Lelaki itu selingkuh.

Alasannya? Perempuan kekasihnya akan dijodohkan dengan lelaki lain; dan si perempuan setuju-setuju saja, pasrah menerima. Si lelaki sakit hati. Dan di tengah kegalauannya, ia berselingkuh dengan perempuan lain yang tiba-tiba hadir lewat perkenalan yang diatur seorang kawan.

Beberapa waktu berselang, si perempuan menyesali keputusannya dan memutuskan untuk tidak menerima perjodohan itu. Ia ingin kembali pada lelakinya. Maka, kini giliran si perempuan yang sakit hati ketika mengetahui bahwa lelakinya telah berselingkuh dengan perempuan lain selain dirinya.

Si lelaki menyesal. Begitu juga si perempuan. Si lelaki ingin kembali, tetapi si perempuan terlalu sakit hati untuk menjalin cinta dari awal lagi.

Setahun berlalu dan si lelaki masih menunggu. Berharap si perempuan memberinya satu kesempatan lagi. Kesempatan yang ditunggunya tak juga datang hingga saat ini. Tetapi setidaknya lelaki itu berjanji untuk tidak selingkuh lagi. Karena jarang sekali sebuah kesempatan hadir dua kali.

Baru-baru ini, si lelaki bertemu dengan perempuan lain yang bisa membuatnya percaya lagi akan cinta. Dan kebimbangan itu hadir kembali; justru di kala sebuah kesempatan datang lagi. Haruskah ia mengambil kesempatan yang satu ini, untuk mencinta lagi? Tetapi bagaimana jika perempuan pujaannya berubah pikiran dan ingin kembali? Akankah ia mengulangi kesalahan yang sama dua kali, kesalahan yang terjadi karena ia terlalu lekas berpaling?

Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Jika ia masih ragu, jawabannya mungkin hanya satu: jangan berpaling dulu. Hidup memang harus terus berjalan, tapi memutuskan sesuatu dengan keragu-raguan bisa berakhir mengecewakan. Menunggu memang bisa menjadi pekerjaan yang menjengkelkan. Apalagi jika kita tidak tahu apakah orang yang kita tunggu akan benar-benar datang; atau justru mangkir tanpa pesan. Jika demikian, apa yang akan kamu lakukan?

Melihat-lihat apakah ada seseorang yang nampak kesepian dan juga tengah menunggu seseorang? Kemudian duduk bersamanya seakan kamu memang berniat menemuinya? Atau kamu akan memutuskan untuk pulang dan mencoba mencari tahu mengapa orang yang kamu tunggu tidak datang?

Pada akhirnya, adilkah jika seseorang terpilih hanya karena tak ada pilihan lain?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Adalah kupu-kupu; yang dipercaya sebagai jejak jiwa mereka yang telah berada di dunia berbeda.
Mereka yang tak lagi berada di ruang dan waktu yang sama, namun telah menyentuh kehidupan kita dalam berbagai cara.
Mereka yang telah membuat kita merasa seakan kita tak pernah bisa menjadi orang yang sama lagi seperti sebelumnya.
Mereka yang membuat kita menjadi diri kita yang sekarang ini—ketika mereka menyentuh kita dengan kenangan akan cinta…

Adalah kupu-kupu; yang menyapa pada hari-hari paling kelam dan membuat kita menangis bahagia.
Bahwa jejak-jejak yang pernah tinggal dari masa lalu tidak akan pernah terhapus dan akan selalu ada.
Beterbangan di sekeliling kita seperti kupu-kupu; jejak jiwa mereka yang kita cintai—dan mereka yang menyayangi kita.

Maka simpanlah kupu-kupu itu dalam hatimu; lindungi sayapnya agar dapat terus mengitarimu dengan cinta.
Dekatkan kupu-kupu itu di hatimu, dan semoga cinta yang ada itu akan bertahan bersamamu, selamanya…
Hingga tiba waktunya, ketika suatu hari nanti—pada hari yang paling indah di dunia, kita akan bersua.

*untuk kenangan-kenanganmu, mereka yang mencintaimu, dan mereka yang kamu cintai. I am gonna miss you, much. mwah,mwah!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Lelaki itu pernah ragu. Mempertanyakan jalan yang kini ditapakinya. Apakah ini jalan yang benar untuk mencapai tujuannya?

Tetapi bagaimana mungkin seseorang mengetahui apakah jalan yang ia tempuh akan membawanya lebih dekat atau lebih jauh pada tujuannya; jika ia sendiri masih belum tahu tempat macam apa yang hendak ditujunya?

Jadi, apa yang harus dilakukan ketika seseorang berada dalam keadaan seperti itu?

Menapaki jalan yang ada sekarang, tanpa peduli apakah jalan itu akan membawanya lebih dekat atau lebih jauh dari tujuan (yang belum terpikirkan)? Atau berhenti sejenak, berpikir mengenai tempat mana yang hendak dituju, kemudian melihat peta dan mengambil jalan tercepat menuju ke sana?

Jika kita memutuskan untuk berhenti, sampai kapan kita akan berhenti? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Jika kita memutuskan untuk berjalan terus, bagaimana jika jalan ini hanya lurus–dan mengantar kita pada tujuan yang tidak kita inginkan? Tetapi, bagaimana jika ada sebuah tikungan di ujung jalan sana, yang bisa mengantar kita menuju tempat tujuan semula?

Mungkin dunia ini adalah sebuah labirin. Sebuah maze. Semakin sering kita berjalan terus, tersesat, terantuk, semakin baik kita mengenal jalan-jalan mana yang harus dilalui, mana yang buntu, mana yang rusak, mana yang berlubang; dan kita pun akan semakin mahir dalam menerka jalan mana yang akan menuntun kita menuju ke mana…

Sehingga ketika suatu waktu nanti kita telah menetapkan tujuan, kita akan tahu kemana harus melangkah. Seperti lelaki itu. Yang terus berjalan, dan pada akhirnya memilih cinta.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Bisakah kesibukan dijadikan alasan untuk melewatkan sebuah kesempatan? Misalnya pernikahan dan ulang tahun seorang teman?

Bagaimana jika hubungan profesional bergesekan dengan hubungan personal pada ruang dan waktu yang persis sama? Bagaimana bila pikiran yang semrawut ternyata melewatkan sebuah momen penting yang sebenarnya sudah saya catat di dalam sebuah buku kecil?

Untuk saya, semua itu tidak bisa dijadikan alasan.
Sungguh.

Sekarang saya bisa mengerti mengapa seseorang melupakan hal-hal tertentu; atau melewatkan kesempatan-kesempatan tertentu. Bahkan hal-hal dan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya penting dan sangat berarti bagi kehidupan mereka. Karena ternyata hal-hal remeh dalam hidup bisa menyerpih begitu rupa sehingga mampu menutupi segalanya…

Meskipun saya harap, ketika hal ini terjadi, mereka yang tak dapat merasakan kehadiran saya bisa memaafkan ketidakberadaan saya di sekitar mereka (tidak, saya tidak meminta mereka untuk mengerti, that is too much to ask).

Saya merasa begitu bersalah karena tidak dapat menghadiri pernikahan seorang teman dan melupakan ulang tahun seorang kawan. I feel like a total jerk. How can you make up for that apart from saying that you’re truly sorry?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Setelah membaca ratusan karya dalam waktu 3 hari saja, kini masih tertinggal 215 karya lagi yang harus dicermati. Dan proses seleksi menjadi lebih sulit karena memilih yang terbaik di antara yang terbaik bukanlah perkara mudah.

Belum lagi ditambah dengan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang berbaur dalam setiap cerita. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Lantas bagaimana memilah kekuatan mana yang lebih tinggi dari kekuatan lainnya; atau kelemahan mana yang lebih patut tereliminasi dibandingkan kelemahan lainnya?

Menghadapi 215 karya yang tersisa membuat saya diliputi perasaan bersalah; karena saya tidak ingin memilih yang satu dan mengeliminasi yang lain–tetapi harus. Dihadapkan pada subjektivitas yang mau tak mau selalu ada ketika kita menilai sesuatu secara kualitatif juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Tetapi… mungkin dalam hidup ini, sadar atau tidak, kita selalu menilai. Menyisihkan yang satu dan merangkul yang lain. Lebih kerap, pilihan kita bukan didasarkan pada baik-buruknya sesuatu secara fisik–maupun non-fisik. Tetapi didasarkan pada seberapa jernih pilihan itu mencerminkan diri kita.

Diri kita yang tidak sempurna…

PS: Untuk seluruh panitia kumcer, selamat bekerja! Tetap semangat!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Insiden itu terjadi tepat di perempatan kecil tak jauh dari Apartemen Prapanca.

Sebuah bajaj menabrak sebuah gerobak kosong yang ditarik seorang lelaki. Lampu depan bajaj itu pun terlepas dan menggelinding di jalanan, nyaris tergilas roda depannya sendiri; sementara si gerobak melenggang santai dalam kondisi sempurna—tak kurang suatu apa.

Yang kemudian terjadi adalah saya dan kawan-kawan yang terbahak-bahak di dalam mobil, dua orang Polantas yang melihat kejadian tersebut seraya menahan tawa, penarik gerobak yang tertawa keras terang-terangan, dan pengemudi bajaj yang nampak sedikit kesal, namun tidak berniat ribut-ribut. Untuk apa ribut-ribut? Bagaimana si pengemudi bajaj bisa menuntut ganti rugi pada si penarik gerobak? Siapa di antara mereka berdua yang mengasuransikan ‘kendaraannya’?

Insiden kecil pagi itu pun ditutup dengan derai tawa, sedikit gondok di hati bagi si pengemudi bajaj, dan tekad untuk melanjutkan hari yang masih pagi.

Kemudian saya teringat: beberapa minggu lalu, sedan seorang teman tak sengaja bersinggungan dengan SUV seorang ekspatriat dalam perjalanan menuju kantor. Dan insiden ini diikuti dengan tuntutan bertubi-tubi, klaim asuransi, tarik urat leher karena teman saya diminta menyediakan mobil pengganti untuk sang ekspatriat yang sebenarnya masih memiliki 2 buah mobil di garasi rumah mewahnya.

Benarkah bahwa semakin banyak yang kita punya; semakin besar keterikatan kita terhadapnya?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Perempuan itu duduk di bawah kehangatan sinar matahari; menjemur kulitnya yang terasa dingin setelah diterpa air conditioner selama beberapa jam, sementara lagu itu berputar-putar dalam benaknya yang mengantuk. Better Together-nya Jack Johnson. Dan kalimat yang sama merayap di sela-sela kerikil abu-abu yang tergilas sepatu haknya:

Yeah, we’ll look at the stars when we’re together.
Well, it’s always better when we’re together.

Ia menggilas lebih banyak kerikil lagi dengan ujung-ujung sepatunya, membuat suara-suara berkeletik dan bergemeretak yang terasa nyaman di telinganya. Suara yang bergema dari sudut-sudut kaca yang mengelilinginya. Masa lalu selalu menjadi candu dalam hidupnya.

Maka ia pun berusaha menghentikan suara-suara kerikil itu dengan segelas ice lemon tea. Namun suara kerikil lain mengisi dasar gelasnya dan terperangkap di sana selama beberapa waktu:


“KEHIDUPANKU terbiasa melalui jalan setapak yang lurus—dengan semak-semak berbunga yang menyenangkan untuk dilihat di sepanjang jalan. Tetapi sejak kamu hadir, jalan itu mendadak dipenuhi kerikil dan batu-batu besar, juga sedikit lubang, yang menyebabkan aku sering terantuk ketika tengah tidak siap, atau jatuh tersandung ketika tengah begitu terburu-buru mengejarmu di lain waktu.

Itulah sebabnya aku membutuhkan seseorang tempat aku berpegangan jika aku nyaris jatuh. Seseorang yang dapat berjalan di sisiku; sehingga ada dua bayangan yang tercipta di atas tanah yang kupijak. Tidak menyenangkan jika aku hanya punya satu bayangan, sementara kamu yang berjalan beberapa meter di depanku, selalu memiliki dua bayangan. Bayangan yang begitu berdekatan.

Maka aku memutuskan untuk mencari satu bayangan lagi yang akan membuatku merasa diinginkan. Agar aku tak selalu merasa ditinggalkan ketika kamu berjalan bersisian dengan kekasihmu. Dan agar kamu tahu bahwa ada orang lain yang menginginkanku—meskipun orang itu bukan kamu.

Tetapi ternyata bayangan itu hadir dalam dirinya.

Dia, yang begitu berbeda denganmu; karena dia putih, seperti aku. Kami begitu mirip satu sama lain. Ketertarikanku padanya begitu platonis, meski ia sangat romantis. Tetapi ledakan-ledakan yang kurasakan saat aku bersamamu tak bisa kurasakan dengannya, sekeras apapun aku mencoba. Tak ada kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku; tak ada getar-getar itu; tak ada letupan kecil ketika tak sengaja tangan kami bersentuhan. Tak ada percikan kembang api itu ketika aku menatap matanya.

Kemudian kusadari bahwa semakin keras aku mencoba mencari dirimu di dalam dirinya, semakin aku tak menemukanmu; dan semakin aku kehilangannya…”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya merasa demikian tersanjung ketika Ayu–seorang kawan di komunitas penulis kemudian.com, ‘menghadiahi’ saya Rockin’ Girl Blogger Award yang berwarna merah muda itu 🙂

Karenanya, sesuai dengan ritual Rockin Girl Blogger Award, kini adalah saat bagi saya untuk memberikan penghargaan ini kepada 5 orang blogger perempuan yang telah begitu banyak memberikan inspirasi dalam hidup saya:

1. Atta, dalam negeri kecilnya, negeri dimana langit selalu senja. Atta yang selalu berusaha memaknai hidup; bahkan sampai pada detail-detail terkecilnya. Atta yang mencari cinta, yang berusaha mengatasi kehilangan dan akhirnya mendapatkan tambatan hati. Atta, yang tulisan-tulisannya selalu saya nanti-nanti.

2. Nila Tanzil, teman berbagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil: notes lucu, pensil-pensil kayu, berondong jagung, hingga cerita-cerita sebelum tidur yang dibisikkan di bawah kelambu. Yang dalam beberapa tahun terakhir ini terus ditimpa berbagai cobaan namun tetap berjuang untuk tegar, karena dia istimewa.

3. Mbak Lita, yang selalu bisa memberikan saya insight ke dalam kehidupan seorang ibu yang bekerja; dan memahami bagaimana kehidupan dan cinta yang mengikat seorang ibu dan anaknya adalah hadiah terindah yang bisa diberikan hidup untuk kita. PS: Mbak, aku sudah tanya, penerima award ini tidak harus ‘girl’ kok 🙂

4. Marianne, yang tulisan-tulisannya saya cetak dan saya jilid sehingga dapat saya baca setiap malam. Karena melalui tulisan-tulisannya saya merasa tidak sendirian.

5. Mbak Eva, a true zinester, yang selalu bisa membuka mata saya terhadap berbagai hal yang ada di dunia ini; yang selalu memiliki ide-ide menarik (sehingga saya selalu ingin turut ambil bagian di dalamnya). Seseorang yang selalu menjadi dirinya sendiri, apa adanya, karena ia tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang lain. How cool is that?

Ah, terima kasih karena telah memberikan inspirasi. Kini giliran kalian yang memberikan award ini kepada 5 blogger perempuan lainnya…

Pass it on, ladies 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ulang tahunnya yang ke-24, dan lelaki itu menghadiahinya sekotak terang dan secangkir kehangatan yang sudah lama ia idam-idamkan; sesuatu yang ia pikir tak akan pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

Maka ia berkata pada dirinya sendiri hari itu, bahwa ulang tahunnya yang ke-24 itu adalah ulang tahunnya yang terindah selama 24 tahun hidupnya–setidaknya sejauh yang bisa diingatnya.

Bagaimana tidak?

Selain sekotak terang dan secangkir kehangatan yang diberikan lelaki itu, ia juga mendapatkan 3 buah perayaan kecil dan 3 buah kue ulang tahun (cokelat, blueberry, dan lemon-cheese),‘seekor kucing berwarna kuning’, dan sebuah cerita.

Ulang tahunnya yang ke-24, dan untuk yang pertama kalinya, karena satu dan lain hal, atau semata karena kecanggihan teknologi yang selalu mengingatkan tanpa diminta, lelaki itu tidak melupakan ulang tahunnya (seperti yang sudah-sudah).

Lelaki itu bahkan menghadiahinya sekotak terang dan secangkir kehangatan yang sudah lama ia idam-idamkan; sesuatu yang ia pikir tak akan pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya; sekotak terang dan secangkir kehangatan itu; karena semuanya terasa memercik tenang tetapi tidak meledak-ledak. Jauh berbeda dari yang ia bayangkan sebelumnya. Mungkin karena ia tidak lagi jatuh cinta. Mungkin karena ia sudah menunggu terlalu lama. Mungkin karena ia tidak percaya lagi pada getaran-getaran yang dulu selalu dinantinya.

Ulang tahunnya yang ke-24, tetapi ia merasa seperti berusia 17. Hanya saja, kali ini, ia bahagia.

——————

PS: Lilin dalam gambar ini bisa dipesan lho 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP