April’s mostly about reuniting and catching up with some good old friends. It’s about spending hours and hours talking over coffee and good food, laughing and crying and hugging and wishing each other good luck. It’s about shooting lots of pictures to be shared with my loved ones. April’s also about loads of small gifts and letters and postcards on my desk (mostly owls) – thank you so much! Apart from that, April is mostly about being lazy at home after coming back from a short business trip (that ended up with getting lost in the midst of a national park) and spending weekends working and revising some short stories with my editor. All in all, April’s an awesome month. Sun. Rain. Owls. Home. Good food. Friends. Gifts. Cute things. Best friends. Comfort. Trip. Meetings. You. Loads and loads of you. I’m happy 🙂

*) The title is a suggestion from Iqbal Corleone.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Silent movies are just wonderful. It’s a bit like love in a way, because words can’t describe everything that we feel. Most of the times, it’s more about the butterflies in your stomach when the the palm of his hands meet yours, the flickers in his eyes when he spots you in a crowd, the way he caresses your cheek with his fingers, the way your lips shape a U when you see something that reminds you of him. It’s more about the color of his eyes, the shape of his glasses, the food that he likes, the things that make him laugh, the serious look upon his face when he’s working, the way he treats you…

Models: The Mavericks and the Raconteurs.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

I find pleasure in hours and hours of strolling around a bookstore or a stationery shop, buying books and gifts and ribbons and envelopes and beautiful wrapping papers—oh, and of course, cards with neat design and wordings!

When everyone can send you an email, a tweet or a Facebook message in just one click, I find the joy in receiving postcards from friends in faraway places. These postcards will be a bit crumpled when it reach me, but this just adds up to the authenticity of the thoughts, the journey, and the experiences—something that has traveled the distance of hundreds or even thousands of miles. The crumpled postcards are just the best and I love them oh-so-dearly.

There are times when I am in a bookstore or a stationery shop, and I’ll spot a nice card and my thoughts will go to a certain person, a friend, an acquaintance, a colleague, and I will just grab that card and mail it away. I’m not really into sending cards and packages for special occasions in someone’s life. Birthdays, graduations, promotions, weddings—err, no. Not really. What I love the most is just to send cards and packages on an ordinary day. Like a totally random day. And for no particular reason.

A lot like love, no? You don’t have to wait for a special day to show your love, and you don’t have to reason about why you love someone.So, my pile of cards and packages, fly, fly, fly, and fly away. Travel the distance safely, and please tell the people who receive you all that I care about them, I am thinking of them, and I wish them well.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving | Lao Tzu

Ada rencana-rencana yang sudah kita bicarakan. Rencana-rencana yang kemudian berantakan di tengah jalan. Lalu kita menyusun rencana-rencana baru. Daftar yang panjang mengenai apa-apa yang akan dilakukan. Dan rencana itu pun berantakan sebelum sempat diwujudkan. Kali ini, tidak seperti yang pertama, aku agak kecewa. Dan menurutku, tidak mengapa, karena bukankah merasa kecewa itu menujukkan bahwa aku memang manusia biasa. Tidak selamanya aku harus bahagia dan baik-baik saja. Dan mengakui bahwa aku kecewa itu lebih baik daripada harus berpura-pura. Jadi. Aku. Kecewa. Titik. Oh, masih ada koma: dan juga sedikit sedih.

(Aku tidak tahu apakah kamu juga)

Tetapi, malam tadi, sahabatku datang, membawakan dirinya, juga sekantong benda-benda lucu: mulai dari pernak-pernik burung hantu, untaian kalung-kalung lucu, mouse pad yang katanya mirip aku, dan sebuah buku. Jurnal perjalanan dengan gambar kota Bangkok di sampul depan. Tebalnya satu ruas ibu jariku. Entah mengapa yang bisa kupikirkan saat melihat travel journal itu hanya kamu. Aku ingat perjalanan di atas kereta dari Jerez ke Sevilla tahun lalu, ketika aku menuliskan berlembar-lembar surat untukmu. Ya, surat-surat yang tak pernah kukirimkan itu. Lalu aku berpikir tentang rencana-rencana kita yang berantakan, yang kemudian memaksaku untuk mencari tempat lain untuk didatangi. Perjalanan panjang yang akan kutempuh, menyeberangi garis-garis waktu ke tempat di mana tidak ada kamu.

Tiba-tiba meledak gambaran dalam benakku. Aku yang mengisi lembar-lembar travel journal itu dengan sketsa, surat-surat, kutipan-kutipan, puisi dan ingatan-ingatanku tentang kita, guntingan koran dalam bahasa yang tidak kumengerti, ah, dan mungkin peta (aku mudah tersesat dan kehilangan arah), atau nomor telepon orang-orang dan tempat-tempat yang kudatangi. Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah memenuhinya dengan cerita-cerita perjalananku. Lalu sebelum pulang, mungkin aku akan memotret semua halamannya dan menyimpannya di dalam folder komputerku, sementara travel journal yang sebenarnya akan kukirimkan kepadamu melalui pos.

Begitu?

Kemudian aku kembali senang. Kembali bahagia. Kembali bersemangat dengan rencana-rencana baru. Siapa bilang di tempat yang kutuju tidak ada kamu? Kamu akan selalu ada di sana: di langit pagiku, pemandangan kaldera di luar kamarku, halaman-halaman buku, batu-batu di sepanjang pantai yang katanya berpasir hitam itu…

Lalu, siang ini, aku menemukan kutipan dari Lao Tzu. A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving. Aku ingin melihat hidup (baca: kita) dan cinta (baca: kamu) dari sudut pandang seorang traveler. Untuk mengerti bahwa rencana-rencana—bahkan yang disusun dengan sangat hati-hati sekalipun, bisa berantakan kapan saja. Tujuan akhir kita bukanlah untuk sampai di satu titik, tapi terus berjalan dan mencari petualangan-petualangan baru. Bukankah kita juga pernah berteriak lantang, “We don’t plan! We do things!

Dan kurasa itulah yang akan kulakukan mulai saat ini.

Pagi-pagi, kamu mengatakan bahwa kamu sempat tidak baik-baik saja. Jadi kuhabiskan seharian itu untuk menghiburmu dengan hal-hal lucu yang kutangkap dari balik lensa kameraku. Sampai kamu bisa tertawa lagi dan bisa merasa baik-baik lagi. Lalu kusadari sesuatu. Yang membuatku bahagia ternyata bukan tercapainya impian-impian itu: tetapi mendengar kamu bisa tertawa lagi karena sesuatu yang kukatakan. Yang terpenting buatku ternyata bukan terwujudnya rencana-rencana itu: tetapi kamu.

Iya, kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Alain de Botton, 2006 | 240 pages

Ada sesuatu yang luar biasa manusiawi dari On Love. [SPOILER ALERT:] The book tells a journey of falling in and out of love. Dan begitulah yang terjadi di dunia nyata, pada jutaan kisah cinta tiap manusia di dunia. Buku ini merangkum perjalanan itu dengan manis sekaligus getir. Kita bisa membacanya dan mengenali pola-pola manis-getir itu dalam hubungan yang sedang atau pernah dijalani. Kemudian, de Botton membuat kita berpikir. Mencerna rasa pelan-pelan. Mencoba mengerti mengapa kita jatuh cinta.

Dengan gaya bertutur yang santai dan lugas, de Botton mengaitkan masalah rasa dan debar-debar cinta dengan teori probabilitas, beragam cabang filsafat, sampai psikoanalisis. Karakter-karakter yang punya ‘cacat’ masing-masing juga ditampilkan dengan sangat jujur dan apa adanya. Salah satu adegan yang saya sukai adalah penggambaran ketika si tokoh lelaki dan perempuan makan malam di sebuah restoran, dan si tokoh lelaki—melihat sebongkah marshmallow, berpikir:

Love was a sugary, puffy object a few millimeters in diameter that melts deliciously in the mouth.

Membaca On Love seperti tengah mendengarkan kisah cinta seorang kawan lama. Kita tidak menghakimi. Tidak bertanya mengapa. Tidak mendesak. Tidak berekspektasi. Kita hanya duduk di sana, diam, dan mendengarkan. Menunggu. Membuat kita lebih mengerti bahwa sesungguhnya, kita sendirilah yang menentukan kapan cinta itu datang dan kapan cinta itu pergi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

I find happiness in simple things. Like living in a small town with an 80-hectare botanical garden at its city centre—a sanctuary for more than 15,000 species of trees and plants. It’s a small town with the highest number of rainy days (320 out of 365 days) in Java (or maybe in the world?), hence the title “Rain City” (though for the sake of romanticism I prefer to call it “The City of the Falling Rain”).

But what I love the most from a small town is the absence of tall buildings and skyscrapers, as well as 24-hour  brightly-lit billboards and LCD screens that contribute to light pollution. I love it when the night is pitch dark (as it should be) and the sky is clear; so you can sit down on an open field (or in my case, the empty parking lot in front of my housing complex’s swimming pool) and gazing at the stars.

I could spend hours just sitting there, looking up into the sky, sipping a cup of hot chocolate. My heart twinkles.

A few days ago, going back home at around 11 pm, I entertained myself with the view of the starlit sky from behind my taxi’s window. It was on the highway, the last few kilometers home, with open fields on my left. The sky seemed closer. At the time, I wished I could mail that amazing starlit sky to you, so you could see it in your sky, too.

***

Around midnight, a girl arrived at her home. She dashed in, threw her bags, sipped a cup of hot tea her father had prepared, then snatched her camera and ran to the front door hurriedly, yelling: “Am out to shoot the stars!”—and off she ran to an empty parking lot in front of her housing complex’s swimming pool; still inside her working outfit with blazer and all; then she directed her camera to the sky. She fluttered around the open space, trying her best to capture the twinkling stars. Someone who happened to see her from afar might think she was dancing while looking up to the sky.

***

A few days later, somewhere far away, a guy opened his mailbox and found a tiny card with a handwritten note on it. It said:

Dear you,

I haven’t mastered the skills to capture those stars vividly, yet
(not to mention my improper handling of the camera)—but I hope,
you can still catch the beauty of  those twinkling tiny dots,
if only you’re willing to see this with just a little bit of extra love.

H.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Falling in love should be like Polaroids. Instant,” begitu kata teman saya di WhatsApp. Mungkin dia benar. (Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya saya juga sudah tahu bahwa saya akan jatuh cinta sama kamu setelah kita ngobrol selama sekitar 10 menit. Well, mungkin nggak seinstan Polaroid, tapi buat saya, 10 menit itu rasanya cukup cepat.)

Tetapi bahkan foto yang keluar dengan suara lucu dari kamera Polaroid pun butuh waktu untuk dinikmati benar-benar. Didiamkan dan diangin-anginkan sebentar hingga warnanya keluar. Setelah itu, kamu bisa senang karena warnanya bagus, atau kecewa karena hasilnya “bocor”. Objek yang nggak ingin kamu foto juga bisa terabadikan di sana secara nggak sengaja.

Bisa jadi jatuh cinta juga begitu. Instan. Tetapi seiring dengan waktu, ada dua pilihan. Kamu bisa semakin jatuh cinta, atau sebaliknya.

Teliti sewaktu memotret dan teliti sewaktu jatuh cinta mungkin jadi sama pentingnya. Mencari cahaya yang bagus dan latar yang sesuai juga menentukan hasil foto Polaroid-mu di akhir hari. Mungkin ini sama dengan mengenal pasangan. Mencari tahu apa yang ia suka dan apa yang ia nggak suka. Melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Mengobrol berjam-jam dan masih saja nggak kehabisan bahan pembicaraan.

Dan bahkan memotret dengan Polaroid pun nggak bisa menjamin hasil yang menjanjikan kalau pemotretnya “mata keranjang”. Hendak memotret objek di titik A, tetapi malah mengarahkan kamera ke titik B.

Jadi mungkin benar kata teman saya itu. Jatuh cinta memang seperti Polaroid.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Truman Capote, 1956 | 178 pages

Ada banyak hal yang bisa hilang dari hidupmu, tapi tak semuanya akan membuatmu merasa kehilangan. Mungkin ini akan jadi kalimat pembuka yang pas ketika saya meminta kawan-kawan saya membaca karya klasik Capote, Breakfast at Tiffany’s.

Kisah ini berawal dengan pertemuan seorang lelaki dengan seorang perempuan bernama Holly Golightly. Nama karakter ini pun sudah mengandung semacam pertentangan yang tidak biasa, dan satu-satunya kata yang bisa menjelaskan Holly adalah bahwa ia seorang perempuan yang “tidak biasa”.

Jika di awal kita akan memandang tokoh Holly sebagai perempuan cantik yang dangkal dan sedikit bodoh, setelah beberapa lama kita (sebagaimana tokoh lelaki dalam cerita ini) akan menemukan banyak hal yang disembunyikan Holly di balik kemasan ‘luarnya’. Aren’t we all lonely in our own lonely ways?

Membaca Breakfast at Tiffany’s seperti mengupas bawang. Selapis demi selapis, kita akan dibawa untuk semakin mengenal Holly—dan hal-hal yang membuatnya menjadi Holly yang seperti sekarang ini. It had the same effect like reading your boyfriend’s past, trying to understand why he turns into the guy that he is. Exactly the reason why I just couldn’t put the book down.

Karena bukankah setiap orang punya masa lalu yang mendefinisikan masa kininya?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Semuanya nampak seperti serangkaian “kebetulan”.

Seorang sahabat dari luar kota mengajak saya ‘sowan’ ke sebuah kedai teh mungil di kota tempat saya tinggal. Kedai teh yang belum pernah saya dengar namanya, dan belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Di kedai teh ini, kami berbincang tentang banyak hal, seperti biasa. Dan selagi kami berbincang tentang kamu, pemilik kedai teh itu—seorang lelaki bertubuh kecil dan berwajah ramah, datang menyapa. Ia kemudian menyodorkan sebungkus teh hasil racikannya sendiri, yang disimpannya di dalam sebuah kaleng.

Saya menghirup wangi teh dalam bungkusan itu. Segar; seperti wangi laut dan musim panas.

Lantas, jika kamu percaya bahwa tidak ada hal yang bernama ‘kebetulan’ di dunia ini, maka bukan kebetulan pula jika teh racikan di dalam kaleng itu bernama Fragrance of Love. Campuran dari berbagai jenis teh asli Indonesia dengan chammomile, peppermint, kulit jeruk, dan serai (lemongrass).

***

Nama kedai teh itu Lare Solo.

Kedainya kecil saja, seperti warung-warung teh yang biasa kamu temui di perjalanan menuju Puncak. Letaknya di kawasan Agripark, Taman Kencana, Bogor. Nama pemiliknya Pak Bambang.

“Awalnya saya membuka kedai teh ini karena blog juga. Saya bercerita tentang teh di sana, dan banyak orang yang suka. Jadilah kemudian saya berkenalan dengan kawan-kawan pecinta teh lainnya, dan mendirikan kedai teh ini, kecil-kecil saja,” ujar Pak Bambang sambil menyeduhkan teh untuk kami.

Oh ya, apakah kamu tahu mengenai ‘Jayeng’? Jayeng adalah jabatan non-formal yang diberikan kepada pembuat teh untuk warga. Di setiap hajatan, Jayeng akan menyiapkan puluhan gelas teh untuk para tamu. Mulai dari merebus air, menyeduh teh, menuangkannya ke dalam gelas, memberi gula, dan mengaduknya satu per satu. Jayeng menjadi semacam profesi yang memadukan tradisi, pengabdian, kesungguhan, dan kecintaan akan teh. Ada banyak lagi kisah-kisah menarik seputar teh yang bisa kamu temukan lewat halaman-halaman blog Pak Bambang, atau lewat percakapan santai dengan beliau di Lare Solo.

Dari dapur kecil ini, berbagai macam teh diseduh dan dihidangkan. Ada empat macam teh yang kami coba hari itu: teh tarik, mango sencha, fragrance of love, dan racikan teh peppermint dari Pak Bambang. “Cukup banyak varian teh, bunga-bungaan, dan bahkan peppermint ini masih impor,” Pak Bambang menjelaskan. “Tanah dan cuaca sangat mempengaruhi rasa, jadi walaupun satu varian teh atau bunga-bungaan bisa ditanam di Indonesia, rasa dan aromanya entah mengapa tidak bisa ‘pas’. Misalnya untuk peppermint ini, saya sudah coba daun mint dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi rasa dan aromanya kok beda.”

Menghirup aroma dari bungkusan demi bungkusan teh yang disodorkan Pak Bambang ternyata begitu mengasyikkan. Wangi ‘rumput laut’ yang tercium pada berbagai bungkusan teh hijau pun membuat saya ingin membawanya pulang dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Untuk 1 teh tarik dan 3 poci teh yang kami pesan, ditambah dua porsi risoles keju dan daging asap, percaya atau tidak—kami hanya membayar 40ribu rupiah. Surga yang luar biasa bagi para pecinta teh, terutama bagi mereka yang terbiasa membayar 40ribu rupiah hanya untuk sepoci teh di Jakarta. Belum lagi percakapan dengan Pak Bambang, yang nilainya melebihi nominal tersebut. Mulai dari mengenal berbagai jenis teh, upacara minum teh di Jepang, racikan-racikan teh yang pernah dibuat, sampai perjalanan beliau mendirikan kedai teh mungil ini, semuanya menjadi teman minum teh yang sangat menyenangkan.

Suatu hari, saya akan mengajakmu ke sini dan memperkenalkanmu dengan sesuatu yang bukan kebetulan itu. Sepoci Fragrance of Love. Diminum hangat-hangat. Kalau kamu bertanya seperti apa rasanya? Aku akan menjawab bahwa rasanya…

seperti kita.

Care for a cup of tea and me? 😉

_____________________________________________________________________________

This post has been published in AirAsia Indonesia’s 3Sixty magazine, Feb 2015.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP