Saya sering melihatnya duduk di pinggir lapangan basket pada pukul 6.15 pagi. Dengan jaket kelasnya yang berwarna biru tua, yang menegaskan bahwa dia adalah senior dan saya adalah junior. Saya biasa menatapi punggungnya sambil menunggu kawan-kawan sekelas datang. Dia tidak pernah menoleh ke belakang, seakan tidak menyadari bahwa saya ada di sana, memandangi dia.

Kadang-kadang dia duduk di sana sambil membaca-baca buku pelajaran, hingga bel berbunyi atau hingga kawan-kawannya datang menghampiri dan mengajaknya pergi. Kemudian dia akan berdiri, membetulkan kacamatanya, dan beranjak pergi. Sementara saya tidak pernah berani menatap matanya.

Suatu siang, di selasar, kami mengadakan sebuah pertunjukan. Dan dia berada di sana ketika saya menyanyi. Let It Be Me, I Want to Break Free, dan Leaving on A Jet Plane. Untuk sesaat, saya pikir alangkah serunya jika saya mempersembahkan sebuah lagu untuk dia. Saya sudah tahu siapa namanya, dan sedikit tergelitik untuk berkata “I want to dedicate this next song for … ”

Itu cuma angan-angan. Saya belum segila itu.

Meskipun tidak melihat langsung ke arahnya, saya tahu dia mendengarkan saya. Karena dari sudut mata, saya tahu bahwa dia duduk di barisan terdepan, dan ikut memberikan tepuk tangan. Tetapi saya ragu apakah pandangan kami juga pernah bertemu saat itu.

I didn’t think I was in love with him.

Dia cuma seorang senior yang biasa saya pandangi pada pagi hari, sembari menunggu bel masuk berbunyi. Hari ini tiba-tiba saya memikirkan dia dan bertanya-tanya apa kabarnya saat ini. Dan berpikir mengapa pada pagi hari yang sepi itu, ketika kami hanya berdua, ketika ia duduk di sisi lapangan sebelah sana dan saya di sebelah sini, saya tidak menghampiri dia dan berkata, “Hai.”

Apa susahnya?

Mengapa kita seringkali takut melakukan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu ditakutkan? Merisaukan hal-hal yang tidak perlu dirisaukan? Mengapa kita selalu berpikir bahwa sesuatu bisa ditunda sampai nanti, atau dibiarkan berlalu karena masih ada lain kali?

Saya masih mencoba untuk tidak menjadi satu di antara orang-orang bodoh itu. Jadi jika suatu kali saya yang tak dikenal ini menghampiri kamu dan berkata “Hai!”, tolong jawab dengan senyuman. Jangan matikan semangat saya. Karena saya sedang berusaha untuk hidup sehidup-hidupnya. Dan belajar untuk berani menyapa orang-orang yang terlihat mengagumkan di mata saya.

Karena hidup cuma satu kali. Dan saya tidak mau menyesali momen yang tidak bisa terganti. Karena ada keajaiban tersembunyi dalam setiap hal yang saya lewati. Dan mungkin … keajaiban itu saya temukan pada dirimu.

… I need a cup of coffee …

hanny

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Beradadisini Love Letter to Self
I took up a personal journaling project this week: writing a love letter to myself before bed. I work on a thin A6-size handmade paper journal I got from a paper artist, Els. The journal is thin and small enough, so it doesn't overwhelm me. It feels like I am only going to work on a small project.
annie-spratt-YF8NTmQyhdg-unsplash
Standing up for yourself does not have to look aggressive. It does not have to feel like a fight. It's not always about convincing others or explaining yourself and your decisions with the hope that everyone else understands or accepts your choice.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO