Setiap kali ingatan tentangnya berlompatan dalam benakmu, kamu ingin meraih buku sketsa yang diberikan kawan baikmu itu. Isi kepalamu tumpah ke atas kertas dalam berbagai bentuk, tekstur, dan warna. Kata-kata yang berpusar di sekelilingnya: rahasia. Kamu berharap suatu hari nanti kamu bisa menggambar seperti Anna Laitinen, atau Oliver Jeffers. Tetapi sementara ini kamu sudah cukup berpuas diri dengan sebatang pensil arang, tiga macam kuas, dan cat air delapan warna dari sebuah supermarket Jepang.

“The place I like best in the world is beside you.”

Kamu selalu jatuh cinta pada goresan pensil di atas kertas. Kamu berharap ia juga. Temanmu bertanya apa yang kamu lihat dalam dirinya. Kamu bilang kamu suka karena ia selalu bersentuhan dengan dunia. Ia melihat; bukannya menutup mata. Kata temanmu, apa pentingnya bersentuhan dengan dunia. Kamu bilang kamu ingin bersama seseorang yang impiannya menyentuh bintang-bintang, namun kakinya tetap menjejak tanah.

Apa pentingnya menjejak tanah, temanmu kembali bertanya.

Agar kamu mengerti, jawabmu. Ada perbedaan yang besar antara tidak tahu dan tidak mau tahu. Menjejak tanah akan membuatmu merasa lebih rendah hati. Dari para petugas berseragam yang naik-turun seharian dalam lift transparan di sebuah pusat perbelanjaan, selamanya bertanya: “Lantai berapa?” sampai petugas kebersihan di toilet klub malam yang harus menunggui perempuan-perempuan cantik yang terlalu mabuk untuk menyiram bekas-bekas muntahan dari dudukan kloset. Atau petugas pengantar makanan cepat saji yang menembus kemacetan Jakarta dengan motornya di tengah badai, untuk meletakkan sepiring makanan hangat di kubikelmu yang kering dan nyaman.

Kamu menyukainya karena ia juga melihat hal-hal yang dilewatkan banyak orang. Kamu bisa berbincang dengannya tentang nelayan-nelayan di Gaza yang diserang tentara Israel ketika mencoba pergi melaut, juga tentang pencari suaka asal Afghanistan yang disiksa hingga tewas di Pontianak oleh petugas imigrasi. Kamu juga tahu kalian akan selalu bisa berbincang tentang secangkir kopi, buku-buku puisi, lukisan abstrak, film-film festival, juga perjalanan untuk menandai peta ke tempat-tempat yang belum pernah kalian datangi sebelumnya.

Demikianlah. Maka kamu telah menahbiskan rasa sukamu atas dirinya.

____________________________________

:: Jakarta, dari balik jendela. Suatu sore setelah hujan reda.

hanny

11 Responses

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB