“Kamu seperti hidup di dalam kaleng sarden.”

Saya terbahak. Ini terasa seperti deja vu. Pengulangan dari episode yang pernah diputar beberapa bulan lalu. Saya sendiri sudah nyaris lupa. Hingga ia mengingatkan saya lagi hari ini.

Kamu nggak kreatif. Itu kan yang pernah saya katakan padamu dulu!

Dia ikut tertawa. “Tapi kaleng sarden yang ini beda!”

Apa bedanya?

Waktu itu hari Sabtu, sore hari, menjelang pukul lima. Lalu-lintas jauh lebih sepi dari biasanya. Kami berjalan kaki di bawah langit yang sedikit mendung. Udara lembap. Saya berusaha mengimbangi langkah kakinya yang panjang-panjang itu dengan bergerak lebih cekatan. Melompati batu-batu di trotoar dan menghindari celah-celah yang bisa membuat kaki patah—atau setidaknya terkilir, jika kurang hati-hati. Sebenarnya, saya bisa saja memintanya untuk berjalan lebih perlahan; tetapi entah mengapa, saya tidak kepingin. Mengikuti langkahnya membuat saya merasa seperti Dian Sastro yang tengah mengikuti langkah-langkah Ariel dalam video klip Menghapus Jejakmu-nya Peterpan. Tentu saja, saya tak pernah mengatakan hal ini kepadanya. Terlalu memalukan rasanya.

Picture 2

“Pernah dengar Survival Kit in A Sardine Can?”

Saya menggeleng. Apa itu?

“Aku lihat di ThinkGeek. Sesuai namanya, ini semacam geek tools berupa alat-alat bertahan hidup yang kemasannya berbentuk kaleng sarden. Di dalamnya ada obat penahan sakit, perban, alkohol, korek api, kompas, silet, peluit, instruksi pertolongan pertama pada kecelakaan, dan masih banyak lagi.”

Lalu hubungannya denganku?

“Yah… kamu adalah kaleng sarden semacam itu. You are my survival kit.”

Saya nyaris tertawa, meskipun masih sempat menahannya agar tidak terbahak, dan menyamarkannya menjadi batuk-batuk yang terdengar sangat artifisial. Saya takut menyinggung perasaannya jika saya kelepasan tertawa. Tetapi ini memang lucu! Dari semua lelaki yang pernah dekat dengan saya, ia adalah lelaki yang paling platonis. Seharusnya, dia tidak romantis. Mendengarnya berkata demikian membuat saya merona. Merona karena menahan tawa. Tetapi saya tidak kuat menahan tawa lebih lama lagi. Apalagi saat itu kandung kemih saya sedikit penuh. Jadi, saya lepaskan otot-otot di sekitar pipi untuk tertawa. Sampai keluar air mata.

Norak, ah!

Untungnya, dia ikut tertawa bersama saya. “Sial, aku harus lebih banyak latihan. Jadi yang tadi itu nggak berhasil, ya?”

Tapi bagus, sih, saya masih terkikik. Dan terima kasih, karena sudah berpikir demikian tentang saya.

“You deserve it.”

Kami terdiam. Ada jeda yang terlalu lama. Selama beberapa detik tatapan kami bertemu, sebelum akhirnya sama-sama mengalihkan wajah ke tempat lain. Tiba-tiba saja tembok-tembok di sekitar distrik bisnis SCBD itu menjadi sangat menarik, sehingga kami seakan tak bisa melepaskan pandangan dari sana. Selama beberapa waktu, kami berjalan bersisian dalam diam. Ia tetap santai, sementara saya masih melompat-lompat untuk mengimbangi langkahnya.

“Sekali-kali aku ingin ketemu kamu lagi…” katanya, sambil menengadah ke langit, memandangi awan yang tadinya kelabu dan kini sudah semakin menghitam. “Aku ingin bilang…”

Tiba-tiba secercah kilat menyambar dari langit. Sedikit gerimis menitik pelan-pelan.

Ayo, lari! Sebentar lagi hujan besar! Saya menarik lengannya, mengajaknya berlari menuju salah satu mall yang sudah berjarak tak jauh lagi dari situ. Butir-butir hujan berjatuhan semakin besar, semakin banyak, semakin kerap. Petir menyambar beberapa kali. Seperti lampu yang terkena arus pendek.

Kami tertawa di bawah hujan, berlari tanpa memedulikan keadaan sekitar; dan masih tertawa-tawa dengan napas terengah ketika menerobos masuk melewati meja pemeriksaan sekuriti di pintu depan mall, untuk disambut tiupan pendingin udara yang membuat kami menggigil kedinginan, juga wangi roti-roti manis yang baru keluar dari panggangan–membuat kami tiba-tiba saja merasa lapar.

Kami berdiri sejenak di depan toko roti dengan dapur transparan itu. Ia menepuk-nepuk ranselnya yang basah dengan tangan kanan, sementara saya sibuk mengusir titik-titik air dari rambut saya dengan tangan kiri.

Oh ya, jadi, kamu mau bilang apa tadi? Sebelum turun hujan?

Ia cuma tersenyum.

“Hmm, sepertinya nggak penting lagi. Semuanya sudah jelas kok, it’s in the air… right here,” katanya sambil mengangkat tangan kirinya ke udara. Bersamaan dengan itu, tangan kanan saya terangkat juga secara otomatis. Ya, di udara, tangan kanan saya dan tangan kirinya masih saling menggenggam.

Genggaman yang tidak kami lepaskan lagi sejak sore itu hingga hari usai.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Inilah hasil mengintip search engine results yang mengarahkan netters ke blog saya pada tanggal 2 Mei 2009. Perhatikan, perhatikan, lingkaran biru! 😀

Picture 5

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Apa yang bisa terjadi jika Anda meng-upgrade kamar hotel seorang blogger? Mungkin blogger itu akan menayangkan video mengenai kamar hotelnya di blog-nya, seperti ini:

Sekitar pukul 10 malam, hari Rabu, saya tiba di Hotel Aston, Braga, Bandung. Keesokan harinya, saya memang hendak mengikuti seminar yang dipandu Rendy dari QWords di hotel yang sama.

Dan inilah percakapan yang terjadi di konter check-in:

Mbak di Aston: Sudah pernah menginap di sini sebelumnya, Mbak?

Saya: Oh, belum, Mbak. Ini baru pertama kali.

Mbak di Aston: Oh, begitu, kalau begitu silakan duduk dulu dan tunggu sebentar, akan kami siapkan dulu kamarnya…

(menunggu 5 menit)

Mbak di Aston: Mbak, silakan naik, kamarnya sudah siap. Kamarnya kami upgrade, lho, Mbak, dari yang single menjadi unit yang besar di lantai 19. Mbak kan baru pertama menginap di sini, mudah-mudahan nanti kalau ke Bandung lagi, Mbak menginap di sini lagi…”

Senangnya! Padahal Mbak itu bahkan tak tahu jika saya seorang blogger 😉

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

I caught the happy virus last night
When I was out singing beneath the stars.
It is remarkably contagious—
So kiss me.

– Hafiz, The Subject Tonight is Love –

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sudah malam. Hampir pukul sembilan; padahal mereka telah duduk-duduk di sini sejak pukul setengah empat sore. Lelaki itu akan meneruskan perjalanan lagi untuk bertemu dengan kawan-kawannya, pukul sepuluh, di tempat lain. Ia mengajak si perempuan turut serta; tetapi perempuan itu menguap lebar.

Lelaki itu tertawa. Ya sudah, saya antar kamu pulang…

Paper

Keduanya berjalan bersisian menuju tempat parkir. Di dalam mobil si lelaki, mereka duduk bersebelahan. Ketika lelaki itu menyalakan tape, si perempuan mendengar sebuah lagu yang entah mengapa langsung merebut hatinya. Maka bertanyalah ia kepada si lelaki, Ini lagu apa, ya?

Night Walk-nya Belle&Sebastian, jawab lelaki itu sambil tersenyum. Kamu suka?

Perempuan itu mengangguk (sedikit terlalu bersemangat).

One of my favorite songs, kata lelaki itu. Kemudian ia berbisik ke telinga si perempuan, because it reminds me of us.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

la tete de mamanBegini ya, Sdr/i. Petugas Sensor yang semena-mena…

Saya itu sudah lama ingin nonton festival Sinema Perancis. Akhirnya kesampaian juga. Film yang saya pilih adalah film drama sedikit komedi (plus agak depresif sebenarnya). Judulnya La tête de maman (In Mom’s Head). Mau baca sinopsisnya?

The teenager Lulu lives with her depressive and self-centered mother. One day, the girl stumbles on a Super 8 film in which she discovers her mother, at the age of 20, in the arms of some strange man, as happy and radiant as she has ever seen her. Lulu makes up her mind to go find him and bring him back, in the hope that her mother will regain a taste for life.

Dari sinopsisnya saja ketahuan bahwa film ini bukan film stensilan. Lagipula mana mungkin film stensilan lolos diputar di festival Sinema Perancis di Blitz Megaplex. Bukan begitu?

Sewaktu saya dan kawankawan saya hendak mengantri membeli tiket yang harganya lima belas ribu itu, di meja tempat pembelian tiket jelas-jelas ditulis bahwa film ini adalah UNTUK DEWASA.

Saya masuk dan duduk di baris paling belakang, bersiap menonton ditemani seember berondong jagung mentega. Dan sepanjang film diputar, saya terganggu sekali karena layar berkali-kali kena sensor. Bahkan untuk adegan yang cuma ciuman biasa. Ditutupnya pakai koran, ya? Besar sekali soalnya Anda menutupi pandangan saya berkali-kali. Pusing melihat layar yang separo hitam tiba-tiba padahal tidak ada adegan yang jorok (untuk orang dewasa dan untuk ukuran film festival, apalagi film Perancis) di baliknya.

Sudah begitu sensornya semena-mena pula. Bukan cuma ditutup bibirnya saja, misalnya, Anda sekalian menutupi juga teks bahasa Inggris di bawahnya! Alhasil, saya yang hanya mengerti beberapa patah kata dalam bahasa Perancis ini pun emosi karena tidak bisa mengikuti dialog yang terjadi di layar. Bisa kan, setidaknya tinggalkan teks-nya supaya bisa dibaca? Nggak semua orang yang nonton ngerti bahasa Perancis!

Tolong, lain kali jangan diulangi lagi! Menyebalkan, tahu, nggak? Saya nggak ngerti mengapa Anda menyensor adegan ciuman antar dua remaja, tapi tidak menyensor adegan kekerasan di film Watchmen atau manusia-manusia bernanah yang melepuh, berulat, dan berkelabang  di sinetron-sinetron televisi!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Selintas hujan berkelebat sekejap; menjelma putih yang membuat mata hanya bisa melihat dalam jarak pandang terbatas. Satu meter? Jarak pandang yang kemudian menyapu dirimu.

Bersebelahan, kita terperangkap dalam sebuah kotak kaca. Transparan seperti batu es dalam gelas yang sudah mencair sehingga iced tea itu tidak lagi dingin. Mesin penggiling kopi yang berderum di kejauhan. Sebungkus rokok yang tidak dinyalakan karena intensitas yang sedemikian pekat sehingga tak bisa bahkan untuk mengambil jeda napas.

1 detik = 24 jam

[Nokia N73. Tas kerja berisi berkas-bekas. Sepatu hak tinggi. Kemeja lengan panjang yang digulung hingga sebatas siku. Virgin Suicides-nya Eugenides. Jas yang tergeletak di sandaran sofa. Kaus abu-abu ditingkahi ikat pinggang besar hitam bergaya vintage. Blackberry. Gemerincing 24 gelang kecil. Tan Dial].

Kita meraya dalam potongan-potongan kue cokelat dan makanan berlemak; enggan melacur pada semangkuk salad dan segelas air mineral. Orang-orang datang dan pergi dalam gerak lambat. Detik berhenti pelan-pelan, memecah kembali menjadi 24 jam dalam waktu di batas hati. Lama. Setiap gerak membelah diri menjadi satu episode berisi puluhan cerita yang bisa tertuang dalam ketakterbatasan.

Kata-kata beraroma mint. Sebuah lagu yang tidak jelas. Tidak penting. Semua mengalir pada cangkir ketiga. Teh, smoothies, kopi (“what about a bottle of wine afterwards?“). Buku menu itu pun kemudian dibiarkan tergeletak di pangkuan.

Kita bahkan tak menyadari bahwa ternyata hujan sudah lama berhenti.***

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Perbandingan tidur lelap dan tidur yang ditingkahi mimpi bagi saya adalah 1:20. Ya, saya lebih sering pingsan tidur pulas; dan jarang sekali bermimpi. Kalaupun sampai bermimpi, biasanya hanya sebentar; dan dalam keadaan tersebut, saya ‘sadar’ bahwa saya sedang bermimpi. Lalu mengapa saya bicara soal mimpi?

Ini karena pada Rabu malam, saya bermimpi. Mimpi yang panjang sejak saya tertidur hingga terbangun kembali di pagi hari. Mimpi yang cukup aneh juga; a bit creepy but not scary (yet).

Dalam mimpi saya itu, saya menjadi diri saya sendiri, dan mengikuti kecemasan seluruh penduduk dunia yang (entah bagaimana) mengetahui bahwa kiamat akan terjadi esok hari. Jadi ketika bangun esok pagi, katanya dunia ini sudah hilang dari muka bumi; dan yang tinggal hanya hamparan pasir sejauh mata memandang. Seluruh media massa membahas mengenai hal ini (menampilkan tokoh-tokoh dunia dan spiritual, juga acara bincang-bincang dengan para ilmuwan). Tayangan-tayangan yang membangkitkan depresi ini diputar berulang kali.

Gurun
Ketika dunia cuma terdiri atas langit dan gurun. Matahari bersinar jauh lebih terang. Lebih panas.

Saya ingat, saya sempat menangis ketika membaca koran, dan menyadari bahwa hidup saya hanya tinggal hari ini saja. Dan bertanya-tanya, setelah kiamat esok pagi, lantas apa yang akan terjadi? Jika manusia mati, ke mana jiwanya akan pergi?

Jika jiwa kemudian menghuni surga atau neraka (atau sesuatu di antaranya?)—dan tubuh atau jasad mengurai pelan-pelan setelah ditinggalkan, mengapa konsep surga dan neraka digambarkan dengan hal-hal yang  bersifat pemenuhan kebutuhan ragawi: buah-buahan segar, mata air yang jernih, bidadari dan bidadara yang cantik dan gagah?

Setelah menangis sebentar, saya meletakkan koran, dan mulai berpikir. Ini hari terakhir saya di bumi. Apakah saya akan meneleponnya? Mengirimkan SMS ke telepon genggamnya?

Phone booth
Telepon, enggak, telepon, enggak, telepon enggak, tapi kenapa pada hari terakhir saya di bumi yang saya pikirkan adalah kamu? It's so unhealthy!

Apa yang akan saya katakan? Masihkah kata-kata cinta berarti pada saat-saat seperti ini (bukankah sudah saya katakan padanya bahwa saya mencintainya), ataukah semua itu sudah tak penting lagi? Saya sudah tak bisa lagi menggapainya. Perjalanan menuju dirinya membutuhkan waktu lebih dari sekali putaran terbit-terbenam matahari di khatulistiwa.

Dan mimpi saya selanjutnya hanya dipenuhi kebimbangan tersebut, sembari berharap cemas menanti dunia macam apa yang tidak akan saya lihat esok pagi. Saya terbangun dengan kerongkongan luar biasa kering sehingga terasa sakit untuk menelan, mata yang perih dan terasa bengkak—persis seperti orang yang habis menangis, kemudian menyadari bahwa saya bermimpi.

Kamis malam, saya tidur nyenyak seperti biasa. Tidak bermimpi. Namun pagi harinya saya terbangun dengan sakit kepala hebat, meskipun tak kuasa untuk tidak beraktivitas seperti biasa. Apalagi mengingat kawan ‘seperjuangan’ saya juga sudah terkapar sakit selama 3 hari.

Jadilah saya memulai hari dengan kepala berdentam-dentam dan mata perih, leher pegal dan kaku, serta ngilu-ngilu di sana-sini. Pendingin ruangan pun saya matikan. Untung kawan-kawan di satu ruangan juga tengah tidak enak badan, sehingga udara yang hangat malah membuat kami merasa nyaman.

Pada kondisi menyedihkan inilah, saya kemudian terhibur dengan celoteh kawan lama saya. Si Joe.

Si Joe.
Foto dicuri dari fesbuk Joe, dengan asumsi yang bersangkutan tidak akan berkeberatan.

Orang gila yang bisa dibilang pengusaha, pegawai, penulis, musisi, seniman, penggemar kopi, peracik koktil, pecandu Pocky Banana, sampai penikmat dunia malam. Celotehannya membuat saya bisa tertawa-tawa sedikit (meski tidak membuat sakit kepala saya berkurang); tetapi setidaknya saya bisa bertahan melalui hari ini.

Di bawah ini beberapa potong celotehan gila di blog-nya yang berhasil membuat saya mesam-mesem sendiri:

Update: di apartemen gw baru masuk tv kabel (sedih bener, hampir dua tahun berdiri baru sekarang masuk tv kabel). Gw sudah lama gak nonton channel luar semenjak pindah dari kost Alpukat. Gw kangen nonton Animax, gw juga bisa nonton Gosip Girl, Dorama Korea — lo boleh ketawa karena cowo seseram gw sukanya nonton film cartoon dan drama seri, pake nangis lagi. Dan ini artinya berpotensi memperburuk insomnia gw. Crab…

Sebenarnya kalimat ini saya dapatkan dari status sepupu saya. Jumat kemarin kalimat serupa juga saya dapat di email, kira-kira begini bunyinya: ‘Saat kau SEDIH tak satupun yang menyadari kesedihanmu. Saat BAHAGIA tak satupun melihat senyumu.Tapi saat kau KENTUT,semua menoleh kepadamu. MENYEDIHKAN SEKALI…!!!

Dan ini adalah tips Joe untuk membangunkan orang yang sulit dibangunkan dari tidur:

Saya pernah minta tolong dibangunkan oleh teman saya. Setelah misscall 12X saya baru bangun. Komentar dia: ‘hampir mustahil membangunkan seorang cowo…’

Ok, mungkin hampir sama mustahilnya dengan istri yang gak suka belanja.

Tapi pagi ini sepertinya teman saya menemukan cara yang tepat untuk membangunkan saya. Malah tanpa perlu misscall berkali-kali, hanya cukup dengan satu sms. ‘Joe, jangan pernah sms, telp, sapa gw lagi ya..? Pertemanan kita hanya sampai di sini’

Kamu bisa coba cara teman saya ini untuk membangunkan pacarmu, temanmu, bahkan suamimu. Dijamin cara ini sangat ampuh untuk membangunkan mereka. Untuk yang sudah menikah atau pacaran, tambahkan juga kata-kata seperti ‘kita putus saja’ atau ‘aku minta cerai… Aku gak kuat lagi’ Dijamin pacar atau suamimu langsung bangun. Kalo mereka tidak bangun juga, itu artinya mereka memang mengharapkan kalimat tsb yang kamu berikan atau kamu sudah terlalu sering gunakan cara ini untuk membangunkan dia.

Sementara ini adalah penutup (spoiler) review Joe mengenai Black Cat di Arcadia Senayan sana:

Dengan suasana yang ‘nyaman’ karena remang-remang, tempat ini cocok bangat buat ngajak pacar sebelum ke Century Hotel. Harganya juga bisa buat naikin gengsi ke gebetan/pacar. Ranking B buat tempat ini, karena hanya bisa dikunjungi saat tanggal muda.

Atau pengalaman seramnya di dokter gigi yang membuat saya mengerti mengapa ia lebih suka nongkrong di Starbucks daripada pergi ke dokter gigi (ya, iyalah!):

Dentist
Saya sendiri sudah lebih dari 5 tahun tidak pernah berkunjung ke dokter gigi; untungnya saya tidak pernah sakit gigi atau memerlukan kunjungan ke dokter gigi selama kurun waktu tersebut.

scene #3
Lebih banyak alat yang masuk ke dalam mulut saya, dengan empat tangan perawat dan dua tangan dokter. Ok, perkosa saja mulut saya.
DG: Mulutnya buka yang lebih lebar
Joe: *Kentang! Rahang gw sudah keram dari tadi dan bentar lagi gantian otak gw!!!*
DG: kasih tahu ya kalo ngilu
Joe: rla….rlo…grala..glaaa….. *mulut penuh air*
DG: ok, kasih tanda tangan aja
DG: wah keknya syarafnya harus diamputasi nih…. Loh?! lho?!! Hei?! Heii???
Joe: *pingsan dengan mulut berbusa*

Atau pengalamannya menukar hadiah makan malam Valentine dengan membuatkan SIM untuk sang mantan pacar:

Saat pacaran, pengalaman pertama valentine lebih aneh lagi. Dihabiskan di Samsat Bogor, bikin SIM pacar. Ini bisa jadi salah-satu hadiah buat cewe. Sedikit tips dari saya, kalo kamu belum bisa berikan STNK mobil atas nama dia, berikan SIM baru atas nama dia!

MantanPacar: say, makasih ya sudah dibuatkan SIM *dengan manja*
saya: ehm….
MP: jadi sekarang gak takut lagi bawah mobil kamu
saya: hm… (kok saya merasa telah membuat keputusan yang salah ya?)
MP: jadi kita makan di mana nih nanti malam?
saya: errr…
MP: kamu tahu kan cafe yang kemarin kita lewati?
saya: errr….
MP: keknya bagus tuh. Romantis. Dinner di sana aja ya, say?
saya: errrr………
MP: say?
saya: errrrrr………….
say??
saya: yang, kita makan di kedai dekat kostmu aja ya? Biaya SIMmu 200ribu. Yang? Yang? Kok diem?? Yang……??

Ternyata memang tetap harus pakai makan malam. Akhirnya berhasil juga dinner di cafe tersebut setelah seminggu penuh saya didiamkan….

Joe gila! Tapi terima kasih karena sudah membuat saya bertahan melewati hari ini dengan celotehan anehmu itu! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP