Ujung kuku saya putih susu, dulu saya tak suka dan menginginkan ujung kuku yang bening. Tetapi sekarang saya suka, karena semua orang mengira saya baru melakukan French manicure. Iklan Teh Botol yang baru menurut saya aneh dan agak maksa. Anak lelaki kecil di iklan Rinso nggemesin banget. Talent coordinator-nya nemu di mana? Wajahnya lucu sekaligus nyebelin, mirip Ringgo Agus Rahman. Rok batik saya sudah lama nggak dipakai. Tapi sekarang semua orang pakai batik. Saya jadi malas. Ada iklan lulur, “Kok cantik banget (atau apa persisnya entah), pasti pakai susuk.” Hmm, khas. Indonesia banget. Kopi instan dicampur susu cokelat cair itu enak sekali. Hah, masih ada dua kotak sereal dan sekardus susu putih di atas meja kantor. Infotainment ribut perihal lamaran Lembu-Masayu. Duh, telat banget ketimbang blogtainment 😀 Eva, anaknya Sophia Latjuba sedang dekat dengan penyanyi Afghan. Kalau saya perhatikan Afghan agak mirip Indra Lesmana. Aneh. Or maybe it’s just me. Senang dengan body lotion Apple-nya BodyShop diskonan yang baru. Bicara soal Apple, nampaknya saya harus membeli batere iBook baru. Akhirnya bocorrr sudah setelah 2 tahun dan cycle count mencapai 625. Mungkin kalau ke Ratu Plaza bisa sekalian beli webcam. Novel The Space Between Us-nya Thrity Umrigar dan The Highest Tide-nya Jim Lynch ternyata bagus sekali. Eron Lebang itu ganteng, ternyata. Tampangnya agak bandel. Saya suka gayanya. Dulu ada seseorang yang sempat bilang pada saya bahwa dia mau meminjamkan Olenka-nya Budi Darma. Siapa yang berkata itu saya lupa. Ada Tom Hanks dan Julia Roberts di Oprah. Ah, Tom Hanks. Plurk itu lucu dan aneh, apalagi desainnya. Begitu sampai di sana ternyata bertemu dengan kelompok orang yang itu-itu juga 😀 Obama akan memenangkan pilpres Amerika.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

“The composition’s central axis is a grandfather clock without hands—it is as if, in the oasis of the artist’s studio, time were suspended.”

– keterangan dari lukisan Matisse, THE RED STUDIO.

Ternyata hidup selalu menyimpan jejak-jejak dari masa lalu. Terkadang, ketika hidup tak lagi punya cukup ruang dan waktu untuk menampung semuanya; sebagian jejak itu tertumpah ke masa kini. Menyibak memori. Persinggahan sekejap untuk mencumbui kenangan; dan ia ingat.

Ia ingat waktu-waktu yang dihabiskannya untuk menunggumu. Lama bagi yang melihat, namun ia seperti tak merasa. Benar apa kata Einstein. Waktu itu relatif.

Ia merasa seperti berada di sebuah bandara. Hanya berada di sana tapi tak sungguh-sungguh hendak naik ke atas pesawat. Iri melihat orang-orang yang lalu-lalang dengan paspor, tiket, dan troli di tangan, langkah-langkah pendek dan sapa dalam bahasa yang tak bisa ia terka.*

Semua orang nampak benar-benar tahu ke mana mereka harus menuju.

Tidak seperti dirinya, yang hanya duduk di sana memandangi mereka semua; orang-orang yang berseliweran di sekitarnya; tanpa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya bisa ia dapatkan dari duduk di sana selama itu, menunggumu, yang entah kapan akan datang.

Ribuan hari bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar, dan kakinya mulai kesemutan. Ya, rupanya ia sudah mulai bisa merasa. Detail-detail bandara ini juga sudah begitu lekat dalam ingatannya. Ia bosan. Ia ingin tahu apa yang ada di luar. Ia ingin pergi ke Museum of Modern Art dan memandangi lukisan The Red Studio-nya Matisse. Atau ke Laweyan dan melihat orang-orang membatik, seperti dalam novel Canting-nya Arswendo.

Mencari sesuatu yang lain, yang belum pernah ia tahu. Memesrai kejutan.

Lalu ia teringat film The Terminal-nya Tom Hanks (ia suka film itu–tepatnya, ia suka Tom Hanks dan semua film yang dibintangi aktor itu), kemudian menyadari bahwa bahkan seorang Tom Hanks tak bersedia terkurung dalam sebuah bandara selamanya.

Keesokan harinya, ia memutuskan untuk menukarkan sekeping hatinya dengan selembar tiket sekali jalan.

*dari komentar Wazeen.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

drain the veins in my head, clean out the reds in my eyes to get by security lines. dear x-ray machine pretend you don’t know me so well, i wont’ tell if you lie.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Ya, kamu masih bercerita tentang bandara yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu. Yang belakangan lebih sering terendam banjir. Yang toiletnya jorok dan becek, dan gulungan tisu-nya hampir selalu kosong.

Lelaki itu tertawa ketika kamu meneruskan cerita yang kamu dengar dari seorang pembawa berita keturunan Hawai. Bahwa seorang pria asing dari negeri yang jauh pernah mendarat di bandara yang sama, pergi ke toilet yang kamu benci itu, dan tak dapat menemukan selembar tisu pun. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengelap pantatnya dengan lembaran uang ribuan.

Tetapi kamu bilang, cerita itu sebenarnya tidaklah terlalu lucu.

cry, cause the droughts been brought up, drinkin’ cause you’re lookin so good in your starbucks cup. i complain for the company that i keep the windows for sleeping rearrange. well i’m nobody. well who’s laughin now.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Tempat di mana orang-orang berpisah begitu saja, dan tak bisa kembali lagi dalam sekejap jika ada yang terlupa. Tak apa jika sekadar barang yang tertinggal, tetapi jika hati yang tersia? Akan lebih repot jadinya. Apalagi jika kau sudah memutuskan akan pergi bertahun-tahun lamanya.

Kau tak akan bisa mengejar dengan berlari; atau memanjat naik ke atas atap seperti yang biasa terlihat di perlintasan kereta. Kau berani bertaruh nyawa, tersambar kawat-kawat listrik dan gosong di sana, tapi tak bisa kau lakukan itu di bandara. Tak bisa. Ya, tak bisa di bandara. Kecuali jika kau punya sayap.

(“Dan haruskah kutambah lagi dengan cerita tentang pesawat-pesawat yang jatuh, terbakar, atau meledak. Masih tak cukup sedih untukmu?”)

i’m leaving your town again, and i’m over the ground that you’ve been spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. well honey i can see your house from here. if the plane goes down, damn. well i’ll remember where the love was found. if the plane goes down, damn…

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Lelaki itu pernah menemukan tulisan-tulisanmu secara tidak sengaja, dengan goresan pensil yang berubah dari runcing menjadi tumpul. Draft-draft kasar di dalam sebuah buku tulis kecil:

Tentang seorang perempuan yang bekerja di sebuah toko buku kecil di bandara; yang setiap hari berdoa agar suatu hari nanti ia dapat naik ke atas sebuah pesawat dengan tiket sekali jalan tergenggam di tangan.

Tentang seorang lelaki yang baru saja kehilangan cincin kawinnya–yang tak sengaja tercemplung ke dalam mangkuk toilet di bandara.

Tentang hubungan yang ganjil antara seorang pemuda penjaga kedai kopi dengan artis muda yang selalu terbang menuju Denpasar setiap akhir bulan.

Tentang seorang perempuan yang bekerja di call-centre sebuah maskapai penerbangan pada pagi hari, dan menerima telepon untuk hotline layanan kencan pada malam hari.

Tentang sepotong masa lalu yang memicu pertengkaran antar sepasang kekasih dalam penerbangan mereka menuju lokasi berbulan madu.

Juga tentang seorang perempuan di konter check-in yang suka menyelipkan pesan-pesan di antara tiket-tiket dan halaman-halaman paspor beberapa orang penumpang.

Kini lelaki itu tahu betapa bandara memang merupakan tempat yang paling sedih di dunia. Setidaknya di duniamu yang tak pernah bisa ia mengerti sepenuhnya.

gracefully unnamed and feeling guilty for the luck and the look that you gave me. you make me somebody, oh nobody knows me. not even me can see it, yet i bet i’m… i’m leaving your town again. and i’m over the ground that you’ve spinning, and i’m up in the air, said baby hell yeah.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Kalian mulai kerap duduk berdua selama berjam-jam, di tempat yang berbeda-beda setiap kalinya. Kamu menyesap kopi hangat pelan-pelan, dan lelaki itu mengamatimu dari kejauhan. Tak ingin merusak ritualmu. Ia sering berkata bahwa kamu sangatlah beruntung karena dapat berkontemplasi hanya dengan perantaraan secangkir kopi.

Lelaki itu menikmati cerita-ceritamu tentang bandara. Namun terkadang, kamu tak berkisah tentang bandara. Kamu hanya diam, memandang satu titik yang tidak kelihatan di kejauhan. Kamu memang selalu merasa nyaman berada dalam diam, tak berpikir. Mungkin sama nyamannya seperti ketika lelaki itu mengamatimu menyesap kopi.

Kamu suka lelaki itu duduk di sampingmu. Menemanimu dalam diam.

Tetapi lelaki itu tak tahu pasti bagaimana mesti bersikap. Ia merasa tak nyaman berlama-lama diam. Ia pikir, seharusnya ia melontarkan lelucon yang bisa membuatmu tertawa. Atau bercerita tentang sesuatu yang bisa menarikmu keluar dari dalam diam.

Untuk lelaki itu, diam adalah depresi. Tetapi untuk kamu, diam adalah afeksi.

and i’m over the ground that you’ve spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. well honey i can see your house from here. if the plane goes down, damn. i’ll remember where the love was found. if the plane goes down, damn, keep me high minded. you keep me high.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Hingga suatu hari, tiba saatnya di mana kamu telah merasa begitu nyaman berada di sisi lelaki itu, hingga kamu tak lagi ingin bercerita–bahkan tentang bandara. Kamu hanya ingin mengajak lelaki itu untuk diam dan bermain dengan rasa.

Tak mudah merasa nyaman berdiam diri berlama-lama dengan seseorang. Tetapi dengan lelaki itu, kamu merasa bisa diam selamanya. Kamu pikir, akhirnya kamu telah menemukan seseorang yang telah lama kamu cari-cari itu…

flax seeds, well they tear me open, and supposedly you could crawl right through me. taste these teeth please, and undress me from the sweaters. better hurry, cause i’m keeping upward bound now. oh maybe i’ll build my house on your cloud.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Aku tak tahu mengapa kamu memutuskan untuk bercerita kepada lelaki itu, dan bukan padaku. Aku tak pernah tahu perihal pria asing yang mengelap pantatnya dengan lembaran uang ribuan itu. Kamu tak pernah menceritakannya padaku, padahal aku selalu bisa kamu hubungi kapan saja kamu mau.

Aku juga tak tahu mengapa aku belum pernah melihat draft-draft tulisanmu itu, yang terlarang bagi mereka yang tidak berkepentingan. Bertahun-tahun lamanya, dan aku tak pernah melihatnya. Aku bahkan baru tahu bahwa kamu menganggap bandara sebagai tempat paling sedih di dunia.

What did I miss?

here i’m tumbling for you. stumbling through the work that i have to do. don’t mean to harm you by leaving your town again, but i’m over the quilt that you’ve been spinning. and i’m up in the air, said baby hell yeah. oh honey i can see your house from here.

Dulu kamu pernah bercerita kepada lelaki itu, mengenai sebuah bandara. Yang menurutmu merupakan tempat paling sedih di dunia.

Aku ada di sana, sekarang. Di bandara-mu itu. Menunggu penerbangan terakhir yang akan membawaku pulang. Kata yang aneh, bukan? Pulang. Karena pulang berarti sebuah tujuan. Sedangkan aku tak merasa kembali pada sesuatu yang pernah kutinggalkan suatu saat dulu.

Tak ada yang menungguku. Tidak juga kamu. Tidak kamu yang bercerita, apalagi kamu yang diam.

…………………………..

diiringi lagu Plane-nya Jason Mraz, lirik dalam tulisan-tulisan yang dicetak miring.
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Setelah kabar mengenai penipuan yang mengatasnamakan Pesta Blogger 2008, kali ini kembali ada update terbaru di blog resmi Pesta Blogger.

Bukan, yang ini bukan perihal penipuan, tetapi tentang ‘hajatan’ para blogger yang kabarnya akan berlangsung bulan Oktober mendatang, menjelang peringatan Hari Blogger Nasional (Hablona) pada 27 Oktober.

Ya, Pesta Blogger 2008 mulai menggelinding perlahan…

Enda Nasution, selaku chairman Pesta Blogger tahun lalu, sempat menyatakan keinginannya agar Ndoro Kakung “turun gunung” dan menjadi chairman untuk Pesta Blogger tahun ini. Menarik! 😀 Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Sementara ini, dapat dibaca komentar-komentar seputar pencalonan Ndoro Kakung menjadi chairman Pesta Blogger 2008 di sini.

Bagi yang hendak berkomentar atau memberi saran mengenai kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di Pesta Blogger tahun depan, silakan mampir ke http://pestablogger.com/.

Juni. Juli. Agustus. September. Oktober. Siap-siap dulu, ah 😀

Keterangan: Gambar kaos dipinjam dari sini, foto ndoro kakung diambil dari arsip Pesta Blogger tahun lalu, dan gambar artikel koran adalah artikel dari The Jakarta Post mengenai Pesta Blogger 2007.
hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Menjelang sore, saya menerima sebuah bingkisan dari para “chickens” yang dititipkan kepada seorang teman:

The two chickens were on a serious mission: to find a birthday gift for a certain female human that, they say, “simply understands. Chick-a-boo: hint: this is a high praise coming from the chickens.

The chickens decided to go for a common passion: books. So the chickens searched high and low, beat the bushes, ruffled their feathers everywhere, annoyed everyone that crossed their paths, to find the right books for human. Chick-a-boo: translation: one quick visit to the neighboring Chiknokuniya. But I supposed that is challenging given the size of the chickens, not to mention the fact that the chickens need to cross the road–to get to the other side…

The Chicken, which is much more logical and claimed himself as superbly intelligent, picked the practical get-to-know art book. He said, “Knowledge is the most important prerequisite to success.”

The softer and more sympathetic Yellow Chickey differs silently. She chose the book on interviews with writers. “Learn from others’ experience,” she whispered. “We don’t have enough time to learn everything ourselves. And it’s nice to know that there are others like us.” Chick-a-boo: Let’s just skip the trouble of choosing and give both.

To their credits, the two chickens have chosen well. Both books make up a good combination. A kind reminder to the birthday human that her dreams are much closer than she thinks. A gentle nudge of soft feathered chicken wing to her whenever she is being her mellow-self that she always has friends–the books and the chickens too!–whenever the big girl feels alone in this big big world. Chick-a-boo: Yeah yeah bla bla. Enough. It is not a big big thing. Give the chickdee a break and let her enjoy her day.

At the end of day (as the sun sets and the chickens’ eyes get a bit blurry), the chickens get together, sing the human a birthday song, and wish her a life full of simple happiness and love. CHICKEN FLOCK HUGS!!! Chick-a-boo: Happy birthday! Never ever be afraid to BE A CHICKEN. And be a damn good chickeny chickerous one. Shake the feathers that your mama has given you, while you still have them.

Terima kasih, Chickens! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dua puluh lima bukan perayaan. Bukan juga perenungan.

Dua puluh lima seperti hujan; yang meski sudah berkali-kali turun tak bosan juga ia pandangi dan nanti-nanti. Seperti secangkir kopi. Sesuatu yang terasa akrab dan apa adanya, seperti piyama lamanya, yang sudah tak jelas lagi warna aslinya, tetapi selalu membuatnya merasa bisa tidur jauh lebih nyenyak ketika mengenakannya.

Dua puluh lima tak menggantungkan harapan, tidak juga penyesalan.

Dua puluh lima seperti pagi dan matahari, kaos katun, celana pendek dan sepatu kets atau sendal jepit, rambut yang basah dan harum sehabis keramas, juga segelas jus jeruk di atas meja. Sesuatu yang begitu sehari-hari namun belakangan mulai coba ia nikmati, sebagai salah satu caranya membuka diri terhadap semua yang hidup tawarkan pada setiap hirup dan hembus nafasnya.

Dua puluh lima tak menyambutnya dengan derai tawa, juga air mata.

Dua puluh lima menawarkan masa lalu dan masa depannya sebagai pilihan, tetapi ia memilih untuk berkonsentrasi pada masa kini dan semua yang mengelilinginya seperti titik-titik embun yang menyimpan momen-momen kecil. Momen-momen yang ia reguk tanpa banyak bertanya, atau berpikir.

Wafel dengan cokelat cair, stroberi, dan es krim vanila serta serangkaian permainan-permainan aneh dan ledakan tawa di Timezone malam sebelumnya. Susu cokelat dingin, mandi berlama-lama, menggosokkan scrub Africa Spa Salt di atas kulitnya yang lembap, mencuci rambut, dan membaluri diri dengan lotion stroberi pada pagi hari, mem-blow rambut di kamar sambil menonton America’s Great Hair Cut-nya Oprah. Membalas beberapa pesan yang mampir di telepon genggamnya…

Lalu melompat ke atas tempat tidur, melakukan koneksi ke internet, dan membaca kembali sebuah bingkisan manis yang diterimanya lebih awal dari seorang teman. Ia tersenyum lagi ketika mengenali masa lalunya dalam bingkai-bingkai kata itu:

“Ah, saat ini si lelaki tengah tersipu dengan segala perasaannya terhadap perempuan itu, sambil berusaha keras menyeduh secangkir kopi untuknya. Hanya ada rumus 3:1 dalam benaknya kala menyendok serbuk kopi dan gula dari tempatnya. Ia bahkan tak tahu harus mencampurnya dengan apa lagi, atau berapa putaran sendok yang harus ia lakukan agar tercipta secangkir kopi sempurna di malam yang luar biasa ini. Lihat, di luar hujan begitu deras, dan ia tahu perempuan itu teramat sangat menyukainya. Ya, mereka sedang melakukan upacara perayaan untuknya. Para prajurit air langit yang selalu dirindukannya itu tengah bersuka cita melipurnya, selayak sahabat dan orang-orang terdekatnya yang turut berbahagia atas sebuah momentum istimewa: malam menjelang usia 25-nya kini.”

Sebuah bingkisan tentang dirinya dalam secangkir masa lalu.

Tetapi dua puluh lima adalah sepotong doa. Bukan untuk masa depan. Bukan untuk masa lalu. Bukan untuk harapan-harapannya, impian-impiannya, atau kebahagiaannya.

Dua puluh lima adalah sepotong doa mengenai rasa. Rasa syukur. Tak ada yang ingin ia minta–setidaknya untuk saat ini. Karena ia sedang ingin mencoba untuk menikmati semua. Dan menikmati semua ternyata membuatnya bahagia.

Ia tahu, masih banyak yang akan menunggunya di depan dua puluh lima; dan ia akan jalani saja satu-satu, seperti PacMan menelan titik-titik yang bertebaran di layar dan menghindari hantu-hantu. Bersenang-senang. Bermain-main

Dua puluh lima adalah sebuah permainan baru. Ia hendak belajar aturan mainnya, dan menikmatinya sesuka hati.

Let’s play! 🙂

Update (01/06/08): Tak ada yang lebih mengasyikkan daripada menghabiskan hari berikutnya dengan menikmati buku-buku bacaan baru…

Update (02/06/08): Kaos kelinci lucu untuk menjelajahi museum Sabtu ini, juga mug besaaar–mungkin agar ia lebih rajin minum air putih.

Thank you! 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ya, ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganggu saya:

Mengapa memilih untuk membakar ban?

Mengapa memilih untuk berteriak-teriak hingga suara serak?

Mengapa memilih untuk memblokir jalan?

Mengapa, misalnya, tidak memilih untuk mengumpulkan beberapa orang anak putus sekolah di wilayah sekitar, menampung mereka di auditorium setiap dua hari sekali, kemudian mengajari mereka membaca, menulis, sedikit matematika di sana, sedikit bahasa inggris di sini…?

Saya hanya bertanya. Karena bukankah, lagi-lagi, kita selalu punya pilihan?

Pertanyaan berikutnya adalah:

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, tentang mengapa kita memutuskan untuk mengambil pilihan yang satu; dan bukan pilihan yang lain?

Semoga keputusannya tidak didapatkan hanya dengan melempar koin.

Question everything. Learn something. Answer nothing,” kata Euripides. Jadi pertanyaan di atas tak perlu ‘dijawab’.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ia tuang beberapa tetes cinta ke dalam segelas dukamu ketika kau tak melihatnya. Mengaduknya rata; mencampurnya sempurna sehingga tak lagi kentara perbedaan antara keduanya. Lalu kau teguk semua, hingga tak bersisa, memaknai sensasi rasa yang tak bisa kau terka apa. Jenis yang belum pernah kau kecap sebelumnya.

Ia diam saja, tak berkata-kata. Kau juga. Lalu kalian berpisah di sana. Begitu saja. Tanpa pernah tahu kapan lagi akan saling jumpa. Tetapi setidaknya, ia tahu bahwa kau baik-baik saja. Yang sedikit itu ternyata bisa melarutkan semesta. Karena ketika kalian saling tatap, di matamu, ia hanya melihat cinta.

untuk sahabat saya yang tengah jatuh cinta dan tadi sore berkata: “dia dah ngajak jalan lagi neh begitu gua pulang…koq rasanya susah banget dipercaya ya.”

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Mungkin semua ini memang berkaitan dengan karakter–sebagai individu, sebagai kelompok, dan pada akhirnya sebagai bangsa?

1. Afeksi berlebih pada kemiskinan dan barang gratisan

Pagi-pagi melewati taman di depan Pangrango. Ibu-ibu yang nampak wajar adanya, turun dari ojek, membayar, lalu masuk ke balik semak-semak, berganti pakaian, ta-da, pakaiannya compang-camping seketika. Lalu mulailah ia mengemis di dekat lampu lalu-lintas itu.

A: Mau ke mana, Bu?

B: Oh, ke lapangan… antri beras. Ada pembagian raskin.

A: (menatap tak percaya pada Ibu yang tidak bisa dibilang miskin itu)

B: Mari, lho. Duluan…

A: Soalnya kan anak saya banyak, ada delapan… buat makan aja susah. Apalagi sekolah?

B: Kok banyak sekali? Kenapa dulu nggak ikut KB?

A: Habis alat KB-nya nggak dikasih gratis

2. Selalu beranggapan bahwa akan ada orang lain yang menyelesaikan masalah dan mengambil alih tanggung jawab

A: Kok lo buang sampah sembarangan gitu, sih! (di jalan)

B: Ntar juga ada yang nyapu ini…

3. Skeptis ketika diminta melakukan hal yang benar

A: Kemarin bikin paspor pakai calo?

B: Nggak, kok. Ngurus pakai jalur biasa aja, sesuai loket yang ada.

A: Pakai harga resmi loket?

B: Iya.

A: Jadinya lama banget, ya?

B: Nggak, kok, 5 hari jadi.

A: Pasti dipersulit dan berbelit-belit, ya?

B: Nggak, ah. Biasa aja, kok. Semua lancar. Yang penting dokumen yang diminta lengkap.

A: Kalo pakai calo bisa lebih cepet, kan? Katanya bisa 3 hari jadi.

B: Oh, waktu itu sih saya soalnya kepotong hari Sabtu-Minggu. Memang perlunya buat kapan? Buru-buru banget?

A: Kayaknya sih baru 2 bulan lagi berangkat…

4. Egois dan selalu menghindar dari kesalahan

A: DINNNN DINNNN (klakson)

B: (menatap motor yang jalan di trotoar itu lalu kembali melenggang santai)

A: Minggir, woi!

B: Ini trotoar. Buat pejalan kaki, bukan buat motor.

A: Lo mau gue serempet? Minggir! DIIINNN DINNNN

A: Maaf, Pak, boleh dimatikan rokoknya? Asapnya itu, lho, Pak…

B: Kalo nggak mau kena asap rokok jangan naik angkutan umum, dong! Sana naik mobil sedan sendiri!

5. Tak cukup teladan yang baik

Sekumpulan polisi pamong praja di depan kantor pemerintahan di Kebon Sirih: “Suit suit, cewek-cewek, mau ke mana? Seksinya. Sombong amat, sih. Mau dianterin, nggak? Hahahahaha!”

6. Lebih menghargai hasil akhir ketimbang proses

A: Kok lo gak belajar, sih?

B: Udah bikin contekan!

A: Hih. Kok gitu.

B: Yang penting kan dapet nilai bagus. Emang kalo gue belajar tapi gak jago hapalan, trus dapet nilai jelek, guru kita mau tau, apa? Yang penting kan nggak ketauan nyonteknya. Hihihi.

Seorang teman (ST): “Han, lo dulu kok suka membolehkan diri kalo kita nyontek ujian lo?”

Saya (S): “Karena buat saya proses lebih penting dari hasil akhir. Kalian boleh aja nyontek sesukanya. Boleh jadi, nilai kalian sama bagusnya dengan nilai saya. Tapi kalian nggak akan bisa lebih pintar dari saya! HAHAHA! *devilish laughter*

ST: (mendengus) Huh. Dilempar sendal jepit baru tau! Hehehe.

7. Berpikir “gimana nanti” dan bukan “nanti gimana”, salah kaprah mengenai arti pasrah

A: Wah, anak keempat, ya. Lucunya. Banyak ya, Bu, anaknya.

B: Iya hahahaha.

A: Padahal sekarang apa-apa mahal…

B: Ah, gimana nanti aja saya sih, Bu. Kan anak punya rejeki sendiri-sendiri. Pasrah aja, semua udah ada yang ngatur…

B: Duh, gimana bayar sekolah anak-anak, ya? Susah Bu, kalo anaknya empat. Ibu sih enak, anaknya cuma satu.

A: Ah, nanti juga ada rejekinya masing-masing… kan dulu Ibu juga yang bilang gitu. Gimana nanti, aja, Bu. *agak meledek*

Tapi tentunya, masih ada beberapa adegan singkat yang mencerahkan. Memang motivasi dan inspirasi itu bisa datang dari mana saja.

Ibu: Eh, ini ada tas sekolah. Ayo, kamu pilih. Ibu belikan buat anakmu…

Mbak: Aduh, makasih, Bu. Tapi… kalau Ibu mau beliin tas, boleh nggak kalau uangnya dibeliin buku bahasa inggris aja, saya ada sih judul bukunya, ini anak saya disuruh beli buku ini sama gurunya.

Ibu: (terharu) Ya sudah, ayo kita ke toko buku. Ini tasnya tetap dibeli juga, deh. Nanti bukunya juga Ibu belikan…

Tukang sayur: Bu, ada koran, nggak?

Ibu: Berapa banyak? Kemarin beberapa sudah diminta warung belakang juga, lho…

Tukang sayur: Oh, bukan, Bu. Maksudnya pinjem koran hari ini. Lagi dibaca Bapak, nggak? Kalo nggak, saya mau pinjem, baca koran dulu di sini sambil nunggu ibu-ibu yang mau belanja…

Cerah itu juga bisa datang dari balik awan:

Ada siswa-siswa yang membongkar kasus korupsi di sekolahnya. Siswa dari daerah yang memenangkan Olimpiade Fisika. Korban selamat tsunami yang justru menginisiasi penanaman berhektar-hektar mangrove di daerah pantai Aceh.

Semoga kita semua dapat bertumbuh menjadi mereka yang mencerahkan, menginspirasi, memotivasi–sebatas kemampuan kita. Tak apa kecil, bila mampu memberi arti.

Karena dalam hidup ini, kita selalu punya pilihan 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP