Mungkin semua ini memang berkaitan dengan karakter–sebagai individu, sebagai kelompok, dan pada akhirnya sebagai bangsa?

1. Afeksi berlebih pada kemiskinan dan barang gratisan

Pagi-pagi melewati taman di depan Pangrango. Ibu-ibu yang nampak wajar adanya, turun dari ojek, membayar, lalu masuk ke balik semak-semak, berganti pakaian, ta-da, pakaiannya compang-camping seketika. Lalu mulailah ia mengemis di dekat lampu lalu-lintas itu.

A: Mau ke mana, Bu?

B: Oh, ke lapangan… antri beras. Ada pembagian raskin.

A: (menatap tak percaya pada Ibu yang tidak bisa dibilang miskin itu)

B: Mari, lho. Duluan…

A: Soalnya kan anak saya banyak, ada delapan… buat makan aja susah. Apalagi sekolah?

B: Kok banyak sekali? Kenapa dulu nggak ikut KB?

A: Habis alat KB-nya nggak dikasih gratis

2. Selalu beranggapan bahwa akan ada orang lain yang menyelesaikan masalah dan mengambil alih tanggung jawab

A: Kok lo buang sampah sembarangan gitu, sih! (di jalan)

B: Ntar juga ada yang nyapu ini…

3. Skeptis ketika diminta melakukan hal yang benar

A: Kemarin bikin paspor pakai calo?

B: Nggak, kok. Ngurus pakai jalur biasa aja, sesuai loket yang ada.

A: Pakai harga resmi loket?

B: Iya.

A: Jadinya lama banget, ya?

B: Nggak, kok, 5 hari jadi.

A: Pasti dipersulit dan berbelit-belit, ya?

B: Nggak, ah. Biasa aja, kok. Semua lancar. Yang penting dokumen yang diminta lengkap.

A: Kalo pakai calo bisa lebih cepet, kan? Katanya bisa 3 hari jadi.

B: Oh, waktu itu sih saya soalnya kepotong hari Sabtu-Minggu. Memang perlunya buat kapan? Buru-buru banget?

A: Kayaknya sih baru 2 bulan lagi berangkat…

4. Egois dan selalu menghindar dari kesalahan

A: DINNNN DINNNN (klakson)

B: (menatap motor yang jalan di trotoar itu lalu kembali melenggang santai)

A: Minggir, woi!

B: Ini trotoar. Buat pejalan kaki, bukan buat motor.

A: Lo mau gue serempet? Minggir! DIIINNN DINNNN

A: Maaf, Pak, boleh dimatikan rokoknya? Asapnya itu, lho, Pak…

B: Kalo nggak mau kena asap rokok jangan naik angkutan umum, dong! Sana naik mobil sedan sendiri!

5. Tak cukup teladan yang baik

Sekumpulan polisi pamong praja di depan kantor pemerintahan di Kebon Sirih: “Suit suit, cewek-cewek, mau ke mana? Seksinya. Sombong amat, sih. Mau dianterin, nggak? Hahahahaha!”

6. Lebih menghargai hasil akhir ketimbang proses

A: Kok lo gak belajar, sih?

B: Udah bikin contekan!

A: Hih. Kok gitu.

B: Yang penting kan dapet nilai bagus. Emang kalo gue belajar tapi gak jago hapalan, trus dapet nilai jelek, guru kita mau tau, apa? Yang penting kan nggak ketauan nyonteknya. Hihihi.

Seorang teman (ST): “Han, lo dulu kok suka membolehkan diri kalo kita nyontek ujian lo?”

Saya (S): “Karena buat saya proses lebih penting dari hasil akhir. Kalian boleh aja nyontek sesukanya. Boleh jadi, nilai kalian sama bagusnya dengan nilai saya. Tapi kalian nggak akan bisa lebih pintar dari saya! HAHAHA! *devilish laughter*

ST: (mendengus) Huh. Dilempar sendal jepit baru tau! Hehehe.

7. Berpikir “gimana nanti” dan bukan “nanti gimana”, salah kaprah mengenai arti pasrah

A: Wah, anak keempat, ya. Lucunya. Banyak ya, Bu, anaknya.

B: Iya hahahaha.

A: Padahal sekarang apa-apa mahal…

B: Ah, gimana nanti aja saya sih, Bu. Kan anak punya rejeki sendiri-sendiri. Pasrah aja, semua udah ada yang ngatur…

B: Duh, gimana bayar sekolah anak-anak, ya? Susah Bu, kalo anaknya empat. Ibu sih enak, anaknya cuma satu.

A: Ah, nanti juga ada rejekinya masing-masing… kan dulu Ibu juga yang bilang gitu. Gimana nanti, aja, Bu. *agak meledek*

Tapi tentunya, masih ada beberapa adegan singkat yang mencerahkan. Memang motivasi dan inspirasi itu bisa datang dari mana saja.

Ibu: Eh, ini ada tas sekolah. Ayo, kamu pilih. Ibu belikan buat anakmu…

Mbak: Aduh, makasih, Bu. Tapi… kalau Ibu mau beliin tas, boleh nggak kalau uangnya dibeliin buku bahasa inggris aja, saya ada sih judul bukunya, ini anak saya disuruh beli buku ini sama gurunya.

Ibu: (terharu) Ya sudah, ayo kita ke toko buku. Ini tasnya tetap dibeli juga, deh. Nanti bukunya juga Ibu belikan…

Tukang sayur: Bu, ada koran, nggak?

Ibu: Berapa banyak? Kemarin beberapa sudah diminta warung belakang juga, lho…

Tukang sayur: Oh, bukan, Bu. Maksudnya pinjem koran hari ini. Lagi dibaca Bapak, nggak? Kalo nggak, saya mau pinjem, baca koran dulu di sini sambil nunggu ibu-ibu yang mau belanja…

Cerah itu juga bisa datang dari balik awan:

Ada siswa-siswa yang membongkar kasus korupsi di sekolahnya. Siswa dari daerah yang memenangkan Olimpiade Fisika. Korban selamat tsunami yang justru menginisiasi penanaman berhektar-hektar mangrove di daerah pantai Aceh.

Semoga kita semua dapat bertumbuh menjadi mereka yang mencerahkan, menginspirasi, memotivasi–sebatas kemampuan kita. Tak apa kecil, bila mampu memberi arti.

Karena dalam hidup ini, kita selalu punya pilihan πŸ™‚

hanny

13 Responses

  1. @balibul: tidak memilih itu juga sebuah pilihan, hahaha. hmm, memilih buku itu menyenangkan sekali, ya πŸ™‚ nampaknya cukup menikmati nostalgia masa SMA itu kemarin hehehe.

  2. @balibul: oh, aku mulai nangkap maksudmu. hehehe. telat, kemarin lagi ngantuk soalnya.

    sebenarnya mudah saja, sih. kalau tidak memilih, ya, nanti kalau ada apa-apa di kemudian hari, kita jangan protes. toh kita tidak terlibat dalam pengambilan keputusan, jadi kenapa protes?

    nah, kalau kita memilih, artinya kita berhak protes, apabila orang yang dipilih tidak memenuhi janjinya atau dianggap tidak kompeten. hmm, bagaimana?

  3. hihihi… bener banget yang ditulis di atas, coonteel.. dan mengenai pencerahan, emang kadang datangnya dari sumber yg tak terduga… saya setuju sekali πŸ™‚

  4. Hani
    I love you
    Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari lamanmu
    Baik-baik ya dear -hug-

    Atta, love you, too … hihihi baik-baik juga, ya. Sudah lama aku tak melihat sosokmu. Kangen. Pesta Blogger tahun ini harus dateng, ya ;p

If you made it this, far, please say 'hi'. It really means a lot to me! :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

READ MORE:

cup edited - polarr
Do you often find yourself feeling guilty about taking some time to rest? "We all need rest, not because it makes us more productive at our jobs, but because it makes us happier, healthier, more well-rounded people," wrote Homan.
lia-stepanova-VAqHDioGBIs-unsplash
While most of us think of the past as something that happens behind us and the future lies ahead of us, for the Aymara people, it's the other way around. The Aymara people see the past as something that lies ahead of us, and the future as something that lies behind us.
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I'm a published writer and a writing/creative workshop facilitator based in Amsterdam, the Netherlands. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting lifeβ€”one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
WRITE & WANDER
THE JOURNALING CLUB