KartiniMbak,

Sudah seratus lima tahun kini sejak Mbak pergi (saat itu Mbak masih seusia saya, bukan?). Tetapi Mbak pasti terkejut jika di tengah arus globalisasi dan euforia emansipasi yang mungkin Mbak impikan dahulu, masih saja ada hal-hal yang tetap sama seperti sebelumnya.

Ah, jika saja Mbak ada di sini, saat ini, detik ini, saya yakin Mbak akan memilih jalan hidup yang jauh berbeda: termasuk memilih untuk tidak dipoligami.

Mbak pernah bercerita kepada Stella, bahwa sebagai anak seorang selir, Mbak begitu membenci poligami dan laki-laki yang membagi cintanya dengan lebih dari satu istri:

Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah, sudah menjadi seorang ayah, hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? (Nov 6, 1899)

Saya tidak pernah menyalahkan Mbak karena Mbak akhirnya menikahi Bupati Joyodiningrat. Kita memang hidup di masa yang jauh berbeda, Mbak. Pada masa Mbak, mungkin pernikahan itu memang Mbak anggap perlu; sebagai sarana untuk mencapai cita-cita Mbak. Dan selain miris, kesadaran akan hal ini membuat saya geli sendiri, Mbak.

Karena kenyataannya, sebelum menikah, Mbak telah mengajukan syarat agar beliau menyetujui cita-cita Mbak dan mendukung Mbak mendirikan sekolah dan mengajar—yang kemudian membuat saya teringat pada perjanjian pra-nikah yang populer belakangan ini.

Ternyata Mbak bukan hanya menyerah; tetapi juga memanfaatkan situasi. Ini cukup pintar ketimbang menyerah saja, kemudian titik.

Meskipun demikian, Mbak pernah mengatakan bahwa lambat-laun, Mbak belajar menghormati Bupati Joyodiningrat sebagai suami, dan belajar mencintainya (meski saya masih ragu apakah Mbak kemudian benar-benar mencintainya, ataukah saat itu cinta tidak menjadi prioritas untuk Mbak?).

Mbak, seratus lima tahun sudah berlalu sejak Mbak pergi. Dan Mbak pasti akan merasa miris juga ketika mengetahui bahwa pagi ini, untuk merayakan hari yang dinamai dengan nama Mbak itu, anak-anak perempuan pergi ke sekolah dengan mengenakan konde dan kebaya—representasi dari budaya dan represi yang justru berusaha Mbak dobrak sejak lebih dari seabad yang sudah lewat.

Pasti Mbak lebih suka jika mereka merayakan hari ini dengan seragam pilot, tentara, atau astronot, bukan? Karena bukankah sudah bermunculan perempuan-perempuan yang mengisi jabatan dalam profesi-profesi di atas? (Untuk alasan yang sama, saya juga beranggapan bahwa Mbak pasti lebih suka menonton ALIAS atau La Femme Nikita daripada menikmati siaran langsung pemilihan ratu sejagat).

Oh, ya, satu lagi: Mbak juga pasti terkejut jika mengetahui bahwa bahkan seratus lima tahun setelah Mbak pergi, perempuan masih saja dituding sebagai penyebab ketidakmampuan laki-laki menahan nafsu syahwat*.

Saya pamit dulu, Mbak. Sampai tahun depan, di bulan keempat, tanggal dua puluh satu.

H.

————

*)dengan pertimbangan yang sama, saya kemudian membenci pemain sinetron laki-laki berinisial DH atas komentar seksisnya di salah satu tayangan infotainment.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Danielle: Mama, I want a baby.
Antonia: How about a husband to go with it?
Danielle: No.

~ penggalan dialog dari film Antonia’s Line (1995) ~

_______


TENTANG ANTONIA

Saya tidak tahu apa yang tengah berkecamuk dalam benak feminis Marleen Gorris ketika ia menulis naskah Antonia’s Line. Yang jelas, film Belanda ini kemudian berhasil menyabet Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik di tahun 1996—bersama sederet penghargaan bergengsi lainnya; seperti People’s Choice Award di Toronto International Film Festival dan Golden Calf (Gouden Kalf) Award di Nederlands Film Festival.

Antonia’s Line mengisahkan kilas balik kehidupan Antonia (diperankan Willeke van Ammelrooy) dan putrinya Danielle (Els Dottermans)—karakter perempuan-perempuan dengan pandangan hidup dan pemikiran yang ‘berbeda’ dari kebanyakan penduduk di daerah tempat tinggal mereka.

Sampai Anda berhasil menonton sendiri filmnya, sementara ini sepenggal dialog di atas rasanya sudah cukup untuk merepresentasikan ‘perbedaan’ yang dimaksud.

Kesuksesan Antonia’s Line, bisa jadi, juga turut dipengaruhi oleh kedekatan tema yang diangkat film ini dengan euforia kebebasan yang marak di tahun ’90-an. Termasuk di dalamnya, adalah kebebasan untuk menjadi berbeda, dan untuk menyikapi perbedaan tersebut.

Aren't we all different?BERBEDA ITU BAIK

Ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang‘ kemudian menjadi relevan dalam menyikapi perbedaan; karena konsep toleransi bukanlah semacam paksaan atau kewajiban yang hanya tertera dalam buku-buku mengenai Pancasila dan kewarganegaraan. Toleransi yang memungkinkan terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika justru terbangun karena adanya pengertian akan perbedaan; sementara pengertian itu sendiri baru bisa didapatkan melalui dialog dan interaksi antara individu-individu yang memiliki perbedaan.

Lantas, jika pendidikan kemudian ditujukan sebagai salah satu upaya untuk membangun toleransi dan pengertian, bukankah ini berarti institusi pendidikan  memerlukan paparan (exposure) yang cukup terhadap perbedaan?

Hal ini membuat saya teringat kisah-kisah teladan dalam buku-buku Pendidikan Moral Pancasila semasa duduk di sekolah dasar dulu; di mana Ahmad yang beragama Islam membantu Yohanes yang beragama Kristen membersihkan gereja, dan Bagus yang beragama Hindu meminjamkan sarung kepada Ahmad yang hendak menunaikan shalat Ashar.

What a wonderful world, begitu mungkin kata Louis Armstrong dengan suaranya yang serak-serak basah.

Inilah landasan pemikiran yang membuat saya berpendapat bahwa sekolah-sekolah umum (atau bahkan kawasan hunian) yang multikultural (dan tidak mengeksklusifkan diri untuk satu kepercayaan atau kelompok tertentu saja), akan membangun pribadi-pribadi yang jauh lebih toleran.

Utrecht's summer schoolMENIKMATI PERBEDAAN

Kesempatan mengenyam pendidikan dalam lingkungan yang toleran dan mendukung interaksi multikultural inilah yang kemudian dijadikan unique selling proposition (USP) oleh Belanda, ketika memasarkan diri sebagai negara tujuan studi. Dan bukannya tanpa alasan jika mereka kemudian berani mengedepankan faktor multikultural dan keberagaman ini sebagai nilai tambah.

Komitmen Nederland dalam membangun citra sebagai negara tujuan studi multikultural sudah dapat dilihat sejak tahun 1950; ketika mereka menjadi negara tidak-berbahasa-Inggris pertama yang menawarkan berbagai program studi dalam bahasa Inggris.

Tentunya, pilihan ini memberikan kemudahan bagi pelajar-pelajar dari berbagai belahan dunia untuk datang ke Belanda dan mengikuti proses belajar-mengajar dalam bahasa Inggris di sana. Sebagai bonusnya, mereka juga bisa sekaligus menyerap percakapan dalam bahasa Belanda melalui pergaulan santai sehari-hari.

Ya, meski bahasa Belanda merupakan bahasa resmi di negeri ini, komunikasi  tak lantas menjadi kendala, mengingat hampir 70% penduduk negeri kincir angin ini menguasai bahasa Inggris dengan baik. Ini menjadikan Belanda negara yang relatif lebih ‘ramah’ bagi siswa pendatang, jika dibandingkan dengan negara tetangganya seperti Jerman, Perancis, Italia, atau Belgia. Ditambah lagi, diploma yang dikeluarkan institusi pendidikan di Belanda telah diakui secara internasional.

Paparan yang intens terhadap individu-individu dari latar belakang bangsa, budaya, bahasa, dan kepercayaan yang berbeda inilah yang sesungguhnya menyiapkan kita menghadapi keragaman dunia dan melatih diri untuk mempraktekkan toleransi. Bukan toleransi basa-basi; tetapi toleransi sungguhan berbungkus empati—yang hanya bisa dicapai dengan interaksi untuk mencoba mengerti.

Spacebox Student HousingUNTUK MENGERTI

Saya pun membayangkan diri memandang ke luar jendela dari kotak berukuran 18 meter persegi di De Uithof Utrecht; Spacebox®-nya Mart de Jong—konsep rumah murah dan fleksibel  yang membuat segalanya terasa lucu dan imut-imut.

Mendamparkan diri di sekitar Oudegracht, saya akan menyusuri kanal tua itu perlahan pada suatu siang hari yang cerah di pertengahan tahun. Seraya menikmati drop (permen akar manis) dan mengayun-ayunkan setangkai tulip di tangan kanan, saya akan melangkah ringan dan berbincang dengan ‘Antonia-Antonia’ yang saya temui dalam perjalanan, mencoba untuk saling memahami.

Di atas kepala-kepala kami yang berdekatan, gesekan dedaunan membawa suara Anita Doth menyanyikan Spread Your Love:

Love is the key, set yourself free
So won’t you listen to me, when I say, when I say
Spread your love all over the world now
All over the world! Yeah!

Di kejauhan, angin musim panas bertiup memutar kincir.

————————–

Gambar diambil dari:
http://i17.ebayimg.com/06/i/001/32/3a/ac2b_1.JPG
http://www.utrechtsummerschool.nl/img/sidebar/46big.jpg
http://www.spacebox.info/index.cfm?lng=en&mi=3&pmi=8

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

picture-2

Kamu. Yang tidak pernah pergi. Yang selalu ada dan mengintip sekali-sekali dari sela-sela hati. Yang selalu berlari-lari kecil di pelupuk mataku pada sore hari yang berhujan atau pada malam hari yang dipenuhi bintang.

Kamu. Yang membuatku hanya membutuhkan satu sendok kecil gula pasir dalam sebuah cangkir berisi seduhan dua sendok makan kopi hitam. Adalah manis ingatan tentangmu yang kuhirup dalam secangkir kopi di pagi hari sejak dulu sekali—bahkan ketika masih banyak orang yang berkata bahwa anak perempuan seumurku tak seharusnya mencintai kopi.

Tetapi siapakah yang berhak mengajariku tentang mencintai kecuali hatiku sendiri? Dan hatiku sudah memilihmu sejak saat itu. Sejak lama. Jauh sebelum aku sadar apa artinya cinta. Dan jangan salahkan aku jika hingga kini definisiku tentang kata cinta tak pernah berubah: cinta adalah kamu.

Memang, ada beberapa orang yang menawarkan definisi lain tentang cinta dalam hidupku, tetapi ternyata semua definisi itu keliru. Jadi, aku kembali pada satu-satunya cinta yang aku tahu sejak dulu.

Kamu.

Cukup untuk dicintai. Tak perlu kumiliki. Karena bukankah cinta itu seharusnya membebaskan?

———————————

:: a mental note from Bangkok Trip, as I climbed the steep stairs to the upper level of Wat Arun temple. The beautiful sight of Chao Praya river from the height was there, right in front of me. And my mind went to you.

Update (Mar 18, 2009): Dan pagi ini, sebuah dialog cantik dari seorang kawan:

“Yang tidak pernah kudapatkan dari seorang kekasih adalah teman ngobrol. Sedangkan yang tak kudapatkan dari teman ngobrol adalah kekasih.”

“Apa sih yang diobrolin?”

“Apa saja.”

“Lalu?”

“Bisa jadi satu sudut pandang baru.”

“Aku takut tidak bisa memberikanmu itu.”

“Kamu sudah.”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Bukannya tanpa alasan jika saya paling menikmati hari terakhir AXIS Java Jazz 2009 pada hari Minggu, 8 Maret kemarin—bahkan lebih menikmatinya ketimbang special show Jason Mraz pada hari Jumat yang sudah ditunggu-tunggu itu. Pada hari penutupan perhelatan jazz terbesar di Indonesia (dan kabarnya di dunia ini), saya memang berkesempatan untuk menjelajah belasan panggung di Jakarta Convention Center sendirian.

picture-262

Pada hari Minggu sore hingga malam yang berhujan itu, dengan blus, celana pendek, sandal jepit, dan tas selempang, saya melawan arus ribuan orang yang hendak menyaksikan penampilan Brian McKnight, Tompi, atau Maliq & D’essentials.

Meskipun beberapa kawan saya juga tengah berada di acara yang sama, saya memilih untuk ‘melarikan diri’ sendirian, memuaskan selera bermusik saya sendiri, tanpa perlu mentoleransi selera bermusik orang lain. Bagaimanapun, ini sudah hari terakhir. Dan saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa di perhelatan Java Jazz hari terakhir ini saya tidak akan menonton pertunjukan band lokal.

Bukannya tidak suka, hanya saja… sayang, rasanya. Ada begitu banyak musisi internasional yang berhasil didatangkan ke Jakarta, dan mungkin tidak akan bisa kita lihat lagi penampilannya kecuali di Java Jazz ini. Jadi mengapa tidak memuaskan diri dengan melihat penampilan mereka?

Sore yang menyenangkan itu diawali ketika saya memasuki ruangan tempat Tom Scott dan Paulette McWilliams bermain. Di awal, baru Tom Scott dan band-nya saja yang berada di atas panggung. Saya pun duduk lesehan dengan santai, mendengarkan mereka bermain. Baru sekitar setengah jam berikutnya Tom mengundang Paulette untuk naik ke atas panggung. Setelah Paulette—dengan suaranya yang berat dan jazzy—membawakan 1-2 lagu, saya tertegun. Merasa mengenali lagu berikut yang hendak dibawakan Paulette, lalu turut menyanyi…

Build your dreams, to the stars above. But when you need someone true to love, don’t go to strangers, darling, come home to me.

Ah, itu kan Don’t Go to Strangers-nya Chaka Khan!

Play with fire till your fingers burn, but when there’s no place for you to turn, dn’t go to strangers, darling, come home to me. For when you hear a call to follow your heart, you’ll follow your heart I know. I’ve been through it all and I’m an old pro, and I’ll understand if you go. So make your mark for your friends to see, but when you need a little more than company, don’t go to strangers. Darling, come home to me…

Dari sini kemudian saya sempat luntang-lantung sebentar sebelum akhirnya terdampar di Cendrawasih—yang menampilkan World Music. Kali ini penampilnya berasal dari Austria, Parov Stelar, yang memadukan antara techno dengan tiupan saxophone yang jazzy dan upbeat. Suasana di Java Jazz pun segera berubah hingar-bingar dan ruangan dipenuhi para clubbers dadakan.

Penampilan saxophonist dan DJ yang sama-sama berstamina prima dan penuh energi seperti menular ke seluruh penjuru ruangan.

Setelah penampilan Parov Stelar yang menghentak-hentak, saya pun mendamparkan diri di AXIS Lounge untuk men-charge telepon genggam dan makan malam sebentar. Dari sana, sekitar pukul sembilan, saya pun bergegas menuju Exhibition Hall untuk menyaksikan penampilan band asal Jepang, Soil & Pimp.

Duduk sambil meluruskan kaki di atas karpet, saya pun menyaksikan satu lagi penampilan yang cukup upbeat dan enerjik dari Soil & Pimp, dengan interaksinya yang cukup seru dengan penonton (Soil! Soil! Soil! Soil! – dan bass betot-nya). Selama satu jam penuh, saya menikmati penampilan mereka yang mengesankan dari kejauhan, sebelum akhirnya ruangan dipadati para ABG yang hendak menyaksikan Maliq & D’essentials yang kebagian manggung sesudahnya.

Saya pun menyelinap keluar dari ruangan dan berkelana lagi hingga mendengar tiupan saxophone yang menarik hati. Dan masuklah saya ke sebuah ruangan yang tidak terlalu padat—malah bisa dikatakan cenderung sepi, sehingga saya bisa berdiri tepat di depan panggung. Dan di situlah, di atas panggung, Eric Darius bermain dengan luar biasa! He’s sooo talented (and handsome, too)!

picture-281

Kerumunan penonton yang tak seberapa banyak pun berdansa diiringi Eric dan band-nya, yang membuat saya merasa seolah terlempar ke dalam film Ray (menceritakan kehidupan musisi soul Ray Charles). Di manakah di Jakarta, Anda bisa menemukan klub jazz yang memungkinkan orang-orang untuk berdansa mengikuti musik? Ada yang tahu? Jelas bukan di Black Cat-Senayan sana.

Setelah memainkan beberapa buah lagu, tiba-tiba Eric duduk di pinggir panggung, masih meniup saxophone-nya, lalu turun ke tengah-tengah penonton! Penonton pun langsung merubung Eric, hanya menyisakan cukup tempat baginya untuk bermain sax—dan ke mana Eric pergi, kerumunan kecil penonton mengikutinya, mengelilinginya seperti ikan remora mengerumuni ikan paus.

Saya yang berada di sisi kiri panggung pun hanya bisa melihat dari kejauhan ketika kerumunan tersebut bergerak. Dan bergerak ke arah kiri! Ke arah saya! Dan betapa terkejutnya saya ketika Eric tiba-tiba berdiri di hadapan saya, dengan jarak yang sangat dekat, meniup saxophone-nya di depan wajah saya!

Oh, saya langsung salah tingkah selama 30 detik yang terasa sangat lama itu!

Hanya bisa mematung dan takjub—bahkan dengan bodohnya tidak mengambil kamera dan mengabadikan momen itu! Padahal jika mau, saya bisa mengambil foto diri dengan Eric yang bermain saxophone (seakan-akan hanya) untuk saya! Sungguh bodoh bagaimana fungsi tubuh dan otak tidak dapat bekerja normal pada saat-saat seperti itu!

Dan inilah Breathe, lagu favorit saya, yang ada di dalam album terbaru Eric, Goin’ All Out:

Menikmati waktu yang berputar sendiri ternyata memang menyenangkan. Saya pernah lupa betapa nikmatnya kesendirian hingga dihancurkan berkeping-keping oleh keramaian. Kesendirian mungkin tidak selamanya mendatangkan kebahagiaan, tetapi setidaknya kesendirian tidak menyakiti.

Just me, my memories, my thoughts… music… words…  photographs…

Cukup, setidaknya untuk sementara waktu.

Saya masih bersenang-senang dengan kesendirian itu hingga lewat tengah malam, bersantai di Cendrawasih menikmati penampilan Something Relevant dari India.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Beberapa waktu lalu, kawan saya menuliskan pemikirannya tentang cinta—yang secara mengejutkan—indah, menurut saya. Kawan saya itu menulis mengenai The One That Got Away, seseorang yang terlepas begitu saja dari kehidupan Anda. Saya tak tahu apakah dia menulisnya sendiri, atau mengutipnya dari sumber lain, tapi begini isi tulisannya:

In life, you’ll make note of a lot of people. Ones with whom you shared something special, ones who will always mean something. There’s the one you first kissed, the one your first loved, the one you lost your virginity to, the one you put on a pedestal, the one you’re with… and the one who got away.

Who is the one that got away?

I guess it’s that person with who everything was great, everything was perfect, but the timing was just wrong. There was no fault in the person, there was no flaw in the chemistry, but the cards just didn’t fall the right way, I suppose. I believe in the fact that ending up with someone, finding a long time partner that is, does not lie merely in the other person. I can actually argue that an equal part, or maybe even the greater part, has to do with the matter of timing.

It has to do with you being ready to settle down and commit to someone in a way that goes beyond the little niceties of giddy romance. How often have you gone through it without even realizing it? When you’re not ready to commit in that mature manner, it doesn’t matter who you’re with, it just doesn’t work. Small problems become big; inconsequential become deal breakers simply because you’re not ready and it shows. It’s not that you and the person you’re with are no good; it’s just that it’s not yet right, and little things become the flashpoint of that fact.

Then one day you’re ready. You really are. And when this happens you’ll be ready to settle down with someone. He or she may not be perfect, they might not be the brightest star of romance to ever have burned in your life, but it’ll work because you’re ready. It’ll work because it’s the right time and you’ll make it work. And it’ll make sense, it really will. The day comes when you’re finally making sense of things, and you find yourself to be a different person. Things are different, your approach is different, you finally understand who you are and what you want and you’ve become ready because the time has truly arrived. And mind you, there’s no telling when this day will come.

Hopefully, you’re single… but you could be in a long-term relationship, you could be married with three kids, it doesn’t matter. All you know is that you’ve changed, and for some reason, the one that got away, is the first person you think about. You’ll think about them because you’ll wonder, “What if they were here today?” You’ll wonder, “What if we were together now, with me as I am and not as I was?”

That’s what the one that got away is. The biggest “What if?” you’ll have in your life.

If you’re married, you’ll just have to accept the fact that the one that got away, got away. Believe me, no matter how fairy tale you think your marriage is, this can happen to the best of us. But hopefully, you’re mature enough to realize that if you’re already with the one you’re with, that this is just another test of your commitment, one which will just strengthen your marriage when you get past it. Sure, you’ll think about him/her every so often, but it’s alright. It’s never nice to live with a “might have been,” but it happens.

Maybe the one that got away is the one who’s already married. In which case it’s the same thing. You just have to accept and know that your memories of that person will probably bring a nice little smile to your lips in the future when you’re old and gray and reminiscing.

But if neither of that is the case, then it’s different. What do you do if it’s not yet too late? Simple… find him, find her. Because the very existence of a “one that got away” means that you’ll always wonder, what if you got that one? Ask him out to coffee; ask her out to a movie, it doesn’t matter if you’ve dropped in from out of nowhere. You’d be surprised, you just might be “the one that got away” as well for the person who is your “the one that got away.” You might drop in from out of nowhere and it won’t make a difference.

If the timing is finally right, it’ll all just fall into place somehow. And it would be a great feeling, if, in the end, you’d be able to say to someone, “Hey you, you’re the one that almost got away.”

Masihkah Anda memikirkan seseorang yang pernah hadir di masa lalu—dan hingga kini masih bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi jika saja dulu Anda berani menanyakan nomor teleponnya, mengajaknya nonton, mengundangnya ngopi-ngopi berdua, menyatakan perasaan yang Anda pendam terhadapnya sekian lama?

Bagaimana jika kesempatan semacam itu hanya datang satu kali dan tidak bisa terulang lagi?

What are you waiting for? 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Update: ternyata untuk voting di sini, kita bisa voting ulang setiap harinya!

Bukannya tak mungkin! The Best Job in The World merupakan program internasional dari Tourism Queensland di Australia sana.

picture-5

Mereka mencari kandidat untuk ‘bekerja’ di pulau-pulau sekitar Great Barrier Reef. Pekerjaannya apa?

Bersantai di Hamilton Island di jajaran pulau sekitar Great Barrier Reef selama 6 bulan, sambil nge-blog dan membuat video diaries, seraya menikmati diving, kayaking, bushwalking, snorkelling, atau jalan-jalan santai sambil piknik di tepi pantai!

Tak heran jika kemudian pekerjaan ini disebut pekerjaan terbaik di dunia!

Selama beberapa waktu lalu, Tourism Queensland sudah mengundang seluruh warga dunia untuk ‘melamar’ pekerjaan ini dengan mengirimkan video profile sepanjang 1 menit yang diunggah ke web resmi The Best Job in The World.

Dari 34,684 aplikasi video yang diterima dari seluruh belahan dunia, baru-baru ini, Tourism Queensland telah mengeluarkan 50 shortlisted applicants, dan salah satu yang terpilih menjadi 50 kandidat dari 34ribuan pendaftar itu adalah Nila Tanzil, blogger Indonesia yang saat ini tengah menetap di Singapura.

picture-61

Anda mau membantu Nila lolos ke tingkatan yang lebih tinggi lagi sehingga ia bisa menjadi orang Indonesia yang berhasil memenangkan pekerjaan terbaik di dunia ini? Silakan vote untuk Nila di sini, ya!*

———————

*)Mengapa Depbudpar tidak belum melakukan sesuatu seperti ini untuk mempromosikan pariwisata Indonesia?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

*Ehem*, saya selingi dulu kisah “Liburan Gila di Singapura” dengan pengumuman ini: khusus ditujukan buat teman-teman blogger yang ingin ikutan kopdar di Java Jazz (6-8 Maret 2009)—diiringi suara seksi Jason Mraz dari atas panggung…

picture-91
errr, bingung, pilih jason mraz atau matt mullenweg, ya? hihihi 😀

Apakah kita akan bertemu di sana? Mungkin saja, soalnya AXIS punya beberapa tiket gratis buat dibagikan ke teman-teman blogger:

  • 1 daily pass (7 Maret 2009) + 1 tiket gratis buat nonton show Jason Mraz di AXIS Java Jazz 2009 (7 Maret 2009) + 1 paket AKSES AXIS (HSDPA-nya AXIS) +
  • 4 daily pass dilengkapi tiket nonton show Jason Mraz di AXIS Java Jazz 2009 (7 Maret 2009)
  • 5 daily pass buat nonton AXIS Java Jazz 2009 (7 Maret 2009)

Eh, banyak juga, ya? Caranya gimana?

——————–

1. Bikin postingan di blog kamu dengan salah satu judul sebagai berikut:

  • “Tips & Tricks buat menikmati nonton AXIS Java Jazz 2009 ala kamu”
  • “Sebutkan Artis yang paling ingin kamu tonton di AXIS Java Jazz 2009 dan kenapa”
  • ”Ceritakan pengalaman seru-mu waktu menggunakan AXIS”
  • ”Review album Jason Mraz yang terbaru”

sebelum tanggal 2 Maret 2009 (judul bisa dipilih salah satu, atau bisa juga kalau kamu ingin mencoba peruntunganmu dan mengirimkan empat-empatnya)

2. Kirimkan URL postingan kamu itu ke alamat email ini dengan subject: AXIS JAVA JAZZ 2009 BLOGGING CONTEST – nama kamu. Jangan lupa sertakan alamat, nama lengkap sesuai KTP, email, dan nomor telepon yang bisa dihubungi

3. Posting link URL postingan kamu itu ke kolom POST LINK di Facebook Group AXIS JAVA JAZZ FESTIVAL di sini

4. Pemenang adalah mereka yang postingannya paling gila dan paling lucu menurut Panitia

Untuk persyaratan lebih lengkapnya, lihat di sini, ya! Ayo, kita kopdar dan foto-foto di Java Jazz, kalau perlu kita culik Jason Mraz untuk foto bareng, agar terbukti bahwa postingan tersebut bukan hoax belaka 🙂

Oh ya, saya mau berbagi juga lagu Jason Mraz favorit saya. Depressing, melancholic, but sweet! 🙂 Ini dia, judulnya PLANE:

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

picture-5

Tak heran banyak orang bingung ketika hendak mengungkapkan cinta. Banyak yang berkata, mereka tidak siap mendengar jawaban apa yang mungkin diberikan oleh pihak yang diajak bicara. Ternyata, kebingungan itu cukup  beralasan, karena ada begitu banyak alternatif jawaban yang bisa diberikan pada satu pertanyaan sederhana di bawah ini:

“Maukah kamu menjadi pacarku?

  1. Jawaban menolak: “Tidak.”
  2. Jawaban menolak sopan: “Tidak, terima kasih.”
  3. Jawaban menolak tidak sopan: “Jelas tidak, lah!”
  4. Jawaban menolak baik-baik: “Aduh, kamu baik sekali. Tapi… sepertinya lebih baik kita berteman saja.”
  5. Jawaban menolak dengan alasan kuat: “Tidak. Aku sudah punya pacar.”
  6. Jawaban menolak dengan alasan kuat, disampaikan dengan kasar. “Tidak. Aku benci kamu.”
  7. Jawaban menolak dengan amarah, disertai sentuhan fisik: “Kamu kira aku murahan?” (*samar-samar terdengar suara pipi ditampar*)
  8. Jawaban menolak dengan alasan lain: “Sepertinya kita baru saja kenal, aku masih butuh waktu untuk mengenalmu lebih baik lagi.”
  9. Jawaban menolak dengan berbelit-belit. “Bukannya aku tidak mau, sih, tapi… maksudku, kamu memang  baik, selama ini kamu perhatian padaku. Dan aku merasa nyaman bersamamu. Tetapi, meskipun begitu, demi kebaikan kita berdua, rasanya lebih baik kita berteman saja.”
  10. Jawaban bersedia antusias: “Ya ampun! Kupikir kamu tidak akan pernah bertanya! Tentu aku mau!”
  11. Jawaban bersedia berlebihan: “OH MY GOD? Sumpah loooh? Nggak becanda, kan? Ya ampun! Tuhan! Gila, ya mau, laaaah!”
  12. Jawaban bersedia: “Baiklah.”
  13. Jawaban bersedia sopan: “Baik, aku mau. Terima kasih karena sudah bertanya.”
  14. Jawaban bersedia kurang sopan: “Okelah.”
  15. Jawaban bersedia agak meremehkan: “Boleh.”
  16. Jawaban bersedia bersyarat. “Mau, sih, asalkan…”
  17. Jawaban ambigu menyebalkan: “Menurut looo?”
  18. Jawaban ambigu sopan: “Menurutmu bagaimana?”
  19. Jawaban menggantung: “Gimana, yaaa… “
  20. Jawaban mengalihkan topik pembicaraan: “Lihat! Ada pisang terbang!”
  21. Jawaban hati-hati, penuh antisipasi, mungkin pernah patah hati: “Apakah saat ini kamu sudah punya pacar? Apakah kamu hendak menjadikanku selingkuhan?”
  22. Jawaban menunda: “Beri aku waktu beberapa hari untuk memikirkannya, ya.”
  23. Jawaban asal dan tidak jelas: “Yuk, yah, yuuuk.”
  24. Jawaban waspada dan menuntut detail jelas: “Coba definisikan dulu, menurutmu ‘pacar’ itu apa?”
  25. Jawaban balik bertanya puitis: “Apakah aku mau? Masih perlukah kau pertanyakan semua itu?”
  26. Jawaban penggila Plurk: “(cozy)”
  27. Jawaban antisipatif: “Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?”
  28. Jawaban menjebak: “Pacar yang keberapa?”
  29. Jawaban lelah: “Sesungguhnya… ah, sudahlah.”
  30. Jawaban meledek: “Hmpfhhhh… “ (terdengar ledakan tawa)
  31. Jawaban berharap: “Apakah ini berarti kita akan menikah?”
  32. Jawaban oportunis: “Apa untungnya bagiku jika menjadi pacarmu?”
  33. Jawaban tersirat: “Selama ini aku menyayangimu. Kamu tahu itu?”
  34. Jawaban memberi harapan kemudian dijatuhkan: “Ah, aku sangat mencintaimu! Dan terima kasih karena kamu memintaku menjadi pacarmu. Tetapi kita tidak bisa bersama.”
  35. Jawaban materialistis: “Kamu punya apa?”

Anda punya alternatif jawaban lain?

—-

Disclaimer: ini adalah postingan yang sangat tidak serius, jadi harap tidak direspon dengan sensitivitas berlebih. Terima kasih.

(Gambar dipinjam dari sini)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada masa-masa tertentu dalam hidup saya ketika saya iri kepada perempuan-perempuan cantik*. Bukan dalam arti ‘iri’ di mana saya lantas hendak mencakar-cakar wajah mereka, tetapi rasa ‘iri’ yang berharap.

Ya, saya juga ingin bisa secantik mereka.

picture-12

Semasa SMU dan tahun-tahun pertama di bangku kuliah, saya memang mengalami masalah kepercayaan diri yang cukup akut–jika dan hanya jika, berhubungan dengan penampilan.

Saya termasuk siswi yang aktif di organisasi dan punya banyak teman. Sehari-hari, sepertinya saya ceria-ceria saja dengan segudang kegiatan. Namun, yang tidak diketahui kawan-kawan saya (dan tak pernah saya ceritakan kepada siapa-siapa) adalah: dengan berat badan yang melebihi angka ideal jarum timbangan, wajah berminyak yang jerawatan, serta rambut yang lurus masai, saya sama sekali merasa tidak menarik, apalagi cantik.

Hal ini terus-terang, membuat saya merasa depresi.

Kebanyakan kawan-kawan saya di SMU adalah perempuan-perempuan cantik. Bahkan mereka yang dianggap jajaran ‘paling cantik’ dalam satu angkatan. Berada di lingkaran yang sama dengan mereka, seringkali membuat saya tidak percaya diri.

Bisa sangat menyebalkan (dan menyedihkan) terkadang, jika kami berjalan-jalan ke suatu tempat dan bertemu dengan sekumpulan cowok-cowok yang kemudian sibuk menanyakan nomor telepon kawan-kawan saya, tetapi tidak menanyakan nomor telepon saya.

Parahnya lagi, teman-teman perempuan saya yang cantik-cantik ini baik. Tidak culas dan sering mendelik-delik mengerikan seperti yang sering terlihat dalam sinetron-sinetron.

Kami pergi ke salon bersama (meski kami potong rambut di salon yang sama, saya selalu merasa si tukang potong rambut telah berkonspirasi untuk memberikan saya potongan rambut paling aneh), berbelanja bersama, nongkrong bersama, mencurahkan isi hati…

Seandainya mereka jahat, mungkin saya bisa membenci mereka. Tetapi tidak. Mereka baik. Lucu. Menyenangkan. Dan cantik. Dan saya jadi merasa lebih iri lagi. Saya tidak bisa membenci mereka, sekaligus juga merasa sulit untuk menyukai mereka sepenuhnya. Kekaguman saya bercampur dengan kesadaran bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi secantik mereka.

Pada masa-masa inilah saya biasanya kesal mendengarkan jawaban para Putri Indonesia ketika mendapat pertanyaan klise: Ingin menjadi cantik tetapi bodoh, atau jelek tetapi pintar?

Rata-rata menjawab jelek tetapi pintar dengan tameng standar semacam inner beauty dan lain sebagainya. Saya pikir, jika saya yang mendapatkan pertanyaan itu, saya akan menjawab: cantik tetapi bodoh.

Mengapa?

Karena orang bodoh masih bisa belajar supaya menjadi pintar. Tetapi orang jelek susah menjadi cantik, kecuali jika melalui operasi plastik (ya, pada masa itu saya masih sangat sinis, sehingga harap jawaban tersebut dimaklumi). Kecantikan itu given. Diberikan. Bukan achieved atau dicapai.

Saya seringkali berpikir, alangkah menyenangkannya menjadi cantik seperti mereka. Cowok-cowok mengantri mengajak mereka kencan. Bunga-bunga yang dikirimkan pada saat Valentine. Kemudahan mencari uang saku dengan menjadi SPG, model iklan, pemain sinetron, atau model rambut.

Namun, menjelang berakhirnya masa-masa kuliah, ada banyak hal yang saya ketahui mengenai perempuan-perempuan cantik ini, yang dulu tidak saya ketahui sama sekali.

Salah seorang kawan saya yang cantik itu dan sudah berpacaran dengan seorang lelaki selama bertahun-tahun, ternyata sering menyayat dirinya sendiri dengan silet. Katanya ia merasa tak dicintai oleh kekasihnya itu, dan menyayat diri seringkali berhasil membuat kekasihnya merasa bersalah, sehingga lelaki itu kemudian memberikan perhatian lebih kepadanya.

Seorang kawan saya yang lain lagi, yang sering menjadi model di sana-sini, menjadi istri simpanan seorang lelaki yang sudah berusia hampir 50 tahun. Sang lelaki sudah memiliki anak yang usianya lebih tua dari kawan saya itu. Hanya beberapa lama setelah mereka menikah dan dikaruniai seorang anak, sang lelaki menceraikan kawan saya. Menghancurkan hidupnya dan membuatnya depresi.

Kawan cantik saya lainnya lagi ternyata mengidap penyakit serius. Pantas saja ia begitu langsing. Selama ini, ternyata ia menyembunyikan kenyataan bahwa ia sakit parah. Perempuan cantik lainnya mengetahui bahwa kekasihnya berselingkuh dengan perempuan lain (yang menurutnya, tidaklah lebih cantik dari dirinya). Yang lainnya lagi masih terus menjalin hubungan selama bertahun-tahun lamanya dengan lelaki yang sering memukulinya hingga biru lebam, karena menurutnya, ia sangat mencintai lelaki itu.

Mendengarkan kisah-kisah ini membuat saya berpikir, bahwa ternyata menjadi cantik tidak membuat kita kebal dari rasa sedih. Rasa sakit. Terluka. Dikhianati. Hanya saja rasa itu termanifestasi dalam bentuk yang berbeda. Tetapi ternyata semua orang masih saja tersakiti dalam caranya sendiri-sendiri, tak peduli apakah mereka cantik atau biasa-biasa saja.

Lantas saya teringat percakapan saya dengan seorang kawan beberapa waktu lalu:

Me: Why would you want to be beautiful?
M: Because I want to be loved.
Me: Why would you want to be loved?
M: Because… I want to be happy.
Me: Meaning, you don’t want to be beautiful, actually. Am I right? You just want to be loved, and be happy. What if you’re beautiful, but unhappy? I knew lots of beautiful women who are unhappy. Trust me.

Menjelang tahun-tahun terakhir kuliah hingga kini, saya tak lagi risau perihal menjadi cantik.

Saya tahu, ada begitu banyak hari dalam masa remaja saya dahulu, di mana saya membuangnya begitu saja dengan meratapi diri di depan cermin dan mencoba membandingkan apa yang saya lihat di sana dengan kawan-kawan saya, atau model-model di majalah (jauh banget hehehe). Saya tak menyalahkan siapa-siapa, saya hanya berpikir saat itu saya masih berada dalam masa jahiliyah 😀 Masa-masa itu adalah proses, yang mungkin memang harus saya lewati untuk bisa berada dalam jalan pemikiran dan sikap yang saya ambil saat ini.

Kini, saya masih mengagumi perempuan-perempuan cantik, namun tidak pernah lagi merasa iri. Juga tak lagi risau mengenai menjadi cantik. Karena saya tahu bahwa yang paling penting bukanlah menjadi cantik, tetapi menjadi bahagia.

Dan untungnya, untuk berbahagia, Anda tidak perlu menjadi cantik 😉

——————–

:: untuk M, yang masih seringkali risau karena menganggap dirinya tidak cantik.

*) cantik di sini berarti penampilan fisik; termasuk struktur tulang dan karakteristik wajah/tubuh; yang dianggap mendekati ideal menurut mayoritas masyarakat di suatu wilayah tertentu.

Gambar dipinjam dari sini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP