~ liturgi ~
suatu senja, ada upacara kecil pecah di atas mejaku. upacara-upacara sepatutnya sunyi. seperti doa-doa yang ditasbihkan dalam hati. kata-kata merinai di jendela. aku teringat akan candi-candi. perayaan tanpa suara. mantra-mantra yang mengalun diam di antara nyala ribuan lilin. mengingatkanku pada masa-masa yang jauh. sesuatu yang nyaris purba. orang-orang yang menengadah ke langit. merunduk ke bumi. lalu berdoa. karena mereka ingin. karena mereka ingat. upacara di mejaku adalah serupa pengingat tentang dirimu. juga untuk aku yang menginginkan kamu. namamu berjatuhan di atas kepalaku. ribuan keheningan. seperti doa-doa yang sampai ke tujuan. demi kemudian-kemudian dan kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang, mataku terpejam. bibirku terkatup. hatiku terbuka.
~ liturgy ~
one evening, a small ceremony takes place on my desk. ceremonies are supposed to be still. like prayers, recited at heart. words are pouring down the window. my mind goes to the temples. soundless celebrations. silent chants, flowing among thousands of candlelights. reminding me of faraway moments. something that is almost ancient. people who look up to the sky. bow down to the earth. then pray. because they want to. because they remember. the ceremony on my desk is a kind of commemoration for you. and for myself, who longs for you. your name is falling on my head. thousands of quietudes. like prayers arriving at their destinations. in the name of upcomings and possibilities in the future, my eyes are closed. my lips are sealed. my heart is unlocked.
I’m back.
Sketchbook, brushes and watercolors. A tiny collection, a very minimum supply. But I’m enjoying my time (a surplus of anything won’t guarantee your happiness), making a mess in my room. During weekends, the windows are wide open. The sunlight is pouring in. On weekdays, arriving at home late at night, I’m embracing the light bulbs and the sound of the cicadas. Sitting in front of my dressing table, I’m coloring some of the drawings I’ve made the previous days, while waiting for my hair to dry. The sweet smell of the shampoo is wafting over my head.
I take the luxury of ordering beautiful illustration books, which are so darn expensive. But I am saving my money to get these books onto my working desk, with the same amount of determination that may be possessed by a woman who has been craving for a pair of branded shoes for years. Books, of any kind, have always become my most valuable possessions. Especially when the books are beautifully illustrated!
Lately, sketchbooks and journals of artists and painters draw me in. It’s like peeking into their creative minds and nibbling at it (hmm, sounds zombie-ish, but no, it’s actually ‘nibbling’ in a rather cute way!)
Thus, I’m back with my sketchbook, brushes, and watercolors. Something I’ve given up hope for long ago. But now it feels exciting and dear to me again, all of a sudden. Travel journal catches my heart as it captures three things that I’m so in love with: traveling, writing, and drawing.
So, I’m starting to paint Hong Kong while preparing myself to paint my future journeys.
Painting is just another way of keeping a diary | Pablo Picasso
The Jakarta sky was shining above my head. It was 2 pm, a Sunday, some time in late December. The weather was hot and humid, as always. I stepped into the outdoors with my shirt, short pants, and flip-flops. I instantly fell in love with the potted plants and frangipanis. The unlit candles, floating silently on top of coconut oil inside transparent glasses. The wooden floor. And the rooftop pool overlooking the city’s tall buildings. I dipped my toes in there. The cold water felt calming, relaxing, and… a bit jellyish, like the feeling you got when you dipped your hands into a bowl full of marshmallows. Therapeutic in a way, that soothing kind of vibe that enveloped you every time you’re thinking of those lovely memories you’ve shared with someone so dear to your heart.
This morning, I stumbled upon a beautiful song called Wish You Were Here by Blackmore’s Night, posted by a friend. It brought back all the sweet thoughts I had that day, one Sunday afternoon, when I was dipping my toes in the cold water, secretly thinking about you and wondering how perfect it would be if you were here with me. To my surprise, I found more songs with the title Wish You Were Here, and they are all so bewitching, I couldn’t help but share it here. From the sweetest tones to the rockin’ style, old and new, upbeat and classic, you’ll be amazed by these:
1. Wish You Were Here by Blackmore’s Night
2. Wish You Were Here by Endah & Rhesa
3. Wish You Were Here by Avril Lavigne
4. Wish You Were Here by The Sounds
5. Wish You Were Here by Ryan Adams
6. Wish You Were Here by Incubus
7. Wish You Were Here – Pink Floyd
8. Wish You Were Here – Bliss [Buddha Bar version]
9. Wish You Were Here – Mark Wills
10. Wish You Were Here – Eddie Fisher
11. Wish You Were Here by Fleetwood Mac
12. Wish You Were Here by Stefani Germanotta
[And these are for you. One song for each passing month. Wish you were here.]
Setiap kali ingatan tentangnya berlompatan dalam benakmu, kamu ingin meraih buku sketsa yang diberikan kawan baikmu itu. Isi kepalamu tumpah ke atas kertas dalam berbagai bentuk, tekstur, dan warna. Kata-kata yang berpusar di sekelilingnya: rahasia. Kamu berharap suatu hari nanti kamu bisa menggambar seperti Anna Laitinen, atau Oliver Jeffers. Tetapi sementara ini kamu sudah cukup berpuas diri dengan sebatang pensil arang, tiga macam kuas, dan cat air delapan warna dari sebuah supermarket Jepang.
“The place I like best in the world is beside you.”
Kamu selalu jatuh cinta pada goresan pensil di atas kertas. Kamu berharap ia juga. Temanmu bertanya apa yang kamu lihat dalam dirinya. Kamu bilang kamu suka karena ia selalu bersentuhan dengan dunia. Ia melihat; bukannya menutup mata. Kata temanmu, apa pentingnya bersentuhan dengan dunia. Kamu bilang kamu ingin bersama seseorang yang impiannya menyentuh bintang-bintang, namun kakinya tetap menjejak tanah.
Apa pentingnya menjejak tanah, temanmu kembali bertanya.
Agar kamu mengerti, jawabmu. Ada perbedaan yang besar antara tidak tahu dan tidak mau tahu. Menjejak tanah akan membuatmu merasa lebih rendah hati. Dari para petugas berseragam yang naik-turun seharian dalam lift transparan di sebuah pusat perbelanjaan, selamanya bertanya: “Lantai berapa?” sampai petugas kebersihan di toilet klub malam yang harus menunggui perempuan-perempuan cantik yang terlalu mabuk untuk menyiram bekas-bekas muntahan dari dudukan kloset. Atau petugas pengantar makanan cepat saji yang menembus kemacetan Jakarta dengan motornya di tengah badai, untuk meletakkan sepiring makanan hangat di kubikelmu yang kering dan nyaman.
Kamu menyukainya karena ia juga melihat hal-hal yang dilewatkan banyak orang. Kamu bisa berbincang dengannya tentang nelayan-nelayan di Gaza yang diserang tentara Israel ketika mencoba pergi melaut, juga tentang pencari suaka asal Afghanistan yang disiksa hingga tewas di Pontianak oleh petugas imigrasi. Kamu juga tahu kalian akan selalu bisa berbincang tentang secangkir kopi, buku-buku puisi, lukisan abstrak, film-film festival, juga perjalanan untuk menandai peta ke tempat-tempat yang belum pernah kalian datangi sebelumnya.
Demikianlah. Maka kamu telah menahbiskan rasa sukamu atas dirinya.
____________________________________
:: Jakarta, dari balik jendela. Suatu sore setelah hujan reda.
I left my broken heart
somewhere under the sky
You stepped on it
accidentally
carried it home,
crushed
under the sole of your shoes
left it on the entrance rugs
Getting soaked under the rain,
the sun,
cat piss,
and poppy seeds
My broken heart’s been knocking
on your door
since then
Let me in.
———–
:: Vietopia, March 5, 2012. Cloudy with a little bit of sunshine
I thought I had forgotten. But it all came back again.
Tonight with the first spring thunder. In a rush of rain.
— Sara Teasdale, Spring Rain
#1.
Kau sudah nyaris melupakan sesuatu yang tercecer dalam sebuah perjalanan. Kau nyaris percaya bahwa kau sudah sungguh-sungguh kehilangan. Tentu saja, kau merasa sedih—tetapi kau melepaskannya pada semesta, membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya. Karena bukankah segala sesuatu akan jatuh tepat pada tempatnya, ketika waktunya tiba?
Lalu kemarin semesta mengantarkannya ke hadapanmu: sesuatu yang sempat tercecer dalam sebuah perjalanan, tetapi tidak pernah hilang. Sesungguhnya ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali padamu.
#2.
Ya, tepat dua ratus tiga puluh hari, atau tiga puluh dua minggu, atau lima ribu lima ratus dua puluh jam, atau tiga ratus tiga puluh satu ribu dua ratus menit, atau sembilan belas juta delapan ratus tujuh puluh dua ribu detik kemudian, semesta mengantarkannya ke hadapanmu, begitu saja. Dia, yang kau kira telah hilang tercecer dalam sebuah perjalanan. Yang kau pikir takkan pernah bisa kau lihat lagi seumur hidupmu.
Kau terkejut ketika membuka pintu malam itu, dan menemukannya berdiri di hadapanmu. Kau pun bertanya mengapa tiba-tiba saja dia berada di situ.
“Aku sudah selalu berada di sini sejak semula,” katanya. “Tetapi baru malam ini, pintumu terbuka.”
#3.
Ia bilang, kau sudah menyimpan hatinya sejak dulu. Sejak pertama kali ia melihatmu. Kau tak tahu apakah ia bersungguh-sungguh; tetapi kau senang mendengarnya. Kau bertanya, mengapa kali pertama kalian bertemu itu, ia tidak mengajakmu keluar untuk minum kopi. Ia bilang, ia pikir kau tidak tertarik. Karenanya, ada jeda waktu sedemikian lama hingga ia kemudian memberanikan diri dengan mencoba menghubungimu lagi.
Ia tak tahu bahwa selama ini, ia juga sering melintas dalam benakmu.
Lalu, kau menyadari satu hal. Di dunia ini, pastilah ada begitu banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk jatuh cinta (atau sekadar ngobrol-ngobrol sambil menyesap secangkir kopi) hanya karena terlalu lekas hanyut dalam pemikiran-pemikiran dan prasangka-prasangka mereka sendiri.
#4.
Kau meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka. Orang-orang bilang kau ceroboh, tetapi kau tahu sebaliknya: kau justru sangat berhati-hati. Kau sudah sering terluka. Kau sedang tak ingin terikat pada apapun, pada siapapun. Dia bisa tetap tinggal jika dia ingin, tetapi kau tidak akan menjanjikan apa-apa. Dia bisa pergi jika dia ragu, dan kau tak akan kehilangan apa-apa.
#5.
Kau adalah cermin baginya, dia adalah cermin bagimu. Di dalam dirinya, kau melihat dirimu. Kau bertanya, jika kau adalah cermin baginya, dan ia berdiri di hadapanmu, refleksi macam apa yang akan dilihatnya dalam dirimu?
Ia tidak menjawab.
Tetapi kau pun tak memerlukan jawaban atas pertanyaanmu itu.
#6.
Kau meletakkan namanya di atas lidahmu, menggulungnya dalam sesesap kopi hangat. Lalu kau memainkannya berulang-ulang, mengucapkannya tanpa rasa bosan hingga nama-nama itu melebur dengan detak jantungmu. Kau merasa seperti seseorang yang tengah bertasbih atau berdoa rosario. Sepanjang hari, namanya masih selalu meninggalkan aroma mint dalam rongga mulutmu dan hangat cengkeh di tepian bibirmu.
#7.
Kau melingkari namanya dengan pucuk-pucuk teh. Carnation. Menyeduhnya dengan air mendidih. Kau membiarkannya mendingin di dekat jendela. Jendela tempat kau sering memandangi hujan itu. Ketika wangi teh meruap di udara dan membuat jendela berembun, kau menyesapnya dengan khidmat. Carnation. Aromanya yang kuat akan menghilangkan after-taste mint dan cengkeh yang ditinggalkannya padamu. Kau ingin membasuh dirimu hingga luruh.
#8.
Kau melihatnya sebagai kawan dalam sebuah perjalanan. Kalian memang tak berjalan beriringan, tetapi kau selalu membayangkan sebuah dunia paralel dalam benakmu. Ada kau di sisi sini, ia di sisi sana, dan seperti adegan dalam sebuah film, kalian sesungguhnya tengah berjalan dalam sebuah lingkaran. Tak berawal. Tak berakhir.
Ketika kalian menengadah ke langit malam dan melihat bintang, kalian tengah melihat ke dalam jiwa satu sama lain.
#9.
Pagi ini, kau ingin mengantarkan kata-kata ke depan pintu rumahnya. Kau ingin menjejali kotak posnya dengan huruf-huruf yang akan beterbangan keluar ketika tutupnya dibuka. Kau ingin memenuhi kamarnya dengan aksara-aksara dalam berbagai bentuk dan warna. Lalu diam-diam kau melumatkan beberapa kalimat ke atas bibirnya: sebuah doa. Agar kalian bahagia, berdua; ataupun sendiri-sendiri.
You can be sad for those left or be thankful for those who stay.
——————————————
*) The Art of Looking Sideways is the title of designer Alan Fletcher’s book that was posted by my friend, Astrid Schwarz.
Pada hujan dan lagu-lagu yang berputar dari iPod-ku, juga kilasan tentangmu di balik pelupuk mata yang terpejam: kamu adalah jawaban dari doa-doa yang bahkan belum menyelinap keluar dari perantaraan bibirku.
The journey is my destination. Pada sekian perjalanan yang sudah, akan, dan tidak pernah usai, sesungguhnya setiap perjalanan menujumu adalah perjalanan untuk mengenal diriku.
Darling, there’s one thing I’d like you to know, and I am going to say this once. Only once. Why? Simply because I don’t believe in repetitions. Repetitions are dull, boring, and unnecessary. Thus, I am going to say this once. Yes, only once.
My dear, I have been so used to be an umbrella.
You want an umbrella only when it’s raining hard or when it’s blazing hot. When the weather is perfect, you’ll only see an umbrella as a burden; something that will only add extra weights to your backpack or a pointless hassle since you have to make sure that you hadn’t left it on a park-bench somewhere. It may seem that the slightly unfair fact about this situation is such that you can choose whether you’d like to carry an umbrella around or not; but the umbrella can’t choose to be anything else but itself: an umbrella, that will shelter you when you need it.
However, sometimes people missed this tiny bit of something so essential: the umbrella can shelter you only if you have one ready near you, or if you have stored one inside your bag this whole time.
My love, I have been an umbrella all my life, and I have learned a lot about being one. I have learned not to hate myself (like I used to) for being an umbrella, but to embrace this role as something sacred. Something precious. I am now carrying this role with serenity, knowing that being an umbrella is not something hopeless. The truth is that I’m here for a cause. I am supposed to be here, at this particular phase of my life, for you. And everything will take care of itself when the time comes.
However, my darling, I can’t be ready to shelter you all the time if you don’t carry me with you all the time. One day, when it rains so darn hard and you’re about to take me out from your bag, you’ll remember that you have left me on a bench at a train station somewhere when the weather was perfect. Will you regret your carelessness by then? Maybe. Maybe not. Came to think about it, you can always get yourself a new umbrella. But… hey, the rain is pouring now, my dear! It’s pouring even harder and harder, and by the time you get a new umbrella you’re already soaking wet.
Life is fair in many ways, dear, even for an umbrella that cannot choose to be anything but itself: an umbrella. At times, things may seem difficult to comprehend, but I just want you to know all this, my love, and I will only say this once. Because I don’t believe in repetitions. Repetitions are dull, boring, and unnecessary.
Don’t you think?