Berapa banyak lagi waktu yang kita punya?

Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah selamanya tak selalu berakhir bahagia, sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama, dan hari ini saja bisa menjelma kekal dalam ingatan yang selalu dapat kau putar ulang?

Dan jika kita memang hanya memiliki hari ini, detik ini, pernahkah kau tanyakan kenangan apa yang akan kau tinggalkan ketika esok datang? Akankah kau mengenang hari ini dengan senyuman, dengan tangis, dengan kesumat yang memuncak ketika langit di atas kepalamu seluruhnya gelap? Tidakkah kau ingin mengkristalkan satu hari ini dalam senyum yang mengembang cantik seperti sayap kupu-kupu yang berkilauan di balik sebuah kotak kaca?

Banyak di antara kita yang marah karena masa lalu kita dirusak oleh orang lain. Maaf mungkin memang tak pernah bisa memperbaiki masa lalu, tetapi pasti memperindah masa depan.

Bayangkan, hal itulah yang dikatakan Mario Teguh, motivator terkenal itu, di televisi, tepat ketika saya mengetik semua ini. Bukankah semua ini lucu, sekaligus menyentuh, sesuatu yang membuatmu ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan?

Ketika kau tahu sulitnya melupakan sebuah kesalahan meskipun kata maaf telah diucapkan, janganlah meninggalkan ingatan pedih pada kenangan.

Tetapi satu hari sudah selesai. Terangkum dalam satu masa yang sudah lewat sekejap mata. Maka, melangkahlah pada esok pagi dengan hati yang utuh dan bukan cuma separuh, maafkan dan lepaskanlah semua. Juga jangan lupa untuk menyisakan sepotong kata maaf untuk diri sendiri. Karena kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ada sebuah perkataan berbunyi demikian: kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar.

Saya pikir, perkataan itu ada benarnya. Silakan Anda ajak lima orang kawan Anda berhenti sejenak ketika lampu lalu-lintas menyala merah, kemudian setelah lalu-lintas bergerak kembali, tanyakan kepada mereka, apakah satu momen atau satu objek yang paling berkesan yang tertangkap oleh mata mereka ketika melintas di sana barusan.

Saya yakin, Anda akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda.

Saya sendiri pernah menangkap momen ini: seorang gadis kecil, dengan ‘kicrikan dari gelas air mineral buatan sendiri, duduk di bawah lampu lalu-lintas tak jauh dari kawasan Tanah Abang (mari namai dia “gadis kicik-kicik”). Ya, dan masih ada begitu banyak momen yang tersebar di sekitar kita, ditawarkan oleh dunia untuk ditangkap setiap harinya oleh panca indera.

Konon, di salah satu buku marketing yang pernah saya baca (saya lupa apa tepatnya), kanal televisi anak-anak Nickelodeon sempat mempergunakan kejelian anak-anak kecil untuk “menangkap momen” sehari-hari melalui sebuah kamera sekali pakai. Dari momen-momen yang “dijepret” oleh anak-anak kecil itu (berupa berlembar-lembar foto), Nickelodeon berhasil mengetahui objek dan momen macam apa saja yang dekat dan relevan di mata anak-anak—sebagai target audiens mereka.

Menjadi menarik, kemudian, untuk mengetahui momen macam apa yang dilihat dekat dengan tema Pesta Blogger 2008 tahun ini, “blogging for society” dari balik lensa mata (atau kamera) para bloggers. Ya, melalui Photo Contest Pesta Blogger 2008, para bloggers dan penggemar fotografi diajak untuk turut menyumbangkan momen “blogging for society” yang mereka tangkap sehari-hari, untuk kemudian dikompetisikan di hadapan juri-juri yang sudah begitu lama wara-wiri di dunia fotografi profesional Indonesia.

Dan sejauh yang saya ketahui, tiga orang dari jajaran dewan juri itu merupakan pribadi-pribadi yang bukan hanya piawai dalam menangkap momen—tapi juga dalam menikmatinya, to the fullest.

Bang Arbain Rambey, misalnya. Di pertemuan pertama saya dengannya untuk melakukan interview beberapa waktu lalu, kami berbincang seru mengenai banyak hal. Bang Arbain bercerita tentang perjalanannya ke Bunaken, kecintaannya pada kamera-kamera tua, keluarganya… semua itu dikisahkan dengan penuh gairah, cinta, semangat. Saya juga kagum pada Bang Arbain yang kemudian melepaskan posisi belakang meja untuk terjun kembali ke lapangan demi memuaskan dahaganya untuk ‘menangkap momen’.

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya juga sempat bekerja sama dengan Mas Oscar Motuloh dari Galeri Foto Jurnalistik (GFJ) Antara. Mas Oscar juga pribadi yang santai, sangat awet muda, karismatik, dan selalu menonjol di tengah keramaian dan mudah dikenali karena rambut gondrong abu-abunya yang sebahu dan kebiasaannya mengenakan kaos berwarna hitam. Pribadi yang menyenangkan dan bersahaja.

Dan Jerry Aurum, yang baru-baru ini menangkap keindahan perempuan dalam pameran (dan buku) Femalography-nya dan sering mampir ke kantor saya untuk menjenguk sahabatnya setelah pulang dari berbagai episode jalan-jalannya ke berbagai belahan dunia, juga dikenal luas sebagai orang yang supel, ramah, dan gemar bercanda.

Mungkinkah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kaya karena mereka sering menangkap momen lewat bidikan lensa kamera? Karena semakin sering kita menangkap momen-momen itu, pastilah ada beberapa detik waktu yang kita luangkan untuk berpikir. Mencerna. Merasa. Dan kemudian menghargai setiap momen yang ada—serta tidak membiarkannya lewat sia-sia.

Jika Anda masih tak percaya diri menangkap momen lewat lensa kamera, tak ada salahnya mencoba menangkap momen lewat lensa mata—kamera tercanggih di alam semesta. Jadi, edarkan pandangan ke sekeliling Anda. Sesekali, berhentilah nge-plurk atau mengirimkan SMS gratis di tengah kemacetan, dan lihatlah dunia yang berputar di luar layar berukuran sekian kali sekian inci di hadapan Anda itu.

Lihat. Dan rasakan…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Empat puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus bersabar dalam menghadapi debar hidup yang menggelenyar. Tetapi selama mendung masih menggelayut di langit, dan hujan masih bisa mengusir semua sepi dari permukaan tanah yang diseraki kulit-kulit jeruk, kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja. Dengan berteman embun, senja, subuh, dengan segenggam wangi daun-daun kemangi…

Dan dalam harumnya, kau suka merangkai aksara menjadi asa, menjadi bara, menjadi luka, menjadi cinta. Semua keindahan yang bermuara dari ujung-ujung jemari yang tak pernah letih berlari mengumpulkan remah-remah lema dan diksi antik yang kemudian memaksa banyak mata terusik dan akal bergerilnya mencari makna di balik setiap lembarannya.

Kau suka banyak hal sederhana: menulis, memotret bokong truk, membuat komik, menjodohkan dua hati, memandangi embun, tertawa, menikmati bebek goreng dan nasi bakar tuna, berbicara dengan orang-orang yang kau temui dalam perjalananmu: tua atau muda bukan masalah, karena kau tak pernah memikirkan soal usia–meski terkadang kau bingung dan mulai pelupa; misalnya mengenai siapa yang pernah kau ajak bicara tentang pinguin, atau di mana kau seharusnya memenuhi janjimu: One Pacific Place atau Senayan City?

Ingatkah kau, pada suatu hari, di jembatan layang yang tinggi, kau lihat dua ekor burung mungil terbang mendekati jendela mobilmu, bercakap-cakap satu sama lain dengan bingung: “Rasanya kita sudah terbang cukup tinggi, mengapa di sini masih juga ada kendaraan-kendaraan beroda empat ini?”

Ah, burung-burung yang malang, yang berupaya mencari kebebasan di tengah himpitan asap yang menghitam. Klakson. Polutan. Racun. Hiruk-pikuk Jakarta yang kau katakan berahi.

Tetapi bukankah selalu ada celah? Selalu ada hujan. Bau tanah basah yang menyegarkan dan selalu ngageni itu. Ada bunga di dalam pot kecil di atas meja. Kopi yang disajikan panas-panas. Dan selalu ada daun-daun kemangi itu; yang harumnya mengingatkan kita bahwa selalu ada tempat untuk berhenti. Untuk mengecap keindahan. Untuk sendiri meski kita tak seorang diri.

Pria pecinta daun kemangi, selamat merayakan hari jadi dengan banyak prosa cinta dari mereka yang selalu ada di bawah naungan teduhmu…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

– 2006 –

Ternyata kamu tidak baik-baik saja.

Saya selalu berpikir bahwa kamu termasuk salah seorang yang paling beruntung di dunia, tetapi ternyata benar bahwa tak ada orang yang memiliki segalanya.

Bahwa waktu memberikan pelajaran pada saat-saat yang paling tidak disangka-sangka. Bahwa hidup ternyata bisa memutarbalikkan keadaan semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa cinta bisa melakukan apa saja, termasuk membuat seseorang rela menukarkan biaya hidup sebulan dengan berbotol-botol minuman pada satu kesempatan.

Ternyata euforia semalam yang dihabiskan bersama kekasih dan kawan-kawan cuma menyisakan perasaan mual berkepanjangan. Kamu terbangun dalam keadaan hangover dan menyadari bahwa kamu masih harus bertahan hidup selama satu bulan; tanpa uang dan pekerjaan.

Kamu berpikir bahwa setidaknya, kamu masih memiliki cinta. Tetapi jika cinta yang kamu maksud adalah cinta yang sama dengan jenis cinta yang membuat kamu kehilangan segalanya… ah, mungkin kita bicara mengenai cinta dalam pengertian yang berbeda. Sangat berbeda.

Atau mungkin cinta memiliki seribu wajah di balik sebentuk hati berwarna merah muda yang nampak innocent dan imut-imut itu.

– 2008 –

:: cinta macam apakah yang tengah Anda rasakan saat ini?

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Setiap kita punya perjalanan hidup yang mesti ditempuh: perempuan bermata rembulan, rama-rama bersayap retak, juga lelaki dengan hati yang tinggal separuh–semua pernah melintasi dermaga kala fajar maupun senja, dalam siraman cahaya maupun dalam gelap-gulita, dalam tawa ataupun air mata, sendiri-sendiri maupun berdua…

Tetapi yakinlah, bahwa sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana. Meski kau tak dapat melihat saya dengan jelas karena hujan lebat atau kabut yang berdesakan di pelupuk matamu, yakinlah bahwa jika kamu menoleh, saya ada. Dan yakinlah bahwa saya masih ada di sini; dan akan selalu ada di sini, meskipun malam sudah tak lagi muram dan telah bertabur bintang-bintang, meskipun kau tak lagi melintas sendirian dan telah menemukan kawan untuk diajak berbagi memandangi bintang pagi.

ketika kau menoleh, aku masih ada di sini. berlari-lari kecil di sampingmu, atau mengikutimu diam-diam dari belakang, atau memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju...
... sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana.

Mungkin ketika kau menoleh, saya tengah berlari-lari kecil dan tertawa di sampingmu, atau mengikuti langkahmu diam-diam seraya mengamati punggungmu dari belakang, atau bahkan menuntunmu dan memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju, atau mungkin juga saya telah menjelma pada bayanganmu yang kemudian tertelan pelan-pelan ketika gelap turun menggulung senja dalam satu sapuan manis.

Jadi, bagilah beban itu agar langkahmu terasa ringan… dan bersama, kita akan saling bantu menghadapi dunia untuk menyongsong mimpi-mimpi yang masih tersembunyi di balik pelangi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Demikianlah, rama-rama bersayap retak menjelang beruda, seperti telah kau rinaikan dalam untaian aksaramu, harapan mungkin memang durkarsa—pun dursila. Tak sudi kiranya ia mencumbui bahagia terlalu lama. Kala senja menebar di angkasa, yang tertinggal dari tawa sehari kita di muara hanyalah luka, air mata, dan sekeping hati yang kian rengsa untuk mencinta.

Terkadang saya bertanya-tanya, entah sudah berapa banyak perempuan yang kau ajak memandangi beraja malam-malam dalam diam. Perempuan-perempuan itu bersesakan di bawah sayapmu yang tak seberapa lebarnya, berupaya menjadi yang teristimewa secara berandang dalam jarak pandangmu.

Hingga kau lupa kapan matahari terbit dan terbenam, juga lalai ketika hujan menitipkan embun pada dedaunan. Kau biarkan sayapmu terbahak kala ditemukan dan menangis kala ditinggalkan pada interval yang terlalu berdekatan, sehingga retaklah ia pelan-pelan, tak sanggup bertahan pada dua ekstrim yang dieksploitasi secara berlebihan.

rama-rama bersayap retak
rama-rama bersayap retak
Gambar dipinjam dari sini.

Jadi, begitulah, pada suatu fajar ketika tetes gerimis meletis rasa yang tengah kita benahi berdua, saya tersadar: bahwa sayapmu yang retak itu tak kuasa menampung rebas-rebas yang lantas menderas ataupun panas yang menyenggau dari atas. Sayapmu itu bukanlah serupa payung; yang di bawah lengkungannya saya akan merasa sedemikian beruntung karena menemukan tempat bernaung.

Tetapi tak mengapa. Karena saya sudah cukup menikmati saat-saat di mana kita berjalan bergandengan tangan pelan-pelan, di bawah guyuran lampu-lampu jalan pada trotoar yang sesak dengan polusi dan seringkali membuat saya merasa sangsi, ke mana sebenarnya setapak ini akan berujung suatu hari nanti.

Namun, sudah. Biarlah. Karena saat ini, saya memang tidak sedang membutuhkan tempat berteduh, rama-rama. Jadi, jika sayapmu itu tak lagi derana, biarkan saja saya terpapar pada beringsang atau cahang; sembari mendaras bagaimana kiranya saya bisa menyulam retakan-retakan di permukaannya.

Sementara itu, janganlah sia-siakan sedikit waktu yang kita punya, rama-rama. Mendekatlah kemari, pada seberkas cinta yang meruap dari sela-sela semburat asa. Dan untuk saat ini, biarkan saya saja yang menjagamu dari segala prahara…

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Ah. Saya suka, karena denganmu, saya tak berlama-lama menyimpan kata seandainya.

Karena kamu, kamu merupa gula-gula jeli berbentuk lucu berwarna-warni yang selalu menyenangkan untuk dipandangi itu. Yang manis menyegarkan dan bisa membuat sakit gigi jika berlebihan dikonsumsi, tetapi tetap saja menggoda untuk dibeli, karena warna-warni cerahnya selalu berhasil membuat ceria hari-hari. Bahkan seorang teman saya tahu hal ini, karena ia pernah menghadiahi saya satu kantung plastik gula-gula jeli berwarna-warni, hanya untuk membuat saya tersenyum-senyum sendiri sepanjang hari.

Gambar dipinjam dari sini.

Jadi jangan tanya mengapa kamu bisa membuat saya tertawa. Atau menangis. Atau tertawa sampai menangis, bahkan menangis untuk kemudian disela tawa terbahak hanya karena mengingat momen menyenangkan bersamamu. Jangan tanya juga mengapa kamu–ya, hanya kamu, yang bisa membangunkan saya dari tidur lelap di malam hari, hanya untuk merasa bahagia mendengarkan suaramu yang tertawa, untuk kemudian bisa tertidur lagi; bahkan lebih lelap dari sebelumnya…

Meskipun saya masih tetap saja tak bisa menjawab setiap kali kamu bertanya ‘mengapa’, tetapi saya bahagia. Tidakkah yang sedemikian itu sudah cukup menenangkan untuk kamu ketahui, sebagaimana sudah cukup menyenangkan bagi saya hanya untuk melihatmu melintas sendiri pada suatu paruh malam; berjalan sambil tersenyum lebar, menghampiri tempat di mana saya berpijak, untuk kemudian bertanya, akan ke mana kita dari sini?

Iya. Kamu.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Pak,

Maaf karena malam ini saya tak mengajak Bapak berbasa-basi, tetapi hanya menggumamkan selamat malam dan langsung meminta diantarkan ke UKI Cawang. Maaf juga karena saya langsung membuang pandangan ke luar jendela dan memasang earphone—sebagai isyarat agar tidak diganggu; kemudian memilih untuk melarut bisu diiringi denting-denting piano melankolis dari album The Yellow Room-nya Yiruma.

Ah, jendela ini, Pak. Rasanya seperti sudah lama sekali saya tidak berakrab-akrab dengan jendela di sisi kiri ini; dan sedikit banyak kini rasanya seperti sebuah reuni yang tertunda. Jadi, biarkanlah saya menjadi autis di sini, ya, Pak. Saya hanya ingin diam selama beberapa puluh menit ke depan dan melihat adegan macam apa yang akan ditawarkan jendela malam ini.

Oh, lampu-lampu itu. Iya, oranye, kuning, merah, biru—memancar dari gedung-gedung tinggi di kawasan segitiga ini. Tahukah Bapak, bahwa ada orang yang suka memandangi lampu-lampu ini dari jendela kantornya?

Ah, tapi coba lihat pohon-pohon di sepanjang jalan ini. Setiap helai daunnya dilapisi entah berapa tahun tumpukan debu dan polusi, diam tak bergerak. Angin tak bertiup malam ini, dan bintang seperti tiba-tiba hilang. Sebuah kantong plastik putih tertiup angin dan tercemplung ke dalam selokan. Orang-orang lalu-lalang mengejar bis yang tidak mau berhenti. Sirene dan lampu biru itu menandakan ada pejabat yang akan lewat, ya, Pak? Dan kita terpaksa berhenti dulu di sini.

Coba lihat tembok Semanggi itu, Pak. Ada tulisan-tulisan dengan piloks: nama perempuan, nomor telepon genggam, dan pesan untuk menghubungi. Menurut Bapak ini serius atau bercanda? Dan setujukah Bapak kalau saya katakan pasti pernah ada setidaknya satu orang saja di kota ini yang mencoba menelepon ke nomor yang terpampang besar-besar di tembok pinggir jalan itu? Nah, lalu-lintas sudah bergerak lagi, Pak. Bergerak dalam kecepatan 10 kilometer per jam.

Pengamen menyanyi di atas Kopaja yang penuh sesak dengan wajah-wajah letih dan diuapi kumpulan keringat dalam satu hari. Lampu jalan berwarna oranye terang itu menyebalkan, Pak. Memang biasanya nampak indah, tapi sebenarnya menakutkan. Coba saja Bapak berdiri di bawahnya dan lihat bagaimana kulit Bapak akan nampak sedemikian pucat seperti makhluk yang sekarat.

Yah, motor itu sudah resmi mogok rupanya, Pak. Tidak bisa bergerak kini. Dan lelaki pengemudinya dihujani lengkingan klakson yang membuat kita ingin memaki itu. Lebih banyak motor merangsek ke trotoar dan mengklakson para pejalan kaki. Saya benci bunyi klakson, Pak. Tidakkah Bapak juga membencinya? Pasti Bapak juga sudah jengah mendengarnya setiap hari ketika terperangkap dalam gilanya kemacetan seperti ini.

Pak, Metro Mini itu menabrak taksi. Nah, sekarang pengemudi taksi bertengkar dengan kernet Metro Mini. Kakek tua itu memikul dagangannya yang masih penuh, berjalan kaki di tengah kota yang hiruk-pikuk ini. Menurut Bapak, cukupkah penghasilannya untuk bisa memberi makan keluarganya hari ini? Ada perempuan dengan tank top hitam dan celana jins menyisir rambut di depan sebuah SPBU. Seorang lelaki pincang yang berjalan dengan tongkat melintas di depan billboard besar yang mengiklankan sabun mandi beraroma Sakura Sensation. Seorang ibu menggendong bayinya yang terbungkus kain batik di boncengan motor.

Signboard karaoke dan bar di sebuah bangunan kusam yang remang-remang berkelap-kelip di sebelah reklame sebuah pusat pendidikan Bahasa Inggris. Polisi menghentikan jalur kanan dari arah jembatan. Kita berhenti lagi, Pak. Motor-motor itu terus membunyikan klakson, membuat saya ingin menjerit keras-keras meminta mereka berhenti. Motor-motor baris terdepan berusaha menerobos, namun segera mengerem setelah Pak Polisi mengacungkan tongkatnya yang merah menyala sambil memaki. Yang dijawab lagi dengan klakson dan makian. Semakin keras. Semakin keras. Semakin keras.

Ya, kita sudah bisa jalan lagi, melewati anak-anak jalanan yang tidur-tiduran sambil tertawa ngakak di halte.

Malam ini memang aneh, Pak. Biasanya saya bisa menikmati semuanya. Kemacetan menjadi semacam keistimewaan untuk mengistirahatkan pikiran atau merencanakan masa depan. Lampu-lampu biasanya membuat mata saya terhibur dan melayangkan ingatan pada video klip dari masa lalu. Apakah semua itu dikarenakan saya memilih untuk melihat apa yang ingin saya lihat, ya, Pak?

Entah mengapa malam ini saya malah melihat Jakarta yang tidak ramah dan tidak pedulian, Pak. Sebuah kota di mana semua orang sibuk berjalan sendiri-sendiri, memendam beban sendiri-sendiri, bersedih sendiri-sendiri… dan sudah berapa juta wajah yang kita lewati malam ini, ya, Pak?

Oh ya, ngomong-ngomong, tahukah Bapak kira-kira berapa liter air mata yang tumpah di kota ini setiap harinya?

Ah, sudahlah, Pak. Jangan dipikirkan pertanyaan aneh dan tak penting itu. Saya memang sedang ngawur. Pasti sulit sekali untuk mengukur berapa liter air mata yang tumpah di kota ini. Apalagi mengingat bahwa ada juga orang-orang yang hanya menangis dalam hati sambil memandangi jendela kantornya. Jendela apartemennya. Jendela rumahnya. Jendela mobil orang lain. Atau jendela taksi.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Awalnya, saya pikir para lelaki akan merasa enggan terlihat berada di Sour Sally.

Ya, gerai yoghurt yang terletak di lower ground Senayan City ini memang nampak begitu girly dengan padanan warna hijau terang, pink, dan putih, serta kaki kursi belang-belang hitam-putih seperti zebra. Tetapi tak diduga, kemarin siang, saya melihat beberapa lelaki justru asyik duduk mengetik menghadapi komputer portabel yang menyala di salah satu sudut gerainya.

(Hmm, mungkinkah Sour Sally memberikan ilusi tersendiri, seakan para lelaki tengah berada di dalam kamar kekasih?)

Terus terang, ketertarikan saya pada Sour Sally memang bermula dari desain interior-nya yang seperti kamar gadis remaja itu—baru kemudian saya melirik posternya untuk mencari tahu menjual apa si Sour Sally ini sebenarnya.

Yang dijual di Sour Sally adalah frozen yoghurt (bukan yoghurt cair). Dan, hanya ada dua jenis yoghurt di sini, yakni plain dan green tea (menurut saya dua-duanya enak, lebih enak kalau dicampur). Meski hanya ada dua jenis yoghurt, tetapi topping yang ditawarkan Sour Sally beraneka ragam, mulai dari berbagai potongan buah segar sampai permen kecil-kecil berwarna-warni.

Soal rasa?

Sejauh ini, kawanan penggemar yoghurt di sekitar saya mengaku puas dengan kadar keasaman Sour Sally, dan saya sendiri tidak bisa mengeluh untuk masalah yang satu itu: E.N.A.K!!! Hanya saja, soal harga memang agak mendesak-desak di kantung, karena satu cup kecilnya berharga 17.5 ribu dan yang medium sekitar 27 ribu-an… (Jangan sering-sering 😀 hehehe)

Atau, mungkin inilah saatnya untuk berbagi, kawan-kawan! Belilah satu cup kecil Sour Sally untuk dinikmati berdua dengan orang yang Anda sayangi 😉 Lalu mengernyitlah bersama-sama akibat sengatan rasa asam dan dinginnya…!

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP