Minggu sore kemarin, timeline Twitter saya tiba-tiba penuh dengan percakapan seputar Pesta Blogger+ 2010 atau #pb2010 ^^ Salah satu yang menarik adalah para pekicau Twitter yang berbagi tips untuk datang ke #pb2010, termasuk memberikan ide-ide yang akan menjadi #trenpb2010.

Chika, si ratu kopdar, misalnya. Ia menyarankan agar peserta #pb2010 datang memakai baju gonjreng dan norak supaya gampang terlihat dan diingat orang (errr…). Kemudian @mbakdos menyarankan bagaimana jika peserta #pb2010 datang berpenampilan seperti avatar mereka masing-masing, supaya mudah dikenali. Usul ini tentunya mendapatkan sambutan riuh, berhubung… *uhuk* coba dilihat saja skrinsut di bawah—kira-kira bagaimana jika @mbakdos datang ke #pb2010 sebagai avatarnya ๐Ÿ˜€

Bikin kartu nama dan bagi-bagi pin komunitas juga sempat jadi bahasan seru di #trenpb2010. Ada juga penawaran terbatas untuk bikin kartu nama gratis buat blogger di sini, lho! Selain itu, ada juga #trenpb2010 yang cukup keren, digagas kawan-kawan BHI. Pada #pb2010 ini, datanglah membawa 1 kaos dan 1 buku. Nantinya kaos dan buku ini akan disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan lewat Gerakan 1000 Buku.

kawan-kawan, ini fotonya @tikabanget, loh!!! -___-‘

Di #pb2010 juga akan ada booth kecil buat Coin a Chance!, jadi buat kawan-kawan yang kebetulan punya celengan berisi koin-koin, bisa dibawa juga ke sana, supaya bisa dipakai untuk membantu adik-adik kita sekolah lagi.

10 IN 2010

Satu lagi ide #trenpb2010 yang sempat terpikir oleh saya: di #pb2010 ini, kenalan dan berfotolah dengan 10 orang peserta #pb2010 yang belum pernah kamu kenal sebelumnya. Nantinya, foto-foto ini bisa dijadikan postingan blog / notes di Facebook. Soalnya, waktu Pesta Blogger 2007, saya juga belum kenal siapa-siapa, jadi ngerti banget rasanya malu-malu mau kenalan dengan kawan-kawan yang sepertinya kok sudah pada saling kenal semuanya ๐Ÿ˜€ Mau menginterupsi percakapan, takut ganggu dan dibilang sok akrab ^^ Nah, mungkin kalau ada tren ini, kita jadi nggak malu-malu lagi kenalan, karena semua yang datang akan sibuk kenal-kenalan dan foto-foto dengan orang-orang yang belum mereka kenal ๐Ÿ™‚ Jadi kita nggak merasa sendirian, dan bisa lebih cuek kenal-kenalan, karena ya, memang ada tren ini di #pb2010! ^^

Kamu sendiri punya ide apa buat #trenpb2010? ๐Ÿ™‚ Tapiii, sebelum ngomongin tren, registrasi dulu dong di sini. Yuk, ketemuan, yuuuk ๐Ÿ™‚

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kita adalah semacam bioluminescence dalam garis-garis kehidupan yang saling bersilangan. Kadang cahayamu remang, cahayaku terang. Atau sebaliknya. Dalam gelap, kita saling mencari secercah masing-masing. Memicingkan mata pada rindu yang membuncah dan membuat kita resah.

Aku bergerak secara oscillasi menujumu. Cinta kita adalah semacam polarisasi optik terhadap silang emosi yang tarik-menarik. Semua yang indah akan nampak seperti titik-titik cahaya yang kau lihat dari balik pelupuk mata yang basah. Semuanya seperti pecah sekaligus rekat. Seakan jauh sekaligus dekat.

Kita tunduk pada hukum Snellius: seperti sudut datang dan sudut bias pada cahaya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda. Kamu. Dan aku. Di tengahnya, ada kita.

——-

*) Jakarta, sore hari, terinspirasi hasil jepretan cantik Nico Wijaya. Terima kasih, Nico! ^^

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

As a college student and as an adult, I started losing bookmarks.

I have lots of cute bookmarks, and there were times when I realized that some of my bookmarks have been missing; and only two were left. I bought more bookmarks and in a year, I realized that I have lost three. Probably it was lying around helplessly in some of my drawers, or in my huge bookshelf—got hidden under some books, still buried between the pages of a certain novel I havenโ€™t finished, or slipped under my bed sheet—since I love reading in bed.

Not so long ago, my boyfriend got me this beautiful bookmark.

It looked a lot like stained-glass you spotted at those colorful church windows; the colorful pieces make up the shape of a peacock. Since then, I have had three episodes of panic attack when I couldnโ€™t find that peacock bookmark; while my other bookmarks are lying around peacefully on top of my bedside table.

It was like those moments when you thought youโ€™ve lost your mobile phone. In desperate anticipation, you emptied your bag, preparing yourself for the worse, then with a thud your mobile phone hit the floor; along with mints and an almost empty tissue pack and keys and name cards and your purse, and you realized that you didnโ€™t lose it, and it was there all the time.

At the time I couldnโ€™t find that peacock bookmark, I would feel the chill down my spine, and my mind was racing: what was the last book I read, did I bring that book to the office, in which bag I carried that book, did I left it here, did I left it there?

I would emptied every drawer, every bag, every book lying on the top pile of my bedside table desperately, flipping every page frantically, my heart pounding. I felt feverish. Annoyed. Mad. I would go crazy and started swearing silently. And then when I was close to giving up; madness turned into sadness. The realization that I have really lost it crept in.

And then, suddenly, I would find the peacock bookmark somewhere ๐Ÿ˜€ Inside my laptop bag. Hidden under my pillow. Buried inside my make-up case (how?). But then the feeling of relief showered me like summer rain in wintertime.

When I’m about to travel, I’ll be looking at the book I’m about to read on the plane; and I’ll ask myself whether I want to bring the peacock bookmark along with me. I’ll ask myself again and again: what if I lost that bookmark in a faraway island, a foreign country? I wonโ€™t be able to retrace it, wonโ€™t be able to get it back.

It’ll be safer to just use the peacock bookmark when Iโ€™m reading at home. I might misplace it, lost it for an hour (or a day), but I can just search my house or my bedroom, knowing that though I havenโ€™t found it, the bookmark must be there, hidden peacefully, somewhere.

However, I canโ€™t resist the urge to take the bookmark with me when I’m traveling: to have it between the pages of my book when I switch on my reading light, to trace the texture with my fingers as I gaze out from the cabinโ€™s window, to be reminded of my boyfriend whenever I take a glimpse on it.

I know that no matter how careful I am, still, I might lose that peacock bookmark. Probably itโ€™ll slip from the pages of my book and fall to the ground when Iโ€™m about to hop into a tram. Or leave it under a pillow at a hotel room somewhere. Or drop it on the floor when Iโ€™m about to board the plane.

But itโ€™s worth the risk; and the panic attack.

A lot like love, donโ€™t you think? You know that one day it will crush you and break your heart in a thousand different ways, but no matter what, you keep seizing the chance anyway, for all itโ€™s worth ๐Ÿ™‚

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Coba perhatikan penjelasan Kominfo perihal ribut-ribut penayangan film bertema ‘queer’ (Q! Film Festival) di Goethe Institute ini; di sela-sela pemberitaan mengenai FPI yang akan menyerang gedung kebudayaan Jerman tersebut:

Kalau ada kegiatan seni dan kebudayaan dengan tema reinkarnasi? Natal? Dewi Kwan Im? Dewa-dewi Hindu? Permainan bambu gila di Maluku? Film hantu feat. pocong dan suster ngesot dan sundel bolong dan kuntilanak juga mengapa masih bebas saja tayang di mana-mana? Sejak kapan Kementerian Kominfo dijalankan dengan kaidah Islam? Sejak kapan Indonesia berubah menjadi negara Islam? Dan mengapa kita membiarkan orang-orang semacam ini berada di Kementerian?

Update (6.38 pm):

Hey, lihat! Di halaman Kominfo, butir yang sudah di-screen grab di atas itu kini dihilangkan dan menjadi seperti ini:

Sayangnya, di Internet, sudah banyak orang yang melihat butir semula, di mana ada pernyataan mengenai ‘kaidah Islam’. Screen shot siaran pers sebelum diedit juga sempat ditangkap di sini, silakan di-zoom untuk membaca ๐Ÿ˜€

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Waktu beresin lemari buku di akhir minggu, pandangan saya tertumbuk pada sebuah novel lama di rak tengah. Keluaran tahun 1986, terbitan Gramedia. Judulnya “Namaku Bayu” karya Teguh S. Hartono. Bayu, 13 tahun, terpaksa putus sekolah karena alasan klasik: nggak ada biaya. Emaknya hanya penjual lotek, dan bapaknya sakit. Konsentrasi Bayu adalah mencari uang untuk menghidupi dirinya, juga keluarganya.

Maka bersama anak-anak sebayanya yang sama-sama kurang beruntung, Bayu pun bekerja sebagai buruh di pabrik obat. Pekerja anak-anak di pabrik ini ada yang harus melakukan pekerjaan berat dan berisiko tinggi dari pagi hingga sore hari, padahal mereka dibayar harian dengan upah sangat rendah. Melihat kondisi ini, ditambah tekanan dari beberapa ‘preman’ pekerja dewasa di pabrik, Bayu pun memimpin kawan-kawannya untuk mengajukan tuntutan kepada bos pabrik. Mereka meminta jaminan kesehatan, upah yang layak, juga jemputan, karena anak-anak ini banyak yang harus berjalan kaki 15 kilometer menuju pabrik. Pasalnya, kalau naik angkutan umum, upah mereka bisa langsung habis. Sebegitu kecilnya memang upah yang mereka terima.

Dibantu seorang wartawan, perjuangan Bayu dan kawan-kawannya ini pun berhasil menjadi tajuk utama di koran dan membuat bos pabrik geram. Bayu dan kawan-kawan pun dipecat. Sisanya? Mungkin lebih baik baca sendiri novelnya supaya nggak spoiler ๐Ÿ˜€ (walaupun saya sempat cari di Google, tapi kok seakan-akan novel ini tidak pernah ada).

Terus kenapa tiba-tiba saya jadi ngomongin novel lama ini? Nggak apa-apa, sih. Kebetulan waktu lagi beresin buku di lemari itu saya juga nemu beberapa tumpuk buku yang dikirimkan untuk saya. Salah satunya sebuah novel remaja, kisah mengenai sekelompok anak SMU di mana karakter cowoknya membawa BMW Z4 Coupe ke sekolah dan karakter ceweknya punya rumah bagus dengan kolam renang besar.

Mungkin hidup memang sudah njomplang adanya, bahkan di dalam novel-novel remaja. Sementara dari tahun 1986 sampai sekarang, anak-anak seperti Bayu masih saja berjuang sekadar untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi. Apalagi untuk sekolah. Apa kabar dana BOS ketika siswa masih harus mengeluarkan uang bangunan, uang les, sumbangan sukarela wajib (suka rela kok wajib?), uang buku, uang piknik, uang perjalanan studi dan lain-lainnya yang akan berdampak kepada nilai tugas ketika tidak dibayar?

—————————————————————————–

– Jakarta, sore hari yang dingin. Laporan ILO menyatakan masih ada 1,7 juta pekerja anak di Indonesia.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Jika demikian, biarkanlah. Hati yang sudah pecah pun bisa dikumpulkan kepingannya. Lalu kepingan-kepingan berwarna-warni itu bisa ditempelkan pada sebuah stoples kue yang tutupnya sudah hilang, kemudian dijadikan vas bunga—untuk meletakkan seikat bunga matahari. Bunga-bunga itu akan nampak lucu, membuat ruangan yang paling suram sekalipun akan terlihat sedikit unyu.

Maka, jika kita adalah kata-kata, jadikanlah kita segala yang menghadirkan hangat. Seperti semangkuk ketupat dan opor ayam di atas meja.

– hari ini, tepat seminggu setelah Idul Fitri –

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Roopa Farooki, 2009 | 352 halaman

My name is Yasmin Murphy, and I don’t remember very much about the morning that my mum died, which is odd, as normally I remember everything. (The Way Things Look to Me)

Saya sudah membaca beberapa novel mengenai autisme, termasuk The Curious Incidents of The Dog in The Night Time dan The Boy Who Ate Stars. Tetapi The Way Things Look to Me-nya Roopa Farooki adalah novel yang paling menyentuh untuk saya.

The Way Things Look to Me berkisah mengenai dunia dari sudut pandang gadis berusia 19 tahun bernama Yasmin. Autisme (dalam hal ini Asperger’s Syndrome) membuat hidup yang mestinya sederhana menjadi rumit untuk seorang Yasmin. Benaknya yang sibuk menyerap informasi seperti spons menyerap air. Ia berkutat mengenai mana informasi yang penting untuknya dan mana informasi yang penting bagi ‘orang kebanyakan’. Ia ingin dipeluk dan merasa hangat, tetapi pelukan malah membuatnya panik.

Yang paling menarik dari The Way Things Look to Me adalah kenyataan bahwa dunia bukan hanya dikisahkan dari sudut pandang Yasmin saja. Tetapi juga dari Asif–kakak lelaki Yasmin yang ‘terlalu baik-baik’ dan Lila, kakak perempuan Yasmin yang sinis memandang kehidupan. Hidup bersama seorang adik yang autis ternyata punya dampak luar biasa terhadap perkembangan jiwa Asif dan Lila. Hingga dewasa, keduanya masih saja berkutat dengan rasa cinta dan benci terhadap Yasmin, yang sudah mengakar sejak mereka masih sangat kecil. Belum lagi, Asif dan Lila masih harus berbagi tanggungan: akan hidup mereka sendiri (yang bermasalah) dan kehidupan Yasmin.

Mengikuti perjalanan ketiga jiwa yang tersesat ini mencari kebahagiaan mereka masing-masing adalah perjalanan yang penuh dengan emosi. Bukan jenis emosi yang meledak-ledak, tapi emosi yang menyelinap diam-diam, sehingga saya bahkan tak sadar kapan tepatnya saya mulai menangis.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sebelum bertemu kamu, aku bahkan tak tahu bahwa aku punya sayap.

Something opens our wings
Something makes boredom and hurt disappear
Someone fills the cup in front of us
We taste only sacredness

– taken from Rumi’s Something Opens Our Wings, A Year of Rumi –

Kamu tidak mengajariku bagaimana caranya terbang. Kamu hanya mengajariku untuk percaya. Dan sisanya adalah masa lalu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Meraih reputasi baik itu sulit. Mempertahankannya lebih sulit lagi.

Soalnya, ketika kita sudah dikenal memiliki reputasi baik, orang punya ekspektasi lebih terhadap kita. Mereka berharap kita ‘sebaik’ reputasi yang sudah sering mereka dengar. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, jatuhnya kecewa.

Ini beda dengan orang yang punya reputasi buruk. Karena kita sudah mengetahui bahwa orang itu reputasinya buruk, maka kita tidak berharap. Kalau kinerjanya bagus, kita terkejut (eh, wah, kok kinerjanya bagus, padahal dengar-dengar reputasinya buruk); kalau kinerjanya buruk kita tidak kecewa (yah, memang reputasinya sudah buruk, nggak perlu berharap).

Sama dengan brand yang punya reputasi baik. Menjaganya setengah mati. Apalagi jika brand itu berkembang pesat. Semakin banyak orang yang terlibat di dalamnya, semakin sulit menjaga reputasi tersebut. Ibaratnya, semakin banyak yang bisa menjadi ‘nila setitik’—yang lantas akan merusak susu sebelanga itu. Demikian halnya dengan layanan taksi. Dari dulu sampai beberapa waktu lalu, layanan taksi yang paling baik itu lekat dengan si Burung Biru. Setidaknya untuk saya.

Belakangan? Tidak lagi.

Saya bisa berkata begini karena memang saya cukup kerap menggunakan jasa layanan taksi Burung Biru itu. Pasalnya, kantor saya juga berlangganan layanan taksi ini dan menyediakan voucher untuk pegawai-pegawainya.

Dulu, setiap kali naik Burung Biru, saya masih menemukan standar pengemudi yang sopan. Menyapa dengan selamat pagi/siang/sore/malam Pak/Bu, tersenyum, berkata argonya sudah dijalankan, lalu… apakah AC-nya cukup dingin atau tidak, tujuannya ke mana, dan lain sebagainya. Belakangan ini, pengemudi yang seperti itu termasuk jarang. Bahkan dari pengemudi bintang 1 (ketua grup). Banyak yang tidak mengucapkan salam sama sekali. Padahal pengalaman ‘sopan-santun pengemudi Burung Biru’ itu kan dirasakan begitu naik taksi dan duduk di jok. Kalau begitu masuk saja ekspektasi sudah tidak terpenuhi, rasanya ada yang kurang. Resiko sebuah brand yang sudah dikenal dengan reputasinya ya begini ๐Ÿ™‚ Harus dijaga supaya penumpang tidak kecewa.

Awal tahun ini saya merasakan kemerosotan layanan Burung Biru yang cukup signifikan. Dimulai dari semakin banyaknya pengemudi yang tidak tahu jalan, bahkan ke rute-rute yang cukup mudah seperti bandara atau Sudirman-Thamrin. Dulu, begitu naik taksi dan menyebutkan tujuan, jika si pengemudi tidak tahu jalan, dia akan berkata, “Aduh, maaf, Bu, saya masih baru, jadi belum tahu jalan, apa bisa ditunjukkan jalannya?” Ini masih jauh lebih baik daripada kebanyakan pengemudi Burung Biru sekarang yang sama sekali nggak bilang bahwa mereka nggak tahu jalan, kemudian di tengah-tengah salah belok dan baru nanya, “Eh, ini yang belok ke sini bukan jalannya, ya?” atau ngotot lewat jalan yang macet walau sudah diminta lewat jalan lain oleh penumpangnya. Ini sangat mengesalkan, apalagi di Jakarta, salah jalan sedikit saja bisa mengakibatkan terlambat setengah jam.

Layanan pemesanan lewat telepon juga semakin tidak ‘ramah’. Dulu, kalau dari siang sudah memesan taksi untuk pukul 5 sore dan ternyata mereka belum mendapatkan taksi yang bisa dikirim, pukul setengah 4 sore petugas pemesanan akan menelepon dan mengabarkan bahwa mereka belum bisa mendapatkan taksi. “Mau ditunggu atau bagaimana, Ibu?”

Ini jelas membantu, karena kita jadi bisa mengira-ngira transportasi lain apa yang bisa digunakan jika taksi tidak muncul tepat waktu. Belakangan ini, sudah berkali-kali saya kesal karena tidak dikabari jika taksinya tidak ada. Janjinya jam 5 sore, dan sampai setengah 6 belum ada taksi yang muncul di depan. Begitu ditelepon dan dicek kembali, barulah petugas layanan berkata, “Taksinya belum ada, Bu, mau ditunggu?” *aaarrgh!*

Tapi buat saya, hal-hal macam itu masih termaafkan. Yang berbahaya adalah ketika pengemudi taksi ketiduran di jalan dan membahayakan nyawa penumpang. Dalam beberapa bulan terakhir ini, sudah ada 6 (ya, ENAM!!!) pengemudi taksi Burung Biru yang ketiduran di jalan tol. Ini mengecewakan sekali.

Bukannya apa-apa, setiap kali memesan taksi lewat telepon pun, saya selalu mewanti-wanti bahwa saya akan menuju Bogor dari Jakarta; atau menuju Jakarta dari Bogor. Jika menghentikan taksi di pinggir jalan pun, saya selalu bertanya dulu sebelum naik, apakah sanggup membawa saya melintasi kota. Saya sadar perjalanan cukup jauh, apalagi jika disertai macet.

Saya ingat, dulu pun saya pernah menaiki taksi yang pengemudinya mengantuk di jalan. Tetapi pengemudinya berkata pada saya, “Bu, maaf, saya agak ngantuk ini, apa kira-kira boleh menepi sebentar untuk cuci muka?” Wah, buat saya ini patut diacungi jempol. Tentu boleh! Saya hargai bahwa pengemudi mengakui bahwa dia mengantuk, dan daripada membahayakan nyawa saya dan dia, menawarkan berhenti sebentar. Setelah merasa sedikit segar, baru melanjutkan perjalanan lagi.

Tetapi belakangan ini, yang terjadi justru sebaliknya. Saya merasakan mobil mulai bergoyang kiri-kanan tidak fokus, lalu melihat dari kaca bahwa pengemudi sedang terkantuk-kantuk. “Pak, kalau ngantuk berhenti dulu aja, nanti lanjut lagi.” Pengemudi berkata, “Nggak kok, nggak apa-apa.” Lalu beberapa menit kemudian dia terkantuk-kantuk lagi dan semakin tidak fokus menyetir. Saya harus melihat kiri-kanan dan berkata “Pak, awas kiri! Awas kanan! Pak, rem!!!”

Buat saya ini menjengkelkan. Mengecewakan. Dan membahayakan. Puncaknya Jumat lalu, ketika pengemudi taksi sudah saya tegur 2 kali karena mengantuk dan saya minta untuk berhenti dulu dan cuci muka, tapi tidak mau. Jadilah di kilometer 30-an kami nyaris terserempet mobil besar dari arah kanan. Pengemudi baru menghindar ketika saya bilang, “Pak, awas!!!”

Di situ saya marah dan berkata,”Pak, berhenti! Minggir sekarang! Sekarang juga! Sebelum kenapa-kenapa!”

Begitu berhenti di pinggir jalan, pengemudi itu berkata,”Saya turun sebentar cuci muka ya, Bu.”

HOOOOIIII, yang bener aja! Bukannya dari tadi udah diminta begitu, yaaa -____-

Saya mengerti mengantuk itu manusiawi. Saya juga tidak akan protes kalau pengemudi bilang bahwa ia mengantuk dan butuh istirahat sebentar. Justru mereka yang tidak bilang dan tetap nekat membawa mobil meski sudah disuruh istirahat itulah yang membuat saya jengkel bukan main. Konsentasi menyetir pasti buyar jika dalam keadaan mengantuk, dan ini sangat membahayakan!

Sebenarnya yang membuat saya lebih kesal lagi, ini jalan tol. Kalau di jalan biasa sih saya akan memilih turun di pinggir jalan dan mengambil taksi lain daripada membahayakan nyawa sendiri. Kalau di jalan tol, saya bisa apa? Apalagi Exit satu dengan yang lain terkadang cukup jauh, sehingga kalau mau keluar tol pun masih harus menunggu cukup lama. Pertanyaan saya, karena cukup seringnya saya menemukan pengemudi yang ketiduran ini, apakah memang sebegitu panjangnya jam kerja di Burung Biru sehingga mereka begitu keletihan? Atau bagaimana? Karena dari 6 kali pengalaman pengemudi yang ketiduran, 1 kali terjadi pada siang hari, lho. Dan bukan malam hari. Apakah perlu ada perhatian khusus mengenai hal ini dari manajemen Burung Biru?

Dan karena sudah 6 kali mengalami hal semacam inilah, saya memutuskan kapok menggunakan layanan Burung Biru. Mungkin masih bolehlah jika untuk jarak dekat. Tapi untuk jarak jauh saya lebih baik menggunakan jasa layanan taksi lain (yang setelah dicoba ternyata malah lebih baik layanannya ketimbang Burung Biru, dan pengemudinya tidak ketiduran).

Saya tidak mengatakan bahwa semua pengemudi Burung Biru tidak ada yang baik. Ada juga yang masih menjaga reputasi Burung Biru, bahkan saya jadikan langganan ๐Ÿ™‚ Mungkin juga di luar sana masih banyak orang yang punya pengalaman baik dengan Burung Biru. Tetapi tidak dengan saya. Bukan saya. Saya enggan ‘deg-deg plas’ dalam perjalanan panjang menuju Bogor dan harus berteriak-teriak mengawasi jalanan sambil menyenteri pengemudi dengan cahaya handphone agar saya bisa melihat apakah dia sedang ketiduran.

Entahlah, apakah hanya saya saja yang merasakan bahwa layanan Burung Biru mulai menurun?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeโ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP