It sometimes feels like a strange movie, you know, it’s all so weird that sometimes I wonder if it is really happening | Eminem

Mungkin kita memang masih berjalan beriringan, tetapi tanganmu sudah terlanjur lepas dari genggaman. Jalan ini masih panjang. Terlalu panjang, hingga aku tak yakin apakah nanti kita akan bertemu di ujung jalan–yang masih belum kelihatan juga sampai sekarang. Terkadang aku takut tak punya cukup waktu untuk sampai ke sana.

Dari tempatku berdiri, aku masih bisa melihatmu, melangkah pelan di kejauhan. Langkahmu berat, tetapi kamu telah memutuskan untuk tidak berhenti. Aku seperti ingin mengabadikanmu pada momen itu, sehingga aku tak akan merasa terlalu kehilangan. Tapi memotret punggungmu yang menjauh adalah sesuatu yang terlalu sepi. Aku tak ingin menorehkan ingatan tentang perpisahan ketika melihatnya kembali di kemudian hari.

Lalu kamu katakan padaku: kita adalah serupa gramofon tua dan piringan hitam yang sedih. Yang terus memutar suara-suara dari masa lalu. Yang hanya akan tetap berputar selama kita meletakkan jarum di atas piringannya.

Perih.

The truth is you don’t know what is going to happen tomorrow. Life is a crazy ride, and nothing is guaranteed | Eminem

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Berapa banyak di antara kita yang berjalan dengan menyeret-nyeret beban masa lalu di belakang?

Masa lalu memang sulit untuk direlakan lepas begitu saja. Mungkin karena masa lalu menyimpan banyak kenangan. Dan kenangan sesungguhnya adalah ingatan yang tereduksi angan-angan. Impian. Maka masa lalu bukan hanya ada di belakang, tetapi juga ingin kita seret ke muka: menjadikannya sebagai masa depan.

Saya selalu berkata, kenangan itu berbahaya. Kenangan itu candu. Jika ingatan adalah tentang segala yang sungguh-sungguh terjadi, kenangan adalah ingatan akan hal-hal yang pernah terjadi sebagaimana kita ingin mengingatnya. Kenangan memberikan kesan seolah-olah masa lalu–suatu hari nanti, akan menjadi masa depan kita. Inilah yang membuat kita, tanpa sadar, merasa bahwa kita sedang bergerak maju—dan lupa bahwa ada beban berat yang masih terseret-seret di belakang.

Beban ini bukan hanya membuat langkah kita lamban. Tapi juga menyulitkan. Ketika kita harus maju dengan berenang, beban berat ini akan menyeret kita tenggelam. Di kala kita harus mendaki tebing curam untuk sampai ke tujuan, beban berat ini akan menyeret kita jatuh ke dalam jurang.

Terkadang, kita sayang membuang beban masa lalu. Sudah terlalu lama ia menjadi bagian dari perjalanan kita. Sudah sejauh ini kita berjalan dengan menyeret-nyeretnya di belakang. Kita toh masih baik-baik saja. Mungkin kita takut merasa kehilangan. Kita takut merasa tidak lengkap. Sama seperti mengangkat tas yang terasa ringan. Lalu kita menjadi ragu-ragu: apakah ada sesuatu yang ketinggalan?

Maka sebagian dari kita terus memilih untuk berjalan dengan menyeret-nyeret beban masa lalu di belakang. Terkadang, kita sengaja berdiri di pinggir jurang agar beban masa lalu itu menarik kita kembali ke saat-saat itu: saat-saat di mana kita paling menginginkannya.

Selamat datang di dunia kenangan: di sini, semua orang tidak benar-benar hidup. Mereka bermimpi. Setelah sekian lama, sebagian orang terbangun dari mimpi mereka, memutuskan untuk memotong beban masa lalu, kemudian mendaki maju untuk hidup dalam kenyataan. Sebagian lagi masih menikmati ilusi, terus bermimpi, dan tak pernah bangun-bangun lagi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sepertinya kamu sedang berlari, meninggalkan jejak-jejak kecil di hatiku. Jejak-jejak yang selintas. Jejak-jejak yang lama-lama jadi banyak. Karena lama kudiamkan saja, kini jejak-jejak itu melekat seperti kerak. Enggan memudar walau sudah keras-keras kusikat. Bekas-bekas langkahmu memutar. Sirkular. Mengulari hatiku seperti sesuatu yang melilit erat. Tetapi mungkin kamu masih bermain-main. Masih berlari untuk kesenangan. Dan sesungguhnya, kamu tidaklah sedang mengejar apa-apa. Sama seperti aku. Aku sedang tidak kehilangan apa-apa. Tapi kemudian…

                            aku menemukan kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Jarak punya caranya sendiri untuk memberi kita waktu. Memberi kita ruang. Membuat kita melihat lebih jelas.

Terkadang kita perlu mendekat demi terekspos pada detail: derai hujan semalaman, aroma kopi yang tertinggal di udara, halusnya pasir dalam genggaman, cinta yang mendekati selesai, sebuah akhir. Terkadang kita perlu menjauh demi terpapar pada kenyataan: jalanan yang banjir akibat hujan seharian, cangkir kopi yang sudah lama kosong, sampah lengket yang menyangkut dekat garis pantai, kesempatan kedua, sebuah awal.

Tak mudah mengakrabi jarak. Ia hadir secara acak. Jauh-dekat hanya merupa garis-garis buram ketika dilewati dalam kecepatan maksimum. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus menarik jarak, dan kapan harus melesak dalam. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus memagari hati atau menitipkannya pada orang lain.

Tapi jarak adalah teman yang baik. Pelan-pelan, jarak mengajari kita bahwa sesuatu yang indah akan tetap indah, baik ketika dilihat dari jauh maupun ketika dilihat dari dekat.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ceritanya adalah menjemput Didut–kawan blogger asal Semarang di stasiun pada suatu akhir pekan yang panjang.

Setelah beberapa hari sebelumnya Didut mengirimi saya lumpia Semarang yang di-vacuum ke kantor, saya gantian menculik Didut untuk berwisata kuliner di Bogor.

Dan inilah perjalanan kuliner kami, dilengkapi dengan sesi foto-foto, tentunya 😀

1. RM Sahabat (YunSin): Rumah Makan yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Waktu ada larangan penggunaan bahasa asing untuk nama-nama tempat usaha, YunSin pun berubah menjadi RM Sahabat. Yang dijual di sini adalah bermacam-macam chinese food. Tapi yang paling terkenal adalah mie yamin (mie ayam). Bisa pilih, mau yang asin atau yang manis. Jangan lupa coba juga sambel andalan yang mereka sediakan. Sambelnya warna coklat, mirip sambel kacang.

2. De Koffie Pot: Tempat ngopi-ngopi yang asyik karena luas dan cantik, nggak terlalu ramai seperti Starbucks. Harganya sih nggak jauh beda dari Starbucks. Penuh dengan sofa-sofa merah yang lebar dan cozy, terus sekarang di bagian luar juga ada semacam lesehan al fresco. Jadi kita bisa tidur-tiduran sambil memandangi langit dan pepohonan. Selain kopi, coba juga smoothies-nya. Enak! 🙂

3. PIA Apple Pie: Mungkin karena Bogor kota hujan. Ketika hujan, dingin-dingin, enaknya makan yang hangat-hangat. Salah satunya pie apel yang biasanya disajikan panas-panas ini. Selain pie apel, sekarang restoran ini juga sudah menjual beragam jenis pie, salah satunya adalah Black Russian Pie, yang terbuat dari campuran cokelat, kahlua dan krim vanila. Di samping itu, ada pula penganan kecil manis dan hangat macam tape atau pisang bakar.


Mau wisata kuliner di Bogor juga? Yuk! Masih ada lagi begitu banyak makanan yang harus dicoba! 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

When a friend calls to me from the road
And slows his horse to a meaning walk,
I don’t stand still and look around
On all the hills I haven’t hoed,
And shout from where I am, What is it?
No, not as there is a time to talk.
I thrust my hoe in the mellow ground,
Blade-end up and five feet tall,
And plod: I go up to the stone wall
For a friendly visit.

~ A Time to Talk, by Robert Frost ~

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP