things I didn’t say that evening.

Malam itu tergesa. Aku gugup. Kombinasi antara pemikiran bahwa malam ini aku akan terjaga hingga dini hari, kecemasan akan esok hari yang melelahkan karena panjangnya akan lebih dari 24 jam, dan kegelisahan karena akan bertemu kamu.

Enam—atau tujuh hari yang lalu, aku meninggalkanmu dengan sedikit rasa kehilangan. Aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi segera, tetapi hari-hari tanpa kamu itu jadi terasa sepi, padahal biasanya aku baik-baik saja dengan sepi. Sedikit menikmatinya, malah. Tetapi mungkin kamu memang bukan sesuatu yang biasanya. Bahkan dalam ketiadaanmu, kamu masih merupa seratus empat puluh karakter yang membuatku tersenyum seharian penuh.

Dan malam ini aku akan bertemu kamu, lagi.

Masih dalam kegugupanku, aku berbicara di telepon sambil mencoba mengarahkan pengemudi taksi ke alamat yang kutuju. Lalu turun di depan gerbang besar dan melalui jalan setapak yang dipenuhi labu-labu ukir oranye dengan cahaya lilin menari-nari di dalamnya. Detak jantungku tidak beraturan ketika mendekati pintu besar.

Aku menarik napas dalam-dalam ketika telepon kumatikan, dan mendorong pintu depan hingga terbuka.

Di tengah kerumunan orang itu, lampu-lampu yang bergantung dari langit-langit, denting gelas wine yang beradu, mataku menangkap sosokmu yang nampak lebih terang dibandingkan pemandangan di sekelilingku. Dan selanjutnya, aku cuma melihat kamu. Kamu. Kamu. Kamu.

Sepertinya hanya kamu yang berada dalam jarak pandangku. Aku tidak bisa berpaling. Kamu tersenyum ketika melihatku. Aku tertawa. Matamu juga.

Satu hal yang terlintas dalam benakku dan tidak kukatakan padamu malam itu adalah:

You look so wonderful tonight. I think I have fallen for you.

Malam itu, kamu mengenakan kemeja batik. Dan kamu, ternyata kamu memang paling ganteng kalau pakai batik 🙂

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.