Cerita Noor

Pedicure“Semua orang nggak setuju waktu gue mau menikah sama orang Indonesia. Mereka bilang laki-laki Indonesia jahat-jahat,” kata Noor.

Saat itu ia tengah menyikat tumit kanan seorang perempuan Indonesia keras-keras. Terdengar bunyi kecipak pelan ketika Noor meletakkan tumit yang sudah halus tadi ke dalam bak cuci. Ia kemudian membasuhnya dengan air hangat yang telah dicampur garam dan lemon.

Baru sebulan Noor bekerja di Lush Nails. Tempat itu merupakan salon kuku yang terletak di lantai dua pusat perbelanjaan Holland Village, Singapura. Noor bertugas mempercantik kuku-kuku tangan dan kaki para pelanggan. Sebelum resmi dipekerjakan di salon ini, Noor harus melewati pelatihan selama 6 bulan.

“Ini pertama kalinya ada orang Indonesia ke sini,” kata Noor sambil tersenyum. “Kebanyakan yang ke sini orang Cina.”

Dari sekitar 15 orang manikuris, Noor satu-satunya yang berwajah Melayu. Ia juga satu-satunya yang bisa berbahasa Indonesia. Manikuris lainnya di salon kuku ini hanya bicara dalam Singlish atau Mandarin. Satu-dua orang lainnya bisa bercakap dalam Melayu, namun hanya dengan kosa kata yang terbatas.

Foot brush“Suami gue orang Indonesia, jadi gue bisa banget bahasa Indonesia. Gue juga sering diajak ke Jakarta, rumah mertua gue di Jakarta Barat situ. Kalau lagi di Jakarta gue suka ke mall, ke Plaza Senayan, ke Taman Anggrek, atau ke Roxy, liat-liat handphone,” Noor bercerita, sebelum pamit sebentar ke belakang untuk mengambil peralatan manikurnya.

“It’s amazing, she speaks so much like Indonesian. Even the intonation is just right,” kata seorang perempuan Indonesia berambut keriting kepada manikuris yang sedang membersihkan kukunya. Ia takjub karena Noor begitu fasih berbicara dalam bahasa Indonesia.

She is Indonesian,” kata manikuris itu dari balik masker kuningnya.

No, it’s her husband who’s Indonesian,” perempuan Indonesia yang tumitnya tadi dibasuh Noor menyela.

No, no, she is Indonesian. She’s like that. Never want to say that she’s Indonesian,” manikuris itu menggeleng kuat-kuat, menekankan bahwa Noor sebenarnya orang Indonesia, tetapi tak pernah mau mengakuinya.

Tiba-tiba saja Noor kembali dengan kotak berisi peralatan manikurnya. Rupanya ia sempat mendengar sebagian percakapan yang terjadi, karena ia langsung menatap kawan sesama manikurisnya. “I’m not Indonesian,” kata Noor. “My husband is Indonesian.”

No, you are Indonesian, lor,” manikuris itu bersikukuh, menunjuk Noor dengan sikat kaki yang tengah dipegangnya.

No, I’m not!” Noor menukas. Matanya menatap kedua perempuan Indonesia tadi bergantian.Manicure

Indonesian!” manikuris tadi menyahut lagi. Ia memunggungi Noor sambil meneruskan pekerjaannya, membersihkan kutikula pada kuku-kuku kaki perempuan Indonesia yang berambut keriting.

Noor mengangkat bahu, seakan menyerah. “Banyak yang bilang tampang gue mirip orang Indonesia. Memang iya, ya? Orang nggak percaya, sih kalau gue bilang gue bukan orang Indonesia. Padahal yang orang Indonesia itu suami gue…”

Dikisahkan Noor, pertemuan pertama dengan lelaki yang kemudian menjadi suaminya itu terjadi pada suatu pagi, di depan sebuah money changer. Waktu itu, ketika Noor sedang melintas, seorang lelaki berseru kepadanya, “Mbak, mbak, dompetnya jatuh!”

Sibok, kau!” semprot Noor ketus sambil mendelik ke arah lelaki Indonesia itu. Ia kemudian melengos pergi. Pikirnya, lelaki ini hanya hendak berbuat iseng padanya.

“Si Mbak ini kok malah marah, dibilangin dompetnya jatuh. Itu, lihat…” lelaki tadi menunjuk ke dekat kaki Noor.

Masih merengut, Noor menunduk. Ia terkejut. Benar. Ternyata dompetnya memang terjatuh. Ia pungut dompetnya itu lekas-lekas.

Lelaki tadi memperhatikannya sambil tersenyum. “Sekarang boleh minta nomor teleponnya kan, Mbak?”

Kali ini, bukannya kesal, Noor malah tersipu. Kalau bukan karena lelaki tadi, ia pasti sudah kehilangan dompetnya. Maka Noor pun memberikan nomor teleponnya. Demikianlah awalnya, sebelum mereka kerap pergi berkencan. Enam bulan kemudian, keduanya sepakat untuk menikah.

Rencana pernikahannya sempat ditentang keluarga dan kawan-kawannya. Mereka beranggapan bahwa lelaki Indonesia jahat. “Suka main perempuan,” kata Noor. “Tapi gue bilang sama mereka, semua orang itu ada yang baik, ada yang jahat. Orang Indonesia juga pasti ada yang baik. Buktinya suami gue baik, kok. Dia sayang sama anak-anak, nafkahin mereka, nggak jahat dia. Eh, ngomong-ngomong, soal Manohara disiksa suaminya itu bener, nggak, ya? Kayaknya bohong itu, gue rasa ibunya aja yang gila harta,” ujar Noor sambil menunjukkan sampel warna-warna cat kuku.

Manicure setDari pernikahannya, Noor dikaruniai dua anak. Masing-masing berusia 6 dan 9 tahun. Setiap minggu, biasanya Noor mengajak anak-anaknya mengunjungi sang ayah, yang bertugas di Pelabuhan Pangkalpinang. “Dia jarang ke sini, jadi seringnya gue sama anak-anak yang nyusul dia, terus kita jalan-jalan bareng di Batam.”

Meski menurutnya ia sudah tinggal di Singapura sejak kecil, Noor mengaku lebih menikmati kehidupan di Indonesia. Ia juga lebih menyukai makanan Indonesia, terutama ketoprak. Sebenarnya di Singapura ada penjual ketoprak, namun menurut Noor rasanya tak seenak ketoprak di Indonesia.

Noor juga penggemar jamu, terutama beras kencur. “Kalau di sini kan mana ada mbak-mbak jamu!” katanya sambil tertawa.

Bukan hanya itu, Noor juga menggandrungi band-band Indonesia seperti ST12 dan Wali. Saat ini, lagu Cari Jodoh-nya Wali sedang menjadi favoritnya. Noor pun tak pernah absen menonton sinetron Terlanjur Cinta di SCTV.

“Gue pingin pindah ke Indonesia,” kata Noor sambil mengeluarkan sebotol pemulas kuku. “Di Singapura semuanya mahal. Makan aja mahal. Mana bisa gue punya mobil, apalagi rumah. Di Jakarta sih enak. Apa-apa murah. Orang bisa punya rumah dua-tiga, bisa punya mobil banyak.”

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.