural relations …

Dia lebih memilih untuk bergabung dengan berbagai organisasi, Greenpeace, Asia-Europe Youth Forum, dan masih banyak lagi. Dia mengejar kesempatan bertemu dengan orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang yang ia minati. Menelepon mereka dan mengajak makan siang. Bertukar pikiran. Menulis dan membagikan semua yang dia rasa pada teman-temannya yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Dante bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian menghabiskan uangnya untuk melakukan hal-hal yang dia suka. Travelling, melihat dunia. Membeli buku-buku yang bisa membuat pikiran dan hatinya kaya. Menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di udara bebas, bersepeda di hutan dekat kampus, lalu beristirahat sambil membaca. Melibatkan diri dalam youth camp yang diadakan di sana-sini. Menyuarakan pemikiran dan aspirasinya lewat berbagai global network yang tersedia lewat Internet.

Sedikit banyak, dia mempengaruhi saya lewat email-emailnya. Membuat saya jauh lebih dewasa. Membuat saya ingin belajar lebih banyak mengenai hal-hal yang tidak pernah menarik minat saya sebelumnya. Awalnya saya hanya merasa tertantang. Merasa harus bisa “menandingi” pemikiran-pemikirannya yang sangat berorientasi jangka panjang. Jadi saya mulai memperluas wawasan, mempelajari hal-hal yang baru sama sekali buat saya. Bertukar pikiran itu ternyata menyenangkan, jika kita tau apa yang tengah diperbincangkan.

Senangnya, bisa hidup sebagai diri sendiri, berani untuk menyingkirkan ekspektasi
orang lain (terutama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita), dan hidup sepenuhnya sebagai diri sendiri, mengejar keinginan, mewujudkan angan-angan, memiliki kenangan yang tidak akan ada habis-habisnya jika diceritakan. Pengalaman. Cerita. Masa lalu yang tidak pernah disesali. Masa depan yang menunggu untuk dijelajahi.

Mungkin itulah hidup yang sesungguhnya. Mendengarkan kata hati. Mengikuti panggilan nurani. Mewujudkan mimpi-mimpi. Dan dalam perjalanan hidup itu, tak terasa kita mengubah orang-orang yang kita temui. Membawa senyum atau tangis dalam hidup mereka, yang membuat mereka menjadi seseorang yang lebih dewasa. Memberi pelajaran berharga; atau memberi kenangan manis untuk mereka ingat ketika sedang merasa sangat sendiri. Menyentuh kehidupan banyak orang. Mengerti bahwa apa yang kita lakukan hari ini, detik ini, akan mengubah kehidupan seseorang yang sama sekali tidak kita kenal pada suatu hari nanti.

Kemudian saya melihat kalender yang berdiri di meja kerja saya. Sebuah kalender tahun 2005 bernuansa cokelat karamel dan kalender tahun 2006 yang berwarna putih. Cerah. Cepat, pandangan saya beralih. Handphone saya tergeletak di samping mug oranye bergambar Campbell’s Soup-nya Andy Warhol. Tidak ada SMS lagi. Sudah jam 6.15 sekarang. Jemputan saya tidak lama lagi datang, sementara kertas-kertas berisi publikasi United Fibre System dan Kiani Kertas masih bertebaran. Saya rasa, saya tengah berusaha mengalihkan perhatian.
Entah kenapa, saya tidak ingin membiarkan pikiran saya melarut dalam lamunan berkepanjangan, mencari apa arti hidup. Mungkin saya terlalu lelah, atau saya telah sampai pada satu titik di mana pertanyaan-pertanyaan tidak lagi dilontarkan untuk memperoleh jawaban.

Mungkin kita semua akan mengerti arti hidup jika kita sudah berhenti mempertanyakannya. Dan mulai menjalaninya. Sepenuhnya. Karena hari esok masih menunggu untuk diceritakan.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP