Akhirnya perempuan itu menyukai pagi juga. Cerah di atas pucuk kepalanya dan hangat yang membelai kulitnya.

Hujan akan selalu menghadirkan melankoli dan romantisme dari balik jendela; baik dalam secangkir kopi maupun segelas teh hangat yang dituang dari dalam poci.

Tetapi belakangan ini, sinar matahari yang tidak terlalu terik juga mulai menemaninya menyesap sebotol jus jeruk pelan-pelan. Ya, pelan-pelan. Karena ia nikmati saja semuanya hingga pagi untuk hari itu habis tak bersisa.

Strawberry smoothies mulai menggantikan hot caramel machiato sesekali; cukup untuk memberi warna, namun tak terlalu kerap untuk bisa mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih berbunga-bunga. Ia pikir bunga-bunga itu juga tak terlalu esensial, dekorasi itu perlu namun tak usah berlebihan. Minimalis masih tetap menjadi pilihan dan ia masih merasa nyaman dalam ruangan yang agak lapang. Ia pikir ia cenderung klaustrofobik, tapi tak mengapa.

Bukankah kita semua membutuhkan jarak?

Malam itu ia tengadahkan kepala dari boncengan ojek, memandangi bintang-bintang. Hanya ada satu hal yang terlintas dalam pikirannya: indah. Itu saja, tak ada saya-kangen-kamu atau kamu-sedang-apa atau apakah-kamu-sedang-memikirkan-saya. Sudah lama pikirannya tidak pernah diam. Ternyata hanya indah itu lebih dari cukup.

Ketika langit berubah warna dan pagi menerangi jalan yang sedikit basah setelah diguyur hujan, ternyata ia masih bahagia. Ia hampir lupa kapan terakhir kali bertegur sapa dengan pagi. Jadi, pukul enam lebih dua puluh menit, ia hirup dalam-dalam semesta kecilnya itu; merengkuh semua rindu: pagi, dan malam, dan segala yang berada di antaranya.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Gara-gara perjalanan ke Bandung bersama Sahabat Museum akhir minggu lalu, saya jadi menyadari betapa saya begitu suka menjadikan jendela sebagai objek jepretan kamera saya. Ternyata, tanpa disadari, sebelumnya saya pun telah banyak memotret jendela. Entah mengapa.

Ketika saya katakan kecenderungan ini pada seorang kawan, ia berbaik hati memberikan “arti jendela” jika dilihat dalam sebuah mimpi dari sini. Kira-kira begini bunyinya:

Window
To see windows in your dream, signifies bright hopes, vast possibilities and insight.

To dream that you are looking out the window, signifies your outlook on life, your consciousness, point of view, awareness, and intuition. You may be reflecting on a decision and seeking guidance. Or you need to go out into the larger world and experience life.

If you are looking in the window, then it indicates that you are doing some soul searching and looking within yourself.

To see shut windows in your dream, signifies desertion and abandonment.

Broken Windows
To see shattered and broken windows, denotes misery and disloyalty.

Window Washer
To see a window washer in your dream, represents your ability to clarify a situation and shed some perspective on an issue.

Tinted Window
To see a tinted window in your dream, represents you need for privacy and your ways of getting it. You are keeping aspects of yourself hidden or that you want to remain ambiguous.

Kemudian, keesokan harinya, kawan saya itu kembali membahas mengenai jendela, begini katanya:

Tadi sepupuku yang sarjana psikologi waktu aku singgung tentang jendelamu mengatakan sambil lalu: “berarti seorang penggoda, tapi sulit membuka diri”. Hwa ha ha ha ha. Terasa gak Han? :p

Dia kemudian menjelaskan bahwa orang berada di dalam jendela, melihat ke luar, seolah-olah memanggil-manggil ke yang ada di luar itu, tetapi tetap berada di dalam ruangan. Tetap aman karena ada jendela yang membatasi antara mereka berdua. Walau dia ngomong sambil agak bercanda, penjelasan ini tetap menarik.

Ya, untuk saya juga menarik. Karena saya mengenali pola-pola itu. It sounds familiar 🙂 Lalu, ketika saya sudah mengenali pola-pola itu, bagaimana saya harus melangkah selanjutnya?

Saya masih mencari tahu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Menemukan catatan ini di sebuah komputer interaktif di Museum KAA (Konferensi Asia-Afrika). Tentang apartheid. Dan entah mengapa, menurut saya catatan ini menyentuh, nyaris mengingatkan saya pada puisi-puisi Terry McDonagh jadi saya menyalinnya:

No winters
No hurricanes
No tornados
No blizzards
No earthquakes

– No winter?

Well, hardly. Most of the inhabitants have never seen snow.

– No earthquakes?

Well, maybe every several hundred years.

– What is this, a desert?

No, one of the most fertile countries on earth. Intensively cultivated, it could feed the whole whole world.

– It must be heavily populated, then.

No, it is under populated. More than twice the size of Britain with barely half of its population.

– There must be drawbacks. It is ugly?

On the contrary, it is one of the most beautiful countries in the world with mountains, valleys, plains, and great surf beaches.

– So it’s got everything?

Almost, including most of the world’s gold, not to mention:
Diamond
Platinum
Uranium
Vanadium
Magnesium
Chromium

– It sounds like paradise

It was—before the fall

– You mean there’s a snag?

Er, yes, a big one. This paradise is the most hated country in the world.

– The most hated country?

Well, not the country. It’s government. It’s political system. The system of apartheid.

(Source: Woods, Donald. A Graphic Guide to Apartheid)

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ah, saya berkaca-kaca hari ini. Menangis sedikit. Membaca potongan cerita ini:

“At the ‘pound’, apart from the multiple cats (30plus) who are in terrible condition and need to be put out of their misery, there are also over 18 puppies,wondering what they have done to deserve such torment. Not being fed, just alone lying on wet concrete flooring in cages being left to die.

There are also multiple kittens that are urgently needing new homes. Please, if you can please forward this email to your contacts, perhaps someone out there might be willing to adopt one of these puppies or kittens before it’s too late for them. There eyes are filled with dread, and just pleading for someone to get them away from this living hell.”

Jika Anda penyayang binatang, terutama kucing dan anjing, tolong bantu mereka dengan menyebarkan informasi lengkapnya yang bisa Anda lihat di sini. Mungkin ada sanak keluarga dan kerabat yang hendak membantu memberikan rumah yang lebih ramah bagi mereka. (Amin)

Mengutip dari blog Unspun, “Some wit once said that the humanity of a civilization is measured by how it treats its animals. So what are we going to do about it?”

Entah kapan saya mulai (mungkin ketika saya masih kecil sekali), tetapi hingga kini saya masih suka berdoa untuk binatang-binatang. Saya tak peduli ketika ada yang mengatakan bahwa saya aneh, atau terlalu sentimentil. Untuk anak-anak kucing kurus yang kebetulan saya lihat di pinggir jalan, atau kucing yang berjalan terpincang-pincang, saya selalu berdoa agar Tuhan melindungi mereka dan memberikan kebahagiaan untuk mereka.

Nah, saya harus berhenti. Mata saya mulai berkaca-kaca lagi.

PS: Saya masih merasa hipokrit karena bicara masalah ini sementara saya masih mengkonsumsi daging. Saya masih mencoba untuk mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Inilah kisah saya hari ini. Diawali suatu pagi yang cerah…

Arus lalu-lintas pun nampak sedikit lengang, tak sepadat biasanya.

Dan pagi ini berakhir dengan cukup tragis…

Ya, mobil yang saya tumpangi menjadi korban tabrakan beruntun yang melibatkan 4 buah mobil tadi pagi, di dekat pom bensin sebelum Cilandak. Dengan geram, kawan saya yang menyetir turun dari mobil dengan susah-payah (karena pintu pengemudi susah dibuka akibat benturan keras). Ia pun menghardik pengemudi mobil di depannya. “Bapak ini! Bapak nge-rem mendadak, ya!”

Bapak yang mengemudikan mobil depan itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan menunduk sambil tersenyum lemah. “Iya, memang saya salah nge-rem mendadak…”

Kawan saya itu pun terdiam. Orangnya sudah mengaku salah… tentu ia tak lagi bisa marah-marah 🙂 Jadi kawan saya itu, bersama 2 pengemudi lainnya yang berada di mobil ke-3 dan ke-4 hanya bisa memeriksa kondisi mobil masing-masing, kemudian saling tukar pandang, tersenyum pasrah, dan berpisah di sana. Melanjutkan hari masing-masing dengan mobil yang agak-agak renyuk di sana-sini.

Dan mobil yang saya tumpangi, si “Keranjang Jeruk” yang terkenal itu, terpaksa tersendat-sendat keluar dari jalan bebas hambatan dan berakhir di sebuah pompa bensin kecil, mengeluarkan bau terbakar yang menguar sangat di udara–karena radiator telah bocor.

Untung mobil gue diasuransi adalah kata-kata terakhir yang saya dengar dari sang kawan sebelum ia sibuk menelepon agen asuransi-nya dan meminta jasa derek.

Dan berlalulah pagi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada yang ‘nyampah’ di blog teman saya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kok pada nggak malu ya, buang sampah sembarangan? Anehnya, nampaknya mereka malah bangga, karena tak segan-segan menyebut nama.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ya, sebuah swalayan yang menjual banyak penganan impor mencari karyawati lincah. Entah mengapa, menurut saya pengumuman itu lucu, dan bisa membuat saya tersenyum pada suatu siang yang lengas. Tiba-tiba saja penat itu terusir pergi … 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Seperti bisa membaca pikiran, seorang kawan yang sangat murah hati membawakan ‘makan siang’ di saat saya sedang malas keluar kantor: makan siang itu hadir dalam secangkir kopi, sepotong blueberry muffin, dan dua lembar tisu serbet.

Yang satu bertuliskan puisi Rumi, The City of Saba (2):

The people of Saba feel bored with just the mention of prophecy
They have no desire of any kind, maybe some idle curiosity about miracles, but that’s it
This over-riches is a subtle disease. Those who have it are blind to what’s wrong and deaf to anyone who point it out
The city of Saba cannot be understood from within itself, but there is a cure, an individual medicine, not a social remedy
Sit quietly and listen for the voice that will say, be more silent
As this happens, your soul starts to revive
Give up talking, and your positions of power
Give up the excessive money
Turn toward the teachers and the prophet who do not live in Saba
They will help you grow sweet again, and fragrant and wild and fresh and thankful for any small event

Saya memandang ke luar jendela. Matahari bersinar terik. Siang yang panas. But in my heart, it’s raining. Dan saya selalu jatuh cinta pada hujan.

PS: Not as requested, yep, maybe. This is a lot better! Thanks, dear 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kawan saya tidak suka makan mie dengan menggunakan sumpit. Bukannya tidak bisa, tapi tidak mau. Menurutnya, makan dengan sendok jauh lebih cepat daripada makan dengan sumpit.

Kawan saya yang lain berkata bahwa mandi dengan gayung itu memboroskan lebih banyak air daripada mandi dengan pancuran (shower). Saya sendiri berpendapat saya akan memboroskan lebih banyak air jika mandi dengan pancuran, karena saya suka berlama-lama berdiam di bawah kucuran air. Seperti pijat refleksi.

Saya melakukan hal-hal yang saya sukai berlama-lama. Itulah sebabnya saya seringkali makan mie dengan menggunakan sumpit. Karena saya tak ingin hal-hal yang saya nikmati berlalu terlalu cepat. Ya, saya mencoba mempertahankan rasa yang ada selama mungkin.

Entah apakah ini bijaksana atau malah sebaliknya.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP