Selintas hujan berkelebat sekejap; menjelma putih yang membuat mata hanya bisa melihat dalam jarak pandang terbatas. Satu meter? Jarak pandang yang kemudian menyapu dirimu.

Bersebelahan, kita terperangkap dalam sebuah kotak kaca. Transparan seperti batu es dalam gelas yang sudah mencair sehingga iced tea itu tidak lagi dingin. Mesin penggiling kopi yang berderum di kejauhan. Sebungkus rokok yang tidak dinyalakan karena intensitas yang sedemikian pekat sehingga tak bisa bahkan untuk mengambil jeda napas.

1 detik = 24 jam

[Nokia N73. Tas kerja berisi berkas-bekas. Sepatu hak tinggi. Kemeja lengan panjang yang digulung hingga sebatas siku. Virgin Suicides-nya Eugenides. Jas yang tergeletak di sandaran sofa. Kaus abu-abu ditingkahi ikat pinggang besar hitam bergaya vintage. Blackberry. Gemerincing 24 gelang kecil. Tan Dial].

Kita meraya dalam potongan-potongan kue cokelat dan makanan berlemak; enggan melacur pada semangkuk salad dan segelas air mineral. Orang-orang datang dan pergi dalam gerak lambat. Detik berhenti pelan-pelan, memecah kembali menjadi 24 jam dalam waktu di batas hati. Lama. Setiap gerak membelah diri menjadi satu episode berisi puluhan cerita yang bisa tertuang dalam ketakterbatasan.

Kata-kata beraroma mint. Sebuah lagu yang tidak jelas. Tidak penting. Semua mengalir pada cangkir ketiga. Teh, smoothies, kopi (“what about a bottle of wine afterwards?“). Buku menu itu pun kemudian dibiarkan tergeletak di pangkuan.

Kita bahkan tak menyadari bahwa ternyata hujan sudah lama berhenti.***

hanny

8 Responses

  1. sekarang cuaca panas dingin, han…

    *gak nyambung*

    emang, chik 😀 hehehe, kapan episode makan siang dengan *ehem* berikutnya?

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

The view from De Klok
I took another digital detox this weekend—I limited myself to a 5-minute screen time on Saturday and Sunday to quickly check my business account. I closed my social media account for the rest of the days.
Unsplash
We tend to shape our memories of them based on the limited time we spend with them—and our memories of them, over time, will be replaced with one single word, one single interaction, or one single feeling.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO