Akhirnya, ia kembali ke sini. Dengan autistic mode, on. Melarikan diri dari keramaian, mengasingkan diri dari kerumunan, menikmati kesepian. Bermain-main dengan kesendirian.

Dan segala sesuatunya seperti berkolaborasi untuk memberikan satu sudut tenang baginya; hanya untuk duduk dan bekerja dalam diam. Terkadang ditemani satu sesi ceria MIKA atau denting piano Yiruma. Memasang earphone. Memagari diri dari dunia. Dengan sengaja menghindari pertemuan-pertemuan yang tidak terlalu penting.

Sudah lama ia tidak mengasingkan diri…

Hujan di luar. Gerimis masih terdengar menetes satu-satu di atas kolam. Semangkok sekoteng dengan potongan dadu roti tawar. Air jahe yang menghangatkan telapak kaki yang dingin dan sedikit kesemutan.

Rambut yang masih awut-awutan setelah keramas dan wangi lotion strawberry (tinggal sedikit, ia belum sempat membeli sebotol lagi), komunitas lama yang ia kunjungi setelah beberapa bulan tak pernah singgah dan meninggalkan jejak di sana, beberapa potong kue kering oatmeal dan kismis… bantal, guling, dan selimut tebal yang menyangga kaki tinggi-tinggi.

Empuk.

Ah. Tinggal satu hari lagi sebelum hibernasi.

Besok pagi seharusnya dimulai dengan semangkok bubur ayam kampung dan secangkir kopi; instan pun tak apa-apa. Atau jika suasana hatinya sedang baik, ia akan rela lari sebentar ke BEJ dan melewati gerbang-gerbang aneh dengan kartu visitor-nya; yang membuatnya merasa seakan berada di Fort Knox. Tak apa, demi sekarton hot caramel machiato yang di-upsize ke ukuran grande.

Lalu ia akan kembali ke meja kerjanya. Memasang earphone (rasanya ia kangen Kravitz) dan membisukan telepon genggamnya. Duduk bersila dan mengetik manual yang harus diserahkannya sore nanti.

Setiap kali bosan, atau merasa pegal-pegal; setiap kali matanya terasa perih dan lehernya terasa kaku, ia akan berdiri dan berjalan-jalan ke dapur. Ke teras. Ke toilet. Meregangkan tubuhnya. Menguap. Berjinjit. Kemudian kembali lagi ke mejanya di sudut itu.

Dan matanya akan jatuh pada kalender kecil yang bertengger di atas meja. Kemudian ia akan tersenyum dan melanjutkan mengerjakan manual-nya.

Satu hari lagi.

hanny

15 Responses

  1. Keren… keren banget. Thanks banget buat temen gw yg dah ngasih info tentang blog elo. Beneran bisa jadi tempat persinggahan di kala gw lg mumet ma kerjaan.

    Salam kenal,
    indiemeisje.blogspot.com

  2. indie – temannya joyce bukan? hehehe *nebak* you have a nice blog, too. i’ve been there πŸ™‚

    jundi – iyaaaa hehehehe. alhamdulillah, akhirnya bisa liburan juga! ;p selamat berlibur!!!

    balibul – percaya nggak, saya malah belum pernah ke wajan bekas. mungkin karena terlalu dekat dengan rumah, jadi males hehehe :p

    sarah – aku penasaran apakah kamu si cah ayu ndemenake itu πŸ˜€

  3. nice whisper Hanny.

    btw, just to let you know i’ve moved to fatihsyuhud.com, and afsyuhud.blogspot is no longer written by me

    happy new year wish you luck!

  4. Salam kenal,
    Musim liburan panjang gini biasanya kan banyak tempat yang mulai ramai, terus kalau melarikan diri dari keramaian, mau lari kemana mbak?…
    Ahh…mending bantu korban banjir dan longsor aja dahh

  5. hanny….

    se-diem-diemnya juga hanny, pasti ada yang dilakuin.
    hooo? autistic face? hihi… jadi pengen liat deh… hahaha πŸ˜€

    ~dadun~

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB