Dan aku menengadah pada suatu pagi. Kota asing di negeri asing. Tetapi langit selalu membuatku merasa tak terlalu jauh dari rumah. Darimu.

Mereka menyebutnya Iberia, diambil dari kata dalam bahasa Yunani Kuno Ιβηρία (Ibēría). Temuan di dalam gua prasejarah di Altamira dan peninggalan arkeologis di Atapuerca ribuan tahun sebelum Masehi menunjukkan bahwa manusia modern telah menetap di dataran Iberia, di sepanjang sungai Ebro, atau Ibērus. Kini dataran itu membentang dari Punta de Tarifa di Selatan ke Estaca de Bares Point di Utara, mewadahi Spanyol, Portugal, Andorra, juga Gibraltar, dengan Cabo da Roca di Barat dan Cap de Creus di Timur.

Ini adalah sebuah pagi di Barcelona. Dari sebuah apartemen di lantai atas Double Beates, tak jauh dari riuh-rendah La Rambla—jalanan paling terkenal di kota. Kamu tahu, Picasso, Miró, dan Hemingway dulu biasa berjalan-jalan di atasnya, lalu minum-minum di Bar Marsella di Carrer de Sant Pau, 65 atau London Bar di Carrer Nou de la Rambla 34.

Pagi itu, ada pintu yang membuka ke beranda. Menghadap ke gang sempit yang disesaki toko kelontong, galeri seni Hector Fernandez, juga kantor-kantor (aku mengintip seorang perempuan yang sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi buku-buku dan alat tulis).

Ada orang-orang berbicara, berteriak, suara rantai sepeda, juga salak anjing di kejauhan. Aku berdiri di sana, memandangi. Secangkir kopi hangat di tangan, memikirkanmu.

Quisiera que estuvieras aquí,

H.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

1. The beach. Don’t you just love going to the beach? This one is the view of Natsepa beach in Ambon, Molucca. We can sit side by side on the sand, enjoying a plate of the famous fruit ‘rujak’ and spend the rest of the day island-hopping on a speedboat.

2. A cup of coffee. This one is a cup of hot Balinese coffee, with its delicate sweetness and gentle acidity.

3. Pastries. A great company for a cup of coffee (or we can substitute the pastry with… #you, and that would be as sweet!). This one is taken in a small restaurant in La Rambla, Barcelona.

4. An old typewriter. Probably because you’re good with words—or your daily ‘proximity’ with words. And somehow I have always pictured you as an ‘old soul’: someone with such maturity beyond your years, as if you’ve lived for more than 100 years. This one is a vintage typewriter I came across in Triwindu Antique Market, Solo.

5. Artworks, paintings, and galleries. You have a love of art, and it shows in the way you view the world, the way you appreciate beauty unconventionally. This is a picture of a wonderful mess in Hector Fernández’s gallery at Double Beates, Barcelona.

6. Rain. From the black low-hanging clouds to the smell of the wet soil, from gazing at the droplets and listening to the calming sound of it. This one is taken from behind my working desk. The rain had just subsided.

7. Sunset. Because we share the love of capturing it. This one is taken in Telunas, Sugi Island, Batam.

8. Clouds. You know you’re happy at heart when you’re gazing at the funny-looking clouds and a smile appear on your lips. This one is taken in Lagos, from the balcony of the beach house. Do you see the huge cat-head below?

9. The sky. It makes me feel close to you. At times, we probably are looking at the same sky, at the same time, without actually realizing it. This one is taken in Sevilla (and–oh, look at those birds!)

10. A small café or restaurant. This one is taken in Lisboa. Look closely and you’ll see a man and a woman inside. One day, there will be you and me, meeting up for a late lunch and enjoying a small talk over our meals, discussing the most trivial things.

11. Beautiful light patterns. This one is taken in a winery in Jerez. The sunlight peers through the ‘grapevined’ roof, making those beautiful light patterns along the walls. Or maybe you simply reminded me of anything bright and beautiful.

————
*) a posting to celebrate 11.11.11

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shant even wake*

Jika hidup adalah pertaruhan, aku akan mempertaruhkan semuanya untuk kita. Kamu bilang aku bodoh. Aku bilang aku jatuh cinta. Orang-orang yang jatuh cinta seperti anak burung yang baru belajar terbang. Mereka tak tahu apakah sayap mereka sanggup mengangkat mereka di udara dan bisa mengepak sempurna. Mereka tak tahu apakah sayap berupa berkah atau kutuk—apakah terbang jauh dari rumah akan mengantarkan mereka menyaksikan pemandangan indah dari tempat-tempat yang jauh, atau membuat mereka rawan diketapel. Lalu, ketika jatuh, mereka juga tak tahu apakah ada ranting dan dedaunan yang akan menangkap mereka, atau akankah mereka tewas terhempas ke tanah keras.

Semua ini adalah tentang rasa percaya.

Screen shot 2013-11-16 at 9.08.02 AM

Jadi bahkan ketika aku meninggalkanmu hari itu, aku percaya. If it’s meant to be, it will happen.

Semua orang bicara tentang takdir: bahwa jika dua orang ditakdirkan untuk bersama, mereka akan bersatu juga pada akhirnya. Tetapi takdir—seperti semua hal yang ada di dunia ini, bisa jadi hanya sementara. Kita perlu bertanya dan mempersiapkan diri: seberapa lama kita ditakdirkan untuk bersama?

Takdir, juga bisa menjelma jadi serangkaian pelajaran berharga. Bersama belum tentu membawa bahagia. Mungkin kebersamaan membawa air mata atau sakit hati. Tetapi setidaknya kita belajar. Bahwa kita ditakdirkan untuk belajar dari satu sama lain. Mungkin kita ditakdirkan untuk bersatu lalu berpisah lagi, ketika masing-masing sudah cukup belajar dan bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kiss me, this the last time you may see me
This the last time light shall harm me
I shall cry myself to death*

Karena itulah kukatakan, bahwa jatuh cinta adalah pertaruhan demi pertaruhan. Ketika kita bertemu, aku mempertaruhkan hatiku untuk kutinggalkan bersamamu. Ketika kita berpisah, aku mempertaruhkan kemungkinan bahwa kita tak akan pernah bertemu lagi. Tetapi begitulah, dalam setiap pertaruhan, kita harus mengambil keputusan. Karena kita tidak punya banyak waktu. Dan sebesar apapun keinginan kita untuk menunggu, waktu tetap bergegas lewat. Sepertinya tidak bijaksana jika kita sekadar menunggu terlalu lama. Membiarkan momen-momen yang seharusnya mengada terbuang percuma.

Karena bukankah kita bisa menunggu sambil melakukan sesuatu: membaca buku, menanam bunga, mengupas apel, memotret sayuran segar di pasar, membuat istana pasir di tepi pantai, berbelanja di supermarket, minum kopi bersama sahabat, menonton film-film festival…

… jatuh cinta.

Funny, how you never showed your love to me
Lovely, oh the lights I can see
It is gleaming in my eyes like when you*

Ya, bukankah sementara menunggu itu kita masih bisa saling jatuh cinta?

Aku masih bisa memikirkanmu setiap saat. Mengunjungi tempat-tempat yang suatu hari nanti akan kutunjukkan kepadamu [“Di kedai kopi ini, mereka menyeduh Illy. Biasanya aku ke sini sendirian dan duduk di pojok sana itu, membaca Yoshimoto sambil mendengarkan denting piano,” aku berkisah sambil menggenggam tanganmu]. Merancang kata-kata cantik yang akan kukirimkan ke awan dan kutiupkan di atas kotamu, membasuhmu dalam guyuran hujan. Mengirimkan kartu-kartu pos dari tempat yang jauh [supaya kamu tahu bahwa di manapun aku berada, aku selalu mengingatmu]. Mencari-cari bintang yang tengah kau pandangi di kegelapan. Mendengarkan musik-musik yang sedang kau putar di tempatmu lewat tengah malam. Menuliskan surat-surat untukmu yang suatu hari nanti [mungkin] akan kukirimkan.

Burned me, tear my skin off and leave me
This the last time you may hold me
This the last time I shall say goodbye*

Jadi biarkanlah kita menikmati jeda kala menunggu itu. Sendiri-sendiri. Sampai suatu hari nanti kita bertemu lagi. Bersama. Berpisah lagi. Dan demikian seterusnya. Karena aku sadar, tidak akan pernah ada seseorang yang bisa memiliki yang lain seutuhnya. Demikian pula, selalu ada rentang waktu untuk setiap ‘selamanya’. Tetapi kita masih bisa menyimpan kenangan selama jeda menunggu itu. Dia akan tersimpan selama ingatan kita masih baik-baik saja.

Dan kalau memang hanya setumpuk kenangan ini yang bisa kumiliki di akhir hari, itupun tak mengapa.

*) diiringi dentingan Glow dari Frau.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Jelek-jelek begini, waktu kuliah dulu saya pernah menang lomba karya tulis se-DKI Jakarta, lho! Saya khusus membahas mengenai ecotourism. Mengapa saya jadi menyombong teringat kembali mengenai karya tulis ini? Tidak lain dan tidak bukan, karena ribut-ribut di linimasa saya: perihal voting Pulau Komodo untuk program New 7 Wonders yang kontroversial itu. Sebagai orang Indonesia, kita tentu bangga jika Pulau Komodo dinobatkan menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia. Mungkin ini juga yang membuat voting SMS untuk Pulau Komodo masih deras mengalir. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah: untuk apa?

Apa manfaat memenangkan New 7 Wonders ini bagi Pulau Komodo, penduduk lokal di Pulau Komodo, oleh penduduk lokal di Pulau Komodo, maupun para komodo itu sendiri? Jika jawabannya adalah: semakin banyaknya turis lokal maupun asing yang datang ke Pulau Komodo, pertanyaan saya berikutnya: apakah banjirnya turis lokal maupun asing berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat maupun konservasi di daerah wisata?

Idealnya demikian, sementara pada kenyataannya… sama sekali tidak.

Lihat saja Bali dengan segala permasalahannya kini. Saya ingat, pertama kali saya datang ke Pantai Dreamland, pantai itu baru dibuka dan masih sepi. Saya bisa merasakan keindahannya. Terpesona dengan pasirnya, lautnya… cantik! Tahun lalu saya kembali ke Dreamland untuk mereguk keindahan itu. Apa yang saya temukan? Pantai penuh sesak dengan manusia, penuh sampah, dan berbau.

Sedih? Tentu. Kecewa? Pasti.

Tetapi ini adalah masalah klasik di berbagai kawasan wisata di Indonesia. Baru-baru ini, UNESCO yang sudah menobatkan Borobudur sebagai warisan budaya dunia pun mengancam akan mencoret candi tersebut dari daftar mereka, karena kebersihan candi yang sangat memprihatinkan: mulai dari kompleks candi yang sangat kotor dan tidak terawat; sampai bau pesing yang menyengat. Jika Borobudur—yang sudah masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO saja—berakhir menyedihkan seperti ini, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa memenangkan New 7 Wonders akan membantu konservasi komodo dan lingkungan sekitar Pulau Komodo?

Untuk saya, yang menjadi masalah adalah: kita terlalu banyak memusatkan perhatian untuk menarik turis datang ke Indonesia, tetapi kurang memberikan perhatian bagi kesejahteraan penduduk lokal maupun konservasi di daerah wisata. Saking sibuknya beraktivitas ‘di luar’, kita sampai lupa melihat ‘ke dalam’.

Bagaimana kita bisa mengharapkan penduduk di daerah wisata menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya jika mereka sendiri masih tidak sejahtera dan terdesak secara ekonomi? Bagaimana kita bisa mengharapkan mereka ikut dalam kegiatan konservasi jika merasa sendiri tidak merasakan dampak pariwisata bagi kesejahteraan mereka? Bagaimana kita bisa mengharapkan penduduk lokal menjadi ‘jagawana’ di daerah mereka, jika mereka sendiri masih sulit perekonomiannya?

Karenanya, saya kemudian sangat mengerti, ketika—seperti yang dikatakan Wahyuana Wardoyo: jika kita ingin menolong komodo dan Pulau Komodo, kita juga harus menolong penduduk lokal Komodo agar mereka sejahtera.

Ecotourism—atau ekowisata, sebenarnya bukan konsep yang baru. Ekowisata diartikan sebagai: “Perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke daerah alami, yang ditujukan untuk konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal”. Jika wisata alam atau “nature-based tourism” hanya mendeskripsikan perjalanan wisata ke daerah alami, ekowisata secara spesifik ditujukan juga untuk mendatangkan keuntungan bagi komunitas/penduduk lokal dan daerah tujuan wisata tersebut. Keuntungan ini bisa dalam bentuk konservasi lingkungan atau budaya, maupun keuntungan ekonomis.

Ada enam prinsip utama dalam ekowisata:

  • Meminimalkan dampak buruk dari pariwisata. Dampak buruk ini justru yang seringkali kita lihat. Bahwa pariwisata justru membawa lebih banyak sampah, hotel-hotel beton yang justru merusak keindahan alam sekitar, membawa masyarakat pendatang yang bekerja di sektor-sektor pariwisata sehingga menimbulkan kecemburuan dari masyarakat/penduduk lokal, lunturnya budaya serta tradisi lokal yang tergerus oleh wisatawan asing, dan lain sebagainya.
  • Membangun kesadaran akan pentingnya menghargai alam dan budaya. Mari kita iseng-iseng bertanya, ada berapa sekolah sih, di Indonesia yang mewajibkan siswanya belajar menarikan satu tarian daerah, menyanyikan satu lagu daerah, dan memainkan satu alat musik daerah di tempat sekolah tersebut berada? Atau ada berapa anak SD yang mengetahui apa-apa saja kekayaan alam atau kekayaan budaya yang ada di daerah tempat tinggal mereka? Bagaimana kalau yang mempelajari budaya-budaya ini dengan serius justru orang-orang dari luar negeri? Bayangkan, misalnya, jika suatu hari nanti ada pakar gamelan Jawa yang berasal Amerika… padahal gamelannya sendiri ada di sini, orang-orang yang memainkan dan mengambil tempat dalam sejarahnya juga ada di sini.
  • Memberikan pengalaman yang menyenangkan dan positif bagi pengunjung maupun penduduk di daerah tujuan wisata. Ketika banyak penduduk lokal yang agresif memaksa turis-turis membeli cinderamata, menipu mereka dengan pura-pura berbaik hati menjadi ‘tour guide‘ gratisan tetapi lalu meminta bayaran mahal setelah selesai mengantar berkeliling—atau bermunculannya lokalisasi di daerah-daerah yang ramai oleh turis… bayangkan pengalaman macam apa yang akan kita rasakan ketika berwisata ke daerah-daerah ini. Di sisi lain, bayangkan perasaan kita jika kita adalah penduduk lokal, tetapi lahan dan tempat usaha kita “digusur” oleh kehadiran hotel-hotel, bar, restoran, serta jasa pariwisata asing—yang justru mempekerjakan atau mendatangkan orang-orang dari luar daerah untuk bekerja di sana.
  • Menyediakan keuntungan finansial yang bisa langsung dirasakan untuk konservasi. Ini adalah satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Dalam ekowisata, keuntungan dari pariwisata harus bisa dirasakan dan dialokasikan juga untuk konservasi lingkungan sekitar. Berkaca kepada Pulau Komodo, beberapa kawan mengatakan bahwa pulau tersebut bukannya kekurangan wisatawan, tetapi justru terlalu penuh dengan wisatawan. Ini mendatangkan masalah untuk konservasi, dan tentunya mengganggu penduduk lokal. Bayangkan kalau rumah kita kedatangan tamu sampai penuh sesak. Pasti rasanya tidak nyaman, kan? Pemikiran nakal pun mampir di benak saya: bagaimana jika Pulau Komodo menjadi pulau yang sedemikian alami dan ‘prestisius’, sedemikian dijaga konservasinya, sehingga ada batas maksimum turis yang bisa singgah di pulau (akan ada ijin khusus yang diberikan bagi para peneliti). Jika batas maksimum ini sudah terpenuhi dan pulau memang sudah ‘penuh’, turis lain harus berada dalam daftar tunggu atau waiting list. Semacam principle of scarcity. How cool is that!
  • Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat/penduduk lokal. Nah, ini juga yang perlu diperhatikan. Pernah pergi ke suatu daerah wisata dan melihat rumah-rumah penduduk atau anak-anak yang berkeliaran di sekitarnya? Bagaimana keadaan mereka? Sejahtera atau tidak? Jika tidak, bisakah kita seratus persen menyalahkan mereka kalau mereka kemudian tak peduli terhadap keberlangsungan pariwisata di daerah tersebut?
  • Meningkatkan sensitivitas terhadap keadaan politik, lingkungan, dan sosial di negara tujuan wisata.

Bayangkan jika Indonesia, dengan keindahan alam, keanekaragaman hayati, serta kekayaan budayanya yang luar biasa, mengedepankan ekowisata dalam keseluruhan program pariwisatanya!

Saya bukan pakar ekowisata—saya hanya gemar berwisata. Tulisan saya di atas, juga mungkin banyak salah-salahnya. Tetapi pepatah Minang ini mungkin ada benarnya: anjuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo. Atau artinya kurang lebih: karena mengutamakan urusan yang kurang penting, yang lebih penting menjadi tertinggal karenanya.

Saya tak ingin ini menjadi perdebatan telur atau ayam. Mana yang harus didahulukan: membenahi pariwisata di dalam atau mempromosikannya ke luar? Menurut saya, keduanya penting. Hanya saja, dengan gempuran kampanye dan iklan untuk New 7 Wonders Pulau Komodo yang luar biasa gencarnya itu, perasaan saya mengatakan bahwa kita terlalu sibuk mempromosikan pariwisata kita ke luar tetapi kurang membenahinya di dalam.

Please correct me if I’m wrong.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya bangga Indonesia punya Hari Blogger Nasional. Terharu mengingat bahwa saya hadir di Blitz Megaplex pada perhelatan Pesta Blogger yang pertama; terkejut ketika hari itu, Pak Muhammad Nuh (yang masih menjabat sebagai Menkominfo) menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

Postingan pertama saya di blog ini memang diawali pada bulan Juli 2005, tetapi sebenarnya saya sudah mulai ngeblog sejak tahun 2001. Saya membuka blog pertama saya di blogspot, menulis beberapa posting, lalu menutupnya. Membuka blog baru lagi. Menulis sebentar. Menutupnya. Dan begitu seterusnya. Sampai kemudian saya rutin menulis; di blog baru yang dinamai “Beradadisini”. Sejak pertengahan tahun 2005 itu, saya pun menulis blog, dan tidak berhenti-berhenti lagi hingga saat ini 🙂

Ketika bicara mengenai menulis blog, ada blogger-blogger yang kemudian menjadi bagian sangat berarti dari perjalanan (dan kehidupan) saya. Salah satunya adalah Joko Anwar, di tahun-tahun ketika ia belum sepopuler sekarang. Dulu, saya hobi membaca blognya, Lost in Punch-Drunk Adaptation of a Spotless Love. Membaca judul blognya saja sudah membuat saya jatuh hati. Blog yang humoris sekaligus manis, dengan sentuhan kenyinyiran ala Joko Anwar yang terkadang masih bisa dinikmati via Twitter-nya. Tetapi kemudian, Joko berhenti menulis. Saya patah hati.

Dalam perjalanan, saya juga menemukan Marianne—dengan blog-nya Confessions of A Girl Gone Mad. Saya jatuh hati pada tulisan-tulisannya yang singkat dan kalimat-kalimatnya yang sederhana, tetapi magis. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan, perasaan kecewa ketika menunggu orang yang tidak pernah datang, atau lamunan pada pertemuan dengan kekasih di sebuah toko buku… semuanya terasa begitu dekat. It sounds like me.

Dalam sebuah postingan di tahun 2006, yang menjadi salah satu postingan favorit saya, Marianne menulis:

Life is funny that way. That when I’m drowned in a book, you still appear in the pages. That when the characters are beginning to be attracted to each other, it’s your name I read. That when they start entering each other’s lives, making themselves familiar with each other’s favorites, eating out, going to the movies, taking a walk, it’s what I’ve always pictured doing with you. And that when they part, I know that’s what will happen to us.

Postingan Marianne membantu saya melewati tahun-tahun yang berat (saya menulis tentang ini di posting berjudul The Potion). Saya merasa saya tidak sendirian. Saya jatuh hati. Pada kata-kata yang ditorehkan sosok itu: sosok di balik Marianne. Tetapi saya bahkan tidak tahu apakah namanya sungguh-sungguh Marianne—karena ia cukup rapat menjaga privasi perihal dirinya. I hope I’ll be able to meet her one day 🙂

Blogwalking juga mendamparkan saya di I Like Pretending I Can Save the World. Menghabiskan waktu saya mengikuti perjalanan Joni bersama Julia, Olivia, dan Rilla. Menikmati kisah-kisah kanak-kanak yang dewasa tentang rusa kutub, pesawat luar angkasa dan pohon willow. Saya jatuh cinta pada kisah-kisah itu. Saya mencetak halaman-halaman postingan di blog milik Joni tersebut; dan menjilidnya menjadi 4 buah buku. Agar saya bisa membacanya kapan saja, tanpa harus online terlebih dahulu.

Ini petikan dari salah satu posting favorit saya:

I put up my left hand with my palms open, reaching you. But you hesitate. Your right hand never meets my left.
You take a sigh and look into the lake. Please bring me to the coast, you said, while my left hand is still hanging silently in the air.

Then I paddle. The boat moves and the water ripples.

Suatu hari nanti, saya harus bertemu dengan Joni. Itu cita-cita saya. Tetapi kemudian saya kehilangan Joni selama dua tahun. Postingannya menjadi semakin jarang sampai kemudian berhenti sama sekali. Waktu itu saya dengar ia tengah berada di Singapura. Lalu saya menemukannya di Facebook. Saya mengirim pesan, mengatakan betapa saya kangen dengan tulisan-tulisan di blognya. Ketika muncul lagi di tahun 2009, saya berharap Joni akan terus menulis seperti dulu. Ternyata tidak. Tahun itu dan tahun-tahun berikutnya,  Joni hanya menulis sekali atau dua kali. Sepanjang tahun.

Kemudian saya kembali menemukan Joni. Di Twitter. Dan bukan hanya telah bertemu Joni, kini saya pun sering bertemu dengannya di berbagai kesempatan. Kalian mungkin lebih mengenalnya dengan nama @JonathanEnd 🙂

Jadi, siapa saja blogger-blogger yang meninggalkan ‘bekas’ dalam perjalananmu?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dear Dimas,

Aku baik-baik saja di sini, masih selalu merindukan hujan, seperti biasa. Hanya saja, sekarang aku tidak lagi hanya menunggu sampai rintiknya datang diantarkan mendung. Kini aku menghadirkannya sendiri, tepat di meja kerjaku. Seorang teman baru-baru ini mengirimiku suara hujan. Kemudian, jendelaku itu—yang menghadap ke taman, kusiram dengan air hingga meninggalkan tetes-tetes serupa jejak gerimis. Sebegitu mudahnya! Dan aku larut dalam suasana hujan, bahagia seperti kanak-kanak seharian, meskipun di luar sana cuaca tengah kering-kerontang.

Barangkali aku sudah belajar, Dim. Untuk tidak terlalu banyak (atau terlalu lama) menunggu. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menghadirkan apa yang kita cintai, kalau saja kita tidak mengkhawatirkan terlalu banyak hal. Tentu saja, adalah perbuatan bodoh memutar suara hujan dan menciprati jendela kerjaku dengan air, kemudian memekik riang: hujan! Tetapi, lalu kenapa?

Baru tadi pagi, di dalam bis, aku melanjutkan membaca The Museum of Innocence-nya Orhan Pamuk. Lalu mataku terpikat pada baris-baris kalimat ini:

“Any intelligent person knows that life is a beautiful thing and that the purpose of life is to be happy. But it seems only idiots are ever happy. How can we explain this?”

Mungkin aku akan lebih memilih menjadi orang bodoh. Yang bisa bahagia untuk hal-hal sederhana. Yang bisa tertawa senang dan memekik riang hanya dengan berlarian telanjang kaki di padang, di bawah bintang-bintang. Aku tahu, kamu juga menyimpan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu setiap hari: ketika mendengarkan orang-orang yang bercakap dalam bahasa Thai, berputar-putar tanpa tujuan di Chatuchak, menggigiti sayap ayam di Som Tam Nua, atau memandangi lampu-lampu yang berpendar dari balik jendela condomu—ada cerita di balik tiap cahayanya.

Aku tahu kita akan baik-baik saja, Dim. Di manapun kita berada, apapun jalan yang kita pilih. Kita akan baik-baik saja, karena kita memiliki satu sama lain.

Aku tak perlu bilang ketika aku sedih. Kamu tahu, dan akan mengirimiku sekotak kue dan boneka lucu untuk menggantikan kamu menemaniku. Kamu tak perlu bilang ketika kamu lelah. Aku tahu, dan aku akan mengirimi hal-hal bodoh lewat email untuk membuatmu tersenyum.  Kalaupun kita tak sedang duduk bersisian; minum kopi di sebuah toko buku kecil—atau berputar-putar mengelilingi Jakarta di akhir pekan, itu bukan masalah. Karena bukankah jarak itu tak lebih dari kendala fisik belaka?

Jadi, jaga diri (dan hati) baik-baik, Dim. Aku akan tetap menemanimu lewat kedai kopi, toko buku kecil, penjaja bunga potong, pucuk-pucuk pagoda, kain warna-warni, juga es kelapa muda di jalan-jalan Bangkok. Dan kamu masih akan selalu menjadi pukul tiga pagi-ku.

———

PS: Waktu melewati toko buku kecil di Lagos ini, tiba-tiba aku teringat kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP