Malam pergantian tahun yang dilewatkan dengan percakapan ringan bersama kawan-kawan lama semasa SMU memang selalu bisa menghilangkan beban pikiran (dan perasaan). Pertemuan kembali setelah berpisah beberapa lama masih menghadirkan candaan yang itu-itu saja, namun sepertinya kami tidak kunjung bosan. Semuanya begitu familiar.

Rasanya… seperti pulang ke rumah.

Dan secara harafiah, pertemuan yang berlangsung sedari siang dan baru berakhir menjelang pukul 2 pagi hari ini, memang merupakan salah satu momen ‘pulang ke rumah‘ bagi sahabat saya—yang harus menghabiskan beberapa bulan terakhir di sebuah rig di kawasan Asia Timur, sebelum bertolak ke Timur Tengah pada pertengahan Januari nanti.

I’ve known him for almost 13 years. Ya, kami sudah bersahabat sejak kelas 6 SD. Sejarah yang panjang membuat kami sudah begitu mengenal satu sama lain dengan sangat baik, sehingga kami bisa dengan bebasnya berkata jujur mengenai berbagai hal, termasuk perihal cinta yang porak-poranda dan kepingan hati yang berantakan.

Reality bites. Tapi tak mengapa, bukankah itu gunanya seorang teman? To tell you the truth. Untuk membuatmu kembali berpijak di tanah ketika kau mengawang-awang tak tentu arah. Dan percakapan yang terjadi selama berjam-jam pun tak perlu ditujukan untuk memecahkan masalah.

***

Jika semua orang mencari cinta, mengapa banyak di antara mereka yang tidak saling menemukan?

Mungkin karena setiap orang memiliki cinta dengan definisi sendiri-sendiri. Mereka tidak berbicara soal cinta dengan definisi yang sama. Itulah sebabnya, mereka tidak saling menemukan. Atau kemudian memutuskan untuk berpisah di tengah jalan.

Jadi, lain kali, ketika bertemu seseorang, kita harus bertanya demikian? Memastikan kita punya definisi yang sama mengenai cinta?

Uhm. Boleh juga. Kita bisa tanyakan, “So, what kind of love are you looking for?”

Love that! Eh, tapi jawaban gue apa, ya? It will be a name more than anything. Ntar kalo udah dapet jawabannya gue kasih tau, deh. Terus, apa jawaban lo untuk pertanyaan itu?

Simpel, sih.  Ada lagunya juga. Yang nyanyi Renee Olstead. My answer would be: a love that will last.

I want a little something more
Don’t want the middle or the one before
I don’t desire a complicated past
I want a love that will last

Say that you love me
Say I’m the one
Don’t kiss and hug me and then try to run
I don’t do drama
My tears don’t fall fast
I want a love that will last

***

Percakapan itu melarut, terus, dan terus, dan baru terhenti tiga setengah jam kemudian, ketika saya dan sahabat saya itu berkendara menuju kediaman seorang kawan, disibukkan dengan pikiran (dan perasaan) kami masing-masing.

Menjelang pukul 00:00, bersulang dengan wine (meski kehabisan Moscato d’Asti-nya sangat patut disayangkan) dan wedang ronde setelah menghabiskan beberapa tusuk sate ayam, saya dan kawan-kawan menengadah ke langit malam yang dihiasi ledakan petasan. Mengerjap di dalam gelap. Menyala sesaat dan luruh tanpa jejak. Hanya kenangan yang bertahan.

Fireworks. Ah.

Entah kapan itu, saya pernah berbincang dengan seorang kawan lama (yang sudah tak lagi percaya akan cinta—there’s no such thing, katanya), dan mengatakan padanya bahwa saya masih ingin percaya bahwa cinta sungguh-sungguh ada.

Cinta yang meledakkan kembang api di hatimu ketika kamu menatap mata seseorang yang kamu cintai. Mata yang menjelma langit malam, mata yang menawarkanmu ledakan petasan dan pertunjukan kembang api paling spektakuler yang pernah kamu saksikan, setiap kali kamu memandangnya. Dan kamu pun tahu, this is the love that will last.

1 Januari 2009. Dan harapan saya hanya satu: semoga saya masih bisa percaya bahwa cinta yang demikian itu sungguh-sungguh ada.

*) dedicated to my bestfriend JT dan percakapan panjang menjelang malam pergantian tahun barusan 🙂

HAPPY NEW YEAR, ALL!

hanny

37 Responses

  1. wine ama wedang ronde? waduh, ini food mixing mana lagi… hehehehehe…

    jadi, 2008 ditutup dgn rumpi ya? :p

    happy happily new year!

  2. @hawe11: kan internasional dan tradisional hehehe 😀 *ga bisa protes, soalnya gratisan* wakakakak. harusnya kan kemarin itu dilewatkan dengan rumpi kita! hihihi. kapan ke bogor?

    @epat: selamat tahun baru! 🙂

    @Mbilung: pak dhe, selamat tahun baru juga! terima kasih atas teleponnya 🙂 *jadi kangen bali*

    @iman: mas iman, terima kasih. saya ‘amini’ komentarnya 🙂 selamat tahun baru, mas iman. semoga semakin sering memberikan inspirasi dan kalimat-kalimat yang menyentuh hati 😉 sukses, yaaaa! 🙂

  3. Aduh neng, tahun baruan kok ‘ngubek-ngubek baju lama’? Pasti adalah baju baru yg pas di luar sana, cuma mungkin belum dijual aja hehe.

    Selamat tahun baru yak! Wish you all the best.

  4. “Foto saya sering ada di kalender, tapi saya tak pernah tepat waktu,” kata Monroe 😀

    Selamat ganti kalender, selamat tahun baru, jika memang itu dirasa penting untukmu!

  5. cinta sejati hanyalah milik Allah semata, tak mengenal apakah sang makhluk mencintai-Nya. Dia akan slalu mencintai kita, tapi sang Kholik imanen dengan diri kita maka kita bisa mewujudkan cinta sejati itu tanpa harus menyamakan apa itu arti cinta……

    met taun baru, ‘n lam kenal aja……

  6. nice words! boleh minta kata-kata indah yang lain?? jadi teringat masa muda dulu, saat masih sering bermanis kata.

  7. Hahahaha, i know that person….. JT forever..lol

    yes, the one and only JT. remember this: too much analysis, no action = not good! hehehe, bikin depresi!!!

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

Screenshot 2022-12-08 at 12.43.17
This year, I learned to accept the days when I don't feel motivated, tired, or a bit grumpy. I learned to allow myself to sit with this feeling instead of feeling guilty about it and forcing myself to be productive, socialize, or just get things done.
Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
In the end, self-care is not always about doing the things that make us feel good or give us instant gratification. It's also about doing the RIGHT thing: something that is good for us in the long run—even if it may feel hard at times.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer and an artist/illustrator based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE STUDIO