Malam itu tergesa. Aku gugup. Kombinasi antara pemikiran bahwa malam ini aku akan terjaga hingga dini hari, kecemasan akan esok hari yang melelahkan karena panjangnya akan lebih dari 24 jam, dan kegelisahan karena akan bertemu kamu.

Enam—atau tujuh hari yang lalu, aku meninggalkanmu dengan sedikit rasa kehilangan. Aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi segera, tetapi hari-hari tanpa kamu itu jadi terasa sepi, padahal biasanya aku baik-baik saja dengan sepi. Sedikit menikmatinya, malah. Tetapi mungkin kamu memang bukan sesuatu yang biasanya. Bahkan dalam ketiadaanmu, kamu masih merupa seratus empat puluh karakter yang membuatku tersenyum seharian penuh.

Dan malam ini aku akan bertemu kamu, lagi.

Masih dalam kegugupanku, aku berbicara di telepon sambil mencoba mengarahkan pengemudi taksi ke alamat yang kutuju. Lalu turun di depan gerbang besar dan melalui jalan setapak yang dipenuhi labu-labu ukir oranye dengan cahaya lilin menari-nari di dalamnya. Detak jantungku tidak beraturan ketika mendekati pintu besar.

Aku menarik napas dalam-dalam ketika telepon kumatikan, dan mendorong pintu depan hingga terbuka.

Di tengah kerumunan orang itu, lampu-lampu yang bergantung dari langit-langit, denting gelas wine yang beradu, mataku menangkap sosokmu yang nampak lebih terang dibandingkan pemandangan di sekelilingku. Dan selanjutnya, aku cuma melihat kamu. Kamu. Kamu. Kamu.

Sepertinya hanya kamu yang berada dalam jarak pandangku. Aku tidak bisa berpaling. Kamu tersenyum ketika melihatku. Aku tertawa. Matamu juga.

Satu hal yang terlintas dalam benakku dan tidak kukatakan padamu malam itu adalah:

You look so wonderful tonight. I think I have fallen for you.

Malam itu, kamu mengenakan kemeja batik. Dan kamu, ternyata kamu memang paling ganteng kalau pakai batik 🙂

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Nggak tau. Aku nggak tau apakah lima puluh tahun lagi aku masih akan tetap mencintai kamu (seperti lagu yang belakangan ini sering diputar di radio pagi-pagi dan terpaksa kudengarkan ketika sedang berada di dalam taksi). Dan aku juga nggak mau berjanji. Karena aku nggak suka kalau nggak bisa menepati janji.

Selamanya serta selalu adalah dua hal yang nggak akan pernah bisa kujamin kebenarannya—apalagi kita bicara masalah perasaan; yang bisa berubah dalam waktu semalam karena hal yang nggak akan pernah bisa dijelaskan secara memuaskan. Ditambah lagi, kita bicara soal masa depan, yang bahkan peramal paling handal pun nggak bisa memastikan.

Jadi, aku nggak tau, apakah aku masih akan mencintaimu ketika kamu berusia 64 tahun. Dan aku nggak bisa berjanji. Dan aku juga nggak tau apakah hal semacam itu perlu untuk kamu tanyakan; karena setiap kali bersama kamu, aku cuma ingin menikmati setiap momen, setiap detiknya, setiap ‘sekarang’ yang akan jadi kenang-kenangan buatku di masa depan—yang masih nggak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.

Buatku, adalah sebuah kesia-siaan bermimpi soal masa depan selagi kamu ada di hadapanku sekarang. Saat-saat bersamamu ingin kunikmati tanpa andai-andai yang malah membuatku lupa dan teralihkan dari apa yang sedang kamu ceritakan, jins baru yang kamu pakai, taro bun yan hendak kamu pesan, seperti apa rasa jemarimu yang menghangatkan jemariku…

Cuma satu hal yang perlu kamu tau, dan bisa kujawab dengan pasti.

Bahwa kalau ditanya apakah ‘saat ini’ aku mencintai kamu, jawabannya adalah: iya.

——————-

*) pertanyaan dari status Twitter yang saya lihat di timeline dan menginspirasi saya menulis postingan ini 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Selamat datang di Kota Asap!

Hari ini, aku akan membawamu melihat-lihat Kota Asap dengan berjalan kaki. Berbeda dengan kota-kota lain yang mungkin pernah kamu lihat dalam perjalananmu yang jauh, di Kota Asap trotoar menjadi tempat bagi segala sesuatu yang bukan pejalan kaki.

Dan—lihat! Bukankah ini lucu?

Pohon-pohon rindang tumbuh tepat di tengah-tengah trotoar—memecahkan semen dan beton, membuatnya retak-retak setiap beberapa langkah. Di Kota Asap, kamu akan melihat orang-orang menari di atas trotoar, seperti meniti tali seraya melompat-lompat menghindari halang-rintang: tiang-tiang, rambu-rambu, barang-barang dagangan, penjaja makanan, motor yang diparkir melintang, jalan-jalan yang berlubang, kotak pos, gardu listrik…

Bersiaplah melompat terkejut ketika suara klakson yang memekakkan berteriak di telingamu dan roda-roda menggerung di belakangmu. Semua ini biasanya akan disertai sumpah-serapah yang menyuruhmu ‘minggir’ ke dua sisi: kamu bisa melompat ke dalam parit untuk menghindar atau melompat ke jalan raya yang ramai dengan mobil-mobil yang melaju kencang.

Ya, di Kota Asap, kamu akan menemukan pejalan kaki terserempet motor serta tertabrak gerobak dorong di trotoar. Aku sering membayangkan garis kapur putih digambar di atas beton, menandai posisi tersungkur pejalan kaki yang hanya ingin tergesa tiba di tujuan, menunggu kawan, atau sekadar melangkah sembari menikmati pemandangan.

Tapi seperti kamu tahu, terkadang Kota Asap menyimpan kebaikan yang tidak kelihatan.

Di musim hujan, misalnya, jika beruntung, kamu akan terhimpit bersama ratusan motor di atas trotoar yang kotor, becek, lengket, dan penuh tanah, dikelilingi asap yang mencekikmu jika terhirup. Kemudian kamu akan mundur sedikit, sedikit, sedikit, ketika orang-orang merangsek ke arahmu, mendesakmu, hingga kamu menabrak gerobak penjaja nasi goreng yang dinaungi terpal biru.

Dari balik wajan penggorengan yang berdesis itu, sepasang lengan sawo matang mengulurkan bangku-bangku plastik yang sudah retak dan kakinya hilang satu, memberi isyarat padamu dengan matanya, kemudian berkata, “Duduk saja, tunggu di sini, nggak apa-apa, kok, duduk saja… ayo, silakan… sepertinya hujannya masih lama…”

Hanya pada saat-saat seperti inilah, di Kota Asap, mereka yang beruntung dapat membedakan karbonmonoksida dari embun asap*.

*)embun asap adalah embun halus seperti asap yang biasa kamu lihat pada malam hari.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Dan langkah-langkah kita adalah detak yang menahan waktu agar berjatuhan sedikit lebih pelan. Seperti gerimis yang bisa nampak sebagai jarum-jarum halus atau butiran embun—tergantung seberapa cepat jantung kita berdegup.

I’ll close my eyes, I’ll find you by following my heartbeat… dan buatku, itu adalah detak sepatumu pada aspal. Pada jalanan yang panas, kering dan berdebu. Pada hari-hari hujan yang becek, kotor dan lengket. Pada genggaman tangan yang harus terpisah sekejap ketika pohon besar meretakkan trotoar; tumbuh di tengah-tengahnya seperti sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Hei—hati-hati! Dan kita menghindari lubang ketika ada. Sepeda motor yang tiba-tiba merangsek dari belakang. Meniti jalan sempit yang dipenuhi penjaja makanan agar tidak terjatuh ke dalam selokan. Meraih satu sama lain ketika terantuk. Lihat itu! Menunjuk ke berbagai arah ketika pandangan jatuh hati pada pintu-pintu dan jendela. Mengendap-endap menghindari pasangan-pasangan yang tengah berpelukan di taman, lalu melompat-lompat di sekitar danau yang diterangi lampu-lampu kecil. Memandangi daun-daun gugur dan kaki-kaki kita yang berjalan beriringan.

+ Kita sudah berjalan lama, apakah kakimu sakit?

– Tak apa, selama ada kamu tak mengapa…

Dan kita pun terus berjalan.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Kamu sunyi dalam hiruk-pikuk itu. Mataku bertanya. Aku tidak baik-baik saja, jawabmu dalam sebuah kedip yang lelah. Aku tahu. Dan kita mencari sepi untuk meringkus sesak. Matamu sembap. Jelaga itu lekat padamu seperti sesuatu yang pernah. Seperti sesuatu yang sudah.

Setiap perpisahan membawa luka sendiri-sendiri. Lukamu sudah dimulai sejak awal kalian bertemu. Pada segala yang terasa tidak seharusnya. Mengetahui akhir ceritanya sejak mula ternyata tak bisa menjadi pengurang rasa sakit ketika kamu sampai pada halaman terakhir. Sesuatu yang sudah diduga masih tak bisa membuat tangismu reda ketika waktunya tiba.

Aku tidak hendak menghiburmu atau membuatmu tertawa. Aku hanya akan duduk diam di sini dan membiarkanmu menangis. Selama yang kamu perlu. Because tears are words the heart can’t say.

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?

Twitter bisa menjadi sumber kebajikan yang luar biasa. Episode kecil yang terekam di Twitter sore ini antara @litaaja dan @arisaja bisa memberikan ilustrasi bagi pepatah di atas. Ya, hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Janganlah terburu emosi 😀

hanny
WANT TO SHARE WITH SOMEONE WHO NEED THIS?
Hanny illustrator
Hi. I'm HANNY
I am an Indonesian writer/artist/illustrator and stationery web shop owner (Cafe Analog) based in Amsterdam, the Netherlands. I love facilitating writing/creative workshops and retreats, especially when they are tied to self-exploration and self-expression. In Indonesian, 'beradadisini' means being here. So, here I am, documenting life—one word at a time.

hanny

TAKE WHAT YOU NEED
VISIT THE SHOP