Sekarang saya merasa tak perlu terlalu bingung lagi memikirkan akan membeli hadiah Natal dan Tahun Baru apa untuk orang-orang terdekat.

Yang jelas, hadiah tersebut harus datang bersama sebuah stoples bening. Ya, hadiahnya bisa berupa permen-permen cokelat di dalam stoples, bunga lili putih di dalam stoples, kopi yang baru digiling di dalam stoples, aksesori lucu di dalam stoples…

Yang penting adalah stoplesnya (bisa diikat dengan pita warna-warni), bukan isinya πŸ˜€

Ya, karena ketika memberikan hadiah tersebut, saya bisa sekalian menitipkan pesan pada si penerima hadiah: “Setelah stoplesnya kosong, stoples ini bisa digunakan untuk mengumpulkan koin uang logam dan recehan. Kalau sudah banyak, bisa didonasikan ke Coin A Chance!” πŸ™‚

retro-tea-jars
hadiah yang diletakkan di dalam stoples memungkinkan stoples wadahnya digunakan kembali untuk mengumpulkan koin uang logam / recehan

Iya, setelah kemarin akhirnya selesai juga membuat blog Coin A Chance!, senang rasanya mengetahui bahwa banyak teman-teman yang sudah mulai mendukung program ini, di antaranya Dilla dan Heri, juga Dita dan Dimas yang sudah memasang banner (Dimas, terima kasih juga karena sudah menyatakan siap menyumbang tenaga menjadi Coiners alias pengumpul koin), juga Adit yang memberi tahu kemarin malam bahwa masih ada yang salah dengan kode banner-nya (sekarang kode banner-nya sudah OK, lho!) πŸ™‚

Sebenarnya Coin A Chance! itu apa?

Coin A Chance! adalah sebuah gerakan sosial untuk mengumpulkan β€˜recehan’ atau uang logam yang bertumpuk dan jarang digunakan. Uang yang terkumpul akan ditukarkan dengan “sebuah kesempatan” bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi.

Ide ini muncul ketika saya menyadari bahwa kawan saya, Nia, juga punya kebiasaan yang sama: mengumpulkan koin-koin uang logam dan recehan yang tidak pernah kami belanjakan kembai di dalam stoples/kaleng. Kami pun bertanya-tanya berapa banyak orang yang punya ‘kebiasaan’ yang sama, dan berapa banyak koin yang tidak digunakan yang sebenarnya bisa kita kumpulkan untuk didonasikan.

So, we start small πŸ™‚

Mulai dari saya dan Nia, kerabat kami, kawan-kawan kami, lalu jika Anda juga punya kebiasaan yang sama, ayo kita gabungkan koin-koin uang logam kita! Mulai Januari 2009 nanti, saya dan Nia akan mulaiΒ  mengorganisasi jadwal pengumpulan koin. Waktu dan lokasi pengumpulan koin juga akan diumumkan di blog resmi Coin A Chance!.

Jika ingin tahu informasi lebih jelas mengenai gerakan ini, silakan kunjungi blog-nya di sini πŸ™‚

Are you in? πŸ˜‰

—–

Gambar stoples dipinjam dari sini.

hanny

28 Responses

  1. @heri: hanny [bilang] nggak ada syarat khusus. Coiners adalah sebutan bagi pengumpul koin. Yang dibutuhkan tentunya kesediaan orang tersebut meluangkan waktu dan tenaga untuk mengumpulkan koin dari kawan-kawan dan kerabat terdekat untuk kemudian didonasikan ke Coin A Chance!. Kami juga nggak mungkin ngumpulin koin dari seluruh Indonesia, hehehe, jadi Coiners di berbagai daerah akan menjadi penting untuk pemerataan hehehe. Minggu depan aku akan bikin posting khusus soal rekrutmen Coiners di blog, deh. Thank you, Her! πŸ˜€

  2. Saya juga mendukung gerakan Coin A Chance! Saya juga sudah pasang banner-nya di blog saya. Mudah-mudahan, saya ga kelewatan ato lupa jadwal pengumpulan koinnya nanti. Tolong ingetin saya, ya, Teman-teman…!!!

  3. Hi Han, salam kenal….
    aku mau ikutan ngumpulin recehan lagi deh…supaya bisa dipergunakan orang yang membutuhkannya…salut atas inisiatifnya…aku link ya blognya kamu. tks

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB