Perempuan itu tak berkeberatan seandainya si lelaki hendak meninggalkannya.

Buatnya, cinta itu seperti udara yang bisa dihirup dan dihembuskan lagi oleh siapa saja, secara cuma-cuma. Udara yang dikemas dalam sebuah tabung oksigen malah menunjukkan bahwa orang yang tengah menghirupnya tentu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Perempuan itu tahu, cinta bisa datang dan pergi seperti udara. Ketika datang, nikmatilah semuanya dan reguk sebanyaknya selagi ada, dan ketika pergi, syukurilah semua kenangan yang pernah singgah dan selalu bisa kau putar ulang jika kau menginginkannya.

Perempuan itu tahu, cinta tak bisa dipaksa. Dan tak bisa memaksa. Karena cinta adalah rasa. Dan kau tak akan pernah bisa mengendalikan rasa; meski kau bisa mengendalikan raga—dan menulis skenario mengenai apa yang bisa kau perbuat untuk meluapkan atau meredam rasa. Tetapi isi hati memang tak akan pernah bisa dipungkiri oleh dirimu sendiri.

Bahkan kau tahu itu.

Perempuan itu juga tahu, bahwa cinta tak dapat diikat dalam sebentuk cincin 24 karat, atau dimampatkan dalam huruf-huruf yang tertera di atas selembar surat. Untuknya, semua itu hanya prasyarat; simbol; sesuatu yang penting tetapi bukan yang terpenting, karena cinta itu cair, dan cinta tak akan pernah bisa kau genggam.

Ya, sekarang juga, pergilah ke bak mandi dan ambillah segenggam air. Genggam kuat-kuat, dan apa yang terjadi ketika semuanya mengalir pergi meninggalkan telapak tanganmu dan menetes dari sela-sela jemarimu? Hanya sensasi rasa basah yang tersisa, yang akan mengering sendiri ketika tertiup angin atau ketika kau gesekkan ke atas permukaan kain.

Perempuan itu tahu, cinta tak bisa diberi tali. Cinta, yang tak pernah mengenal kata harus dalam kamus, datang dan pergi sesuka hati. Ketika cinta datang menghampiri dua insan pada waktu yang bersamaan, mereka berjalan bersisian. Ketika cinta pergi diam-diam meninggalkan salah satu—atau keduanya, mereka berpisah di persimpangan.

Hidup ini adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan yang tak ada habisnya. Bahkan kematian pun tak bisa menghentikannya, dan jasad terus menggemburkan tanah yang kemudian merekahkan bunga-bunga berwarna-warni indah.

Perempuan itu tidak akan mengatakan ‘tidak’ seandainya lelaki itu hendak pergi. Karena kehilangan telah mengajarinya bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sungguh-sungguh ia miliki. Jadi, perempuan itu siap melepaskan semua ketika waktunya tiba, dan mereguk bahagia selama kurun waktu yang masih tersisa (entah untuk berapa lama), seraya menyesap secangkir kopi hangat ditemani alunan Reamonn yang terbawa derai hujan:

I know we cared of everything
Some times we’re holding on by strings
But what we have where we deserved
That’s you and me against the world
That’s what I believe

And promises are made to keep
Let’s find the words before we sleep
There’s nothing left for you and me
Nothing left to hide

And when the ceilings come crashing through
Be standing there me and you
And the ceilings come crashing through
Then they’ll see you and me,
you and me, you and me…

Siapkah kau melepaskan cinta jika waktunya tiba?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Gara-gara membaca tulisan Ada Apa dengan Krisis?-nya Mas Iman, ketika sampai pada paragraf-paragraf terakhir di mana beliau berhenti untuk menyantap semangkuk mie rebus di depan RS Pertamina, saya jadi teringat tulisan salah seorang kawan saya, yang berjudul Ayo Makan di Warung!

Setelah membuat saya diserang lapar akibat ulasannya mengenai warung-warung kecil yang menjual aneka makanan lezat, kawan saya itu pun menulis:

Kadang-kadang saya berpikir, bahwa inilah real economy kita. Inilah tulang punggung ekonomi kita. Ratusan, jutaan, hingga miliaran warung dan kedai yang tersebar di Indonesia-lah yang sesungguhnya menghidupi dan yang menjalankan ekonomi Indonesia. Ini yang menjadi salah satu elemen kokohnya ekonomi kita. Karena uang yang diperoleh si penjual akan sepenuhnya dibelanjakan lagi di dalam negeri. Perputaran uang terjadi di dalam negeri.

Berbeda jika kita makan di gerai asing. Ada franchise fee yang mahal yang harus dibayarkan setiap bulan oleh pemilik toko di sini. Ada uang kita yang mengalir keluar negeri. Menguntungkan negara maju.

Jika begini, nampaknya harus ada gerakan baru: Ayo makan di warung!

Kemudian saya teringat pada Warung Ciamis di sebuah bangunan kecil yang terletak di depan Plaza Jambu Dua, di Warung Jambu, Bogor–yang biasa menjadi tempat tongkrongan supir-supir angkot dan karyawan pabrik di sekitar. Masakannya enak-enak: mulai dari telur dadar tebal dengan daun bawang dan irisan cabe merah, perkedel kentang, tumis pare, sampai remis… semua dibumbui dengan nyaris sempurna. Rasanya pas. Harganya murah.

Terakhir kali saya datang ke sana, Ibu yang berjualan justru menanyakan apakah saya tahu sekiranya ada orang yang berniat untuk membeli Warung Ciamis ini. Karena si Ibu sudah lelah memasak terus dan hendak pulang ke kampung. Tabungannya dari membuka warung selama ini sudah cukup untuk membiayai anak-anaknya, sehingga ia juga bisa pensiun dan hidup nyaman di kampung…

Sudah lama saya tidak mampir ke sana. Kabarnya warung itu sudah tutup.

Hei, apakah Anda tahu sebuah warung kecil yang menyediakan makanan enak tapi jarang diketahui orang karena letaknya nyempil di sebuah gang kecil, atau berada persis di pinggir kali (seperti warung ayam bakar yang terletak di dekat kantor saya–yang karena lokasi tempatnya berada biasa kami sapa dengan panggilan ‘riverside‘?)

Coba bagikan di sini, agar saya bisa berwisata kuliner ke sana lain kali 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Semuanya terjadi begitu saja. Bahkan perempuan itu sendiri pun tak tahu bagaimana segalanya bermula, dan tak dapat memberikan penjelasan apa-apa ketika lelaki dengan hati yang tak lagi utuh itu memutuskan untuk melangkah pergi dan menggelandangkan diri dalam sunyi di sebuah kota yang jauh. Kota di mana para bidadari jatuh.

Perempuan itu tahu, segalanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Dulu ia bahagia dengan hujan, dengan embun, dengan pagi, dengan kabut, dengan musim panas, dengan wangi daun-daun kemangi… dengan segenap cinta yang ditaburkan lelaki itu di atas hati merah jambunya.

Tetapi ketika pada suatu malam yang cerah perempuan itu melihat bintang, perempuan itu pun tahu bahwa ternyata, selama ini, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya—sesuatu yang ia tak pernah tahu apa.

Dan kini, ia temukan sesuatu yang hilang itu di langit. Pada bintang yang bersinar terang.

Sesungguhnya perempuan itu ingin mengajak lelaki itu duduk-duduk bersamanya di luasnya padang musim panas, beralaskan rerumputan yang sesekali bergoyang ketika angin bertiup sedikit kencang, berpegangan tangan memandangi bintang seraya menyesap Moscato d’Asti dalam gelas-gelas tinggi, sementara alunan nada What Are You Doing The Rest of Your Life-nya Chris Botti dan Sting terbawa angin dari kejauhan.

What are you doing the rest of your life
North and south and east and west of your life
I have only one request of your life
That you spend it all with me

All the seasons and the time of your days
All the nicles and dimes of your days
Let reasons and the rhymes of your days
All begin and end with me …

Tetapi ternyata lelaki itu tak mau berbagi dengan bintang. Tak sanggup kiranya ia melihat perempuan itu menengadah ke langit, memandangi bintang yang bisa mengisi jiwa perempuan itu dengan semacam kehangatan yang tak pernah bisa lelaki itu berikan.

Dan ia cemburu.

Karena bahkan gelas anggurnya memantulkan bintang; yang cahaya terangnya mampu membingkai wajah perempuan itu dalam sejenis kecantikan yang belum pernah lelaki itu lihat sebelumnya, bahkan tidak ketika ia dan perempuan itu tengah berdekapan dalam hujan.

Jadi, malam itu, sebelum memutuskan untuk pergi ke kota di mana para bidadari jatuh, lelaki itu bertanya kepada perempuan yang sedang memandangi bintang bersamanya itu:

What are you doing the rest of your life?”

Loving you.”

Demikian jawab perempuan itu. Tetapi, dalam beningnya bola mata perempuan itu, si lelaki tak melihat pantulan dirinya. Lelaki itu hanya melihat bintang.

Maka, dengan hati remuk, lelaki itu memutuskan untuk pergi meninggalkan perempuan itu bersama bintangnya. Karena ia tahu, ia tak akan pernah sanggup melengkapi jiwa perempuan itu, sekeras apapun ia berupaya.

Hati perempuan itu pernah berlubang suatu masa lalu, dan dulu, lelaki itu mengira bahwa ia bisa memberikan hatinya untuk menutup lubang yang melukai hati perempuan itu. Tetapi malam itu, ia melihat ke dalam hatinya, dan mendapatkan bahwa hatinya berbentuk bulan sabit—sementara lubang di hati perempuan itu berbentuk bintang.

Lama setelah lelaki itu pergi, perempuan itu masih suka memandangi bintang. Karena bersama bintang, luka yang menganga di hatinya tertutup sempurna oleh cinta. Hangat. Menenangkan. Nyaman. Bahkan dalam diam.

Namun, terkadang—mungkin lelaki itu tak tahu, ingatan perempuan itu masih sering melayang pada sosok lelaki itu ketika mencium aroma Marlboro Lights Menthol dalam kabut yang menyelimuti bintang dari pandangannya pada hari-hari yang dingin dan sedikit berhujan.

Perempuan itu pun kemudian bertanya-tanya, di mana lelaki itu berada, baik-baik sajakah ia, apakah ia bisa bertahan di kota yang begitu suram dan sepi, kota yang begitu depresi hingga bidadari-bidadari pun jatuh dari langit dengan sayap-sayap retak.

Ketika langit malam berganti kemerahan, pagi datang, dan bintang menghilang, perempuan itu bahkan masih dapat mendengar lamat-lamat Laura Jane bernyanyi dengan suaranya yang sengau, ” … summer time in the city, and the moon so bright … and the winter so far away…”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

… adalah SMS yang terus-menerus masuk dan sebagian tak sempat terbalas (maafkan), kue-kue dan puding di dalam kulkas, timbangan yang kembali naik 1 kilo setelah sempat turun 2 kilo selama Ramadhan (karena terlalu lahap menyantap berbagai hidangan Lebaran sepertinya), juga satu stoples kastengel untuk menemani saya minum teh hangat di malam hari.

Tersisa juga pertemuan tak sengaja di sebuah kedai kopi dengan kawan sebangku semasa SMA (yang kebetulan juga kawan SD dan SMP), bergelas-gelas kopi dan teh hangat peppermint yang disesap di bawah kerindangan pepohonan berhiaskan lampu-lampu kecil berwarna jingga terang, juga perjalanan berkeliling kota pada suatu senja, di bawah langit mendung, berakhir dengan satu episode memandangi hujan berteman segelas teh manis hangat di teras rumah hingga larut malam.

Oh, libur Lebaran juga menyisakan demam dan batuk-batuk berkepanjangan (alhamdulillah, sudah berangsur sembuh kini)–tetapi saya tak berkeberatan, karena secara keseluruhan, libur Lebaran kemarin berakhir menyenangkan.

Bagaimana liburanmu? 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Berapa banyak lagi waktu yang kita punya?

Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah selamanya tak selalu berakhir bahagia, sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama, dan hari ini saja bisa menjelma kekal dalam ingatan yang selalu dapat kau putar ulang?

Dan jika kita memang hanya memiliki hari ini, detik ini, pernahkah kau tanyakan kenangan apa yang akan kau tinggalkan ketika esok datang? Akankah kau mengenang hari ini dengan senyuman, dengan tangis, dengan kesumat yang memuncak ketika langit di atas kepalamu seluruhnya gelap? Tidakkah kau ingin mengkristalkan satu hari ini dalam senyum yang mengembang cantik seperti sayap kupu-kupu yang berkilauan di balik sebuah kotak kaca?

Banyak di antara kita yang marah karena masa lalu kita dirusak oleh orang lain. Maaf mungkin memang tak pernah bisa memperbaiki masa lalu, tetapi pasti memperindah masa depan.

Bayangkan, hal itulah yang dikatakan Mario Teguh, motivator terkenal itu, di televisi, tepat ketika saya mengetik semua ini. Bukankah semua ini lucu, sekaligus menyentuh, sesuatu yang membuatmu ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan?

Ketika kau tahu sulitnya melupakan sebuah kesalahan meskipun kata maaf telah diucapkan, janganlah meninggalkan ingatan pedih pada kenangan.

Tetapi satu hari sudah selesai. Terangkum dalam satu masa yang sudah lewat sekejap mata. Maka, melangkahlah pada esok pagi dengan hati yang utuh dan bukan cuma separuh, maafkan dan lepaskanlah semua. Juga jangan lupa untuk menyisakan sepotong kata maaf untuk diri sendiri. Karena kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada sebuah perkataan berbunyi demikian: kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar.

Saya pikir, perkataan itu ada benarnya. Silakan Anda ajak lima orang kawan Anda berhenti sejenak ketika lampu lalu-lintas menyala merah, kemudian setelah lalu-lintas bergerak kembali, tanyakan kepada mereka, apakah satu momen atau satu objek yang paling berkesan yang tertangkap oleh mata mereka ketika melintas di sana barusan.

Saya yakin, Anda akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda.

Saya sendiri pernah menangkap momen ini: seorang gadis kecil, dengan ‘kicrikan dari gelas air mineral buatan sendiri, duduk di bawah lampu lalu-lintas tak jauh dari kawasan Tanah Abang (mari namai dia “gadis kicik-kicik”). Ya, dan masih ada begitu banyak momen yang tersebar di sekitar kita, ditawarkan oleh dunia untuk ditangkap setiap harinya oleh panca indera.

Konon, di salah satu buku marketing yang pernah saya baca (saya lupa apa tepatnya), kanal televisi anak-anak Nickelodeon sempat mempergunakan kejelian anak-anak kecil untuk “menangkap momen” sehari-hari melalui sebuah kamera sekali pakai. Dari momen-momen yang “dijepret” oleh anak-anak kecil itu (berupa berlembar-lembar foto), Nickelodeon berhasil mengetahui objek dan momen macam apa saja yang dekat dan relevan di mata anak-anak—sebagai target audiens mereka.

Menjadi menarik, kemudian, untuk mengetahui momen macam apa yang dilihat dekat dengan tema Pesta Blogger 2008 tahun ini, “blogging for society” dari balik lensa mata (atau kamera) para bloggers. Ya, melalui Photo Contest Pesta Blogger 2008, para bloggers dan penggemar fotografi diajak untuk turut menyumbangkan momen “blogging for society” yang mereka tangkap sehari-hari, untuk kemudian dikompetisikan di hadapan juri-juri yang sudah begitu lama wara-wiri di dunia fotografi profesional Indonesia.

Dan sejauh yang saya ketahui, tiga orang dari jajaran dewan juri itu merupakan pribadi-pribadi yang bukan hanya piawai dalam menangkap momen—tapi juga dalam menikmatinya, to the fullest.

Bang Arbain Rambey, misalnya. Di pertemuan pertama saya dengannya untuk melakukan interview beberapa waktu lalu, kami berbincang seru mengenai banyak hal. Bang Arbain bercerita tentang perjalanannya ke Bunaken, kecintaannya pada kamera-kamera tua, keluarganya… semua itu dikisahkan dengan penuh gairah, cinta, semangat. Saya juga kagum pada Bang Arbain yang kemudian melepaskan posisi belakang meja untuk terjun kembali ke lapangan demi memuaskan dahaganya untuk ‘menangkap momen’.

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya juga sempat bekerja sama dengan Mas Oscar Motuloh dari Galeri Foto Jurnalistik (GFJ) Antara. Mas Oscar juga pribadi yang santai, sangat awet muda, karismatik, dan selalu menonjol di tengah keramaian dan mudah dikenali karena rambut gondrong abu-abunya yang sebahu dan kebiasaannya mengenakan kaos berwarna hitam. Pribadi yang menyenangkan dan bersahaja.

Dan Jerry Aurum, yang baru-baru ini menangkap keindahan perempuan dalam pameran (dan buku) Femalography-nya dan sering mampir ke kantor saya untuk menjenguk sahabatnya setelah pulang dari berbagai episode jalan-jalannya ke berbagai belahan dunia, juga dikenal luas sebagai orang yang supel, ramah, dan gemar bercanda.

Mungkinkah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kaya karena mereka sering menangkap momen lewat bidikan lensa kamera? Karena semakin sering kita menangkap momen-momen itu, pastilah ada beberapa detik waktu yang kita luangkan untuk berpikir. Mencerna. Merasa. Dan kemudian menghargai setiap momen yang ada—serta tidak membiarkannya lewat sia-sia.

Jika Anda masih tak percaya diri menangkap momen lewat lensa kamera, tak ada salahnya mencoba menangkap momen lewat lensa mata—kamera tercanggih di alam semesta. Jadi, edarkan pandangan ke sekeliling Anda. Sesekali, berhentilah nge-plurk atau mengirimkan SMS gratis di tengah kemacetan, dan lihatlah dunia yang berputar di luar layar berukuran sekian kali sekian inci di hadapan Anda itu.

Lihat. Dan rasakan…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Empat puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus bersabar dalam menghadapi debar hidup yang menggelenyar. Tetapi selama mendung masih menggelayut di langit, dan hujan masih bisa mengusir semua sepi dari permukaan tanah yang diseraki kulit-kulit jeruk, kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja. Dengan berteman embun, senja, subuh, dengan segenggam wangi daun-daun kemangi…

Dan dalam harumnya, kau suka merangkai aksara menjadi asa, menjadi bara, menjadi luka, menjadi cinta. Semua keindahan yang bermuara dari ujung-ujung jemari yang tak pernah letih berlari mengumpulkan remah-remah lema dan diksi antik yang kemudian memaksa banyak mata terusik dan akal bergerilnya mencari makna di balik setiap lembarannya.

Kau suka banyak hal sederhana: menulis, memotret bokong truk, membuat komik, menjodohkan dua hati, memandangi embun, tertawa, menikmati bebek goreng dan nasi bakar tuna, berbicara dengan orang-orang yang kau temui dalam perjalananmu: tua atau muda bukan masalah, karena kau tak pernah memikirkan soal usia–meski terkadang kau bingung dan mulai pelupa; misalnya mengenai siapa yang pernah kau ajak bicara tentang pinguin, atau di mana kau seharusnya memenuhi janjimu: One Pacific Place atau Senayan City?

Ingatkah kau, pada suatu hari, di jembatan layang yang tinggi, kau lihat dua ekor burung mungil terbang mendekati jendela mobilmu, bercakap-cakap satu sama lain dengan bingung: “Rasanya kita sudah terbang cukup tinggi, mengapa di sini masih juga ada kendaraan-kendaraan beroda empat ini?”

Ah, burung-burung yang malang, yang berupaya mencari kebebasan di tengah himpitan asap yang menghitam. Klakson. Polutan. Racun. Hiruk-pikuk Jakarta yang kau katakan berahi.

Tetapi bukankah selalu ada celah? Selalu ada hujan. Bau tanah basah yang menyegarkan dan selalu ngageni itu. Ada bunga di dalam pot kecil di atas meja. Kopi yang disajikan panas-panas. Dan selalu ada daun-daun kemangi itu; yang harumnya mengingatkan kita bahwa selalu ada tempat untuk berhenti. Untuk mengecap keindahan. Untuk sendiri meski kita tak seorang diri.

Pria pecinta daun kemangi, selamat merayakan hari jadi dengan banyak prosa cinta dari mereka yang selalu ada di bawah naungan teduhmu…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

– 2006 –

Ternyata kamu tidak baik-baik saja.

Saya selalu berpikir bahwa kamu termasuk salah seorang yang paling beruntung di dunia, tetapi ternyata benar bahwa tak ada orang yang memiliki segalanya.

Bahwa waktu memberikan pelajaran pada saat-saat yang paling tidak disangka-sangka. Bahwa hidup ternyata bisa memutarbalikkan keadaan semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa cinta bisa melakukan apa saja, termasuk membuat seseorang rela menukarkan biaya hidup sebulan dengan berbotol-botol minuman pada satu kesempatan.

Ternyata euforia semalam yang dihabiskan bersama kekasih dan kawan-kawan cuma menyisakan perasaan mual berkepanjangan. Kamu terbangun dalam keadaan hangover dan menyadari bahwa kamu masih harus bertahan hidup selama satu bulan; tanpa uang dan pekerjaan.

Kamu berpikir bahwa setidaknya, kamu masih memiliki cinta. Tetapi jika cinta yang kamu maksud adalah cinta yang sama dengan jenis cinta yang membuat kamu kehilangan segalanya… ah, mungkin kita bicara mengenai cinta dalam pengertian yang berbeda. Sangat berbeda.

Atau mungkin cinta memiliki seribu wajah di balik sebentuk hati berwarna merah muda yang nampak innocent dan imut-imut itu.

– 2008 –

:: cinta macam apakah yang tengah Anda rasakan saat ini?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Setiap kita punya perjalanan hidup yang mesti ditempuh: perempuan bermata rembulan, rama-rama bersayap retak, juga lelaki dengan hati yang tinggal separuh–semua pernah melintasi dermaga kala fajar maupun senja, dalam siraman cahaya maupun dalam gelap-gulita, dalam tawa ataupun air mata, sendiri-sendiri maupun berdua…

Tetapi yakinlah, bahwa sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana. Meski kau tak dapat melihat saya dengan jelas karena hujan lebat atau kabut yang berdesakan di pelupuk matamu, yakinlah bahwa jika kamu menoleh, saya ada. Dan yakinlah bahwa saya masih ada di sini; dan akan selalu ada di sini, meskipun malam sudah tak lagi muram dan telah bertabur bintang-bintang, meskipun kau tak lagi melintas sendirian dan telah menemukan kawan untuk diajak berbagi memandangi bintang pagi.

ketika kau menoleh, aku masih ada di sini. berlari-lari kecil di sampingmu, atau mengikutimu diam-diam dari belakang, atau memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju...
... sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana.

Mungkin ketika kau menoleh, saya tengah berlari-lari kecil dan tertawa di sampingmu, atau mengikuti langkahmu diam-diam seraya mengamati punggungmu dari belakang, atau bahkan menuntunmu dan memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju, atau mungkin juga saya telah menjelma pada bayanganmu yang kemudian tertelan pelan-pelan ketika gelap turun menggulung senja dalam satu sapuan manis.

Jadi, bagilah beban itu agar langkahmu terasa ringan… dan bersama, kita akan saling bantu menghadapi dunia untuk menyongsong mimpi-mimpi yang masih tersembunyi di balik pelangi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP