“Litik pa kabar? Gi ngapain? How’s life? Udah took break lom?”

SMS itu saya terima pada hari Minggu, pada jam 16:10. Dan saya baru sadar bahwa di tempat asalnya, SMS itu dikirimkan pada pukul 3 atau 4 dini hari.
(Whazzup, bro? Lagi nggak bisa tidur ya? Hehehe …)

Tapi itulah satu momen lagi yang membuat saya percaya akan telepati. Bukan telepati untuk mengirimkan pesan terperinci atau petunjuk adanya suatu lokasi tersembunyi. Tetapi lebih seperti … sebuah koneksi … a mysterious connection between bestfriends.

Ketika Jonte mengirimkan pesan itu, persis pada hari itulah saya merasa bahwa saya memang sedang “take a break”. Bukan cuma dari pekerjaan saya, tetapi juga dari pikiran-pikiran dan perasaan saya yang belakangan ini penuh dengan huru-hara.

Saya dan Jonte bukan sepasang sahabat yang bertukar cerita setiap hari. Mengirim SMS beberapa hari sekali. Atau menelepon pada waktu-waktu yang telah terjadwal rapi. Tetapi pada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan, kami meletakkan pesan singkat di testimonial Friendster masing-masing. Memberikan sepatah semangat, melempar kalimat-kalimat konyol, atau sekadar iseng-iseng “mampir”.
Bagaimanapun, kami sudah bersahabat selama hampir 11 tahun lamanya. Dan selalu tahu bahwa salah satu di antara kami akan selalu ada, kapanpun sebelah pihak ingin berbagi rasa. Mengenai kisah cinta yang tidak ada habis-habisnya; atau menerawang masa depan yang masih berupa cita-cita tanpa rupa.

Ada masanya ketika persahabatan bukan lagi mengenai kekhawatiran sehubungan dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk seorang teman. Tetapi kekhawatiran akan berapa banyaknya waktu yang tersisa sehingga kita masih tetap dapat bertukar cerita.

11 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah seseorang, tetapi mudah-mudahan persahabatan kita bisa bertahan, mengiringi kita yang seakan tidak pernah beranjak dewasa. Selalu ada satu sudut … di mana kita bisa menjadi diri kita lagi di masa lalu dan menertawakan hal-hal yang oleh orang lain dianggap tidak lucu.

Karena ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah berbagi hati.

“Miss u and Bang Jo, bro!!! Kapan kita bisa kumpul-kumpul lagi???”

hanny

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Beradadisini Love Letter to Self
I took up a personal journaling project this week: writing a love letter to myself before bed. I work on a thin A6-size handmade paper journal I got from a paper artist, Els. The journal is thin and small enough, so it doesn't overwhelm me. It feels like I am only going to work on a small project.
annie-spratt-YF8NTmQyhdg-unsplash
Standing up for yourself does not have to look aggressive. It does not have to feel like a fight. It's not always about convincing others or explaining yourself and your decisions with the hope that everyone else understands or accepts your choice.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO