Kita masih mencoba untuk saling mengerti satu sama lain, dan saya rasa akan seterusnya begitu. Semua ini adalah proses yang terbungkus waktu. Lama atau sebentar adalah sesuatu yang relatif; tetapi saya rela menghabiskan seluruh hidup saya untuk lebih mengerti dirimu.

Saya tahu, masih ada begitu banyak perbedaan di antara kita; meski tak sesering dulu kita berselisih paham. Memang ada masa-masa sulit itu, seperti bertahun-tahun lalu, ketika kita belum tahu bagaimana cara membuat yang lain mengerti selain dengan berteriak dan membanting pintu. Ada saat-saat ketika kita kehilangan kesabaran dan terpaksa membuat yang lain menjatuhkan butiran panas air mata. Yang membakar sampai ke hati.

Tetapi tahun-tahun belakangan, kita telah belajar untuk bertengkar dalam diam. Menyingkir sebentar untuk berpikir dan menenangkan diri agar tak perlu melakukan perbuatan atau mencetuskan perkataan yang akan membuat sakit hati. Perdebatan masih sering terjadi, karena sudut pandang kita terhadap berbagai hal sering bertolak belakang. Namun belakangan semuanya lebih sering kita akhiri dengan tawaran, “Mau dibikinin kopi, nggak?”

Dan kita pun akan menyingkir ke dapur yang nyaman, duduk di lantai sambil menikmati dua cangkir kopi dan potongan-potongan singkong goreng sambil berbincang tentang apakah besok pagi kita akan membuat sambal tempe atau sambal goreng, dan apakah dua bungkus kerupuk kampung putih isi 6 dengan irisan daun jeruk tipis-tipis yang kita sukai itu sudah habis hanya dalam sehari. Kemudian memutuskan bahwa enak sekali merebus Indomie kari ayam dengan potongan caisim, dan sambal cap Jempol banyak-banyak. Semangkuk berdua saja cukup untuk kita. Kita tidak lapar, hanya kepingin 🙂

Di luar semua perbedaan yang kita miliki, kita begitu mengenal satu sama lain sehingga hubungan kita nyaris menyerupai telepati. Entah bagaimana kau tahu apa yang ingin saya makan hari ini, meski saya tak pernah menyinggungnya. Kau tahu jika saya akan pergi pada akhir minggu, atau jika saya tidak jadi pergi–meski saya belum mengatakan apa-apa. Terkadang saya bertanya-tanya dalam hati di mana gunting kuku itu, kemudian tiba-tiba saja kau berseru, “Gunting kuku ada di meja kaca tiga.”

Hubungan kita berkembang begitu rupa, sehingga semua tahun-tahun sulit antara kita, yang terekam dalam buku-buku harian saya, nyaris terasa seperti mimpi saat ini. Saya tak yakin mengapa hubungan kita tak seperti ini dulu. Tapi mungkin kita berproses. Bukan hanya dirimu yang berproses, tetapi saya juga. Kita berkembang bersama. Saya semakin mengerti dirimu; begitu pula sebaliknya.

Jadi, saya harap, tahun-tahun sulit di antara kita, yang sudah hampir 8 tahun berlalu, akan selamanya menjadi sejarah.

Dan kita bisa menikmati lebih banyak lagi waktu-waktu seperti ini bersama: menggulung rambut, mengecat kuku, mengobrol di teras sambil merendam kaki di kolam ikan, menonton televisi, tidur-tiduran berdua sambil menatap langit-langit dan menceritakan lelucon-lelucon aneh dan gosip-gosip yang kau dengar dari tayangan infotainment, lalu lagi-lagi menyeruput kopi berdua ditemani sestoples biskuit…

Ya, ternyata kita punya banyak kesamaan. Kau juga suka kopi. Dan hujan. Dan makanan enak. Kau juga tergila-gila pada buku cerita dan musik. Ya, kau yang meminta saya membeli CD Tompi, Gwen Stefani, dan Kahitna. Kau suka Andra, Tiesto, Fort Minor, dan MIKA, dan gemar menyetelnya keras-keras di pagi hari. Kau yang membuat saya ikut jatuh hati pada lagu-lagu lama Simon & Garfunkel, BeeGees, Connie Francis, dan lagu-lagu lawas yang dinyanyikan kembali oleh Emi Fujita.

Kau tahu apa-apa yang sedang trend saat ini. Kau yang membelikan cat rambut warna ungu dan merah tua, kemudian mengecat rambut saya dan berkata, “Duh, masih kurang merah, ya, warnanya? Kurang ekstrim…”

Kau juga yang menyiapkan teh hangat dan bubur ayam ketika pada beberapa kesempatan yang lumayan jarang saya pulang pada pukul 5 pagi selepas clubbing. Dan kau akan bertanya, “Gimana, rame nggak?” dan “Ada siapa aja di sana?” lalu mengikuti saya ke kamar ketika saya hendak lelap di tempat tidur, dan kita ber-haha-hihi sebentar sebelum saya memasuki alam mimpi (saya tak pernah kuat begadang di luar, karena saya sangat suka tidur. di rumah, saya selalu punya banyak ransum untuk begadang, termasuk cemilan, kopi, dan selimut…).

Kita sama-sama menyukai Desta Club Eighties, body butter BodyShop, juga gorengan dan batagor di pabrik tas. Kita juga tak pernah bosan menonton tayangan ulang Ujang Pantry 1 & 2 yang dibintangi Ringgo Agus Rahman dan Dina Olivia, kalau tak salah sudah 3 atau 4 kali. Kita sama-sama tak tega melihat tayangan film dokumenter kehidupan hewan-hewan jika di dalamnya ada adegan binatang yang tengah diburu pemangsa. Sebelum tayangan itu memperlihatkan si pemangsa berhasil menerkam korbannya, kita sudah cepat-cepat memindahkan saluran agar tak perlu menyaksikan adegan seram itu.

Ya. Pada akhirnya, melalui sebuah proses yang panjang, kita mengerti bahwa di satu sisi, ada begitu banyak persamaan di antara kita–lebih dari apa yang kita kira. Dan kita juga mulai mengerti bahwa di sisi lain, kita memang begitu berbeda–tapi kita memang tak kuasa untuk tidak bersama.

Pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu kata:

Cinta.

………………………………..

*)Happy birthday, Mom!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Tentunya para pengacara bisa dikategorikan dalam kategori orang-orang tersabar di Indonesia. Bagaimana tidak. Jadwal pengadilan tak bisa ditebak. Menunggu selama 3 jam dan bersidang hanya dalam 5 menit. Atau menunggu 2 jam dan bersidang selama 2 jam. Atau bahkan tak sempat menunggu karena sidang yang dijadwalkan jam 1 tiba-tiba maju menjadi jam 12…

Melangkahkan kaki keluar dari Pengadilan Negeri yang pengap, terik matahari siang dan asap knalpot membekap nyali saya dan seorang kawan untuk menyetop taksi. Satu menit. Tiga taksi yang tengah membawa penumpang lewat di depan mata. Dua menit. Dua taksi. Masih berpenumpang. Lima menit. Tak juga nampak tanda-tanda taksi yang bisa ditumpangi. Kulit terasa panas. Sepatu tak terlalu efektif menahan hangatnya aspal yang tengah dipijak.

“Ayo kita jalan ke mall sebelah. Pasti ada taksi di sana. Dan lebih teduh menunggunya,” saya menyarankan.

“Yakin di sana ada taksi? Jalannya lumayan juga… di sini biasanya lewat taksi, kok,” teman saya menyahut.

“Tapi pastinya lebih besar kemungkinan taksi berhenti di depan mall dan menurunkan penumpang daripada taksi berhenti di depan pengadilan dan menurunkan penumpang…”

“Hmm, gimana ya…”

“Jalan ke mall, nggak?”

“Menurut insting lo gimana?”

Hmm. Saya terdiam selama sepersekian detik sebelum menjawab: “Jalan ke mall. Ada taksi di sana.”

Maka dua perempuan ini pun berjalan cepat-cepat menuju mall dekat situ, dan tertawa terbahak-bahak melihat antrian 3 sampai 4 taksi kosong di sana.

Insting.

Apakah ini sebuah pengingat? Kapan terakhir kali saya melakukan sesuatu berdasarkan insting?

Masuk ke dalam taksi dan bergerak menuju salah satu hotel di kawasan Gatot Subroto–kami terperangkap kemacetan selama beberapa waktu.

“Mbak, ada yang mahir Bahasa Inggris tidak?” tanya Pak Pengemudi berinisial I tiba-tiba.

“Memang kenapa, Pak?”

“Ini, saya mau minta bantuannya. Saya punya SMS, dalam Bahasa Inggris. Saya tidak tahu artinya…”

Pak Pengemudi pun menyodorkan telepon genggamnya dan memberikan SMS yang dimaksud. Kira-kira bunyinya dalam Bahasa Indonesia seperti ini:

Bahkan ketika saya bahagia, saya masih merasa kesepian. Saya harap kamu baik-baik saja. Cobalah untuk tidur.

Dan satu lagi:

Kamu tahu saya sedang tidak ada di Jakarta. Tapi saya akan kembali minggu depan.

Pak Pengemudi pun bercerita bahwa SMS itu ia temukan di dalam telepon genggam mantan kekasihnya. Mantan–karena sang kekasih memutuskan untuk pindah ke lain hati. Ke pelukan pria asing. Maka Pak Pengemudi pun menyimpan beberapa SMS antara si mantan kekasih dan pria asing itu; yang ditulis dalam Bahasa Inggris, untuk mencari tahu apa artinya.

“Salah nggak sih, saya?” tanya Pak Pengemudi. “Melepaskan kekasih saya untuk pria lain? Tapi saya hanya ingin dia bahagia. Saya ikhlas. Tapi tak rela…”

Ikhlas. Tapi tak rela. Bisa, ya?

Setelah masalah insting itu, apakah ikhlas tapi tak rela ini juga sebuah pengingat untuk saya? 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Mendapat informasi ini dari milis sebelah.

Dear All,

Pemilihan 7 keajaiban milik dunia kembali digelar, berbeda dengan kriteria sebelumnya dengan keajaiban yang dibuat secara sengaja oleh manusia dalam bentuk bangunan, kali ini panitia mengajak dunia untuk
memilih 7 keajaiban baru milik dunia yang bukan dari buatan manusia.

Sudah terpilih sebanyak 77 tempat di seluruh dunia dari berbagai kategori, dan Indonesia mengajukan atau setidaknya sudah terpilih sebanyak 3 tempat eksotik, antara lain:

1. Komodo National Park
2. Krakatau, Volcanic Island
3. Lake Toba

Voting dilakukan melalui internet, dengan batas waktu sampai akhir 2008! Setiap pemilih (menggunakan id email) harus memilih 7 tempat nominasi, pilih 3 tempat di Indonesia dan 4 tempat lain yang tidak masuk dalam 77 besar nominasi agar peluang tempat Indonesia semakin besar. Gunakan semua email yang kita punya untuk memilih.

VOTE for INDONESIA di sini.

Ranking sementara 7 Juni 2008

19. Komodo National Park , National Park INDONESIA – Asia
35. Krakatau, Volcanic Islands INDONESIA – Asia
36. Lake Toba INDONESIA – Asia

Ranking sementara 3 Juni 2008

30. Komodo National Park , National Park INDONESIA – Asia
56. Krakatau, Volcanic Islands INDONESIA – Asia
57. Lake Toba INDONESIA – Asia

Indonesia mungkin akan kalah dari negara lain, bahkan negara kecil yang mengajukan tempat yang tidak terlalu menarik, hanya karena negara tersebut lebih melek internet ( Singapore contohnya, yang mengajukan Bukit Timah Nature Reserve). Dan yg lebih menyedihkan lagi, pulau Sipadan juga termasuk dlm nominee yg diajukan oleh Malaysia .

Brazil misalnya, pemerintahnya menyediakan fasilitas gratis untuk masyarakatnya yang tidak punya akses internet agar bisa ikut memilih untuk negaranya.

Karena itu, ayo bantu sebarkan informasi dan ajakan ini!

Saya sudah milih! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ujung kuku saya putih susu, dulu saya tak suka dan menginginkan ujung kuku yang bening. Tetapi sekarang saya suka, karena semua orang mengira saya baru melakukan French manicure. Iklan Teh Botol yang baru menurut saya aneh dan agak maksa. Anak lelaki kecil di iklan Rinso nggemesin banget. Talent coordinator-nya nemu di mana? Wajahnya lucu sekaligus nyebelin, mirip Ringgo Agus Rahman. Rok batik saya sudah lama nggak dipakai. Tapi sekarang semua orang pakai batik. Saya jadi malas. Ada iklan lulur, “Kok cantik banget (atau apa persisnya entah), pasti pakai susuk.” Hmm, khas. Indonesia banget. Kopi instan dicampur susu cokelat cair itu enak sekali. Hah, masih ada dua kotak sereal dan sekardus susu putih di atas meja kantor. Infotainment ribut perihal lamaran Lembu-Masayu. Duh, telat banget ketimbang blogtainment 😀 Eva, anaknya Sophia Latjuba sedang dekat dengan penyanyi Afghan. Kalau saya perhatikan Afghan agak mirip Indra Lesmana. Aneh. Or maybe it’s just me. Senang dengan body lotion Apple-nya BodyShop diskonan yang baru. Bicara soal Apple, nampaknya saya harus membeli batere iBook baru. Akhirnya bocorrr sudah setelah 2 tahun dan cycle count mencapai 625. Mungkin kalau ke Ratu Plaza bisa sekalian beli webcam. Novel The Space Between Us-nya Thrity Umrigar dan The Highest Tide-nya Jim Lynch ternyata bagus sekali. Eron Lebang itu ganteng, ternyata. Tampangnya agak bandel. Saya suka gayanya. Dulu ada seseorang yang sempat bilang pada saya bahwa dia mau meminjamkan Olenka-nya Budi Darma. Siapa yang berkata itu saya lupa. Ada Tom Hanks dan Julia Roberts di Oprah. Ah, Tom Hanks. Plurk itu lucu dan aneh, apalagi desainnya. Begitu sampai di sana ternyata bertemu dengan kelompok orang yang itu-itu juga 😀 Obama akan memenangkan pilpres Amerika.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

“The composition’s central axis is a grandfather clock without hands—it is as if, in the oasis of the artist’s studio, time were suspended.”

– keterangan dari lukisan Matisse, THE RED STUDIO.

Ternyata hidup selalu menyimpan jejak-jejak dari masa lalu. Terkadang, ketika hidup tak lagi punya cukup ruang dan waktu untuk menampung semuanya; sebagian jejak itu tertumpah ke masa kini. Menyibak memori. Persinggahan sekejap untuk mencumbui kenangan; dan ia ingat.

Ia ingat waktu-waktu yang dihabiskannya untuk menunggumu. Lama bagi yang melihat, namun ia seperti tak merasa. Benar apa kata Einstein. Waktu itu relatif.

Ia merasa seperti berada di sebuah bandara. Hanya berada di sana tapi tak sungguh-sungguh hendak naik ke atas pesawat. Iri melihat orang-orang yang lalu-lalang dengan paspor, tiket, dan troli di tangan, langkah-langkah pendek dan sapa dalam bahasa yang tak bisa ia terka.*

Semua orang nampak benar-benar tahu ke mana mereka harus menuju.

Tidak seperti dirinya, yang hanya duduk di sana memandangi mereka semua; orang-orang yang berseliweran di sekitarnya; tanpa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya bisa ia dapatkan dari duduk di sana selama itu, menunggumu, yang entah kapan akan datang.

Ribuan hari bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar, dan kakinya mulai kesemutan. Ya, rupanya ia sudah mulai bisa merasa. Detail-detail bandara ini juga sudah begitu lekat dalam ingatannya. Ia bosan. Ia ingin tahu apa yang ada di luar. Ia ingin pergi ke Museum of Modern Art dan memandangi lukisan The Red Studio-nya Matisse. Atau ke Laweyan dan melihat orang-orang membatik, seperti dalam novel Canting-nya Arswendo.

Mencari sesuatu yang lain, yang belum pernah ia tahu. Memesrai kejutan.

Lalu ia teringat film The Terminal-nya Tom Hanks (ia suka film itu–tepatnya, ia suka Tom Hanks dan semua film yang dibintangi aktor itu), kemudian menyadari bahwa bahkan seorang Tom Hanks tak bersedia terkurung dalam sebuah bandara selamanya.

Keesokan harinya, ia memutuskan untuk menukarkan sekeping hatinya dengan selembar tiket sekali jalan.

*dari komentar Wazeen.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

drain the veins in my head, clean out the reds in my eyes to get by security lines. dear x-ray machine pretend you don’t know me so well, i wont’ tell if you lie.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Ya, kamu masih bercerita tentang bandara yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu. Yang belakangan lebih sering terendam banjir. Yang toiletnya jorok dan becek, dan gulungan tisu-nya hampir selalu kosong.

Lelaki itu tertawa ketika kamu meneruskan cerita yang kamu dengar dari seorang pembawa berita keturunan Hawai. Bahwa seorang pria asing dari negeri yang jauh pernah mendarat di bandara yang sama, pergi ke toilet yang kamu benci itu, dan tak dapat menemukan selembar tisu pun. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengelap pantatnya dengan lembaran uang ribuan.

Tetapi kamu bilang, cerita itu sebenarnya tidaklah terlalu lucu.

cry, cause the droughts been brought up, drinkin’ cause you’re lookin so good in your starbucks cup. i complain for the company that i keep the windows for sleeping rearrange. well i’m nobody. well who’s laughin now.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Tempat di mana orang-orang berpisah begitu saja, dan tak bisa kembali lagi dalam sekejap jika ada yang terlupa. Tak apa jika sekadar barang yang tertinggal, tetapi jika hati yang tersia? Akan lebih repot jadinya. Apalagi jika kau sudah memutuskan akan pergi bertahun-tahun lamanya.

Kau tak akan bisa mengejar dengan berlari; atau memanjat naik ke atas atap seperti yang biasa terlihat di perlintasan kereta. Kau berani bertaruh nyawa, tersambar kawat-kawat listrik dan gosong di sana, tapi tak bisa kau lakukan itu di bandara. Tak bisa. Ya, tak bisa di bandara. Kecuali jika kau punya sayap.

(“Dan haruskah kutambah lagi dengan cerita tentang pesawat-pesawat yang jatuh, terbakar, atau meledak. Masih tak cukup sedih untukmu?”)

i’m leaving your town again, and i’m over the ground that you’ve been spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. well honey i can see your house from here. if the plane goes down, damn. well i’ll remember where the love was found. if the plane goes down, damn…

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Lelaki itu pernah menemukan tulisan-tulisanmu secara tidak sengaja, dengan goresan pensil yang berubah dari runcing menjadi tumpul. Draft-draft kasar di dalam sebuah buku tulis kecil:

Tentang seorang perempuan yang bekerja di sebuah toko buku kecil di bandara; yang setiap hari berdoa agar suatu hari nanti ia dapat naik ke atas sebuah pesawat dengan tiket sekali jalan tergenggam di tangan.

Tentang seorang lelaki yang baru saja kehilangan cincin kawinnya–yang tak sengaja tercemplung ke dalam mangkuk toilet di bandara.

Tentang hubungan yang ganjil antara seorang pemuda penjaga kedai kopi dengan artis muda yang selalu terbang menuju Denpasar setiap akhir bulan.

Tentang seorang perempuan yang bekerja di call-centre sebuah maskapai penerbangan pada pagi hari, dan menerima telepon untuk hotline layanan kencan pada malam hari.

Tentang sepotong masa lalu yang memicu pertengkaran antar sepasang kekasih dalam penerbangan mereka menuju lokasi berbulan madu.

Juga tentang seorang perempuan di konter check-in yang suka menyelipkan pesan-pesan di antara tiket-tiket dan halaman-halaman paspor beberapa orang penumpang.

Kini lelaki itu tahu betapa bandara memang merupakan tempat yang paling sedih di dunia. Setidaknya di duniamu yang tak pernah bisa ia mengerti sepenuhnya.

gracefully unnamed and feeling guilty for the luck and the look that you gave me. you make me somebody, oh nobody knows me. not even me can see it, yet i bet i’m… i’m leaving your town again. and i’m over the ground that you’ve spinning, and i’m up in the air, said baby hell yeah.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Kalian mulai kerap duduk berdua selama berjam-jam, di tempat yang berbeda-beda setiap kalinya. Kamu menyesap kopi hangat pelan-pelan, dan lelaki itu mengamatimu dari kejauhan. Tak ingin merusak ritualmu. Ia sering berkata bahwa kamu sangatlah beruntung karena dapat berkontemplasi hanya dengan perantaraan secangkir kopi.

Lelaki itu menikmati cerita-ceritamu tentang bandara. Namun terkadang, kamu tak berkisah tentang bandara. Kamu hanya diam, memandang satu titik yang tidak kelihatan di kejauhan. Kamu memang selalu merasa nyaman berada dalam diam, tak berpikir. Mungkin sama nyamannya seperti ketika lelaki itu mengamatimu menyesap kopi.

Kamu suka lelaki itu duduk di sampingmu. Menemanimu dalam diam.

Tetapi lelaki itu tak tahu pasti bagaimana mesti bersikap. Ia merasa tak nyaman berlama-lama diam. Ia pikir, seharusnya ia melontarkan lelucon yang bisa membuatmu tertawa. Atau bercerita tentang sesuatu yang bisa menarikmu keluar dari dalam diam.

Untuk lelaki itu, diam adalah depresi. Tetapi untuk kamu, diam adalah afeksi.

and i’m over the ground that you’ve spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. well honey i can see your house from here. if the plane goes down, damn. i’ll remember where the love was found. if the plane goes down, damn, keep me high minded. you keep me high.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Hingga suatu hari, tiba saatnya di mana kamu telah merasa begitu nyaman berada di sisi lelaki itu, hingga kamu tak lagi ingin bercerita–bahkan tentang bandara. Kamu hanya ingin mengajak lelaki itu untuk diam dan bermain dengan rasa.

Tak mudah merasa nyaman berdiam diri berlama-lama dengan seseorang. Tetapi dengan lelaki itu, kamu merasa bisa diam selamanya. Kamu pikir, akhirnya kamu telah menemukan seseorang yang telah lama kamu cari-cari itu…

flax seeds, well they tear me open, and supposedly you could crawl right through me. taste these teeth please, and undress me from the sweaters. better hurry, cause i’m keeping upward bound now. oh maybe i’ll build my house on your cloud.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Aku tak tahu mengapa kamu memutuskan untuk bercerita kepada lelaki itu, dan bukan padaku. Aku tak pernah tahu perihal pria asing yang mengelap pantatnya dengan lembaran uang ribuan itu. Kamu tak pernah menceritakannya padaku, padahal aku selalu bisa kamu hubungi kapan saja kamu mau.

Aku juga tak tahu mengapa aku belum pernah melihat draft-draft tulisanmu itu, yang terlarang bagi mereka yang tidak berkepentingan. Bertahun-tahun lamanya, dan aku tak pernah melihatnya. Aku bahkan baru tahu bahwa kamu menganggap bandara sebagai tempat paling sedih di dunia.

What did I miss?

here i’m tumbling for you. stumbling through the work that i have to do. don’t mean to harm you by leaving your town again, but i’m over the quilt that you’ve been spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. oh honey i can see your house from here.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Aku ada di sana, sekarang. Di bandara-mu itu. Menunggu penerbangan terakhir yang akan membawaku pulang. Kata yang aneh, bukan? Pulang. Karena pulang berarti sebuah tujuan. Sedangkan aku tak merasa kembali pada sesuatu yang pernah kutinggalkan suatu saat dulu.

Tak ada yang menungguku. Tidak juga kamu. Tidak kamu yang bercerita, apalagi kamu yang diam.

…………………………..

diiringi lagu Plane-nya Jason Mraz, lirik dalam tulisan-tulisan yang dicetak miring.
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Setelah kabar mengenai penipuan yang mengatasnamakan Pesta Blogger 2008, kali ini kembali ada update terbaru di blog resmi Pesta Blogger.

Bukan, yang ini bukan perihal penipuan, tetapi tentang ‘hajatan’ para blogger yang kabarnya akan berlangsung bulan Oktober mendatang, menjelang peringatan Hari Blogger Nasional (Hablona) pada 27 Oktober.

Ya, Pesta Blogger 2008 mulai menggelinding perlahan…

Enda Nasution, selaku chairman Pesta Blogger tahun lalu, sempat menyatakan keinginannya agar Ndoro Kakung “turun gunung” dan menjadi chairman untuk Pesta Blogger tahun ini. Menarik! 😀 Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Sementara ini, dapat dibaca komentar-komentar seputar pencalonan Ndoro Kakung menjadi chairman Pesta Blogger 2008 di sini.

Bagi yang hendak berkomentar atau memberi saran mengenai kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di Pesta Blogger tahun depan, silakan mampir ke http://pestablogger.com/.

Juni. Juli. Agustus. September. Oktober. Siap-siap dulu, ah 😀

Keterangan: Gambar kaos dipinjam dari sini, foto ndoro kakung diambil dari arsip Pesta Blogger tahun lalu, dan gambar artikel koran adalah artikel dari The Jakarta Post mengenai Pesta Blogger 2007.
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Menjelang sore, saya menerima sebuah bingkisan dari para “chickens” yang dititipkan kepada seorang teman:

The two chickens were on a serious mission: to find a birthday gift for a certain female human that, they say, “simply understands. Chick-a-boo: hint: this is a high praise coming from the chickens.

The chickens decided to go for a common passion: books. So the chickens searched high and low, beat the bushes, ruffled their feathers everywhere, annoyed everyone that crossed their paths, to find the right books for human. Chick-a-boo: translation: one quick visit to the neighboring Chiknokuniya. But I supposed that is challenging given the size of the chickens, not to mention the fact that the chickens need to cross the road–to get to the other side…

The Chicken, which is much more logical and claimed himself as superbly intelligent, picked the practical get-to-know art book. He said, “Knowledge is the most important prerequisite to success.”

The softer and more sympathetic Yellow Chickey differs silently. She chose the book on interviews with writers. “Learn from others’ experience,” she whispered. “We don’t have enough time to learn everything ourselves. And it’s nice to know that there are others like us.” Chick-a-boo: Let’s just skip the trouble of choosing and give both.

To their credits, the two chickens have chosen well. Both books make up a good combination. A kind reminder to the birthday human that her dreams are much closer than she thinks. A gentle nudge of soft feathered chicken wing to her whenever she is being her mellow-self that she always has friends–the books and the chickens too!–whenever the big girl feels alone in this big big world. Chick-a-boo: Yeah yeah bla bla. Enough. It is not a big big thing. Give the chickdee a break and let her enjoy her day.

At the end of day (as the sun sets and the chickens’ eyes get a bit blurry), the chickens get together, sing the human a birthday song, and wish her a life full of simple happiness and love. CHICKEN FLOCK HUGS!!! Chick-a-boo: Happy birthday! Never ever be afraid to BE A CHICKEN. And be a damn good chickeny chickerous one. Shake the feathers that your mama has given you, while you still have them.

Terima kasih, Chickens! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dua puluh lima bukan perayaan. Bukan juga perenungan.

Dua puluh lima seperti hujan; yang meski sudah berkali-kali turun tak bosan juga ia pandangi dan nanti-nanti. Seperti secangkir kopi. Sesuatu yang terasa akrab dan apa adanya, seperti piyama lamanya, yang sudah tak jelas lagi warna aslinya, tetapi selalu membuatnya merasa bisa tidur jauh lebih nyenyak ketika mengenakannya.

Dua puluh lima tak menggantungkan harapan, tidak juga penyesalan.

Dua puluh lima seperti pagi dan matahari, kaos katun, celana pendek dan sepatu kets atau sendal jepit, rambut yang basah dan harum sehabis keramas, juga segelas jus jeruk di atas meja. Sesuatu yang begitu sehari-hari namun belakangan mulai coba ia nikmati, sebagai salah satu caranya membuka diri terhadap semua yang hidup tawarkan pada setiap hirup dan hembus nafasnya.

Dua puluh lima tak menyambutnya dengan derai tawa, juga air mata.

Dua puluh lima menawarkan masa lalu dan masa depannya sebagai pilihan, tetapi ia memilih untuk berkonsentrasi pada masa kini dan semua yang mengelilinginya seperti titik-titik embun yang menyimpan momen-momen kecil. Momen-momen yang ia reguk tanpa banyak bertanya, atau berpikir.

Wafel dengan cokelat cair, stroberi, dan es krim vanila serta serangkaian permainan-permainan aneh dan ledakan tawa di Timezone malam sebelumnya. Susu cokelat dingin, mandi berlama-lama, menggosokkan scrub Africa Spa Salt di atas kulitnya yang lembap, mencuci rambut, dan membaluri diri dengan lotion stroberi pada pagi hari, mem-blow rambut di kamar sambil menonton America’s Great Hair Cut-nya Oprah. Membalas beberapa pesan yang mampir di telepon genggamnya…

Lalu melompat ke atas tempat tidur, melakukan koneksi ke internet, dan membaca kembali sebuah bingkisan manis yang diterimanya lebih awal dari seorang teman. Ia tersenyum lagi ketika mengenali masa lalunya dalam bingkai-bingkai kata itu:

“Ah, saat ini si lelaki tengah tersipu dengan segala perasaannya terhadap perempuan itu, sambil berusaha keras menyeduh secangkir kopi untuknya. Hanya ada rumus 3:1 dalam benaknya kala menyendok serbuk kopi dan gula dari tempatnya. Ia bahkan tak tahu harus mencampurnya dengan apa lagi, atau berapa putaran sendok yang harus ia lakukan agar tercipta secangkir kopi sempurna di malam yang luar biasa ini. Lihat, di luar hujan begitu deras, dan ia tahu perempuan itu teramat sangat menyukainya. Ya, mereka sedang melakukan upacara perayaan untuknya. Para prajurit air langit yang selalu dirindukannya itu tengah bersuka cita melipurnya, selayak sahabat dan orang-orang terdekatnya yang turut berbahagia atas sebuah momentum istimewa: malam menjelang usia 25-nya kini.”

Sebuah bingkisan tentang dirinya dalam secangkir masa lalu.

Tetapi dua puluh lima adalah sepotong doa. Bukan untuk masa depan. Bukan untuk masa lalu. Bukan untuk harapan-harapannya, impian-impiannya, atau kebahagiaannya.

Dua puluh lima adalah sepotong doa mengenai rasa. Rasa syukur. Tak ada yang ingin ia minta–setidaknya untuk saat ini. Karena ia sedang ingin mencoba untuk menikmati semua. Dan menikmati semua ternyata membuatnya bahagia.

Ia tahu, masih banyak yang akan menunggunya di depan dua puluh lima; dan ia akan jalani saja satu-satu, seperti PacMan menelan titik-titik yang bertebaran di layar dan menghindari hantu-hantu. Bersenang-senang. Bermain-main

Dua puluh lima adalah sebuah permainan baru. Ia hendak belajar aturan mainnya, dan menikmatinya sesuka hati.

Let’s play! 🙂

Update (01/06/08): Tak ada yang lebih mengasyikkan daripada menghabiskan hari berikutnya dengan menikmati buku-buku bacaan baru…

Update (02/06/08): Kaos kelinci lucu untuk menjelajahi museum Sabtu ini, juga mug besaaar–mungkin agar ia lebih rajin minum air putih.

Thank you! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP