Ada mereka yang belajar dan percaya setelah mengalami. Ada yang belajar dan percaya cukup setelah melihat atau bersentuhan dengan mereka yang telah mengalami.

Sama seperti kita tahu bahwa tak bijaksana menusukkan ujung jari ke dalam dua lubang stopkontak–tanpa perlu benar-benar merayakan sensasi gelenyar listrik mengaliri tubuh terlebih dahulu.

Kita juga bisa tahu dan percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja — bahwa apapun yang kita perlukan niscaya akan dicukupkan; karena satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk percaya adalah: percaya. Dalam If I Sit in My Own Place, Rumi bertutur:

I know that God will give me my daily bread. There is no need to run about and waste my energies needlessly. In fact, when I gave up any ideas of money, food, clothes, of satisfying physical desire, then everything began to come to me naturally.

Memang, rasanya kurang bijaksana menggantungkan kebahagiaan dan masa depan kepada orang lain — atau benda lain. Karena manusia berubah. Waktu berlalu. Ketika kita bergantung pada segala yang berada di luar kendali kita, maka takkan pernah ada yang terasa benar. Kebahagiaan itu bisa didapatkan hanya dengan memandangi bunga liar yang tumbuh cantik di tepi jalan atau harus dengan pesiar dengan yacht di Laut Mediterania. Saya selalu berpikir tak ada yang salah dengan keduanya, namun merasa bahwa orang-orang pada kelompok pertama lebih beruntung dari yang terakhir. Bukankah menyenangkan jika kita bisa berbahagia hanya karena hal-hal yang sederhana?

When I run after what I think I want, my days are a furnace of distress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without any pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me; when it cannot attract me any more to go to it, it has to come to me. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

Bukankah dalam hidup saya sudah berkali-kali dikecewakan, hanya untuk menemukan bahwa kekecewaan saya adalah bagian dari kebahagiaan besar di depan? Semuanya seperti perjalanan kilas-balik yang bisa saya tertawakan kini (dan sungguh, menertawai diri sendiri adalah sesuatu yang melegakan), sementara perjalanan berikutnya masih menunggu dalam waktu yang belum dijamah langkah kaki.

Bagaimana di usia belasan saya jatuh hati pada seorang lelaki secara diam-diam dan menunggunya hingga belasan tahun, berharap ada sebuah keajaiban terjadi sehingga saya bisa mengutarakan perasaan saya dan mengalami hari-hari yang dihabiskan berdua saja dengannya — untuk kemudian menemukan bahwa: setelah belasan tahun, saya akhirnya diberikan satu kesempatan itu…

dan menyadari bahwa saya tidak sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Bahwa apapun perasaan yang saya miliki terhadapnya, jelas itu bukan cinta.

Ini seperti menginginkan sesuatu sedemikian hebat, mendapatkannya, kemudian menyadari bahwa kita tidak membutuhkannya. Bahwa ternyata, bukan ini yang kita cari. Mungkin saya lambat belajar, karena dibutuhkan belasan tahun untuk menyadarkan saya mengenai hal ini — atau belasan tahun inilah yang membuat saya sabar, pelan-pelan, tidak terburu, tidak tergesa. Membuat saya menghargai hal-hal kecil. Membuat saya mengetahui bahwa apa yang saya butuhkan dan inginkan tidak abadi, dan akan terus berubah seiring dengan berlalunya waktu. Membuat saya kini menikmati sensasi lain dari jatuh cinta yang membuat saya tertawa dan menangis; bukan hanya menangis, bukan hanya tertawa.

Atau seperti saat-saat saya begitu percaya diri bahwa saya akan masuk ke perguruan tinggi impian — sehingga tidak mendaftar ke universitas lain; dan mendapati kenyataan dalam selembar koran bahwa: saya tidak lulus. Bahwa pada detik-detik terakhir, saya — yang berkali-kali mewakili sekolah dalam kompetisi debat (dan menang) ini, menghadapi kemungkinan tidak melanjutkan ke bangku kuliah selama setahun karena sudah tidak ada universitas yang membuka pendaftaran. Tetapi… masih ada satu universitas lagi yang membuka pendaftaran untuk jurusan yang saya minati. Pendaftaran gelombang terakhir. Maka saya putuskan mengikuti ujian masuk, dan lulus.

Dan bagaimana di universitas ini saya akhirnya bisa mengikuti berbagai kompetisi debat, lagi — termasuk satu kompetisi besar tahun itu melawan mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi impian saya; di mana saya tidak lulus ujian masuk. Dan tim saya… menang; dan sejak saat itu tim debat kami menjadi begitu kuat dan solid, memenangkan beberapa kompetisi lagi, sehingga saya mendapatkan tambahan ‘uang jajan’ dari kampus — dan mendapatkan beasiswa untuk 2 tahun terakhir di kampus TEPAT ketika keluarga saya tengah membutuhkan dana yang agak besar untuk sesuatu hal; dan orang tua saya mulai sedikit cemas memikirkan pembayaran uang kuliah saya berikutnya.

Dan bahwa dari teman kampus juga, dalam 2 tahun terakhir itu saya mendapatkan pekerjaan sampingan mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk sebuah perusahaan Korea, sehingga saya masih bisa menutupi kebutuhan sehari-hari sendiri. Ketika murid Korea saya ditugaskan ke Singapura bersama keluarganya, saya terancam tak punya pekerjaan sampingan. Saya mengirimkan lamaran ke beberapa agensi periklanan untuk kesempatan magang (karena saya menyukai pekerjaan kreatif), tetapi tak ada yang menjawab. Tetapi kemudian seorang kawan memperkenalkan saya dengan kawannya, dan akhirnya, sambil menyelesaikan skripsi, saya membantu-bantu bekerja di sebuah agensi periklanan digital — dan menyadari bahwa saya tak punya kesempatan menyalurkan ide-ide kreatif saya di sini.

Dan dunia seperti termampatkan dalam jarak beberapa meter saja, ketika dari kubikel saya, saya melihat manajer saya: dan dia adalah suami dari dosen saya. Sang manajer pernah mendengar mengenai saya dari istrinya, dan mengetahui hasrat saya akan pekerjaan yang memungkinkan saya mengeksplorasi ide-ide kreatif saya, ia menyarankan saya untuk mencoba melamar pekerjaan di sebuah konsultan humas yang tengah membutuhkan personil. Saya mencari informasi mengenai konsultan humas ini, dan mendarat di sebuah blog milik seorang perempuan — yang sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 1 tahun, menikmati pekerjaannya dan mencintainya.

Maka saya memutuskan untuk mencoba — tak ada salahnya, bukan?

Dan mengetahui di kemudian hari bahwa saya diterima di perusahaan tersebut, salah satunya adalah karena ” Habis CV yang kamu kirimkan adalah CV paling kreatif yang pernah kami lihat!”

Perempuan yang blog-nya saya baca itu kemudian menjadi salah seorang sahabat baik saya. Bahkan ketika ia sudah meninggalkan perusahaan ini, saya masih berada di sini. Masih bersenang-senang dan bermain-main dengan warna, desain, tulisan, serta ide-ide yang melompat-lompat di kepala; dan sering dikatai ‘nista’ karena merasa kangen keramaian kantor ketika sedang libur panjang.

Dan hidup hingga saat ini tak hentinya turun, naik, turun, naik, menghujam, memuncak, datar, turun, naik, turun, naik… tetapi jika saya memampatkan setidaknya 15 tahun ke belakang ini dalam paragraf-paragraf di atas: saya akan melihatnya, kecewa, air mata, bahagia, yang tumpang-tindih.

Tapi entah bagaimana, saya selalu tahu bahwa saya akan baik-baik saja dan bahagia. Melangkah ringan sebagaimana adanya, sebagaimana yang sudah. Meyakini bahwa walau langit gelap, matahari itu selalu ada, dan tidak pernah berhenti bersinar, meskipun sedang tidak kelihatan.

Say there are ten worries nagging at you; choose the one about the Divine World, and God personally will see to the other nine worries without any need for you to do anything. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

hanny

19 Responses

  1. doh! salah deh baca ini pagi-pagi di kantor, mata jadi berkaca-kaca karena terharu akan tuturan dan tulisannya yang inspiratif dan indah, huhu… *hugs hanny*

  2. hannyyy, huks huks huks, tulisanmu membuatku terharu :p. Hal yang sama sering sekali jadi topik pembicaraanku sama teman2. *empat jempol dulu buat hanny* πŸ˜€

  3. Mbak Hanny.. would love to drop few questions about this post..

    1. How do you define ‘love’ then? kalau ternyata si dia pujaan hati belasan tahun ternyata bukan yang mbak cinta? God surely let you find your own answer, doesn’t He?

    2. Ok, I believe, you believe.. Tapi kadang titik jenuh untuk percaya itu tak terhindarkan kan? πŸ™

    3. I’d lilke to add your blog as a friend if you dont mind… πŸ™‚

    1. hi, christina! πŸ™‚

      1) menurutku definisi kita tentang “cinta” juga berubah seiring dengan kedewasaan diri kita. ada kalanya “cinta” is all about passion, emotion, tentang cinta pada pandangan pertama, atau ada saatnya “cinta” lebih merujuk pada “comfort” dan “companionship”. menurut saya “cinta” itu perjalanan. definisi kita tentang “cinta” menunjukkan kita sedang ada di tahap kedewasaan mana dalam hidup πŸ™‚ dan pengalaman kita juga akan mengubah definisi kita tentang cinta. tau kan ada orang yang rela dipukuli pasangannya karena menurutnya dia “cinta” banget sama pasangannya itu? πŸ˜‰ masing-masing kita punya perjalanan sendiri-sendiri, I hope yours will be a beautiful one πŸ˜‰

      2. betul, kadang memang kita suka ngerasa down. aku juga suka ngerasa gitu kalo memang lagi banyak banget masalah. tapi kemudian I look back to those times when I thought I messed up, but then everything turned out to be just fine. and count my blessings. jadi kalau lagi jenuh jangan malah dibawa berlarut-larut πŸ™‚ nyeneng-nyenengin diri sendiri aja, biar perasaan jadi lebih tenang dan kita jadi riang (dan dalam situasi ini, kadang-kadang inilah saatnya kita butuh teman, to lift us up when we’re down) πŸ˜€

      3. tentuuuu *hugs*

  4. Prinsipku, kalau kita ikhlas ngejalanin apapun, percaya deh, semuanya akan dicukupkan dan dimudahkan olehNya. πŸ™‚

    u’re one of my inspiration, hanny πŸ˜‰
    as usual, very nice post..

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB