Just because some people are smiling in a cheerful-looking way, it doesn’t mean that they live an easy life. Just because some people look depressed and carrying around a huge black cloud on top of their head everywhere they go, it doesn’t mean that they live the most miserable life.

Everyone has got their own problems. My problems are not bigger than yours, yours are not bigger than mine. To think of my problems as something that’s bigger-than-yours or yours as bigger-than-mine is such a selfish thought.

But no matter how fucked-up your life could be, it’s you—and only you who could decide:

You can wail around—screaming and crying until your eyes popped-out from the socket, like the image of that girl in Tim Burton’s The Melancholy Death of Oyster Boy. You can drink a bottle of Southern Comfort to comfort you or curse with your mouth shut. Or you can listen to angry songs on your iPod in maximum volume while sipping a cup of hot coffee in a cafe somewhere, smiling to the passers-by.

And whatever you do, whatever you choose, I won’t judge you. Because that, too, is selfish. And I’m not into fishy stuff.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

hujan bulan juni.

sepotong hati.
menghanyut 4.2 juta kaki.
merinai sendiri.
lalu terhenti;
pada sesuatu merupa muara:

kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Jim Lynch, 2005 | 272 halaman

The Highest Tide adalah salah satu novel paling cantik, sunyi, dan manis yang pernah saya baca. Mungkin buku ini bisa menjadi bahan bacaan yang menyenangkan untuk melewati akhir pekan 🙂 Di Gramedia juga sudah tersedia edisi terjemahannya.


The Highest Tide
berkisah mengenai Miles, anak lelaki berusia 13 tahun yang insomnia dan jatuh cinta pada laut.

Miles tinggal di rumah kecil dekat teluk di Puget Sound, dan dari matanya; Miles memukau kita semua dengan kisah-kisah indah mengenai laut dan pantai; makhluk-makhluk laut seperti keritip dan kerang-kerangan, pasang-surut, ikan-ikan, bintang laut–juga mengenai Angie; gadis muda beranjak dewasa yang ‘bermasalah’ dan terpaut beberapa tahun lebih tua darinya.

Gadis yang dicintainya.

Suatu malam, Miles yang biasa-biasa saja menemukan bangkai hewan laut raksasa terdampar di pantai, dan kehidupannya yang tenang seketika menjadi bising dan hiruk-pikuk. Miles yang bukan siapa-siapa dan hanya seorang anak canggung dari teluk berubah menjadi sorotan media massa.

Dalam hingar-bingar itu, Miles tak menghiraukan decak kagum yang ditujukan padanya dan malah menarik dirinya pada kehidupan laut. Pada perempuan tua yang sekarat. Pada keluarganya yang retak. Pada Angie yang terjerumus ketika tengah mencari identitas diri. Dan di tengah perjalanan ini, Miles menemukan kebahagiaannya sendiri.

Kebahagiaan yang sunyi, tenang, dan tidak berteriak. Kebahagiaan yang menebar tanpa suara, seperti taburan gula halus di atas kue tart.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada mereka yang belajar dan percaya setelah mengalami. Ada yang belajar dan percaya cukup setelah melihat atau bersentuhan dengan mereka yang telah mengalami.

Sama seperti kita tahu bahwa tak bijaksana menusukkan ujung jari ke dalam dua lubang stopkontak–tanpa perlu benar-benar merayakan sensasi gelenyar listrik mengaliri tubuh terlebih dahulu.

Kita juga bisa tahu dan percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja — bahwa apapun yang kita perlukan niscaya akan dicukupkan; karena satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk percaya adalah: percaya. Dalam If I Sit in My Own Place, Rumi bertutur:

I know that God will give me my daily bread. There is no need to run about and waste my energies needlessly. In fact, when I gave up any ideas of money, food, clothes, of satisfying physical desire, then everything began to come to me naturally.

Memang, rasanya kurang bijaksana menggantungkan kebahagiaan dan masa depan kepada orang lain — atau benda lain. Karena manusia berubah. Waktu berlalu. Ketika kita bergantung pada segala yang berada di luar kendali kita, maka takkan pernah ada yang terasa benar. Kebahagiaan itu bisa didapatkan hanya dengan memandangi bunga liar yang tumbuh cantik di tepi jalan atau harus dengan pesiar dengan yacht di Laut Mediterania. Saya selalu berpikir tak ada yang salah dengan keduanya, namun merasa bahwa orang-orang pada kelompok pertama lebih beruntung dari yang terakhir. Bukankah menyenangkan jika kita bisa berbahagia hanya karena hal-hal yang sederhana?

When I run after what I think I want, my days are a furnace of distress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without any pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me; when it cannot attract me any more to go to it, it has to come to me. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

Bukankah dalam hidup saya sudah berkali-kali dikecewakan, hanya untuk menemukan bahwa kekecewaan saya adalah bagian dari kebahagiaan besar di depan? Semuanya seperti perjalanan kilas-balik yang bisa saya tertawakan kini (dan sungguh, menertawai diri sendiri adalah sesuatu yang melegakan), sementara perjalanan berikutnya masih menunggu dalam waktu yang belum dijamah langkah kaki.

Bagaimana di usia belasan saya jatuh hati pada seorang lelaki secara diam-diam dan menunggunya hingga belasan tahun, berharap ada sebuah keajaiban terjadi sehingga saya bisa mengutarakan perasaan saya dan mengalami hari-hari yang dihabiskan berdua saja dengannya — untuk kemudian menemukan bahwa: setelah belasan tahun, saya akhirnya diberikan satu kesempatan itu…

dan menyadari bahwa saya tidak sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Bahwa apapun perasaan yang saya miliki terhadapnya, jelas itu bukan cinta.

Ini seperti menginginkan sesuatu sedemikian hebat, mendapatkannya, kemudian menyadari bahwa kita tidak membutuhkannya. Bahwa ternyata, bukan ini yang kita cari. Mungkin saya lambat belajar, karena dibutuhkan belasan tahun untuk menyadarkan saya mengenai hal ini — atau belasan tahun inilah yang membuat saya sabar, pelan-pelan, tidak terburu, tidak tergesa. Membuat saya menghargai hal-hal kecil. Membuat saya mengetahui bahwa apa yang saya butuhkan dan inginkan tidak abadi, dan akan terus berubah seiring dengan berlalunya waktu. Membuat saya kini menikmati sensasi lain dari jatuh cinta yang membuat saya tertawa dan menangis; bukan hanya menangis, bukan hanya tertawa.

Atau seperti saat-saat saya begitu percaya diri bahwa saya akan masuk ke perguruan tinggi impian — sehingga tidak mendaftar ke universitas lain; dan mendapati kenyataan dalam selembar koran bahwa: saya tidak lulus. Bahwa pada detik-detik terakhir, saya — yang berkali-kali mewakili sekolah dalam kompetisi debat (dan menang) ini, menghadapi kemungkinan tidak melanjutkan ke bangku kuliah selama setahun karena sudah tidak ada universitas yang membuka pendaftaran. Tetapi… masih ada satu universitas lagi yang membuka pendaftaran untuk jurusan yang saya minati. Pendaftaran gelombang terakhir. Maka saya putuskan mengikuti ujian masuk, dan lulus.

Dan bagaimana di universitas ini saya akhirnya bisa mengikuti berbagai kompetisi debat, lagi — termasuk satu kompetisi besar tahun itu melawan mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi impian saya; di mana saya tidak lulus ujian masuk. Dan tim saya… menang; dan sejak saat itu tim debat kami menjadi begitu kuat dan solid, memenangkan beberapa kompetisi lagi, sehingga saya mendapatkan tambahan ‘uang jajan’ dari kampus — dan mendapatkan beasiswa untuk 2 tahun terakhir di kampus TEPAT ketika keluarga saya tengah membutuhkan dana yang agak besar untuk sesuatu hal; dan orang tua saya mulai sedikit cemas memikirkan pembayaran uang kuliah saya berikutnya.

Dan bahwa dari teman kampus juga, dalam 2 tahun terakhir itu saya mendapatkan pekerjaan sampingan mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk sebuah perusahaan Korea, sehingga saya masih bisa menutupi kebutuhan sehari-hari sendiri. Ketika murid Korea saya ditugaskan ke Singapura bersama keluarganya, saya terancam tak punya pekerjaan sampingan. Saya mengirimkan lamaran ke beberapa agensi periklanan untuk kesempatan magang (karena saya menyukai pekerjaan kreatif), tetapi tak ada yang menjawab. Tetapi kemudian seorang kawan memperkenalkan saya dengan kawannya, dan akhirnya, sambil menyelesaikan skripsi, saya membantu-bantu bekerja di sebuah agensi periklanan digital — dan menyadari bahwa saya tak punya kesempatan menyalurkan ide-ide kreatif saya di sini.

Dan dunia seperti termampatkan dalam jarak beberapa meter saja, ketika dari kubikel saya, saya melihat manajer saya: dan dia adalah suami dari dosen saya. Sang manajer pernah mendengar mengenai saya dari istrinya, dan mengetahui hasrat saya akan pekerjaan yang memungkinkan saya mengeksplorasi ide-ide kreatif saya, ia menyarankan saya untuk mencoba melamar pekerjaan di sebuah konsultan humas yang tengah membutuhkan personil. Saya mencari informasi mengenai konsultan humas ini, dan mendarat di sebuah blog milik seorang perempuan — yang sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 1 tahun, menikmati pekerjaannya dan mencintainya.

Maka saya memutuskan untuk mencoba — tak ada salahnya, bukan?

Dan mengetahui di kemudian hari bahwa saya diterima di perusahaan tersebut, salah satunya adalah karena ” Habis CV yang kamu kirimkan adalah CV paling kreatif yang pernah kami lihat!”

Perempuan yang blog-nya saya baca itu kemudian menjadi salah seorang sahabat baik saya. Bahkan ketika ia sudah meninggalkan perusahaan ini, saya masih berada di sini. Masih bersenang-senang dan bermain-main dengan warna, desain, tulisan, serta ide-ide yang melompat-lompat di kepala; dan sering dikatai ‘nista’ karena merasa kangen keramaian kantor ketika sedang libur panjang.

Dan hidup hingga saat ini tak hentinya turun, naik, turun, naik, menghujam, memuncak, datar, turun, naik, turun, naik… tetapi jika saya memampatkan setidaknya 15 tahun ke belakang ini dalam paragraf-paragraf di atas: saya akan melihatnya, kecewa, air mata, bahagia, yang tumpang-tindih.

Tapi entah bagaimana, saya selalu tahu bahwa saya akan baik-baik saja dan bahagia. Melangkah ringan sebagaimana adanya, sebagaimana yang sudah. Meyakini bahwa walau langit gelap, matahari itu selalu ada, dan tidak pernah berhenti bersinar, meskipun sedang tidak kelihatan.

Say there are ten worries nagging at you; choose the one about the Divine World, and God personally will see to the other nine worries without any need for you to do anything. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu sendiri sudah merupa kejutan yang datang terlalu dini. Bahkan hingga kini; setiap harinya aku masih selalu bisa menemukan percik kembang api dengan warna dan konfigurasi berbeda yang kamu ledakkan di langit hatiku.

Ini seperti perjalanan pukul tiga dini hari, dengan bantal di pangkuan dan gelap di luar; dari balik jok belakang mobil yang temperaturnya terlalu dingin. Saat kita menengadah pada terbitnya matahari di puncak tertinggi candi; alih-alih mengagumi yang terbenam.

Yang sudah lalu adalah pelajaran, yang belum terjadi adalah pengharapan.

Ini bukan tentang malam yang dihabiskan dalam terang lilin, denting piano, dan secangkir Earl Grey yang terus mengalir dari dalam poci — empat belas lantai di atas tanah. Ini juga bukan tentang pagi berkabut di atas kapal Cina menyusuri pilar-pilar kapur dengan pantai-pantai kecilnya yang berpasir putih.

Ini tentang kamu — yang setiap harinya masih saja meletakkan semangka kuning di rak yang kulewati ketika hendak menuju anjungan tunai mandiri. Kamu, yang menebarkan wangi butter dan karamel setiap kali aku sedang mengantri karcis di bioskop. Kamu, yang hadir dalam secangkir chilled matcha dan hazelnut latte atau menyelinap ke dalam kisi-kisi pendingin ruangan di kamarku sebagai aroma therapy Country Walk.

Ini tentang kamu — yang dengan lucunya masih seringkali menyamar menjadi tomat ceri dalam semangkuk saladku.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Mungkin ia memang sudah berhenti merayakan. Sejak lama. Kini, setiap hari merupakan sebuah perayaan dan pemenuhan rasa syukur yang lain. Jeda satu tahun tak menjadikan satu hari lebih istimewa ketimbang yang tiga ratus enam puluh empat.

Dua puluh tujuh adalah perjalanan. Perjalanan jiwa. Perjalanan hati. Tak ada lagi yang menahannya di belakang. Dan mungkin, tak ada juga yang menunggunya di depan. Tapi tak mengapa. Ia sudah berhenti mencari tujuan.

Perjalanan adalah persinggahan demi persinggahan. Ia tahu, tidak ada yang selamanya. Ia juga tahu, langkah kaki bisa berubah arah. Tetapi biarkanlah hatinya yang menempuh perjalanan itu; dan langkahnya hanya menuruti bahagia.

Karena bukankah itu yang semua orang cari?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Hari ini, saya cuma mau berbagi sebuah puisi dari Rumi. Silakan dibaca dulu 🙂 Boleh juga berbagi apa perasaan/pemikiran yang timbul ketika membaca puisi ini. Kalau perasaannya mau disimpan sendiri juga boleh 😀 Besok-besok akan saya bagikan apa arti puisi ini buat saya 😉

Have a nice weekend! 🙂

IF I SIT IN MY OWN PLACE
A poem by Rumi

I know that God will give me my daily bread. There is no need to run about and waste my energies needlessly. In fact, when I gave up any ideas of money, food, clothes, of satisfying physical desire, then everything began to come to me naturally.

When I run after what I think I want, my days are a furnace of distress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without any pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me; when it cannot attract me any more to go to it, it has to come to me. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

What I am saying is: busy yourselves with the business of the Other World, and everything in this world will run after you. When I said, “I am sitting in my own place in patience,” what I meant by “sitting” is sitting as applied to the business of the world to come.

If you sit occupied with the world to come you are in fact running; if you run about for the affairs of this world you are actually staying still and not doing anything real. Didn’t the Prophet say: “Make all your concerns one single concern and God will look after all your other concerns”?

Say there are ten worries nagging at you; choose the one about the Divine World, and God personally will see to the other nine worries without any need for you to do anything. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

—————

PS: Thank you, Eva, for the poem! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Berhubung ini akhir minggu, dan siapa tahu ada yang mau jalan-jalan; kalau kamu akan bertandang ke Yogyakarta akhir minggu ini, saya akan menyarankan kamu untuk mencoba dua makanan berikut ini: gudeg mercon, dan nasi langgi Bu Chandra. Memang butuh agak perjuangan mendapatkan keduanya. Untuk gudeg mercon kamu mesti rela begadang hingga pukul 2 pagi, untuk nasi langgi kamu harus sampai di sana pukul 8 pagi supaya tidak kehabisan.

1. GUDEG MERCON

Perjuangan mendapatkan gudeg mercon yang katanya enak dan luar biasa pedas itu memang luar biasa. Warung gudeg ini baru buka sekitar pukul setengah dua pagi. Ya, benar. Pukul setengah dua pagi.

Dijajakan oleh seorang ibu dari balik meja penuh baskom-baskom, kita bisa memilih mau diisi dengan apa saja nasi gudeg kita: sate, suwiran ayam, telur… semua ada. Dan tentunya, mau dikasih mercon atau tidak, alias bumbu campuran tempe dan cabe dan kerecek yang PEDAS nian.

Bikin keringetan, pastinya, tapi pasti jadi pengalaman seru buat pecinta masakan pedas! (Mohon dimaklumi kalau fotonya jelek, kombinasi lapar dan ngantuk sangat memang nggak mendukung, hehehe)

2. NASI LANGGI BU CHANDRA

Kalau untuk yang satu ini, sambangilah toko kecil Bu Chandra pagi-pagi, sekitar pukul tujuh hingga setengah delapan. Kita juga bisa memilih isi nasi langgi: telur, empal, ayam… wah, macam-macam!

Nasi langginya enak banget, rasanya gurih, dan semua lauk-pauknya empuk. Sambelnya pas pedas, manis dan asin. Terus ada juga keripik cabe-nya yang bikin rasa nasi langgi ini makin sulit dilupakan 😀

*nulisnya aja bikin pingin balik lagi dan pesan gudeg mercon dan nasi langgi, yang memperkenalkan saya pada kedua makanan ini tolong tanggung jawab!* T_T

Selamat jalan-jalan dan makan-makan! 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kenapa blog ini dinamai Squeezing Marshmallow?

Because that’s one of the best feeling in the world. When I’m squeezing marshmallow.

Lucu rasanya. Nyenengin. Sama seperti bengong mandangin tetes-tetes hujan dari balik jendela atau lari-lari di rumput basah telanjang kaki.

Ngeliat bunga lili putih. Atau nebak-nebak bentuk awan yang lucu-lucu. Those are the things that make me happy. Simple things.

Buat saya, orang paling beruntung di dunia adalah mereka yang bisa nemuin kegembiraan dalam hal-hal yang paling sederhana 🙂 So, I considered myself lucky! :p

Dan kepercayaan saya bahwa yang namanya kegembiraan itu menular ternyata benar. Riset Harvard University dan San Diego University yang diterbitin di British Medical Journal:

“The happiness effect that spreads through social networks can last for up to one year. Conversely, sadness does not spread through social networks as robustly as happiness.”

LA Times

Knowing someone who is happy makes you 15.3% more likely to be happy yourself, the study found. A happy friend of a friend increases your odds of happiness by 9.8%, and even your neighbor’s sister’s friend can give you a 5.6% boost.

“Your emotional state depends not just on actions and choices that you make, but also on actions and choices of other people, many of which you don’t even know,” said Dr. Nicholas A. Christakis, a physician and medical sociologist at Harvard who co-wrote the study.

They discovered that happy people in geographic proximity were most effective in spreading their good cheer. They also found the happiest people were at the center of large social networks.

Reuters

“Among other benefits, happiness has been shown to have an important effect on reduced mortality, pain reduction, and improved cardiac function. So better understanding of how happiness spreads can help us learn how to promote a healthier society,” he said.

The study also fits in with other data that suggested — in 1984 — that having $5,000 extra increased a person’s chances of becoming happier by about 2 percent.

“A happy friend is worth about $20,000,” Christakis said.

Daily Mail

Having happy neighbours sends an individual’s happiness levels soaring by 34 per cent.

Living close by to happy people counts, with a person 42 per cent more likely to be happy if a friend who lives half a mile away becomes happy but the effect falls to 22 per cent for two or more miles and drops away entirely at greater distances.

———————————————————————————————————-————-——–————-

DISCLAIMER: Perusahaan minuman yang akan Anda baca di bawah ini adalah salah satu klien saya. Tetapi saya tidak diminta untuk menulis mengenai mereka di blog saya, dan tidak memiliki kewajiban untuk itu. Saya menulis mengenai hal ini karena saya merasa ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini.

———————————————————————————————————-————-——–————-

Waktu tim Expedition 206 bertandang ke Jakarta, Indonesia, saya sempet ketemuan sama mereka. Antonio (Mexico), Kelly (Belgia) dan Tony (Jerman) adalah tiga orang yang terpilih menjadi Ambassador of Happiness-nya salah satu perusahaan minuman multi-nasional; untuk sebuah program kampanye global yang bertujuan untuk nyebarin kegembiraan (kenapa saya nggak denger program ini, sih? kan bisa ikutan T_T).

Jadi, misi ketiga orang ini adalah untuk berkunjung ke 206 negara dalam waktu 365 hari saja, dan menemukan apa yang membuat orang-orang di negara-negara ini merasa gembira. Kedengerannya seru, ya! Paspor pasti langsung penuh 😀

Tapi saya juga tau mereka capek banget, karena harus terus pindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa sempat istirahat yang cukup. Kadang-kadang paginya sampai, malamnya sudah harus terbang ke negara lain lagi. Dan selama perjalanan, mereka juga harus bikin reportase perjalanan, nge-tweet, nulis blog, bikin video, dan masih banyak lagi.

Everyday is Monday for us,” kata Kelly, waktu kita semobil malam-malam, mau nonton IronMan 2. “Dan kita selalu berdoa dapet long flights biar bisa tidur di pesawat. Tapi gue nggak bisa komplain, walau capek tapi pengalaman ini nyenengin banget!”

Malam itu Kelly memang rewel minta ditemani kami–cewekcewek untuk nonton dan hang out, padahal itu sudah jam 10 malam. Dia bilang dia kangen jalan bareng cewek-cewek, berhubung selama 365 hari dia cuma bergaul sama Antonio dan Tony. “I miss hanging out with girls,” katanya merajuk. “Please, please, I’m only here for one night. One night! Masa gak mau nemenin siiih…” 😀 Kasihan 😀

Tapi yang paling menyentuh saya adalah waktu siangnya; dalam konferensi pers dengan tim Expedition 206, ada wartawan yang nanya: “Kalo kalian berkunjung ke negara miskin atau negara yang lagi ada konflik gitu, gimana orang-orang di sana nemuin kegembiraan?”

Seingat saya waktu itu Kelly yang jawab: “Justru di negara-negara miskin itulah kita nemuin arti kegembiraan yang sesungguhnya. Misalnya pas di Ethiopia, mereka itu negara miskin. Jadinya mereka nggak bisa nyari kegembiraan dari hal-hal di luar diri mereka. Akhirnya, ya, mereka hanya bisa gembira dari apa yang mereka punya di dalam diri mereka. Kegembiraan yang asalnya dari dalam… dan itu bikin kita belajar dan bersyukur.”

Sumpah, saya merinding dengernya. Di belahan dunia lain, orang bisa bangun tidur dan menemukan dirinya masih hidup aja udah jadi sumber kegembiraan tersendiri. Di belahan dunia lain ada orang yang udah bisa makan enak, belanja, jalan-jalan, tapi masih aja rajin mengeluhkan ini-itu.

Padahal kegembiraan itu menular.

Kegembiraan itu bisa didapat dengan sekadar melihat wajah orang senyum, ketawa… seperti kumpulan wajah-wajah yang di Website of Happy Faces-nya Expedition 206 chapter Jakarta. Wajah-wajah yang sudah ikut nyumbangin 200 buku anak-anak buat Taman Bacaan Pelangi di Flores. Kegembiraan yang menyebar dari dunia maya, Jakarta, terus ke Flores sana.

Saya terkesan banget dengan definisi ‘happiness‘ yang ditulis sama Tony:

Happiness is: My mom likes the sound of leaves crunching on her feet so she steps on them and acorns in the fall time. I step on them now too when she’s not around because it always makes me smile to think of how happy she hears the sound.

Buat saya, yang paling berbekas dari pertemuan sama Antonio, Kelly, dan Tony adalah kenyataan bahwa kegembiraan itu bisa didapat di mana-mana, dalam kondisi seperti apapun juga. Jadi, saya akan keluar menyambut matahari pagi, bersyukur akan hangatnya, dan tersenyum pada dunia 🙂

*) Di bawah ini adalah video ketika saya dan kawan-kawan bersama tim Expedition 206 masuk ke sebuah distro di kawasan Tebet. Mendadak, lagu The Waving Flag-nya World Cup diputar, dan kami pun menari-nari di sana 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP