Kenapa blog ini dinamai Squeezing Marshmallow?

Because that’s one of the best feeling in the world. When I’m squeezing marshmallow.

Lucu rasanya. Nyenengin. Sama seperti bengong mandangin tetes-tetes hujan dari balik jendela atau lari-lari di rumput basah telanjang kaki.

Ngeliat bunga lili putih. Atau nebak-nebak bentuk awan yang lucu-lucu. Those are the things that make me happy. Simple things.

Buat saya, orang paling beruntung di dunia adalah mereka yang bisa nemuin kegembiraan dalam hal-hal yang paling sederhana πŸ™‚ So, I considered myself lucky! :p

Dan kepercayaan saya bahwa yang namanya kegembiraan itu menular ternyata benar. Riset Harvard University dan San Diego University yang diterbitin di British Medical Journal:

“The happiness effect that spreads through social networks can last for up to one year. Conversely, sadness does not spread through social networks as robustly as happiness.”

LA Times

Knowing someone who is happy makes you 15.3% more likely to be happy yourself, the study found. A happy friend of a friend increases your odds of happiness by 9.8%, and even your neighbor’s sister’s friend can give you a 5.6% boost.

“Your emotional state depends not just on actions and choices that you make, but also on actions and choices of other people, many of which you don’t even know,” said Dr. Nicholas A. Christakis, a physician and medical sociologist at Harvard who co-wrote the study.

They discovered that happy people in geographic proximity were most effective in spreading their good cheer. They also found the happiest people were at the center of large social networks.

Reuters

“Among other benefits, happiness has been shown to have an important effect on reduced mortality, pain reduction, and improved cardiac function. So better understanding of how happiness spreads can help us learn how to promote a healthier society,” he said.

The study also fits in with other data that suggested — in 1984 — that having $5,000 extra increased a person’s chances of becoming happier by about 2 percent.

“A happy friend is worth about $20,000,” Christakis said.

Daily Mail

Having happy neighbours sends an individual’s happiness levels soaring by 34 per cent.

Living close by to happy people counts, with a person 42 per cent more likely to be happy if a friend who lives half a mile away becomes happy but the effect falls to 22 per cent for two or more miles and drops away entirely at greater distances.

———————————————————————————————————-————-——–————-

DISCLAIMER: Perusahaan minuman yang akan Anda baca di bawah ini adalah salah satu klien saya. Tetapi saya tidak diminta untuk menulis mengenai mereka di blog saya, dan tidak memiliki kewajiban untuk itu. Saya menulis mengenai hal ini karena saya merasa ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini.

———————————————————————————————————-————-——–————-

Waktu tim Expedition 206 bertandang ke Jakarta, Indonesia, saya sempet ketemuan sama mereka. Antonio (Mexico), Kelly (Belgia) dan Tony (Jerman) adalah tiga orang yang terpilih menjadi Ambassador of Happiness-nya salah satu perusahaan minuman multi-nasional; untuk sebuah program kampanye global yang bertujuan untuk nyebarin kegembiraan (kenapa saya nggak denger program ini, sih? kan bisa ikutan T_T).

Jadi, misi ketiga orang ini adalah untuk berkunjung ke 206 negara dalam waktu 365 hari saja, dan menemukan apa yang membuat orang-orang di negara-negara ini merasa gembira. Kedengerannya seru, ya! Paspor pasti langsung penuh πŸ˜€

Tapi saya juga tau mereka capek banget, karena harus terus pindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa sempat istirahat yang cukup. Kadang-kadang paginya sampai, malamnya sudah harus terbang ke negara lain lagi. Dan selama perjalanan, mereka juga harus bikin reportase perjalanan, nge-tweet, nulis blog, bikin video, dan masih banyak lagi.

Everyday is Monday for us,” kata Kelly, waktu kita semobil malam-malam, mau nonton IronMan 2. “Dan kita selalu berdoa dapet long flights biar bisa tidur di pesawat. Tapi gue nggak bisa komplain, walau capek tapi pengalaman ini nyenengin banget!”

Malam itu Kelly memang rewel minta ditemani kami–cewekcewek untuk nonton dan hang out, padahal itu sudah jam 10 malam. Dia bilang dia kangen jalan bareng cewek-cewek, berhubung selama 365 hari dia cuma bergaul sama Antonio dan Tony. “I miss hanging out with girls,” katanya merajuk. “Please, please, I’m only here for one night. One night! Masa gak mau nemenin siiih…” πŸ˜€ Kasihan πŸ˜€

Tapi yang paling menyentuh saya adalah waktu siangnya; dalam konferensi pers dengan tim Expedition 206, ada wartawan yang nanya: “Kalo kalian berkunjung ke negara miskin atau negara yang lagi ada konflik gitu, gimana orang-orang di sana nemuin kegembiraan?”

Seingat saya waktu itu Kelly yang jawab: “Justru di negara-negara miskin itulah kita nemuin arti kegembiraan yang sesungguhnya. Misalnya pas di Ethiopia, mereka itu negara miskin. Jadinya mereka nggak bisa nyari kegembiraan dari hal-hal di luar diri mereka. Akhirnya, ya, mereka hanya bisa gembira dari apa yang mereka punya di dalam diri mereka. Kegembiraan yang asalnya dari dalam… dan itu bikin kita belajar dan bersyukur.”

Sumpah, saya merinding dengernya. Di belahan dunia lain, orang bisa bangun tidur dan menemukan dirinya masih hidup aja udah jadi sumber kegembiraan tersendiri. Di belahan dunia lain ada orang yang udah bisa makan enak, belanja, jalan-jalan, tapi masih aja rajin mengeluhkan ini-itu.

Padahal kegembiraan itu menular.

Kegembiraan itu bisa didapat dengan sekadar melihat wajah orang senyum, ketawa… seperti kumpulan wajah-wajah yang di Website of Happy Faces-nya Expedition 206 chapter Jakarta. Wajah-wajah yang sudah ikut nyumbangin 200 buku anak-anak buat Taman Bacaan Pelangi di Flores. Kegembiraan yang menyebar dari dunia maya, Jakarta, terus ke Flores sana.

Saya terkesan banget dengan definisi ‘happiness‘ yang ditulis sama Tony:

Happiness is: My mom likes the sound of leaves crunching on her feet so she steps on them and acorns in the fall time. I step on them now too when she’s not around because it always makes me smile to think of how happy she hears the sound.

Buat saya, yang paling berbekas dari pertemuan sama Antonio, Kelly, dan Tony adalah kenyataan bahwa kegembiraan itu bisa didapat di mana-mana, dalam kondisi seperti apapun juga. Jadi, saya akan keluar menyambut matahari pagi, bersyukur akan hangatnya, dan tersenyum pada dunia πŸ™‚

*) Di bawah ini adalah video ketika saya dan kawan-kawan bersama tim Expedition 206 masuk ke sebuah distro di kawasan Tebet. Mendadak, lagu The Waving Flag-nya World Cup diputar, dan kami pun menari-nari di sana πŸ˜€

hanny

13 Responses

  1. setuju setuju setuju… hal yang paling membahagiakan itu adalah ketika bisa membagi kebahagiaan itu kepada orang lain

  2. Ah Hanny,
    ketemu kamu yang selalu tersenyum aja aku sering langsung ketularan pengen senyum juga lho :mrgreen:

    ih padahal pengen dateng ke acaranya deh!

  3. @sky: bagi-bagi kebahagiaan sama aku dooong πŸ˜€
    @nonadita: iya, nih ditaaa, kamu pasti seneng ketemuan sama mereka, orangnya gokil2 πŸ˜€

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB