Hasil dari membosan pada long weekend kemarin adalah sebuah celana jeans baru. Setelah membongkar-bongkar lemari pakaian, saya menemukan celana jeans masa SMA yang masih muat dipakai, tetapi sudah belel dan kedodoran di bagian kakinya–sehingga tidak pas lagi jika dikenakan.

Karenanya, saya mengangkut gunting bahan dan kaleng peralatan menjahit ke lantai kamar, kemudian memulai rangkaian #jeansmakeover. Langkah pertama, tentunya dengan memotong celana jeans lama saya menjadi pendek.

Dilanjutkan dengan menarik benang-benang yang keluar dan berjuntaian di sepanjang bekas potongan sehingga menghasilkan efek ‘gembel’ yang lebih rapi (harus berhati-hati saat menarik juntaian benang-benang ini agar tidak berakhir dengan melukai atau menyayat jemari).

Setelah juntaian benang ‘dirapikan’ (tapi masih memberikan efek ‘gembel’), saatnya memberikan ‘hiasan’ pada celana pendek. Salah satunya dengan menempelkan liontin anjing dengan peniti. Kemudian menyobek-nyobek permukaan satunya dengan cutter; menggunakan bekas potongan celana jeans untuk memberi efek tambalan, dan menjahitkan kancing di atasnya sebagai pemanis.

Ketika dipadukan dengan kaos dan dikenakan, kira-kira seperti inilah hasil yang didapat:

Senangnya memakai sesuatu buatan sendiri, dan… eh, ini bisa dikategorikan green fashion nggak, ya? Kan termasuk mendaur ulang jeans yang lama sehingga tidak usah membeli baru, berarti: menghemat energi untuk produksi satu jeans baru di pabrik 🙂 *panggil aktivis green fashion @fairyteeth* 😉

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pesta Blogger, ya…

Hmm, acara yang satu itu memang akan selalu punya kenangan spesial buat saya. Bukan hanya karena acara itu menjadi awal pertemuan saya dengan kekasih (cih, curcol!), tapi karena memang selama tiga tahun terakhir saya ikut membantu para Chairman mengurusi hal-hal di balik layar Pesta Blogger itu sendiri (misalnya menyeterika kemeja Chairman):

Selain itu, perusahaan tempat saya bekerja juga membantu mengorganisasi acara ini.

Tidak bisa dipungkiri, saya memang merasa dekat dengan ajang itu. Dan gara-gara percakapan seputar Pesta Blogger di Twitter hari ini, saya hanya ingin numpang bermimpi. Mimpi tentang Pesta Blogger, yang juga sudah sempat saya bagi sedikit dengan @anakcerdas 🙂

Sebetulnya, ide awal Pesta Blogger sendiri adalah untuk menjadi semacam ajang tahunan bagi para blogger di Indonesia untuk bertemu muka secara langsung, bertukar informasi, membangun diskusi, serta memperluas jaringan.

Dalam perjalanannya, saya tahu bahwa memang tidak mudah mengakomodasi keinginan begitu banyak orang dengan ketertarikan yang beragam. Dan untuk ini saya salut pada para Chairman dan anggota Panitia yang selalu berusaha memuaskan kawan-kawan blogger dan berusaha mengakomodasi permintaan mereka dalam batas-batas yang dimungkinkan.

Kenyataannya, para blogger memang nggak bisa diseragamkan.

Ada yang datang ke Pesta Blogger hanya untuk bertemu kawan-kawan terutama yang datang dari daerah lain (semacam silaturahmi massal setahun sekali) kemudian berfoto-foto dan ngobrol-ngobrol santai. Ada juga yang datang dengan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang isu-isu yang ada kaitannya dengan blog atau kebebasan berekspresi. Sebagian lagi ingin membuat semacam diskusi sehingga ada sesuatu yang bisa ‘dihasilkan’ dari Pesta Blogger.

Semua ini tidak ada yang salah. Tidak ada juga yang lebih penting dari yang lain–setidaknya menurut saya. Semua orang punya skala prioritas masing-masing.

Jika Pesta Blogger memang merupakan wadah bagi para blogger, mereka bebas memilih apakah hanya ingin ngobrol santai dengan kawan-kawan blogger sambil menikmati hiburan dan makan-makan, atau hendak membahas isu-isu serius untuk kemajuan dunia blog di Indonesia.

Sah-sah saja. Toh semua kepentingan ini masih bisa diwadahi oleh keinginan Pesta Blogger itu sendiri: menjadi semacam ajang tahunan bagi para blogger di Indonesia untuk bertemu muka secara langsung, bertukar informasi, membangun diskusi, serta memperluas jaringan.

Dalam perkembangannya, dunia Internet semakin meluas. Bukan cuma blogger yang menulis di Internet dengan menggunakan Blogspot, WordPress, Tumblr, atau Posterous, kita juga memiliki Facebook (di mana penggunanya masih bisa ‘nge-blog’ di Facebook Notes), ada juga Twitter dan Plurk (yang menjadi micro-blogging tools), juga kelompok-kelompok lain seperti Koprol, Kaskus, atau 4Square. Ditambah lagi wadah-wadah user-generated content seperti Politikana, Ngerumpi, Curipandang, dan lain sebagainya.

Saya setuju dengan Iman Brotoseno, Chairman Pesta Blogger 2009. Pesta Blogger tidak lebih dari sebuah ‘merk’. Dalam impian saya, Pesta Blogger merupakan sebuah wadah yang cair. Dia bisa bertahan sebagai sebuah ‘merk’, tidak berarti dia harus dan hanya diperuntukkan bagi para blogger.

Sebagai blogger, dan pengguna layanan new media lainnya, impian saya adalah menjadikan Pesta Blogger (atau apapun sebutannya nanti) sebagai semacam festival tahunan bagi para onliners–di manapun mereka berkiprah.

Terus terang, saya suka dengan konsep campuran Sundaze dan JavaJazz untuk diterapkan di Pesta Blogger. Kita bisa punya “stand-stand” yang disponsori brand-brand tertentu.

Misalnya, stand atau area “FASHION” di Pesta Blogger akan disponsori salah satu brand perawatan wajah. Di sana akan jadi tempat berkumpulnya para fashion blogger dan kawan-kawan Fashionese Daily. Mereka bisa membuat red carpet untuk fashion show kecil-kecilan, membuat semacam photowall yang fashionable, memberikan tips make-up dan perawatan rambut, membuka stand jualan baju lesehan dan meletakkan dagangannya di dalam koper-koper yang mereka bawa sendiri, atau membuat award dadakan untuk “Best-dress” atau “Best-costume” di Pesta Blogger. CottonInk bisa membuat lomba sebanyak-banyaknya bergaya unik dengan CottonInk on the spot.

Mengapa fashion?

Mengapa tidak? Bukankah blogger-blogger fashion macam Diana Rikasari atau Michelle Koesnadi menduduki top ranking di Indonesia Matters? Dan seru, kan, punya jiwa-jiwa wirausaha yang kreatif di bidang fashion?

Dan nggak cuma fashion, mereka yang suka IT juga bisa membuka area sendiri. Dibantu kawan-kawan Fresh!, misalnya, kelompok ini bisa mengatur siapa yang akan berbicara di sana, jam berapa, ada acara apa saja, hendak memamerkan gadget-gadget terbaru apa, dan lain sebagainya. Yang suka musik, bisa ngumpul sendiri juga dan bikin area hiburan yang diisi dengan nyanyian dan pertunjukan dari suara-suara emas macam Sita dan Elia Bintang. Bukan tidak mungkin @RollingStoneINA memberikan dukungannya. Toh mereka juga sangat aktif di ranah daring. Mereka yang tertarik dengan kuliner dan sering berbagi resep mau jualan makanan dan minuman? Yuk! 🙂

Kaskusers bisa punya area sendiri–yang di host oleh para ‘Juragan’. Teman-teman Twitter bisa punya area sendiri juga, di mana mereka bisa tweet-up dengan Twitter user dari daerah lain; kompak memakai kaos Twitter–dan kemudian merancang sebuah aksi live-tweeting dari arena Pesta Blogger untuk memperkenalkan aksi-aksi positif yang pernah digalang kawan-kawan Twitter di Indonesia kepada dunia, misalnya.

Yang mau diskusi? Bukannya tidak mungkin kita alokasikan satu ruangan sendiri untuk dijadwalkan diskusi-diskusi yang lebih serius; misalnya mengenai ranah Internet dengan Pak Menteri @tifsembiring. Atau mengenai isu-isu sexual harassment di Internet dan pemberdayaan perempuan bersama Mbak @sofiakartika. Tentang bagaimana anak muda bisa membuat perubahan lewat proses pembelajaran kreatif di kafe-kafe dengan @nicowijaya. Tentang bagaimana brand/perusahaan bisa menggunakan Twitter untuk memancing diskusi dan mengatasi keluhan secara positif bersama @blitzmegaplex. Tentang menggagas social movement lewat milis dan blog seperti Blood for Life. Tentang menerbitkan buku bersama Mbok Venus dan Silly.

The possibility is there. The chance is endless.

Yang menjadikan ranah daring menarik adalah karena dia ‘niche’. Saya tidak dipaksa membaca hal-hal yang tidak penting (atau kurang penting–atau kurang menarik) bagi saya. Saya bisa memilih informasi yang saya suka dan relevan dengan kebutuhan saya.

Impian saya, Pesta Blogger juga ke depannya akan menjadi seperti itu. Setiap orang punya buku panduan kecil seperti yang didapatkan di Java Jazz. Bebas mau memilih berkunjung ke mana dan melihat atau mengikuti diskusi mengenai apa. Mungkin sudah bukan tempatnya lagi kita dikumpulkan dalam satu ruangan besar untuk mendengarkan diskusi mengenai satu topik beramai-ramai.

Sebagaimana ajang Java Jazz yang punya begitu banyak panggung, kita bebas mau menonton jazz yang ‘serius’ seperti Bob James, yang romantis seperti Jane Monheit, atau ikut berdesakan nonton RAN. Kita bisa kok tetap menggunakan ajang Pesta Blogger untuk memuaskan ketertarikan kita akan hal-hal dan topik-topik tertentu, tanpa melupakan bahwa kita semua ini punya suara dan andil yang besar kalau mau menyuarakan aksi bersama-sama.

Bersama-sama, lihat saja apa yang bisa kita lakukan untuk Prita, untuk berkata ‘tidak’ atau ‘pikir-pikir lagi’ terhadap RPM Konten, untuk #IndonesiaUnite… meski berbeda-beda, untuk tujuan baik, kita tetap bersatu, kok.

Bukan begitu?

Baiklah, impian saya, saya sudahi dulu di sini 🙂 *kembali lagi ke cangkir kopi berikutnya*

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ini adalah salah satu postingan nggak penting. Tapi, siapa bilang postingan di blog harus penting? Jadi begini, saya punya avatar Twitter baru 😀

Tentu saja ini salah satu masterpiece dari the talented Ms. Kapkap. Avatar seri ini adalah avatar kami dan hewan-hewan tempat curhat dan menumpahkan stress (comfort-pet series).

Hewan saya adalah ayam.

Mengapa ayam? Lucu aja, waktu ditanya hewan yang saya inginkan, saya langsung menjawab anak ayam 😀

Seri berikutnya adalah milik Kapkap dengan kucingnya yang suka mellow:

Dan Nena yang suka melompat-lompat seperti kelincinya:

Dan hari ini ketiga avatar comfort-pet mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ibu Guru yang keren, gaul, muda, dan cantik: Mbak Lita Mariana 🙂 Selamat ulang tahun, ya, Bu Guru! 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Melanjutkan postingan kembar siam saya, Nena, mengenai stress, berikut adalah stress dan pengaruhnya di balik layar tempat kami bekerja:

1. Lemah otak ketika ditanya pertanyaan sederhana oleh bos, dan bos membalas dengan memberikan ‘thinking cap’ untuk membantu proses berpikir (tidak efektif). Korban: saya.

2. Tidak sempat menata rambut di rumah, sehingga harus menggulung rambut pagi-pagi buta di kantor sebelum orang-orang berdatangan (ternyata bos sudah datang). Korban: Nena.

3. Mau bersin saja susah. Korban: Nena.

4. Gampang ketiduran. Korban: Kapkap, feat. James Norris.

*) semua kartun di atas adalah hasil karya the famous Ms. Kapkap; dan merepresentasikan kejadian yang sungguh-sungguh terjadi (sumpah, deh!)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu membuatku gugup waktu itu.

Kita bertemu untuk yang pertama kali di tengah keramaian. Orang-orang di sekitar kita berteriak, tersenyum, tertawa, menyapa, menjepretkan kamera, berjabat tangan dan melambai sekaligus. Tergesa dan terburu menuju entah. Koridor itu terasa sempit dan penuh-sesak, tetapi keberadaan kamu di sana melampaui semua hingar-bingar itu.

Mungkin kamu tidak tahu bahwa aku sudah mengagumi kamu sejak dulu. Lama sebelum kamu menyadari bahwa aku ada.

Keesokan harinya kita bertemu lagi untuk menikmati sushi dan kopi hingga senja hari. Dan setelah ratusan hari, aku masih ingat dengan jelas di mana kamu duduk (kita duduk bersebelahan dengan kamu di sisi kiri), baju apa yang kamu kenakan, makanan penutup apa yang kamu pesan… dan betapa aku sudah merasa nyaman berada di dekatmu sejak saat itu.

Dan waktu mungkin memang selalu mencandai kita sedemikian lucu. Atau mungkin ia hanya ingin kita menunggu dan menjadi yakin pada apa yang kita rasa. Mungkin juga ia sengaja membuat kita berjalan pelan-pelan, sehingga di masa depan kita akan punya cukup banyak kenangan untuk disimpan dan kisah-kisah untuk diceritakan. Atau bisa jadi ia hanya ingin menguji seberapa lama sekeping perasaan akan bertahan setelah jarak memisahkan.

Tetapi ternyata, perasaan itu bertahan.

Ketika kita bertemu kembali di kotamu setelah ratusan hari berlalu, malam itu kamu menemukan aku. Dan sejak saat itu aku tidak ingin hilang lagi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Update: versi PDF 28HARI bisa diunduh di sini.

___

Pada tanggal 1 Februari 2010, seorang perempuan menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai lelakinya. Di hari yang sama, seorang lelaki menuliskan kisah dan kenangan-kenangan mengenai perempuannya. Catatan-catatan mereka meninggalkan jejak yang acak; tetapi nampak saling berhubungan. Tetapi siapa mereka? Apa hubungan di antara keduanya? Dan apa yang terjadi ketika catatan-catatan mereka berakhir tepat pada tanggal 14 Februari?

Jawabannya adalah 28 HARI; yang terdiri dari 14 hari dalam kehidupan seorang perempuan dan 14 hari dalam kehidupan seorang lelaki.

28 HARI berawal dari percakapan di senja hari antara saya dan @ndorokakung; yang kemudian melahirkan ide untuk berduet menulis semacam prosa. Ya, 28 HARI memang bukan jenis cerita pendek, bukan juga cerita bersambung. Saya sendiri lebih suka menyebutnya prosa saja.

Meski ini bukan yang pertama kali, namun 28 HARI bisa jadi merupakan duet saya yang pertama dengan NdoroKakung. Saya sejak lama mengagumi prosa-prosa NdoroKakung; dan menghargai ketaatannya terhadap kaidah bahasa. Ia juga punya asupan kata-kata indah yang sudah jarang digunakan lagi sejak era Balai Pustaka; dan kami sepertinya bisa saling mengerti sisi melankolis sekaligus romantis dalam prosa masing-masing. Sebelum ini, kami memang sudah kerap berbalas prosa melalui blog masing-masing, namun semuanya biasanya terjadi secara spontan, tanpa direncanakan.

Proyek 28 HARI yang kami kerjakan ini pun menghirup kebebasan yang sama. Kami hanya mengambil sudut perempuan dan sudut lelaki, kemudian bebas menuliskan apa saja. Tak ada diskusi mengenai alur yang harus diikuti atau pakem yang harus diseragamkan. Kami hanya mengikuti hati, imajinasi, dan jemari–untuk kemudian masing-masing menyulamkan 14 hari pada catatan-catatan ini.

Kutipan-kutipan dari proyek 28 HARI inilah yang sejak bulan lalu kerap kami ‘bocorkan’ melalui Twitter, dengan hashtag #28hari.

Buat saya 28 HARI bukan saja sebuah proyek ‘imajiner’. Dalam proses penulisan 28 HARI, ternyata saya juga menuliskan kisah cinta saya sendiri di dunia nyata. Itulah sebabnya saya sempat menelantarkan proyek ini selama beberapa waktu; sebelum kemudian merampungkannya dengan perasaan hati yang tengah berbunga-bunga.

Mengutip kata-kata NdoroKakung, “Kami telah selesai. Giliran sampean, membaca, menikmati, dan memberi komentar. Kami akan mendengarkannya dengan hati terbuka. Seperti musim semi yang bercahaya…”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Chetan Bagat, 2005 | 276 halaman

Novel ini diawali dengan pertemuan ‘tak sengaja’ antara seorang penulis pendatang baru dengan seorang perempuan cantik, dalam perjalanan kereta dari Kanpur menuju Delhi. Untuk membunuh waktu dalam perjalanan malam hari yang panjang, si perempuan kemudian menawarkan diri untuk menuturkan sebuah cerita. Dengan satu syarat: si penulis harus menjadikan cerita ini sebagai cerita dalam buku keduanya.

Si penulis awalnya ragu-ragu, kemudian bertanya tentang apa cerita yang hendak dikisahkan si perempuan. Perempuan itu berkata bahwa ia akan bercerita mengenai enam orang pegawai sebuah call center, yang terjadi pada suatu malam. Malam itu, mereka mendapatkan sebuah panggilan telepon. Dari Tuhan.

Maka dimulailah kisah sederhana tapi memikat One Night @ The Call Center. Diceritakan dari sudut pandang seorang pemuda India 26 tahun bernama Shyam Mehra (atau Sam Marcy, bagi para peneleponnya dari Amerika) yang bekerja malam hingga dini hari di sebuah call center untuk perusahaan komputer dan peralatan rumah tangga Amerika.

Kisah Shyam mengalir dengan wajar. Darinya, kita mengenal kelima orang lain yang bekerja bersamanya di salah satu divisi call center itu. Vroom—yang masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya saling membenci dan menyalurkannya lewat emosi yang meledak-ledak pada penelepon call center yang rasis. Priyanka—mantan kekasih Shyam yang masih dicintainya, yang mencampakkan Shyam karena ibu Priyanka mengatakan bahwa Shyam tidak mapan. Esha—yang cantik dan seksi, dan bercita-cita menjadi model. Radhika—istri ‘teladan’ yang rela melepaskan baju-baju kerennya dan memakai sari serta tutup kepala demi menyenangkan ibu mertuanya yang konservatif dan kejam; karena ia sangat mencintai suaminya. Serta Military Uncle—seorang kakek yang lebih banyak diam dan dijauhi anak serta menantunya.

Seperti judul novel ini, Shyam mengisahkan One Night @ The Call Center dalam satu malam yang resah. Inilah potret kehidupan generasi muda India—yang di satu sisi membenci Amerika, sekaligus memuja jeans, pizza, dan memimpikan suami yang bekerja di Microsoft dan digaji dalam dolar. Yang berpikiran modern sekaligus masih terkekang dalam pernikahan yang diatur oleh keluarga.

Keresahan masing-masing terekam dalam satu malam, ketika call center mereka mengalami gangguan teknis. Ketika mereka mendapatkan telepon dari Tuhan.

One Night @ The Call Center adalah novel yang mengasyikkan untuk dibaca. Gaya penulisan yang santai, lucu, dan cerdas, serta pribadi Shyam yang ‘manis’ tapi membuat geregetan menjadikan novel ini segar apa adanya. Chetan Bagat berhasil memberikan gambaran mental yang berbeda mengenai India di mata kaum muda—yang membuat kita berpikir, bahwa kita semua sesungguhnya cuma menginginkan satu hal dalam hidup: we want to be happy.

Dan tidak ada yang salah jika kita ingin mewujudkan kebahagiaan itu. Because we only live once.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Differentiate or die,” kata Jack Trout dan Steve Rivkin. RM Putri di Cikajang, Jakarta Selatan, sepertinya paham benar apa maksudnya dan menerapkannya dalam menu andalan mereka:

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Mungkin nggak banyak yang bisa kukatakan tentang perjalanan itu. Atau mungkin malah terlalu banyak, sehingga kata-kata saja nggak akan pernah bisa memberikan makna yang serupa. Tetapi setidaknya, selalu ada jejak-jejak yang tertinggal. Seperti koral dan pasir putih di Monkey Island, pada penghujung pelayaran kita menelusuri Lan Ha Bay pagi itu.

Kenyataannya, memang nggak mungkin kita bisa meraup semua dalam satu genggaman tangan. Lagipula, apa gunanya semua–jika sedikit yang tertinggal dalam genggaman itu sudah cukup banyak meninggalkan kenangan?

Jadi, mari kita sisakan koral dan pasir putih itu untuk mereka yang juga hendak menikmatinya. Mereka yang menempuh perjalanan setelah kita. Dan aku memang nggak memerlukan sebanyak-banyaknya hingga terlalu. Karena sedikit tentangmu sudah cukup menerbitkan matahari di timur langitku.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP