Karena sebuah insiden kecil hari ini, saya jadi teringat kamu.

Seandainya waktu itu kamu yang bersama saya, keadaan mungkin akan jauh berbeda. Kita akan menikmati waktu-waktu yang kita habiskan bersama dengan ledakan tawa yang tidak ada habis-habisnya. Mungkin kita akan bertengkar sebentar, ketika lagi-lagi kamu melupakan detail-detail kecil yang tidak luput dari perhatian saya. Tetapi semua itu akan terlupakan dengan serangkaian SMS yang dibanjiri tanda titik dua dan kurung tutup, atau tanda titik koma dan huruf ‘P’ kecil.


Ketika kamu penat, saya selalu bisa membuat kamu tertawa. Dan ketika saya nyaris putus asa, kamu mengajak saya bercanda—dengan taraf ‘kegaringan’ kamu yang entah kenapa selalu lucu di mata saya.

Di tengah demam ringan dan pilek yang semakin menggila, dengan hidung memerah dan berlembar-lembar tisu mengisi tempat sampah oranye terang di pojokan, saya mengintip keberadaanmu. Satu halaman yang bisa memuaskan rasa kangen saya padamu, ada wajah kamu, gambaran-gambaran kamu di masa lalu, dan cerita-cerita terbaru tentang dirimu.

Penuh harap, saya melirik sebaris kata di deretan paling atas halaman itu … single.

Single?

Jantung saya berdetak sedikit lebih cepat, dan mata saya segera bergerak ke halaman bagian bawah. Tempat deretan foto-foto kamu tersenyum menghadap kamera. Dengan berbagai pose dan gaya. Dengan teman-teman dan orang-orang yang nampak tidak terlalu familiar. Foto itu hilang. Foto kamu dan dia. Tidak ada. Bulan lalu ketika saya mampir, masih ada foto kalian berdua. Mesra.

Apa yang terjadi? Did you two …? Is it over? Atau kalian hanya sekadar berselisih paham dan sedang saling jual mahal?

Sekarang, saya setengah berharap agar insiden kecil hari ini berujung runyam. Dengan demikian, saya akan punya kesempatan untuk ketemu kamu lagi. Dan bulan-bulan mendatang akan dipenuhi kita yang tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Semua terasa wajar karena tak ada yang mengira bahwa hubungan kita lebih dari sekadar teman…

Dan jika ternyata kita ingin melangkah lebih jauh… perlukah mereka tahu? Tidak ada yang salah. Kita hanya dua orang yang sedang sama-sama sendirian, memutuskan untuk berteman, kemudian cinta hadir tanpa peringatan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada pembenaran atau alasan-alasan yang dibuat untuk menyembunyikan kenyataan. Tak ada rambu-rambu moral yang kita langgar.

Tetapi … kenapa saya ragu?
Apakah ini karena saya belum sungguh-sungguh percaya bahwa saya bisa menyayangi kamu sebagaimana saya menyayangi dia?
Do I really want you? Or probably… I just want you to want me?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

+ Saya minta maaf…
Minta maaf buat apa?
+ Yah, buat semua kesalahan saya.
Kesalahan yang mana?
+ Ya, semuanya, lah. Pokoknya kalau saya punya salah sama kamu, saya minta maaf.
Memang kamu punya salah apa sama saya?
+ Hmm, yah, banyak, kan?
Misalnya?
+ Ya, pokoknya saya minta maaf kalau saya pernah bikin salah.
Kalau? Jadi kamu belum tentu punya salah sama saya?
+ Yah, yaaa, gitu deh …
Kalau kamu nggak punya salah ngapain minta maaf?!!

————

Saya nggak ngerti. Dan menjadi sedikit kesal. Bagaimana seseorang bisa sungguh-sungguh minta maaf jika tidak tahu (atau tidak mau) menyebutkan kesalahannya?

Bukankah ide sebuah permintaan maaf adalah untuk menunjukkan niat baik dan penyesalan seseorang; dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan? Bagaimana bisa kita tidak mengulangi suatu kesalahan jika tidak tahu perbuatan mana yang salah dan tidak boleh diulangi?

Ini rumit. Sudah hampir waktu buka puasa. Martabak di meja tengah itu luar biasa harumnya. Terlintas dalam benak saya: ya sudah, saya maafkan sajalah …

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya jatuh sakit pada akhir pekan. Jenis sakit yang membuat saya menderita. Jika ada yang menyentuh saya, tulang-tulang saya terasa ngilu. Apalagi jika harus terkena tetesan air dingin! Seperti ditusuk-tusuk jarum 🙁

Bayangkan bagaimana sedihnya saya, karena saya sangat suka mandi …

Saya pun menghabiskan sepanjang akhir pekan berbaring di tempat tidur dengan 3 lapis baju (tank top, kaus lengan panjang, jaket), merangkap celana pendek dengan celana panjang, plus kaus kaki tebal. Bergelung di bawah dua lapis selimut. Seperti tikus mondok.

Hari Senin, masih tersisa pusing yang tidak mau hilang … kemudian saya ingat bahwa saat sahur tadi saya lupa minum obat.

Oh, thank God I’ll be taking my day-off tomorrow.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Saya memandangi bulan malam itu dan memikirkan kamu.
Tiba-tiba sebuah pola yang nyaris tak terlihat menggores permukaan bulan, membentuk baris-baris kata yang berbunyi: “I’m not here”.
Bahkan bulan tidak lagi bisa mengkompensasi ketidakhadiran kamu di sini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Sepi ternyata bisa menjadi seribu kali lebih kejam ketika kamu menghujani saya dengan beribu pertanyaan mengenai status FS saya yang berbunyi: “It’s complicated.”

Saya pikir kamu akan mengerti jika saya katakan, “Single but absolutely not available (yet)” atau “Physically single, mentally married, spiritually in love”.

“Ck, serius dong,” demikian kamu selalu menimpali, seolah-olah saya melontarkan pernyataan di atas sambil tersenyum.

Kalau kamu sungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan, that you really care about me and really want to make me happy, seharusnya kamu mengerti, bahwa saya tidak pernah lebih serius lagi dibandingkan saat ini.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pagi itu, gambaran dunia meledak dalam benaknya yang menyesak. Such a compact world, pikirnya, sambil mengirimkan SMS ke sebuah nomor yang nyaris hangus dibakar cemburu.

Pertanyaan itu terlontar ketika kopi mereka tinggal menyisakan seonggok ampas di dasar gelas: bagaimana jika dunia ini berbentuk segiempat, dengan empat pojok di setiap sudutnya?


The Coffee Bean & Tea Leaf pagi itu tidak menyediakan apapun selain racikan kopi dingin. Jika dunia ini adalah satu pak kartu Tarot, saya pasti sudah membaca gelagat ini sebagai sebentuk pertanda. Tetapi dengan segelas kopi di tangan, kami pun melewati pintu kaca itu menuju udara terbuka.

“Nggak apa-apa, kan, kalau kita duduk di luar? Saya harus merokok,” kamu berkata.
Dan saya tahu bahwa ternyata kamu memang sedang sungguh-sungguh jatuh cinta.

Utopia mengenai cinta yang membebaskan jelas tidak termasuk dalam satu paket yang kamu ambil ketika kamu memutuskan untuk jatuh cinta padanya. Atau cinta memang serupa kantor pos yang seringkali menyampaikan kiriman paket yang tidak lengkap. Dan kamu merasa tidak lagi utuh, seperti baru menerima sekotak paket yang sudah dibuka separuh.

Kebebasan justru membuat kamu diliputi sejuta keraguan–karena kebebasan bisa berarti bebas terbang kemanapun kamu suka; sekaligus bebas diketapel…

Kebebasan yang kamu cari datang melalui sebuah pojok.
Kebebasan untuk melihat dia sebagaimana kamu ingin melihatnya.
Seperti ketika kamu pertama kali bertemu dia di toko buku yang sama, pada suatu malam.
Dan kamu pun pergi ke toko buku itu lagi, beberapa hari kemudian.

Kisahnya dimulai ketika kamu duduk di sebuah pojok–seharian, berharap dia datang. Menunggu. Bayangannya mengisi rak-rak buku di sekitarmu dengan novel-novel tentang cinta.
Tentang kalian berdua.
Novel-novel yang hanya berisi Bab 1 saja.

Kita pun tertawa.

Mengapa kita berdua memilih mengambil paket cinta di sebuah toko buku?
Apakah kita tertipu oleh stereotype sosok introvert berkacamata yang menghabiskan sepanjang malam di sebuah toko buku yang lengang?
Apakah ini gambaran kita tentang masa depan, cermin dari hal-hal yang kita inginkan—tetapi bagaimana kita tahu cermin itu memantulkan bayangan yang benar?
Bagaimana jika cermin itu cembung?
Atau cekung?

Mengabaikan semua kemungkinan itu, setelah kamu selesai membeli satu pak rokok lagi, kita berjalan menuju toko buku itu. Semacam ziarah cinta: penghormatan terhadap hal-hal yang terlewatkan tanpa kata selesai terucapkan.

Dan kita sama-sama menahan napas ketika melihat sebuah gembok berantai mengelilingi toko buku itu. Kertas-kertas putih membungkus kaca-kacanya yang biasa kita gunakan untuk mengintip cinta di dalamnya.

“It sucks!” kita berteriak dengan level emosi yang tidak akan dimengerti orang-orang yang kebetulan lewat.

Tiba-tiba bayangan itu meledak dalam benak saya.
Gambaran dunia yang berbentuk lingkaran. Bulat sempurna; tanpa pojok-pojok di setiap sudutnya. Akankah kita tercerabut dari akarnya jika dunia menjelma sebuah lingkaran tanpa sudut-sudut yang menenangkan itu?

——————————————
IMG. http://images.splendora.com/reviews/losangeles/coffeebean_030171b.jpg

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ternyata kamu tidak baik-baik saja.

Saya selalu berpikir bahwa kamu termasuk salah seorang yang paling beruntung di dunia, tetapi ternyata benar bahwa tak ada orang yang memiliki segalanya.

Bahwa waktu memberikan pelajaran pada saat-saat yang paling tidak disangka-sangka. Bahwa hidup ternyata bisa memutarbalikkan keadaan semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa cinta bisa melakukan apa saja, termasuk membuat seseorang rela menukarkan biaya hidup sebulan dengan berbotol-botol minuman pada satu kesempatan.

Ternyata euforia semalam yang dihabiskan bersama kekasih dan kawan-kawan cuma menyisakan perasaan mual berkepanjangan. Kamu terbangun dalam keadaan hangover dan menyadari bahwa kamu masih harus bertahan hidup selama satu bulan–tanpa uang dan pekerjaan.

Kamu berpikir bahwa setidaknya, kamu masih memiliki cinta. Tetapi jika cinta yang kamu maksud adalah cinta yang sama dengan jenis cinta yang membuat kamu kehilangan segalanya…
mungkin kita bicara mengenai cinta dalam pengertian yang berbeda.
Sangat berbeda.

Atau mungkin cinta memiliki seribu wajah di balik sebentuk hati berwarna merah muda yang nampak innocent dan imut-imut itu.

IMG. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/de/f/f2/Absolut-vodka-bottle.jpg

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Andai kamu tahu, bahwa ketika masa lalu, masa kini, dan masa depan saya digeletakkan di tengah sebuah meja kopi, kamu menjelma dalam secarik kartu dengan lambang ratu dan hati merah.

“Ada cinta yang masih diperjuangkan, satu masalah yang terus mengganggu pikiranmu selama ini…”

Dia bukan seorang peramal–tetapi seorang psikolog yang ahli dalam hipnoterapi klinis; dan kebetulan adalah mantan dosen psikologi saya. “Di Amerika, Tarot sudah mulai masuk ke dalam mata kuliah psikologi,” ujarnya serius. “Makanya saya mempelajarinya.”

Jika dia benar, dalam 6 bulan ke depan, masih tidak ada kamu dalam kehidupan saya.


Dalam perjalanan pulang dari sebuah pernikahan, saya dan seorang teman memutar lagu-lagu romantis dari sebuah CD–yang dia dapatkan dari sebuah acara pernikahan yang lain. Sang teman baru saja menjalin hubungan setelah lama terpuruk dalam ketidakpastian.

Dan saya mengeluarkan satu kalimat sakti itu ketika kami kembali mengenang masa lalu: “Semua indah pada waktunya.”

Kami pun tertawa. Iya, ternyata semua kepahitan itu membawa sesuatu yang indah dalam kehidupan kami sekarang ini. Karena cinta bekerja dengan cara-cara yang tidak kita mengerti, dengan waktu mengalir, cair–di sela-selanya.

Seperti membaca sebuah buku tebal beratus-ratus halaman, yang dibutuhkan adalah sedikit kesabaran ditambah rasa penasaran. Karena mengetahui akhir ceritanya duluan ternyata juga tidak seru-seru amat. Hanya membuat kita kecewa dan tidak ingin melanjutkan membaca. Dan buku itu tersia-sia.

Selama kita masih punya pilihan, kita masih punya harapan ….
Masa depan yang saya harapkan bergantung pada pilihan-pilihan saya sekarang. Dan jika ternyata pilihan saya tidak membuahkan hasil yang diinginkan, mungkin saya harus bersabar lagi sebentar.

Karena semua indah pada waktunya.

IMG. http://www.aeclectic.net/tarot/cards/_img/housewives-03041.jpg

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Tidak sampai 3 minggu setelah saya mem-posting ini, saya bertemu dengan dia. Seharusnya saya bertemu dengan kawannya; yang entah kenapa pada hari itu tidak jadi datang. Mungkin di sana ada campur tangan Tuhan. Akhirnya, hari itu, dia yang menyapa kejemuan saya. Kami bercipika-cipiki, berbasa-basi, ketawa-ketiwi, dan saya bersikap seolah tak pernah ada yang terjadi.

Kemudian tiba-tiba dia berkata,”Hei, gue masih ngutang traktir lo makan siang, ya?”

Saya cuma tertawa dan melambaikan sebelah tangan–seolah-olah ingin mengatakan “Ah, no big deal.”

Andai dia tahu 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP