Saya bangga Indonesia punya Hari Blogger Nasional. Terharu mengingat bahwa saya hadir di Blitz Megaplex pada perhelatan Pesta Blogger yang pertama; terkejut ketika hari itu, Pak Muhammad Nuh (yang masih menjabat sebagai Menkominfo) menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

Postingan pertama saya di blog ini memang diawali pada bulan Juli 2005, tetapi sebenarnya saya sudah mulai ngeblog sejak tahun 2001. Saya membuka blog pertama saya di blogspot, menulis beberapa posting, lalu menutupnya. Membuka blog baru lagi. Menulis sebentar. Menutupnya. Dan begitu seterusnya. Sampai kemudian saya rutin menulis; di blog baru yang dinamai “Beradadisini”. Sejak pertengahan tahun 2005 itu, saya pun menulis blog, dan tidak berhenti-berhenti lagi hingga saat ini 🙂

Ketika bicara mengenai menulis blog, ada blogger-blogger yang kemudian menjadi bagian sangat berarti dari perjalanan (dan kehidupan) saya. Salah satunya adalah Joko Anwar, di tahun-tahun ketika ia belum sepopuler sekarang. Dulu, saya hobi membaca blognya, Lost in Punch-Drunk Adaptation of a Spotless Love. Membaca judul blognya saja sudah membuat saya jatuh hati. Blog yang humoris sekaligus manis, dengan sentuhan kenyinyiran ala Joko Anwar yang terkadang masih bisa dinikmati via Twitter-nya. Tetapi kemudian, Joko berhenti menulis. Saya patah hati.

Dalam perjalanan, saya juga menemukan Marianne—dengan blog-nya Confessions of A Girl Gone Mad. Saya jatuh hati pada tulisan-tulisannya yang singkat dan kalimat-kalimatnya yang sederhana, tetapi magis. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan, perasaan kecewa ketika menunggu orang yang tidak pernah datang, atau lamunan pada pertemuan dengan kekasih di sebuah toko buku… semuanya terasa begitu dekat. It sounds like me.

Dalam sebuah postingan di tahun 2006, yang menjadi salah satu postingan favorit saya, Marianne menulis:

Life is funny that way. That when I’m drowned in a book, you still appear in the pages. That when the characters are beginning to be attracted to each other, it’s your name I read. That when they start entering each other’s lives, making themselves familiar with each other’s favorites, eating out, going to the movies, taking a walk, it’s what I’ve always pictured doing with you. And that when they part, I know that’s what will happen to us.

Postingan Marianne membantu saya melewati tahun-tahun yang berat (saya menulis tentang ini di posting berjudul The Potion). Saya merasa saya tidak sendirian. Saya jatuh hati. Pada kata-kata yang ditorehkan sosok itu: sosok di balik Marianne. Tetapi saya bahkan tidak tahu apakah namanya sungguh-sungguh Marianne—karena ia cukup rapat menjaga privasi perihal dirinya. I hope I’ll be able to meet her one day 🙂

Blogwalking juga mendamparkan saya di I Like Pretending I Can Save the World. Menghabiskan waktu saya mengikuti perjalanan Joni bersama Julia, Olivia, dan Rilla. Menikmati kisah-kisah kanak-kanak yang dewasa tentang rusa kutub, pesawat luar angkasa dan pohon willow. Saya jatuh cinta pada kisah-kisah itu. Saya mencetak halaman-halaman postingan di blog milik Joni tersebut; dan menjilidnya menjadi 4 buah buku. Agar saya bisa membacanya kapan saja, tanpa harus online terlebih dahulu.

Ini petikan dari salah satu posting favorit saya:

I put up my left hand with my palms open, reaching you. But you hesitate. Your right hand never meets my left.
You take a sigh and look into the lake. Please bring me to the coast, you said, while my left hand is still hanging silently in the air.

Then I paddle. The boat moves and the water ripples.

Suatu hari nanti, saya harus bertemu dengan Joni. Itu cita-cita saya. Tetapi kemudian saya kehilangan Joni selama dua tahun. Postingannya menjadi semakin jarang sampai kemudian berhenti sama sekali. Waktu itu saya dengar ia tengah berada di Singapura. Lalu saya menemukannya di Facebook. Saya mengirim pesan, mengatakan betapa saya kangen dengan tulisan-tulisan di blognya. Ketika muncul lagi di tahun 2009, saya berharap Joni akan terus menulis seperti dulu. Ternyata tidak. Tahun itu dan tahun-tahun berikutnya,  Joni hanya menulis sekali atau dua kali. Sepanjang tahun.

Kemudian saya kembali menemukan Joni. Di Twitter. Dan bukan hanya telah bertemu Joni, kini saya pun sering bertemu dengannya di berbagai kesempatan. Kalian mungkin lebih mengenalnya dengan nama @JonathanEnd 🙂

Jadi, siapa saja blogger-blogger yang meninggalkan ‘bekas’ dalam perjalananmu?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dear Dimas,

Aku baik-baik saja di sini, masih selalu merindukan hujan, seperti biasa. Hanya saja, sekarang aku tidak lagi hanya menunggu sampai rintiknya datang diantarkan mendung. Kini aku menghadirkannya sendiri, tepat di meja kerjaku. Seorang teman baru-baru ini mengirimiku suara hujan. Kemudian, jendelaku itu—yang menghadap ke taman, kusiram dengan air hingga meninggalkan tetes-tetes serupa jejak gerimis. Sebegitu mudahnya! Dan aku larut dalam suasana hujan, bahagia seperti kanak-kanak seharian, meskipun di luar sana cuaca tengah kering-kerontang.

Barangkali aku sudah belajar, Dim. Untuk tidak terlalu banyak (atau terlalu lama) menunggu. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menghadirkan apa yang kita cintai, kalau saja kita tidak mengkhawatirkan terlalu banyak hal. Tentu saja, adalah perbuatan bodoh memutar suara hujan dan menciprati jendela kerjaku dengan air, kemudian memekik riang: hujan! Tetapi, lalu kenapa?

Baru tadi pagi, di dalam bis, aku melanjutkan membaca The Museum of Innocence-nya Orhan Pamuk. Lalu mataku terpikat pada baris-baris kalimat ini:

“Any intelligent person knows that life is a beautiful thing and that the purpose of life is to be happy. But it seems only idiots are ever happy. How can we explain this?”

Mungkin aku akan lebih memilih menjadi orang bodoh. Yang bisa bahagia untuk hal-hal sederhana. Yang bisa tertawa senang dan memekik riang hanya dengan berlarian telanjang kaki di padang, di bawah bintang-bintang. Aku tahu, kamu juga menyimpan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu setiap hari: ketika mendengarkan orang-orang yang bercakap dalam bahasa Thai, berputar-putar tanpa tujuan di Chatuchak, menggigiti sayap ayam di Som Tam Nua, atau memandangi lampu-lampu yang berpendar dari balik jendela condomu—ada cerita di balik tiap cahayanya.

Aku tahu kita akan baik-baik saja, Dim. Di manapun kita berada, apapun jalan yang kita pilih. Kita akan baik-baik saja, karena kita memiliki satu sama lain.

Aku tak perlu bilang ketika aku sedih. Kamu tahu, dan akan mengirimiku sekotak kue dan boneka lucu untuk menggantikan kamu menemaniku. Kamu tak perlu bilang ketika kamu lelah. Aku tahu, dan aku akan mengirimi hal-hal bodoh lewat email untuk membuatmu tersenyum.  Kalaupun kita tak sedang duduk bersisian; minum kopi di sebuah toko buku kecil—atau berputar-putar mengelilingi Jakarta di akhir pekan, itu bukan masalah. Karena bukankah jarak itu tak lebih dari kendala fisik belaka?

Jadi, jaga diri (dan hati) baik-baik, Dim. Aku akan tetap menemanimu lewat kedai kopi, toko buku kecil, penjaja bunga potong, pucuk-pucuk pagoda, kain warna-warni, juga es kelapa muda di jalan-jalan Bangkok. Dan kamu masih akan selalu menjadi pukul tiga pagi-ku.

———

PS: Waktu melewati toko buku kecil di Lagos ini, tiba-tiba aku teringat kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

UPDATE January 2014: Now you can listen to this post through a beautiful reading by Kiki Azura. Click here for the SoundCloud version. Thank you, Kiki.

Mungkin kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.

Kita hanya sedang duduk-duduk di sini, menikmati waktu yang pelan-pelan menyelinap lewat kata-kata yang bermain di tepian jemari. Kita tidak sedang terburu-buru. Kita tidak sedang terlambat. Kita tidak sedang mengejar waktu. Tidak sedang bergegas menuju ke suatu tempat. Sesekali salah satu dari kita akan beranjak pergi. Yang lain tidak akan mempertanyakan, tidak akan mencegah, tidak akan mengejar. Cukup satu kedipan dan lambaian tangan, serta pesan: hati-hati di jalan.

Tak ada janji yang diucapkan. Ia yang pergi tak pernah berkata bahwa ia akan kembali. Ia yang tinggal tak pernah berkata bahwa ia akan menunggu hingga yang pergi kembali. Ini bukan tentang rasa percaya. Ini semacam rasa pasrah. Bahwa semua yang memang untukmu, pada akhirnya akan kembali padamu. Dan semua yang bukan untukmu tak akan menjadi milikmu, tak peduli sekuat apapun kamu mencoba.

Mungkin kita memang hanya saling menemukan, meski tak pernah saling kehilangan. Kita adalah dua orang yang kebetulan tengah duduk bersisian: lalu berbagi matahari, laut, langit, kapuk yang beterbangan, cahaya, ilalang, bebatuan, jejak bintang…

Aku akan sesekali pergi. Kamu akan sesekali pergi. Suatu hari nanti, kita mungkin akan pulang. Entah ke mana. Mungkin ke tempat ini lagi. Atau ke tempat lain. Mungkin aku kembali. Mungkin kamu kembali. Mungkin juga tidak. Tetapi semua itu bukan masalah. Karena saat ini kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Let the lover be disgraceful, crazy, absentminded. Someone sober will worry about things going badly. Let the lover be | Rumi.

Kebahagiaan buatmu adalah konsep yang sederhana. Biskuit kesukaanmu. Langit yang jernih dan penuh bintang. Secangkir cokelat panas. Awan tebal. Matahari terbenam di pinggir pantai. Berjalan telanjang kaki di atas rumput yang basah oleh embun. Menunggui matahari terbit. Memandangi hujan. Berbagi tawa.

Kamu adalah seseorang yang bisa menjawab pertanyaan saya dengan lekas dan tanpa jeda: jika kamu diberi kesempatan untuk terlahir kembali, apa yang ingin kamu lakukan saat ini? Kamu tersenyum dan bilang, “Persis seperti yang tengah saya lakukan saat ini.”

Saat itulah saya tahu, bahwa kamu adalah jiwa yang bahagia. Kamu tak punya harapan yang muluk-muluk. Kamu tak mau mengikatkan diri pada mimpi-mimpi. Kamu mengerti bahwa segala sesuatu datang dan pergi, berganti-ganti. Hidup buat kamu adalah saat ini, yang dijalani dengan hati riang. Kamu tak butuh syarat untuk merasa senang. Dunia ini penuh keajaiban yang cukup untuk membuatmu terkagum-kagum setiap hari.

Dan kamu, kamu adalah semacam keajaiban kecil yang juga masih saja membuat saya terkagum-kagum, setiap hari, berkali-kali.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

When he told me that he’s going to tell me a very sad story, I said: bring it on. Here you go, he said. It’s a story about something you’ve left behind…

***

They met in an unlikely circumstance. She was tired of having too high of an expectation. He was still trying to recover from a recent heartbreak. She glanced at him, trying to catch his solemn eyes. He glanced at her, trying to catch her halcyon eyes. As the gap between them grew smaller by the minute, she realized that she wanted to know more about him and he realized that he wanted to know more about her. And that was exactly when (just like in any other sad stories you knew) their time was up. And they had to part.

She didn’t realize it until she left. As she sat there waiting for the plane to take off, she realized that she had left something behind. He didn’t realize it until she left. As he sat there looking at his computer screen, he realized that she had taken something away from him. Both were not looking, both were not searching—which explained why, when they met, they didn’t realize the fact that they had actually found each other.

But life had taken its toll, and there was nothing they can do except to move forward, secretly finding ways to meet each other again, and kept missing each other until the day they meet again.

***

The saddest part is, he said, when they parted that day they didn’t realize that they would spend the rest of their lives, trying to find each other again. Don’t you think it’s sad?

It is sad, I answered. But I think things like this happen all the time in all parts of the world. It makes you feel like we’re all actually longing for something. And when you’re missing someone, thousands of other missing souls reverberate with you, creating a wave that is so big, so loud, so strong, it will somehow rub off on the person you’re thinking about.

On a cloudy morning, when you’re missing that someone so much, just remember that the thought alone will rub off on him. He might have just woken up, feeling bad, sitting at the kitchen table, sipping a cup of hot coffee to start the day and suddenly he would feel this immense warmth blanketed him, filling him in with a lovely nostalgia like a carefree memories of distant summer days, and before he realized it, he would have found himself smiling.

Of course he couldn’t explain the reason of this sudden lift of mood, but don’t we all know the reason?

Nevertheless, let’s just keep it a secret.

— A sunny afternoon in Jakarta, headphones on, Mera Bichra Yaar from Strings playing on repeat.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

A moment of happiness,
you and I sitting on the verandah,
apparently two, but one in soul, you and I
.

Ada surat-surat yang kutuliskan untukmu. Dalam perjalanan kereta cepat dari Jerez ke Sevilla. Waktu itu aku duduk sendirian di sisi kanan, di dekat jendela. Ada padang-padang kering, ladang jagung dan rumah-rumah terakota, traktor, kuda-kuda dan sekawanan banteng. Semua berkilasan cepat, sedikit buram, seperti gambar dalam mimpi-mimpi.

We feel the flowing water of life here,
you and I, with the garden’s beauty
and the birds singing.

Terkadang aku bertanya ke mana hidup akan membawaku—membawa kita. Apakah kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Ataukah kamu tetap akan menjadi satu di antara orang-orang itu: yang hanya kutemui sekali saja seumur hidupku, tapi mengubah hidupku selamanya. Lalu kukeluarkan spidol dan buku catatan kecilku dari dalam tas. Lalu aku menulis. Menulis kepadamu. Semacam surat-surat dalam dua puluh halaman. Surat-surat yang tidak pernah kukirimkan.

The stars will be watching us,
and we will show them
what it is to be a thin crescent moon.

Di sana, aku bicara padamu tentang pertemuan, juga tentang kehilangan. Aku bilang, aku siap mengikuti ke mana pun hidup akan membawaku: menujumu atau meninggalkanmu. Aku juga bilang, seandainya kamu ada di sini, kita akan bisa melakukan banyak hal. Hal-hal yang tidak penting, sebenarnya. Misalnya memandangi langit atau hujan, yang dari dulu sampai sekarang sebenarnya masih akan begitu-begitu saja. Menikmati bercangkir-cangkir kopi hangat yang ditaburi bubuk cokelat. Pergi ke dermaga dan mencelupkan kaki ke dalam air sambil bercerita. Berputar-putar di museum melihat-lihat karya seni yang tidak kita mengerti. Menonton pertandingan bola di televisi. Jajan di pinggir jalan, lalu berbagi semangkok es krim berdua.

You and I unselfed, will be together,
indifferent to idle speculation, you and I.

Mungkin kita akan pergi ke pantai. Aku dengan gaun musim panas, bertelanjang kaki, keranjang piknik di tangan. Kamu dengan celana pendek dan sandal jepit, kamera tergantung di leher. Atau kita akan duduk di suatu beranda, pada suatu malam, mengobrol lama sampai ketiduran. Lalu di pagi hari aku akan terbangun dengan dua kemungkinan. Menemukanmu di sana, tersenyum dan berkata: selamat pagi. Atau menyadari bahwa kamu sudah menghilang.

The parrots of heaven will be cracking sugar
as we laugh together, you and I.

Ada surat-surat yang kutuliskan untukmu. Dalam penerbangan 12 jam dari Frankfurt ke Jakarta. Waktu itu, aku duduk sendirian di sisi kanan, di dekat lorong. Bangku sebelahku kosong. Seperti hatiku, yang merasa tengah kehilangan sesuatu. Lalu aku menumpahkan rasa kehilangan itu. Dalam tiga puluh halaman surat lagi untukmu. Surat-surat yang masih tersimpan rapi di dalam buku catatan kecilku. Surat-surat yang masih kubaca ulang setiap kali aku teringat kamu.

In one form upon this earth,
and in another form in a timeless sweet land.

Suatu hari nanti, di sebuah masa depan yang jauh, kamu mungkin akan menerima surat-surat itu. Surat-surat yang dituliskan untukmu belasan tahun yang lalu. Tak ada namaku di sana. Aku tak akan bilang bahwa akulah yang menuliskan surat-surat itu untukmu, dulu.

——

A moment of happiness,
you and I sitting on the verandah,
apparently two, but one in soul, you and I.
We feel the flowing water of life here,
you and I, with the garden’s beauty
and the birds singing.
The stars will be watching us,
and we will show them
what it is to be a thin crescent moon.
You and I unselfed, will be together,
indifferent to idle speculation, you and I.
The parrots of heaven will be cracking sugar
as we laugh together, you and I.
In one form upon this earth,
and in another form in a timeless sweet land.
—Rumi

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Seseorang pernah berkata kepada saya. Bahwa rasa kangen adalah manifestasi dari kehilangan. Dan kehilangan adalah sesuatu yang sangat familiar.

Kehilangan selalu menyergapmu pada saat-saat di mana kamu sedang paling tidak siap. Ia selalu mengejutkanmu, secara tiba-tiba. Terkadang pelan dan diam-diam seperti pencopet ulung di dalam bis kota. Kali lain kejam dan menarik perhatian seperti tabrak lari di jalanan ramai pada siang hari.

Rasa terkejut, sedih, kaget, kesal, marah, dan terluka akan memudar seiring berlalunya waktu. Hanya satu rasa itu yang kemudian membuatmu sadar. Bahwa kamu telah sungguh-sungguh kehilangan: rasa kangen. Yang masih tertinggal, bahkan lama setelah rasa yang lain tertelan di latar belakang.

Kamu mungkin marah, terkejut, dan kesal ketika telepon genggammu dicuri orang. Tetapi adalah rasa kangen yang masih akan menghampirimu bertahun-tahun kemudian. Bukan karena telepon genggam yang dicuri orang itu, tetapi karena kamu merasa kehilangan pesan-pesan pendek yang pernah ia kirimkan kepadamu. Foto-foto kalian berdua yang belum sempat kamu transfer ke komputer portabelmu. Juga kenyataan bahwa telepon genggam itu adalah hadiah darinya untukmu: satu-satunya tanda mata yang masih tersisa dari kalian berdua.

Rasa sedih akan lenyap perlahan, seiring mengeringnya air matamu yang jatuh di atas bantal. Tetapi esok hari, dan sampai berbulan-bulan setelahnya, rasa kangen masih akan menghampirimu tiba-tiba. Lalu kamu sadar. Bahwa sesungguhnya, kamu telah kehilangan. Kamu kehilangan hal-hal yang membuat kamu menangis. Hal-hal yang pernah kamu cintai. Hal-hal yang pernah kamu sayangi. Hal-hal yang pernah kamu pedulikan.

Kemudian kamu mengerti. Bahwa rasa kangen ternyata bukan mengenai segala yang “pernah”. Rasa kangen bukanlah mengenai hal-hal yang pernah kamu cintai. Hal-hal yang pernah kamu sayangi. Hal-hal yang pernah kamu pedulikan. Ternyata rasa kangen juga menandakan segala yang “masih”. Bahwa kamu masih cinta. Masih sayang. Masih peduli.

Di sisi sebaliknya, rasa kangen juga memberikan tanda lain kepadamu. Ia menjelma isyarat. Bahwa mungkin, tanpa kamu sadari, sebenarnya kamu terlanjur “sudah”. Ya, ketika kamu kangen, mungkin itu tandanya kamu sudah cinta. Sudah sayang. Sudah peduli. Walau kamu masih saja bilang there’s-nothing-between-us, diam-diam kamu tahu. Bahwa di antara kamu dan dia, ada satu rasa itu. Yang tak pernah bisa membohongi hatimu.

Rasa kangen.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sesungguhnya, kamu cukup menjenguk aku sekali-sekali. Menengok dari balik jendela yang terbuka, atau melompat-lompat di sepanjang dock komputer portabelku. Kamu cukup bilang hai satu kali—diikuti tanda titik dua dan kurung tutup, dan aku sudah punya cukup energi untuk bisa tersenyum seharian. Nggak peduli seberat apapun hari yang barusan aku lalui, ketika kamu bertanya how’s-your-day, aku jujur waktu menjawab: it’s wonderful!

Kalaupun kamu sedang sibuk-sibuknya sehingga nggak sempat menjengukku, aku sudah cukup merasa senang, kok, kalau bisa melihat kamu bermain-main di sisi sebelah sana. Mendengarkan kamu bicara dengan orang-orang di sekelilingmu. Melihatmu pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Memandangi kamu diam-diam. Menunggui kamu bekerja semalaman. Aku selalu bilang, kebahagiaanku biasanya datang dari hal-hal paling sederhana. Dan kesederhanaan itu nggak pernah meminta apa-apa.

Aku nggak akan gangguin kamu kalau kamu lagi sibuk. Aku nggak akan menarik-narik lengan bajumu dan bilang, dengerin-aku ketika kamu lagi kepingin sendirian. Aku nggak akan melompat-lompat di depanmu setiap saat cuma supaya kamu sadar bahwa aku ada. Aku nggak minta apa-apa. Nggak menuntut apa-apa. Nggak berharap apa-apa.

Kalau saatnya tiba, mungkin kita akan bertemu lagi—atau berpisah lagi. Bagaimanapun, hidup terus berjalan. Aku percaya, kita akan menemukan kebahagiaan yang sempurna di ujung sana. Bisa jadi kita bahagia berdua, bisa jadi kita akan bahagia sendiri-sendiri. Dua-duanya nggak masalah. Karena kita sama-sama tahu, hidup ini selalu penuh kejutan di setiap kelokannya.

Jadi, aku cuma mau bilang, sebetulnya aku ada di sini kalau kamu butuh. Nggak ada terms atau conditions. Sampai berapa lama… aku sendiri juga nggak bisa menjanjikan. Mungkin suatu hari kamu datang dan aku sudah keburu pergi; bisa juga sebaliknya. Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya aku masih akan cukup lama berada di sini. Aku masih cukup senang duduk-duduk santai dengan segelas minuman dingin di tangan, membaca Murakami sambil mengayun-ayunkan kaki, memandangi kamu sambil mendengarkan lagu-lagu dari iPod-ku.

So, take your time.

Terus, kalau kamu tanya kamu harus ngapain, aku akan bilang: nggak usah ngapa-ngapain. Menulis tentang kamu aja, seperti sekarang ini, sudah cukup bikin aku senang selama beberapa jam ke depan.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

I still remember how difficult it was for me growing up. My Dad is from Chinese origin. My Mom is Javanese. Dad’s family are mostly Christians and Catholics, Mom’s family are mostly Moslems. Being a Chinese-Javanese and also a Moslem in the 80s-90s was complicated and could be overwhelming at times, especially for a kid.

I realized how I felt so different during my early childhood. I couldn’t get close to my cousins from my Dad’s side because I didn’t go the Sunday school like everyone else, I didn’t know the titles of those Chinese movies they talked about, I didn’t know how to call my aunty or my uncle properly in Chinese, I didn’t celebrate Chinese New Year, and so on and so forth. I couldn’t get close to my cousins from my Mom’s side either, because physically, I look Chinese, I didn’t join their Quran lessons every Friday, and… I went to a Catholic school.

It made all the difference.

I didn’t know why it seemed like I had to choose between being Chinese, or being Javanese. Why couldn’t I simply be an Indonesian?

Thus, during childhood, I preferred spending my time alone in the confinement of my bedroom, reading books, or just hanging around with my Mom or my Dad. Here, at least, I wasn’t being judged. I was free. This was the place where people didn’t care about me being Chinese or Javanese or both.

Some family members from my Mom’s side bitched around because I was sent to a Catholic school—where I (despite like around 12 other subject lessons) learned about Jesus and liturgy. I didn’t get it. It was indeed a Catholic school, but it welcomed students from any religion. I didn’t know why it mattered so much, why they were so pissed off. I got good grade for my Catholic religion lesson: 9 out of 10. To me, I was simply studying history.

One day, in 5th grade, I walked to the school’s pretty chapel with a Catholic friend of mine. We went there to pray, so that we’d be doing great in our national exam.

I remembered myself asking my friend, “Can I come in? I mean, I’m not Catholic.”

And my friend replied, “Why not? We’re praying to God, and God’s everywhere. So we can pray everywhere. And a chapel is a place to pray.”

I wished I could bring her to the mosque and said the same thing. Came to think about it now, children, naturally, do have beautiful minds.

I spent my school days in the same Catholic school until I graduated from high school.

During Ramadhan, a Moslem teacher led our afternoon prayers. There was a clean room next to the school’s health unit, where we could do our prayers. While we were reciting Al-Fatihah at heart, we could hear faintly the choir team serenading Ave Maria from the room upstairs. Sometimes, when the choir team were lacking of people and needed some extras, I would be joining them singing songs from the hymn book for the masses. At times, we hanged pretty Ketupat made of Japanese ribbon in our class’ Christmas tree. I got a chest full of greeting cards from my Catholic friends during Idul Fitri and I saved some money to buy them Christmas cards.

Those were the times when I learned about tolerance. Growing up, I realized how important it was for children to meet other children from different backgrounds, social classes, races and religions; to understand from such a small age that it’s definitely okay to make friends with those who are different from us. I do believe that the world would be a better place if adults would stop corrupting the minds of young children—telling them all the nonsense there is in the world, scared them out carelessly by simply saying that if they don’t listen, they’ll end up burning in hell.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP